Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain

Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain
episode 7


__ADS_3

"Sebaiknya, pak Ali pulang saja, ini sudah malam. Karena dari tadi pak Ali sudah ada disini bukan?


Mungkin mbak Hanum punya pertimbangan sehingga belum mengijinkan pak Ali menemui Alisia.


Kembalilah besok, dan tolong jangan buat keributan di komplek ini." balas pak RT dengan wajah tegasnya, lalu segera pergi meninggalkan Ali yang mematung sendirian di halaman rumah Hanum dengan perasaan kesal luar biasa


"Awas saja kamu, Hanum!" geram Ali dengan wajah merah padam. Akhirnya memilih pulang karena istrinya sudah terus menelponnya.


Pukul delapan malam Ali sudah sampai di depan rumahnya, rumah yang sebenarnya milik Bulik nya, tapi karena Bulik nya Ali tidak punya anak, rumah itu di tempati ibunya Ali, dan sekarang juga ditempati Ali sama anak dan istrinya sementara.


"Dari mana sih, mas?


Kok jam segini kamu baru pulang?" sambut Rani dengan wajah penasaran. Namun Ali tak begitu menanggapi, pikirannya masih tertuju pada Hanum yang semakin cantik dan kaya.


Di sudut hatinya ada perasaan menyesal karena sudah meninggalkan Hanum begitu saja.


"Aku lapar, siapkan aku makan.


Suami pulang bukannya dibuatkan minum, ini malah seperti mau interogasi." sahut Ali kesal dengan istrinya yang selalu ingin tau apapun yang dia lakukan.


Sedangkan Bu Bibit ibunya Ali hanya diam saja menyaksikan perdebatan anak dan menantunya.


"Aku mau mandi dulu, habis mandi harus ada teh hangat dan makanan di meja." sambung Ali sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Lihatlah, Bu!


Anak lelaki ibu sudah mulai berubah kasar padaku." Rani mengadu pada ibu mertuanya, berharap sang ibu mau menegur anak lelakinya.


"Yang sabar, kamu juga kok yang salah.


Bertanya sih boleh, Ran!


Tapi ya itu, setelah suami kamu masuk rumah dan istirahat. Biasanya orang kalau capek emosinya itu sedang tidak baik.


Lebih baik kamu cepetan siapin apa yang Ali mau, sebelum dia semakin marah sama kamu!" sahut Bu Bibir santai sambil menatap layar datar di hadapannya, menonton sinetron kesukaannya.


"Bela saja anak ibu, padahal sudah jelas jelas salah." omel Rani tanpa ada rasa sungkan sedikitpun pada sang mertua, dan Bu Bibit hanya menggeleng heran dengan kelakuan wanita pilihan anaknya itu.


"Dari mana sih kamu, mas?


Jangan jangan kamu datang menemui mantan istri kamu ya?" Rani mengulangi pertanyaannya saat Ali sedang menikmati makanan di piringnya.


Brak!


Aku menggebrak meja dan membanting sendoknya.

__ADS_1


"Kamu bisa diam gak sih, RAN?


Sudah tau suami makan kok masih saja bikin masalah. Aku bilang nanti ya nanti, selera makanku jadi hilang gara gara mulut bawelmu itu!" Ali pergi meninggalkan Rani yang terpana dengan kemarahan suaminya. Selama menikah dengan Ali, laki laki itu sama sekali belum pernah bersikap kasar padanya. Tapi kenapa sikapnya berubah dan membuat Rani penasaran juga tidak terima.


"Aku kan tanya baik baik, kenapa kamu harus marah marah, mas?


Atau jangan jangan dugaanku benar, kamu kerumah perempuan itu kan, mantan istri kamu?


Jawab mas, jawab!" teriak Rani tak mau kalah, wajahnya merah padam, kesal dengan sikap kasar suaminya.


"Kalau iya memangnya kenapa?


Kamu mau apa hah?


Aku punya anak dengan Hanum.


Aku juga punya rasa rindu sama anakku itu, jangan terus kamu suruh aku menyayangimu anakmu saja, Alisia juga berhak aku sayangi, dia anak kandungku, darahku mengalir di tubuhnya. Sedangkan anakmu tak ada darahku setetes pun mengalir disana." Ali murka dan mulutnya mengatakan sesuatu yang tak pernah Rani duga. Dipikirnya Ali menerima anaknya dan mencintai anaknya dengan tulus tapi ternyata Ali tak menganggap anaknya sebagai anaknya sendiri.


"jahat kamu, Mas!


Kamu tega bicara seperti ini sama aku.


Kamu tidak menyayangi anak anakku ternyata." Rani menangis dengan wajah kecewanya, namun Ali tak perduli, memilih pergi begitu saja tanpa memperdulikan istrinya yang meraung.


Apa yang Ali katakan itu benar, bagaimanapun Alisia itu anaknya, darah dagingnya. Ya wajar aku ingin bertemu dan mau bertanggung jawab sama darah dagingnya. Masak kamu paksa terus untuk menyayangi anak anakmu saja, jangan egois kamu!" Bu Bibir ikut menimpali dan mengeluarkan kata kata pedasnya, membuat Rani semakin sakit hati dan berencana untuk melabrak Hanum.


"Awas saja kamu, Hanum!


Aku akan buat perhitungan sama kamu!


Jangan pernah mengusik kebahagiaan ku dengan anak Anakku. Karena aku tidak akan tinggal diam." batin Rani penuh dengan kebencian. Lalu pergi ke dalam kamarnya dan menumpahkan rasa sakit hatinya dengan terus menangis.


Bu Bibit menghampiri anak laki lakinya dan menatap Ali sangat lekat.


"Apa benar kamu menemui Hanum, Li?" tanya Bu Bibir dengan wajah penasaran.


"Iya, Bu!


Beberapa hari yang lalu pas aku jalan jalan ke mall dengan Rani dan juga anak anak. Aku melihat Alisia sedang bersama temannya ke toko buku.


Dia sudah besar dan sangat cantik. Tapi saat kami bertatapan, Alisa terlihat begitu membenciku, dia langsung pergi begitu saja tanpa mau menyapa, aku ayahnya." jawab Ali dengan tatapan kosong. Bayangan Alisia terus terngiang di dalam otaknya.


"Terus kamu datang menemuinya di rumah Hanum?


Apa kalian ketemu, kok kamu pulangnya sampai malam?" balas Bu Bibir dengan tatapan menyelidik pada putranya yang terlihat tersenyum.

__ADS_1


"Ali ketemu Hanum, dia makin sukses dan terlihat sangat cantik. Rumahnya yang dulu jelek, sekarang sangat mewah, punya mobil juga. Entah apa pekerjaannya tapi yang jelas Hanum sekarang sudah kaya." sahut Ali dengan senyuman mengembang, membayangkan wajah cantik mantan istrinya.


"Terus, kamu jatuh cinta lagi sama Hanum, apa begitu?


Jangan gila kamu, Li! Kamu sudah menyakitinya dan lebih memilih Rani, jadi jangan berbuat macam macam lagi kamu, jangan buat masalah yang nanti buat hidupmu susah sendiri.


Kamu cukup kasih nafkah ke Alisia karena dia itu tanggung jawab kamu, bukan anak anaknya Rani saja yang kamu nafkahi, tapi Alisia lebih berhak menerimanya. Paham kamu?" sungut Bu Bibir dengan tatapan tegas di arahkan pada Ali yang terlihat tersenyum miring.


"Tapi Hanum uangnya sudah banyak, Bu!


Mereka tak lagi membutuhkan uangku.


Sukur sukur kalau dia mau diajak rujuk, pasti aku akan lebih memilihnya sekarang. Dia sudah berubah, sangat cantik dan berkelas. Beda banget sama Rani yang bar bar itu, mulutnya ngoceh terus, bikin enek dan muak saja." sahut Ali bersungut sungut, tak suka dengan sikap istrinya yang sekarang, dirasa Rani sangat cerewet dan banyak menuntut.


"Itu pilihan kamu! Jadi ya terima saja. Jangan mimpi Hanum mau lagi sama kamu. Jadi lebih baik kamu urungkan niatmu itu sebelum kamu malu karena Hanum menolakmu!" balas Bu Bibir dengan acuhnya, mengingatkan sang anak agar tidak lagi bersikap macam macam.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2