Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Perekrutan Sekretaris


__ADS_3

Tiga hari kemudian


Sebentar lagi waktuku untuk berangkat Kekaisaran. Masalah pembukuan di Sanktessy, aku telah menyuruh ayahku merekrut dengan cara menyebarkan berita. Dua minggu, berita itu telah tersebar.


Aku mengatakan pada ayahku agar membuat informasi itu dan waktu ujian cukup lama, agar mereka mempersiapkan diri dan benar-benar berusaha.


Tidak ada syarat khusus di dalamnya. Kau hanya perlu pintar dalam pembukuan, jujur, pekerja keras bahkan ketika kau sakit jika kami membutuhkanmu, maka dia harus siap.


Tidak heran, pada hari ini mansion Sanktessy sangat berisik karena mereka antusias untuk mengikuti ujiannya. Kami telah menjanjikan 1000 keping emas dalam setahun. Itu bayaran yang besar.


Mereka yang telah mengetahui Sanktessy melunasi hutang, dan menjalankan bisnis baru, merasa yakin bahwa berita itu tidak bohong. Jadi, mereka dengan penuh semangat datang kemari untuk mengubah nasib mereka.


Wajah mereka terlihat bahagia. Sebagai orang biasa menginjakkan kaki di rumah bangsawan itu adalah hal yang sulit.


Aku sengaja memilih lokasi ujian di mansion kami ujian akan dilakukan di taman mansionku


Udara segar dan tidak terlalu panas.


Kuharap mereka bisa mengerjakannya dengan santai dan baik. Mendapatkan orang terbaiklah yang kuinginkan.


"Tolong layani mereka dengan baik."


Bastian membungkuk padaku, di belakangnya berjejer para pelayanan yang membawa nampan makanan dan minuman.


Di bagian pinggiran taman yang telah tertata, mereka meletakan semua makanan dan minuman itu.


Ini adalah tradisi sekolahku dulu. Mereka mendapatkan sarapan gratis yang penuh dengan nutrisi. Aku memberikan mereka sesuatu yang berkualitas bagus.


Mereka terpukau. Mata mereka tidak bisa berbohong.


Memandangi kemewahan ini, mereka tampak ragu untuk menyentuhnya.


"Silakan dinikmati. Ini adalah pelayanan dari Tuan kami untuk kalian semua masa depan Sanktessy."


"Apakah kami boleh memakan sepuasnya?"


Seorang pria gempal berumur 20 tahunan keatas mengajukan pertanyaan pada Bastian.


"Tentu. Tapi ingatlah, bahwa anda datang ke sini untuk ujian. Jangan sampai perut kalian sakit karena terlalu banyak makan."


Suara Bastian rendah. Pria itu mengangguk canggung dan mengambil sepotong roti isi daging dan langsung dimasukkan seluruhnya ke dalam mulut.


Tidak lama kemudian, seluruh peserta menikmati


hidangan yang kusiapkan dengan suka cita. Beberapa dari mereka mengobrol santai, beberapa lagi tetap membaca sambil mengunyah, ada juga yang sangat tegang hingga tidak sanggup untuk makan.


Eli mengenakan rok hitam dan kemeja putih berenda muncul di hadapan mereka. Eli yang berdandan seperti itu memiliki kesan layaknya wanita karier.


Para peserta memandangnya takjub.


Kecantikannya tidak biasa, langkah kakinya yang ringan membuatnya seakan mempunyai sayap di punggungnya. Itu ringan.


Mata hijau yang cemerlang, membuat mereka tersihir. Itulah keistimewaan siren.


"Jika kalian melakukan kecurangan, maka kalian akan dinyatakan gugur dan tidak akan bisa mengikuti ujian apa pun dari keluarga Baron Sanktessy."

__ADS_1


"Kami menginginkan orang jujur yang mempercayai dirinya sendiri. Jika kalian tidak suka, maka mundurlah dari sekarang."


Untuk menciptakan kesan kuat Eli mematahkan kayu ramping yang dia pegang. Melihat kesungguhan dari ucapan Eli, para peserta menelan ludah, dan mengangguk bersamaan.


Aku tertawa saat memperhatikan.


"Apa kau tidak akan keluar, Kak?"


"Mereka akan takut melihatku."


Sosok ini masihlah ditakuti karena terlalu banyak rumor.


"Kakak adalah penerus Baron. Mereka tidak akan bersikap kurang ajar begitu."


Aku mengusap kepala Renia.


"Nanti mereka akan melihat kakakmu yang tampan ini."


"Lebih tampan aku, sih." Harzem langsung menyambar pembicaraan kami.


Aku akan jujur untuk ketampanan, Harsem berada di poin 8.5, dan Akion di poin 10. Aku telah menilainya secara menyeluruh, dan aku yakin Harsem mengetahui itu sehingga dia terkadang kesal padaku saat Eli mendekatiku.


Ujian dimulai juga, mereka sangat serius. Tidak ada suara selain suara burung, serangga, dan kertas yang dibalik secara buru-buru.


Sejak dulu menunggu memang selalu melelahkan. Cake yang ada di hadapan kami hanya termakan setengah, satu jam berlalu satu pun dari mereka belum ada yang menyelesaikannya.


"Apakah soalnya terlalu sulit ya?"


Aku menyiapkan soalnya yang menurutku menarik untuk mengetahui jawaban mereka. Tapi tampaknya ketertarikanku itu terlalu sulit untuk mereka hadapi.


Posisi duduk yang tidak baik membuat punggungku sakit.


"Lihat pria kurus berponi itu, Kak!" Renia menarik lengan bajuku, "Dia telah menyelesaikan ujiannya."


Aku melihatnya langsung. Dia pria yang menarik, tidak terlihat seperti orang yang gemar belajar. Pada bagian lehernya yang tersingkap, aku melihat sebuah tato abstrak di atasnya.


Dia mempunyai badan kurus berurat, berahang tegas, mata yang tenang, dan rambut sedikit berantakan yang menarik, mendekati sarang burung.


Apa dia tidak mandi?


Sejauh ini dia menarik.


Menyelesaikan soal yang telah kubuat lebih cepat dari siapapun. Kurasa kita telah menemukan calon terkuat menjadi sekretaris.


Namanya William Cassis, berasal dari wilayah Gillsy, pintu masuk Sanktessy.


Dia menjawab dengan menarik. Mempunyai sudut pandang sendiri, dengan analisa yang tinggi. Untuk pembukuannya, dia sangat detail.


Nilai sempurna untuknya.


Kertas ujian belum semua selesai dikoreksi. Peserta yang mendaftar ada 65 orang. Pada ronde kedua mereka akan menjadi 30 orang, dan ronde terakhir hanya akan ada 2 orang.


Saat ini mereka pasti telah menyantap makan sianb yang kami siapkan. Semua orang yang ada di Sanktessy sangat sibuk hari ini. Kecuali Tanka, dia dengan acuh tidak berniat ada di mansion utama, dan menghabiskan waktu di laboratoriumnya.


"Apakah Akion menyukai orang ini?"

__ADS_1


Eli berbicara di telinga kananku, udara dari mulutnya membuat telingaku geli.


"Kau terus melihat kertas ujiannya, dan nilainya sangat bagus."


"Kau benar. Dia adalah pria menarik yang pintar."


"Apa kau telah menyelesaikan makan siangmu?"


"Tentu. Hanya kau yang belum menyantap makan siang. Masa pertumbuhan membutuhkan banyak nutrisi."


"Adikku yang manis itu telah tumbuh sangat baik, Eli." Harzem tersenyum sambil memegang kertas ujian yang di koreksinya.


"Baiklah, kupikir aku akan mengambil istirahat sebentar. "


"Bastian, tolong antarkan makan siang ke kamarku."


Setelah mengucapkannya pada Bastian, aku menutup pintu dan menuju kamar. Dibandingkan istirahat dan memakan makan siang, aku lebih menginginkan lari dari tatapan panas Harzem yang tampak ramah padanya.


Harzem secara terbuka memberitahu siapapun dia menyukai Eli. Hanya saja Eli adalah gadis tidak peka, menganggap semua keramahtamahan orang lain adalah hal yang biasa.


Tidak peduli dengan itu, aku sedikit takut jika Eli menyukai Harzem dan malah berakhir dipermainkan olehnya.


Playboy cap hitam.


**


Tidak seperti biasanya, mansion Sanktessy menjadi lebih ramai dan padat.


Aku ingat saat melihat wajah kecewa mereka yang gugur dari jendela. Itu adalah hal terjelek pada hari yang sangat baik ini.


Ronde kedua telah berjalan. Ayahku yang mengetes mereka secara langsung, mengenai kecakapan mereka, ingatan, dan sosialisasinya. Dia akan berada disisiku, sedikit saja hal penting terlupa maka itu akan menjadi fatal.


Aku menatap wajah lelah mereka.


Ini hari yang sibuk.


Dua orang di depanku adalah seorang pria, dan seorang wanita.


William dan Grace.


Semua orang mengatakan bahwa tatapan Akion yang tajam akan membuat orang lain gentar. Tapi seorang yang bernama Willian wajahnya tidak berubah ekspresinya.


Sedetik pun.


Aku sengaja melemparkan tumpukan buku ke lantai, wajah Willian tidak berubah juga. Bahkan Grace yang ada di sebelahnya mencicit seperti tikus.


"Apa yang anda inginkan, Tuan Akion?"


Suaranya tenang, tidak ada emosi di dalamnya. Dia mengambil buku itu dan membersihkannya.


"Bukankah aku belum memberitahumu untuk melakukan apa pun?"


Aku menyeringai.


"Apa kalian siap mati?"

__ADS_1


__ADS_2