Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Hubungan yang Erat


__ADS_3

Aku tidak melakukan kekerasan pada Verion. Tapi dia berjalan menciut disampingku. Aku tahu apa yang dia pikirkan, bagaimana jika kesatria keluarga Kingston meremehkan, dan membully ksatriaku?


Sepanjang dia bersamaku, Verion tahu berapa banyak orang yang memandangku dan Sankessy rendah.


Jika saja mereka bertindak sendiri dengan merendahkan, maka mungkin Verion bahkan sanggup membungkuk untuk mereka.


Sebenarnya, aku tidak memikirkan hal buruk. Aku telah melihat mereka, mata mereka ramah, memperlakukan aku setara dengan tuannya. Menghormatiku seperti bangsawan lainnya.


Jadi, jika mereka melakukan hinaan, kurasa itu hal yang tidak mungkin. Ketua Kesatria mereka adalah orang yang penuh hormat. Pastinya dia memahami bahwa dia membawa nama keluarga bangsawan yang dia layani.


Kami telah tiba, dan seperti dugaanku, ini hanyalah sebuah pertandingan persahabatan. Kedua kelompok saling berteriak menyemangati dengan wajah gembira.


Verion merasa lega.


Aku melipat tangan memperhatikan mereka bertanding. Ayunan pedang keduanya kuat, dan cepat. Mereka juga sama-sama berpengalaman. Sehingga sulit untuk menentukan siapa pemenangnya, itu jika orang lain yang melihatnya. Menurutku ketua kesatriaku-August yang akan menang.


Dia mempunyai stamina yang lebih. Ini hanya tentang stamina.


Ketua Kesatria Verion akhirnya mengakui kekalahannya. Orang-orang berteriak, dan mereka bersalaman dengan wajah tersenyum. Hal yang baik.


Jika August kalah tadi, maka aku akan memberinya hukuman. Di bawah bimbinganku dia bisa kalah, itu membuat harga diriku sedikit terluka.


"Anda sangat hebat, Tuan August."


"Ini semua berkat latihan dibawah bimbingan Tuan Akion." Dia tersenyum lebar dengan bangga.


Jika dia kalah tadi, August pasti akan membuat dirinyalah yang salah, tidak akan membawa namaku.


Dia memang seorang kesatria yang bijak.


Lalu, matanya bertemu dengan mataku. Dia mundur sekali karena kaget. Tidak lama, kesatria yang lainnya juga diam sesaat setelah melihat kami.


Aku dan Verion tersenyum yang membuat mereka merinding.


Verion memberikan hukuman untuk semua kesatrianya. Itu hanyalah mengelilingi lapangan. Aku tahu dia melakukan itu karena kesal dia merasakan intimidasi tadi karena kesatrianya.


Aku hanya memperhatikannya.


"Tuan Akion, kami telah siap untuk berangkat."


Aku menatap wajah August yang berdiri disampingku.


"Apa kalian sudah cukup istirahatnya?"


"Kami dalam keadaan yang sangat prima, Tuan Akion."


"Setelah makan siang kita akan berangkat. Kalian boleh bersenang-senang sebentar." Aku berdiri dari kursiku," Kalian bisa berbincang bersama mereka."


Aku melihat Kesatria Verion yang telah menyelesaikan hukumannya. Verion menghampiri.


"Kau ingin mengajakku berkeliling lagi?"


Itu adalah ajakanku secara halus.


"Mari kita berkeliling Vernanses."


Kami menaikki kereta kuda keluarganya. Pelayan telah mempersiapkannya dengan cepat namun tidak buru-buru. Ketua Kesatria masing-masing dari kami telah menawarkan diri untuk mengawal kami. Tapi kami menolak. Bahkan jika bisa, aku lebih menginginkan melompat dari satu atap ke atap gedung lainnya di Vernanses. Seperti ninja.


Apa semua Ketua pelayan tua sama seperti Bastian?


Ketua pelayan disini bernama Jade. Dan dia seperti Bastian yang cerewet. Dia lah yang memaksa kami berdua untuk menggunakan kereta keluarga Marquis Kingston.


Dimatanya, Verion adalah anak sah yang jarang menikmati kemewahan dari ayahnya. Disembunyikan untuk melindungi nyawanya. Menggunakan kereta kuda dengan lambang keluarganya jelas ada hal yang mungkin tidak pernah.


Melihat matanya yang sedih, Verion menurutinya. Verion memang mempunyai hati yang lembut.


Jalanan kota sangat mulus, Kereta yang bagus dan jalan yang bagus membuat perjalanan menggunakan kereta kuda lebih nyaman.

__ADS_1


"Kau terlihat familiar dengan Vernanses."


Kami duduk berseberangan.


"Aku beberapa kali datang ke sini sebagai pendeta pembaptisan."


"Apa kau ke mansionmu?"


"Tidak. Aku melihatnya dari kejauhan."


Itu mengingatkanku dengan punduk yang merindukan bulan.


"Kau tidak perlu bersedih. Itu telah berlalu."


Tanpa aku sadari wajahku muram dengan sendirinya saat Verion bercerita.


"Kedepannya akan banyak yang menyenangkan." Aku tersenyum.


Kedepannya adalah pertarungan yang serius. Yang membutuhkan otak, kekuatan, dan kekayaan.


Tidak ada jalan yang mulus untuk seorang bangsawan yang tidak memihak.


Satu keluarga bangsawan yang kekurangan kekuatan, satu keluarga bangsawan yang kekurangan kekayaan. Ketika keduanya bersatu, maka akan muncul gerakan baru.


Seberapa kecil pun gerak itu, akan mempengaruhi yang lainnya. Seperti riak air.


Mereka akan mencoba mendekati, memperhatikan semua calon penerus keluarga agar bisa ditarik ke bawah mereka dan dimanfaatkan hingga habis.


Itulah manusia. Di mana pun berada mereka harus memikirkan diri sendiri.


Aku telah melingkari salah satu keinginanku yang belum kujalankan. Melihat kondisi, dan mempertimbangkannya. Ini tergantung pada mereka.


"Kita sampai."


Di depan kami berdiri toko kue yang interiornya sangat manis.


"Aku tahu kau menyukai makanan yang manis, Akion."


"Jangan malu," lanjutnya.


Ring!


Pintu yang terdapat lonceng di depannya terbuka. Dua orang gadis ke luar sambil bercengkerama.


Aku memandangnya dingin.


**


Aku memaksakan diri untuk mengikuti Verion.


Dia mungkin sedang melakukan survei mengenai gadis atau hal lainnya yang tidak kumengerti.


Namun, dua pria besar berotot dan membawa pedang masuk kedalam cafe yang manis untuk memakan cake, membuat kami menjadi pusat perhatian.


Seluruh mata gadis itu menatap kami. Melirik dengan malu, lalu membicarakannya kami dengan tersipu. Menilai kami siapakah yang pantas menjadi suami.


Sebuah kekonyolan.


"Apakah Anda tidak akan memakan cake coklat anda?"


Aku memegang sendok dengan erat saat Verion bertanya padaku. Aku memang memintanya untuk memesanku cake coklat, tapi tidak dengan dekorasi yang semanis ini.


Cake coklat itu dihias dengan krim berbentuk hati, piring berwarna pink, dan selai berbentuk hati di piringnya.


Tidak masalah jika memberiku cake seperti ini di mansionnya, tapi saat cake ini datang, para gadis itu histeris membicarakannya.


"Lihat dia memesan cake moon lovers!"

__ADS_1


"Apakah mereka mempunyai hubungan yang seperti itu?"


"Ah, sayang sekali. Padahal wajah mereka berdua tampan. Pupus sudah harapanku." Gadis itu meletakan tangannya di pipinya dengan kecewa.


"Tapi tidak masalah. Makhluk indah seperti mereka berdua bersama. Hahaha"


Astaga. Itu fitnah yang luar biasa. Kenapa juga nama cake ini adalah moon lovers?


Aku tersipu, tapi tetap berusaha memakan cake dengan keren.


Enak.


Ketika cake itu masuk ke dalam mulutku, dia sangat enak. Krim yang ringan, coklat yang sedikit pahit, ini sesuai dengan seleraku.


"Ada apa?"


Aku menyadari diam-diam Verion memperhatikanku dan beberapa kali membuka mulutnya.


"Apa kau tertarik dengan gadis di sebelahmu, dia memperhatikanmu sejak tadi?"


"Tidak."


"Dia cukup cantik."


Verion sekarang cukup berani mengajukan pertanyaan pribadi.


"Ya. Tapi aku tidak menyukainya."


"Ah, sayang sekali gadis itu akan mengalami patah hati." Verion tersenyum.


Setelah kami menyelesaikan makanan kami, kami beranjak dari kursi, seorang gadis yang Verion katakan tadi menghampiri dan memberikan surat.


Bukankah ini gerakan yang sangat cepat?


Maksudku, kami baru bertemu, dan gadis ini telah menulis surat untukku.


Aku tersenyum, dan menolak surat itu.


Sebuah beban yang menyebalkan.


Gadis itu mundur-kecewa, tapi ketika aku meminta maaf tulus, dia telah memaafkanku.


Ini hanya cinta yang tumbuh sesaat, dan hilang cepat.


Aku dan Verion berkeliling menghabiskan waktu hingga makan siang telah tiba tanpa kami sadar.


Setelah menyantap makan siang yang disiapkan oleh pelayannya, aku mempersiapkan diri untuk berangkat.


Kereta kudaku telah berada di halaman depannya, semua kesatriaku telah bersiap.


"Jangan pura-pura tidak mengenalku di Kekaisaran."


Aku memicingkan mata.


Biasanya bangsawan lain yang berpura-pura tidak mengenali kami. Jadi kemungkinan dialah yang seperti itu.


"Kata-kata itu harusnya untukmu."


"Aku tidak seperti mereka."


"Kuharap."


Di belakangku, August dan ketua kesatria Verion yang tidak kuketahui namanya sedang bersalaman. Waktu singkat bahkan mampu membuat mereka berteman.


"Baiklah, sampai bertemu di Kekaisaran."


Di tangga kereta kudaku, aku berhenti sebentar dan menghadap Verion untuk mengatakannya.

__ADS_1


Dia tersenyum, dan kereta kudaku berjalan cepat.


__ADS_2