Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Bertemu Orang Yang Dikenal


__ADS_3

"Apa kau tidak akan menjawabku?"


Lihatlah sikapnya yang sok berkuasa.


Aku menggerakkan sedikit tengkukku, rasa tegang mendatangiku. Setelah itu aku memandang sang putri dengan tersenyum.


"Halo Tuan Putri Sang Saintess yang Agung, maafkan aku yang sedikit terlambat menyapamu dan menjawab pertanyaanmu. Itu karena aku begitu terpesona dengan keindahanmu"


Dia terkejut, entah karena senyuman yang tidak pernah lihat sebelumnya, atau karena omong kosongku barusan.


Sudut bibirnya terangkat sedikit, tapi dia bisa bersikap anggun. Seorang yang mendapatkan pendidikan terbaik, dia pasti memahami etiket bangsawan-bangsawan.


"Terima kasih atas pujianmu, Baron Muda Akion. Sekarang kau bisa menjawab pertanyaanku,"


Aku tersenyum kecil. "Tuan Putri Ophelia, tidakkah Anda melihat saya sedang membaca buku? Apakah ada sesuatu hal lainnya yang dilakukan di perpustakaan?"


"Jika saya mengetahui anda memiliki keperluan di sini, saya tidak akan lancang untuk berada di sini. Pendeta yang mendatangi saya tadi tidak mengatakan apa pun tentang Anda. Maafkanlah dia." Aku memandang ke pendeta tadi yang menunduk dengan takut.


Matanya memandang dingin padaku. "Ternyata kau pintar dalam berbicara."


Aku menutup buku yang kubaca. "Saya bisa bicara lebih banyak lagi jika Anda menginginkannya, Tuan Putri Ophelia."


Situasi menjadi mencekam. Aku tahu mungkin dia kesal karena tawaran kaisar kutolak. Harga dirinya sebagai wanita paling diinginkan di Kekaisaran terluka hanya karena anak dari Baron miskin sepertiku.


Itulah kenapa dia tidak ramah, memandangku dingin dari ujung kepala ke ujung kaki.


Bukankah penampilanku sekarang berbeda dengan yang dulu, aku terlihat lebih mewah, 'kan. Itulah kekuatan uang.


"Aku tidak akan mengganggu waktu sibuk seorang swordmaster termuda sekekaisaran. Kau pasti banyak kegiatan."


"Anda benar sekali, Tuan Putri Ophelia. Saya mempunyai jadwal yang padat. Kalau begitu saya permisi dulu,"


Aku membungkuk dan setelah itu meninggalkannya, dengan perlahan wajahnya menegang.


Setelah aku keluar dari perpustakaan, aku melihat Putri Ophelia memanggil pendeta tadi. Yang terjadi selanjutnya aku tak tahu, mungkin dia akan menerima hukuman kecil dari Saintess yang Agung.


**


Kami menjauh dari gedung utama kuil, menelusuri jalan batu yang disusun rapi. Aku melepaskan Tanka yang tadi bersembunyi di kantongku. Dia bisa saja melihat Tanka, bukankah matanya adalah mata dewa.


Dan aku tidak menyukai jika dia mengetahui Tanka. Untungnya pada saat itu Tanka berada di titik yang tidak terlihat untuknya.


"Apakah sungguh wanita tadi adalah Saintess?" Tanka memandangku dengan ekspresi ragu.


"Ya, benar. Ada apa?"


"Dia tidak seperti yang kubayangkan. Berbeda dengan Caesar."

__ADS_1


"Mungkin karena dia wanita dan Caesar pria,"


"Entahlah. Ada yang aneh padanya. Aku tidak menyukainya."


Dia menggaruk kepalanya gelisah.


Aku mungkin tidak terlalu menanggapi omongan Tanka mengenai sang putri, tapi aku tetap memikirkannya dan menjaga kewaspadaanku.


Saat malam tiba, kami baru tiba di istana, aku berjalan di lorong gedung barat yang tidak mewah.


Pelayanan yang bertemu denganku menunduk sekali, lalu berlalu begitu saja. Hilangnya aku selama seharian dianggap tidak masalah, atau tidak ada satu pun dari mereka yang mencariku.


Aku mengusap daguku lambat, saat itu kepala seseorang menyembul dari persimpangan lorong.


Itu adalah Altair. Senyumannya semeringah, dia memandangku dengan matanya yang membulat.


"Akhirnya kita ketemu lagi, Tuan Akion,"


Kujelaskan di sini, jika dia tidak mengingat tentang etiket dan martabatnya sebagai utusan Count Elbram, dia pasti akan melompat ke arahku dan memelukku.


"Apa kabar, Altair?"


Aku tersenyum hangat padanya. Bertemu dengan orang yang dikenal memang mampu melepaskan beban pikiran.


Lima menit kemudian kami telah duduk di dalam kamarku.


Bunyi jendela kayu di kamarku saat ditiup angin. Aku mengabaikannya saja, tapi Altair memandangnya tidak Terima.


"Bagaimana bisa Anda seorang diri yang ditempatkan di istana gedung barat?" Altair mendengkus dengan wajah kesalnya yang memerah.


Aku mengagumi sisi manisnya yang bersimpati padaku. Para Bangsawan lainnya pasti telah menduga bagian perlakuan Kaisar padaku karena penolakan Akion. Ini bertujuan untuk menekanku, dan mengatakan siapakah yang berkuasa di sini.


"Terlebih ini adalah kamar yang jelek, dan tidak layak untuk orang sehebat anda, Tuan Akion,"


Aku setuju mengenai hal itu, bukankah Kaisar terlalu bersikap kekanak-kanakan?


"Aku akan melakukan protes pada Kaisar,"


Aku meneguk tehku terlebih dahulu, dan memandangnya lembut. Tidak bisa aku membiarkan anak selugu ini membuang nyawanya dengan percuma.


"Jangan lakukan itu, Altair. Kau bisa saja terbunuh karena melukai perasaan Kaisar." Aku menatapnya lembut tapi penuh ancaman. Dia diam menutup mulutnya.


"Tidak apa aku ada di kamar ini. Cukup nyaman."


Itu bukanlah kebohongan. Aku baru beberapa bulan ada di Xellim tapi telah merasakan banyak hal, bahkan tidur di atas kuda atau pun di tanah yang keras telah kulalui. Tidur di kasur yang reyot sedikit bukanlah masalah.


"Tapi aku berterima kasih atas perhatianmu, Altair."

__ADS_1


Wajahnya cepat sekali berubah ekspresi menjadi senang.


"Terima kasih juga telah mengunjungiku."


Dia menahan agar senyumnya tidak terlalu lebar. Mungkin jika dia mempunyai sayap, dia akan terbang.


"Anak ini lucu." Tanka memandangi wajahnya dari dekat. Aku mengangguk.


"Apa kau baru saja sampai, Altair?"


Aku memperhatikan bahwa dia bersikap malu-malu dan berani secara bersamaan. Dia mempunyai keuletan yang hebat agar bisa mendekat pada idolanya.


"Saya baru tiba malam ini dan langsung mencari Anda, Tuan Akion,"


Itu sebuah kehormatan untukku. Aku berdiri dari sofaku, kesatrianya waspada saat aku mengangkat tangan dan mengusap kepala Altair.


Apakah dia malu?


Tapi dari ekspresinya bahkan di menginginkan hal ini cukup lama. Ini adalah momen kedekatan yang Altair inginkan dariku, mungkin Tanka bertanya kenapa aku menurunkan kewaspadaanku padanya. Aku tak merasakan hal lain selain kepolosan darinya.


Dia yang masih terkejut hanya diam saja menerima perlakuan ku. Setelah aku menarik tanganku, dia memandangku percaya diri.


"Kau harus istirahat, Altair. Masa pertumbuhan itu penting,"


Dia menerima saranku tanpa sanggahan. Senyumannya yang lembut dan cerah sama cerahnya dengan matahari.


Dia pamit denganku. Gaya berjalannya tegap dan percaya diri.


Setelah pintu kamarku kembali tertutup, Tanka memandangku seakan menemukan sesuatu.


"Kau lemah dengan anak-anak?"


Aku tersenyum kecil. Dia menangkap ekorku. Karena aku adalah anak semata wayang, aku tidak punya adik. Aku menginginkannya, kemudian setiap ada anak kecil aku bermain bersama mereka.


Dia tertawa polos.


Ada apa? Peri yang aneh.


"Apakah itu hal yang memalukan?"


"Tidak, Akion. Aku hanya membayangkanmu sebagai seorang ayah,"


"Aku telah menjadi seorang ayah bagi Sunny,"


Dia menggelengkan kepalanya dan menatapku dengan senyum kecut. Tidak, aku mengerti apa arti senyuman itu, apa maksud dari perkataan yang yang sebelumnya.


Itu lebih menjelaskan kepada aku sebagai ayah biologis.

__ADS_1


Namun aku tidak bisa berpikir sampai sana. Itu masih khayalan semu.


__ADS_2