
Aku tersenyum tipis akan tawaran itu, tapi aku belum menyetujuinya. Itu hanya ucapan terima kasih menurutku. Dan inilah namanya berbisnis.
Kantong jubahku bergerak, aku tahu Tanka pasti terbangun sekarang. Pembicaraan ini lebih menarik.
"Berikan aku setengah dari sahammu." Aku tersenyum. Senyumanku disambut dengan wajah masam dari Verion. Ekspresi baru yang kulihat dari diwajahnya.
"Ayah, itu terlalu berlebihan." Verion berbisik di telinga kanan ayahnya, tapi ayahnya mengangkat tangan menghentikan semua perkataannya.
"Baiklah. Jika anda bisa membawa anakku."
Aku melirik Verion.
"Verion tidak bisa bertarung. Sebenarnya, dibandingkan kekuatan suci, Verion adalah seorang penyihir lemah," jelasnya dengan senyum pilu.
"Anda ingin saya melindunginya selamanya?"
"Itu terlalu kurang ajar, Tuan Akion,"
"Saya hanya minta anda melatihnya, dan melindunginya sebentar untuk berada di posisinya."
Negosiasi yang tidak buruk.
"Baiklah. Walaupun aku punya setengah saham dari anda, tapi tidak boleh orang lain yang tahu akan itu, dan anda hanya perlu melaporkan saja pada saya. Urusan mengurusnya tetap anda yang memegang kendali."
Ini adalah solusi win and win. Dimana bisa aku punya saham tanpa bekerja dan menguras otak semudah ini? Aku tertawa dalam hati
Marquis Kingston mengangguk. Orang tua itu tidak punya pilihan lain selain setuju. Di Xellim sekarang, keahlian berpedang siapa yang lebih hebat dibandingkan aku? Tidak ada jawabnya. Tentu dia tahu dia mempertaruhkan sesuatu pada orang yang tepat.
"Lalu, bisakah anda melihat ini?" Aku merogoh sesuatu berwarna merah di kantong celanaku.
Batu Mana itu kuletakan di tangan Marquis Kingston yang sekarang sedang diam terpaku.
"Anda mendapatkan ini dimana?" tanyanya tidak percaya.
"Harta keluargaku." Aku menjawab dengan sedikit sombong, sesekali aku ingin menikmati perasaan ada di atas angin.
"APA!?" teriaknya melengking. Seorang kesatria masuk mengecek Marquis Kingston. Tapi buru-buru Marquis menyuruhnya kembali.
"Anda bilang harta keluarga anda?" Dia bertanya tidak percaya. Bahkan Verion yang di sampingnya seperti terhipnotis oleh batu Mana merah itu
"Iya, aku baru menemukannya. Bagaimana menurut anda?"
"Luar biasa. Ini batu Mana kualitas tinggi."
Aku mengangguk.
"Ini batu yang sangat cantik dan hebat."
Aku mengangguk lagi mendengar pujiannya.
"Para penyihir dan keluarga lainnya pasti akan berebut mendapatkan ini"
Lagi-lagi aku mengangguk.
"Batu Mana sebesar ini, harganya 700 koin emas."
Aku mengangguk sekali lagi. Tapi tiba-tiba aku terdiam, dan mencoba mencerna kata-kata Marquis Kingston. 700 koin emas!
700 koin emas!
700 koin emas!
Koin emas!
Emas!
"APA!?" kali ini aku yang berteriak kaget mengetahui harga batu Mana yang selalu kuperlakukan seenaknya itu. Ya, batu itu di kantong celanaku, aku duduk dengan kasar, dan lainnya.
Lagi, seorang kesatria masuk untuk mengecek. Marquis Kingstone menyuruhnya keluar lagi. Aku malu-malu memandang kesatria itu, sikapku tampak seperti seorang yang mudah untuk dibodohi.
"Saya tahu, batu Mana itu berkualitas baik, tapi dengan ukuran sebesar kepalan tangan saja harganya semahal itu, itu luar biasa ....."
"Ini termasuk batu Mana langka, Tuan Akion. Dan kegunaannya sangat baik, penyihir yang menyerap batu Mana ini akan meningkatkan kekuatan sihir mereka."
"Bolehkah aku membeli ini?"
__ADS_1
"Ingin berapa banyak?" Aku persis terlihat seperti pedagang. Tanka yang terbang didekatku tersenyum mengejek.
Ini adalah endusan uang.
"Tampaknya anda punya banyak."
"Ya, dan anda yang akan menjualnya."
"Sebuah kebanggan bisa menjual barang berkualitas tinggi ini. Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan Akion,"
Verion masih memandangnya dengan kagum. Tangannya bergerak perlahan untuk menyentuh.
"Kalau kau mau, ambillah. Anggap hadiah kecil dariku," ucapku pada Verion. Aku tidak tega membiarkan dia menahan dirinya untuk tidak menyentuhnya.
"Sungguh, Tuan Akion?" balasnya antusias. Aku mengangguk.
Kemudian, aku melihat Marquis Kingston lagi saat Verion telah memegang batu Mana-nya.
"Aku punya kondisi dan syarat dalam hal ini. Malam ini, akan menjadi malam yang sangat panjang."
Marquis Kingston tidak menjawabku, dia memberikan perintah pada Verion untuk membawa tumpukan dokumen di hadapan kami. Perjanjian bisnis dilakukan.
Aku keluar dari tenda, semalam aku begadang cukup lama. Mungkin hanya tiga jam aku tertidur, tapi tubuh ini dapat menerimanya dengan baik.
Lihat, hanya tiga jam tertidur saja kondisi tubuhku telah bugar kembali. Walaupun, berkali-kali aku mengalaminya, aku tetap merasa kagum akan kondisi tubuh Akion.
Sebuah sarapan mewah yang terdiri dari steak daging, wine, dessert, serta buah ada dihadapanku. Memang kalau sekelas Marquis Kingston ini hal yang biasa. Namun, dia menimpalinya dengan permintaan maaf karna menyajikan sarapan yang sederhana.
Sialan. Aku sedikit iri di sini. Tapi aku memakannya tanpa protes.
"Bisakah aku meminta kopi?"
Seorang pelayan mendatangiku, dan meletakan secangkir kopi hangat kopi. Baru-baru ini aku jadi menyukai kopi. Menikmati wine di pagi hari rasanya kurang cocok di mulutku.
Di Sebelah Marquis Kingston yang terlihat sehat, Verion terlihat sangat kelelahan. Semalam, setelah aku memberinya batu Mana merah, dia menyerap batu itu dan menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan ayahnya.
Kurangnya pengalaman Verion, membuat tubuhnya lebih banyak menerima efek. Setidaknya, dia masih hidup dan tidak terluka. Beristirahat sehari saja dia bisa kembali.
Itu jika dia bisa beristirahat.
Verion aku izinkan untuk berada disisi ayahnya, mungkin dia sekarang sedang tertidur didalam kereta kuda seperti bayi.
Verion sekarang berada dibawah pengawasanku, jadi dia harus mendengar semua perintahku. Ayahnya tidak menolak akan itu.
Hari-hari kami lalui dengan cuaca panas dan hujan, kami tetap berjalan sesuai rencana. Dan sesuai perkiraan, ada pembunuh bayaran yang mengincar Marquis Kingston. Sayang sekali, mereka bertemu denganku dan tidak memahami situasi dengan baik.
Jadi mereka semua mati.
"Andai aku punya anak perempuan, akan kujodohkan padamu." Sudut mata tua itu berkeriput jelas saat tertawa.
Sesekali Marquis Kingston melemparkan candaan padaku, dia mendekat seperti sosok ayah yang merangkul anaknya. Aku memang seumuran Verion.
Di sela-sela perjalanan, Levian aku perintahkan untuk mengajari Verion. Mungkin Verion terlalu percaya diri dengan sihirnya, sehingga fisiknya sendiri tidak dia latih. Itulah yang membuat tubuhnya lemah.
"Ayunkan seribu kali," perintah Levian pada Verion.
Marquis Kingston melihat itu, tapi dia tidak peduli. Malah mendekatiku yang mengobrol dengan Tanka.
"Anda sedang apa?"
"Oh, Marquis kingston," sapaku tidak terduga.
Dia melirik kursi disampingku.
"Bolehkah aku duduk.?"
"Silakan."
Tanka cemberut. Sebelumnya dia sedang duduk di kursi itu, saat aku mengizinkan Marquis Kingston untuk duduk, itu menyakiti harga dirinya.
Dia terbang dengan kesal ke arah Levian. Aku tersenyum kecil. Senyuman itu dilihat Marquis Kingston.
"Apakah ada yang lucu?"
"Iya, seekor capung sedang marah."
__ADS_1
Marquis Kingston memiringkan kepalanya, bingung.
"Ada apa Tuan Marquis?"
"Aku hanya mencari teman minum."
Tepat setelah dia mengucapkan itu, seorang pelayan datang dengan membawakan kami kopi. Kau bersikap sopan, kuterima ajakan minum itu. Kami minum sambil memperhatikan Verion yang sedang berlatih.
"Anda pasti bertanya, kenapa Verion tidak melatih fisiknya sejak dulu?"
Ya, itu sedikit mengganggu, Verion berasal dari keluarga yang kaya, gampang baginya mendapatkan guru terbaik.
"Verion lahir sebelum waktunya, tubuhnya lemah. Dia sering sakit-sakitan"
"Karna situasi keluarga tidak baik, saya memutuskan untuk menyembunyikannya. Dia bersembunyi dari satu kuil ke kuil lainnya."
Aku tetap menyimak.
"Tapi, dia tidak punya kekuatan suci, malah mempunyai kekuatan sihir. Seorang pendeta secara rahasia memberikannya buku dan mengajarinya sedikit menggunakan Mana. Pendeta itu sahabatku."
"Begitulah alasannya kenapa kekuatan sihirnya tidak terlalu kuat."
Aku mengerti tentang cinta kasih Marquis Kingston pada anak semata wayangnya. Tapi, bukankah tindakannya terlalu naif untuk dunia ini? Dia harus membayar berapapun harganya untuk bisa membuat anaknya kuat dan terlindungi dengan baik. Tampaknya, dia malah ingin ketenangan untuk anaknya.
"Ini permintaan istri anda?"
Mata itu berkerut jelas lagi, pandangan hangat saat membicarakan istrinya. Ya, itu sudah pasti.
"Maaf jika menyinggungnya," ujarku.
"Itu benar. Istriku takut pertumpahan darah, sehingga dia menginginkan Verion hidup tenang."
"Percayalah, itu hanya ilusi."
Aku menatap dataran luas hijau di hadapan kami.
"Aku mengerti itu, Baron muda. Mungkin terlambat bagiku, tapi tidak baginya. Beruntung sekali bertemu denganmu."
Sekarang senyumannya terlihat seperti Verion. Senyuman yang menarikku secara tidak nyaman.
Hari esoknya, kami telah sampai di Redvet, dan saat tiba di menara sihir Redvet, seorang penyihir dengan menggunakan jubah hitam menyambut kami dengan ramah.
Janggutnya memutih, seperti perawakannya seperti Dumbledore. Dia adalah seorang pria bertubuh besar dan tinggi, lalu sikap ramah yang membingungkan.
Bibirnya terus terbuka untuk berbicara pada Marquis Kingston. Mereka terlihat memiliki ikatan yang kuat.
**
"Selamat datang di menara sihirku, Tuan Akion Naal Sanktessy,"
Penyihir itu membukakan pintu menara sihir, mempersilahkan aku untuk masuk terlebih dahulu dibandingkan yang lainnya.
Aku menganggap ini sebagai kemurahan hatinya.
"Dia kakakku." Marquis Kingston berbisik di telingaku.
Orang ini selalu mempunyai kejutan untuk dibagikan. Wajar dia begitu percaya dengan penyihir ini.
"Apa ada lagi kejutannya?"
Dia tertawa.
"Anda yang lebih banyak kejutannya,"
Dia melaluiku. Orang tua yang banyak pengalaman memang sedikit berbeda.
"Akhirnya aku bisa istirahat...." Verion menyeret kakinya saat melewatiku. Latihan keras membuatnya tampak seperti zombi.
"Istirahat hanya untuk orang pemalas!" Levian berjalan melewatinya sambil berkata begitu. Mimik wajah verion berubah menjadi kecewa, entah dimana wajah ramahnya yang biasa.
"Akion, ini menara sihir yang sederhana."
Aku mengangguk setuju dengan Tanka. Menara sihir yang tidak besar, perabotan yang kuno dan sederhana, bahkan sedikit sekali penyihir lainnya.
Namun, Redvet adalah desa yang kecil, sebuah keajaiban di desa ini ada menara sihir. Bukankah ini sama saja dengan kemewahan?
__ADS_1
Biasanya penyihir akan lebih memilih di kota, namun di wilayah pinggirannya, atau di suatu wilayah yang tanahnya mengandung banyak sihir. Tapi tidak dengan ini, ini adalah desa kecil tanpa sihir, dan damai.