
"Aku lelah kalau sudah berurusan dengan mereka, Bu!
Entahlah, apakah yang kulakukan ini benar atau tidak?
Aku hanya ingin wanita itu merasakan seperti apa rasanya ditendang dan di hina oleh suami sendiri.
Aku jadi ikutan gila karena ulahku tadi, aaah tau lah Bu, aku pusing!" Hanum memijit pelipisnya, teringat semua ucapan dan sikapnya pada Rani barusan membuatnya merasa geli sendiri.
"Mbak Hanum sudah benar, dan sikap mbak Hanum keren banget.
Perempuan itu pasti kepanasan, dikira mbak Hanum masih mau sama suaminya, amit amit!" sahut Bu Murni membuat Hanum tertawa dan semakin ingin mengerjai Rani dan Ali. Pasti sangat seru.
"Bu Murni masak apa?
Aku jadi lapar setelah marah marah!" Hanum tertawa dan melangkah ke dapur, membuka tudung saja, dan melihat di atas meja sudah terhidang sayur asam, tempe goreng, ayam goreng, sambal terasi dan juga ada bungkusan pindang dari daun pisang yang diklotok.
"Wah seger nih, siang siang sayur asem.
Bu Murni tau saja, mari makan sama sama Bu, sini!" ucap Hanum dengan begitu ramahnya, membuat Bu Murni selalu merasa di hargai, Hanum selalu bersikap baik meskipun Bu Murni cuma bekerja jadi pembantu di rumahnya, namun Hanum tidak pernah memperlakukan Bu murni layaknya pembantu yang selalu di suruh suruh.
"Masih kenyang saya, mbak Hanum!
Nanti saja, nunggu anak anak pulang sekolah!" sahut Bu Murni dan kembali meneruskan pekerjaannya menyetrika.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Rani terlihat begitu murka d Ngan segala ucapan yang Hanum lontarkan.
Pikirannya terus was was kalau kalau, Ali akan kembali melirik mantan istrinya karena Hanum memang sudah berubah begitu drastis, Rani mengakui kalau Hanum lebih unggul darinya saat ini.
"Wanita sangat beruntung, kenapa tiba tiba dia bisa berubah kaya begitu, apa benar dia jadi istri simpanan orang kaya, ya?" Rani duduk di salah satu bangku warung bakso, Rani merasa lapar karena pikirannya begitu terkuras dengan omongannya Hanum.
"Aku aku akan mencari tau kehidupan Hanum saat ini, jika benar dia kaya karena jadi istri simpanan, aku bisa membuatnya celaka dengan membongkar kebusukannya pada istri selingkuhannya, biar dia kena batunya." pikiran licik dan buruk terus bermain main di otak Rani soal Hanum. Dirinya tidak terima melihat kehidupan Hanum yang jauh lebih bahagia dari dirinya, apa lagi melihat Hanum masih memiliki tubuh layaknya gadis, langsing dan singset.
Setelah kenyang, Rani melanjutkan perjalannya menuju rumah mertuanya dengan menaiki motor kebanggaan miliknya.
Tak butuh waktu lama, Rani sudah ada di depan rumah dan terlihat ada ibu mertuanya yang sedang duduk di kursi depan rumahnya sambil minum kopi.
"Dari mana saja kamu, Rani?
__ADS_1
Siang siang begini baru pulang?" sambut Bu Bibit menatap menantunya dengan wajah menyelidik tak suka.
"Menemui calon pelakor!" sahut Rani cuek dan menghempas tubuhnya di salah satu kursi depan Bu Bibit.
"Calon pelakor gimana maksudmu, RAN?
Gak usah Ngada Ngada kamu itu!" sentak Bu Bibit sambil menelisik penampilan sang menantunya.
"Apa ibu gak tau, atau pura pura gak mau tau?
Bukankah anak laki laki ibu sekarang lagi gencar gencarnya mendekati si Hanum lagi, alasan pake nama Alisia segala.
Jangan pikir aku itu bodoh kayak Hanum, yang diem saja di selingkuhi!
Aku tidak akan tinggal diam!" sungut Rani tanpa punya rasa hormat sedikitpun pada perempuan yang menyandang gelar mertua.
"Owalah!
Kamu lagi ketakutan toh, takut suami kamu di rebut Hanum lagi, gitu?" balas Bu Bibit dengan acuhnya dan terlihat mencebikkan mulutnya, membuat Rani geram dan semakin tak suka pada ibu suaminya itu.
"Apa ibu mendukung perbuatan anak ibu untuk selingkuh dengan mantan istrinya itu, iya Bu?" teriak Rani dengan dada yang sudah naik turun, tak lagi bisa membendung rasa kesalnya oleh tingkah ibu mertuanya yang terus terusan menunjukkan rasa tak sukanya.
Terus kenapa kamu marah marah sama aku?
Apa begitu frustasinya kamu, sampai akal sehatmu sudah tidak lagi berfungsi, hm?" sentak Bu Bibit geram oleh sikap Rani yang tidak menghormatinya sama sekali sebagai orang tua.
"Bukankah yang pelakor itu kamu?
Bukankah dulu menjebak dan mempengaruhi Ali itu kamu?
Bukankah mengambil Ali dari Hanum itu kamu?
Kok kamu yang sekarang marah marah sama Hanum, wont Hanum saja tidak sama sekali mengusik mu, kamunya saja yang terlalu lebay jadi perempuan!' sambung Bu Bibit dengan wajah sinisnya, geram sekali dengan suara lantang Rani yang seolah tidak punya sopan santun sama sekali saat bicara dengan orang yang lebih tua.
"Owh ibu nyalahin aku?
Ibu bela calon pelakor itu?
Awas saja ya, Bu!
__ADS_1
Rani tidak akan biarkan siapapun merusak rumah tanggaku, meskipun itu ibu!
Aku tidak akan tinggal diam, ingat itu!" Rani menggebrak meja dan menghentakkan kakinya lalu pergi begitu saja meninggalkan Bu Bibit yang terlihat makin tak suka dengan istri kedua anaknya itu.
"Setan alas!
Perempuan kok kelakuannya kayak demit!
Semoga Ali segera sadar seperti apa wanita yang dia nikahi, Ira Sudi aku serumah sama wing gendeng!" omel Bu Bibit dan berencana untuk mengusir Rani dari rumahnya, sudah tidak betah dengan sikapnya yang tidak punya etika.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1