
Sejujurnya telah banyak hal yang terjadi setelah aku berpindah kesini. Dari hal buruk hingga menyenangkan disini benar-benar tercampur. Bahkan sekarang aku telah bersiap untuk pergi lagi bersama Levian, aku tidak membawa Aaron. Karena saat ini ada yang lebih praktis.
Sebuah gulungan sihir telah ada ditanganku. Kami berdua akan pergi ke gunung berk.
"Kenapa kau tidak ikut?"
"Aku ingin di sini bersama penelitianku." Tanka memasang wajah serius, dia bahkan menggunakan baju lab berukurannya. Entah kapan dia membuatnya.
"Bagaimana aku bisa masuk kesana?"
"Itu segel spesial. Aku sudah memodifnya agar kau bisa masuk."
"Benarkah?"
"Iya, Lalu tolong bawakan aku ini saat berada disana." Tanka memberikan sebuah catatan yang berisi list yang harus dibawah.
Begitulah kenapa hanya kami berdua yang pergi. Sebenamya, Harzem merengek untuk ikut, tapi aku memerintahnya untuk tetap di sini membantu Tanka atau tidak sama sekali. Ancaman itu membuatnya dia dengan wajah cemberut.
Kami hanya akan pergi sehari atau dua hari, tapi tetap saja keperluan harus dibawa. Tas punggung telah kupegang, pedang telah terpasang, semuanya telah lengkap.
"Itu gulungan sihir!?" Suara berisik dari Harzem mengacau lagi. Dia penyihir yang antusias. Lebih bagus kalau dia mempunyai kemampuan tinggi untuk membuka portal daripada mulut yang berbicara lebih banyak.
Dia menyentuh gulungan sihir tidak percaya.
"Dapat dari mana?" matanya bersinar.
"Haaa...." Aku membuang napas, saat akan berangkat pun aku tidak tenang karna Harzem, tapi aku menjawabnya, "Ini hasil pembayaran."
Sebelum dia mengajukan pertanyaan lagi, aku memerintahnya.
"Mundur." Tubuhnya dengan cepat mundur dan menjauh.
Aku mengoyak gulungan sihir itu, dan perlahan menghilang, sebelum menghilang benar, Tanka berteriak untuk tidak melupakan pesanannya.
Aku sungguh belum terbiasa menggunakan ini. Walaupun efek padaku hanya sedikit, tapi kepala pusing yang menyengat itu menyebalkan. Setelah tenang, aku memandang ke depan. Yang sesuatu yang menjulang tinggi ini adalah gunung Berk tercintaku.
"Tunggu di sini." Aku memberi perintah pada Levian yang baru saja mengelap bibirnya karna muntah.
Dia mengangguk lemah.
Isi dari gunung Berk selalu mampu membuatku terpukau. Ayolah, ini adalah tempat terkaya di Xellim, jika mereka mengetahuinya, pasti banyak dari mereka yang ingin merebutnya. Bahkan persiapan kecil yang kuminta Marquis Kingston untuk mengurusnya akan menjadi pembicaraan luar biasanya di Kekaisaran.
Pembicaraan bangsawan selalu penuh penilaian dan mudah di tebak.
Aku memasukkan batu Mana untuk Marquis kingston, dan mengambil seluruh koin emasku, beberapa batu Mana lainnya juga kuambil karna sepertinya kami akan membutuhkannya nanti. Setelah selesai semuanya, aku tidak membawa tas itu, tapi kutinggalkan di sana dan keluar menemui Levian.
__ADS_1
Levian berdiri menjaga di depan pintu masuk dengan waspada. Kejadian ogre dulu membuat kami tidak bisa menganggap ini sepele.
"Ayo, kita berburu." Aku mengajak Levian untuk memenuhi liat dari Tanka.
Tanka selalu punya sesuatu hal mahal yang bisa diperjual belikan dan digunakan. Permintaannya selalu berharga.
**
Di list pertamanya, dia meminta sisik siren.
Tanka mengatakan bahwa Siren hidup berkelompok di bagian selatan hutan kegelapan. Siren punya nyanyian yang menghipnotis, yang mampu menipu seseorang untuk mengikutinya dan masuk ke dalam perangkapnya.
Lalu, siren akan memakan daging mereka agar mereka mendapatkan kekuatan dan panjang umur dari itu. Di sisi lainnya, manusia maksudku, malah Siren diburu dan dagingnya pun untuk dimakan. Ada cerita mengatakan bahwa dengan daging siren, maka selain panjang umur dan awet muda, kau akan bertambah rupawan.
Sederhananya, kedua sisi ini sama-sama memakan daging agar awet muda. Namun, sejak lama manusia tidak mampu memburu Siren, karna terlalu bahaya dan mereka sulit untuk ditemukan. Berita baiknya, mereka ada disini.
"Pernahkah anda melihat Siren, bahkan sekali?
"Tidak. Tapi mereka itu buruk rupa."
Itulah yang dikatakan oleh Tanka. Siren sangat mengerikan. Mempunyai rambut panjang yang seperti semak belukar, kuku berwarna merah yang seperti darah membeku.
"Tuan Akion, saya juga hanya pernah membacanya. Mungkin kalau kita menangkap dan menjualnya, itu mempunyai harga mahal." Levian yang berlari disampingku telah menjadi budak uang. Dia bersikap sopan tanpa memaksaku.
Aku memikirkan perkataannya, itu benar, siren yang langkah akan menghasilkan banyak uang.
Aku melihat sesosok Siren sedang duduk di batu, wajahnya sedang memandang ke arah lain, aku tidak dapat melihat seutuhnya. Kukunya yang berwarna merah sedang menyisiri rambutnya dengan lembut.
Krek!
Levian tidak sengaja menginjak ranting kayu, seketika ekspresinya berubah menjadi bersalah. Saat aku kembali memperhatikan Siren itu jantungku berdebar.
Bukankah ini sangat hebat?
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa dia berwujud begitu?
"Tuan Akion, bukankah itu siren? Dia berbeda dengan yang Tanka jelaskan."
Tanka, kau telah menipuku! Siren mempunyai wajah yang sangat cantik, kulitnya terlihat sangat mulus, kuku yang terawat dan matanya berwarna hijau.
"Siapa kalian?"
Aku yang tertangkap basah mengintipnya keluar dengan wajah tidak enak.
__ADS_1
"Manusia!" Dia berteriak, dan melompat dari atas batu.
"Tunggu, aku tidak berniat jahat padamu."
Saat itu Levian memandangku dengan tidak terduga. Aku kenapa melunak. Tapi siren itu telah meninggalkanku masuk kedalam air.
Di atas batu yang dia duduki tadi, dua sisiknya tertinggal. Ini warna hijau yang cantik, tapi sisik di tanganku ini sangat kurang. Apakah aku harus menyelam? Aku menyingkirkan ide itu secepatnya.
Aku menunggunya berjam-jam, tapi sosok Siren pun belum muncul ke permukaan. Mereka pasti mengawasiku dan bersembunyi.
Aku berbalik arah, "Ayo pergi."
"Tapi Tuan Akion kita belum bisa mendapatkan sisik siren."
"Tidak ada yang kita dapatkan jika hanya menunggu di sini."
"Anda hanya tinggal membelah sungai ini, dan membuat airnya kering."
Aku tidak menyukai ide itu. Aku tetap berlalu tanpa meresponsnya. Bagaimanapun juga, mereka adalah makhluk hidup, jika bisa aku ingin mendapatkan sisik Siren dengan cara damai.
Aku berharap mereka akan keluar dan tidak membuat masalah. Sungguh menyedihkan jika aku harus melukai makhluk cantik seperti mereka.
Tidak ada gangguan lainnya saat kami mengumpulkan bahan untuk Tanka. Aku hanya tinggal untuk ke rumahnya dan mengambil keperluannya. Ya, saat dia mengikutiku dia tidak membawa apa pun.
Aku mengambil denah yang telah dia gambar. Sejujurnya dia sama sekali tidak berbakat dalam menggambar. Ini sangat jelek, tidak berbentuk, aku tidak tahu apa yang d dia gambar jika tidak menuliskan sedikit penjelasan.
Bagaimana bisa dia menggambarkan pohon raksasa seperti gurita?
Pada titik itu aku menerima bahwa tidak ada makhluk hidup yang sempurna.
Karena peta yang Tanka gambar sangat jelek, kami membutuhkan waktu tiga jam hanya untuk mencari rumahnya yang menurut tanka sangat mudah untuk ditemui. Aku akan mengajukan protes padanya karna dia sering memberikan informasi yang salah.
"Tuan Akion, bukankah itu rumahnya?"
Levian menunjuk ke arah pepohonan rapat berwarna gelap, dibaliknya terlihat atap rumah dan sedikit cahaya. Aku memandangi sekitar, dan menemukan pohon yang sangat besar seperti perkataan Tanka.
"Sepertinya begitu."
Secara alami kami berdua langsung berjalan kesana, menemukan rumah Tanka membuat kami lega.
"Bukankah ini luar biasa, Tuan Akion?"
Aku mendengar bahwa hutan ini hanya mempunyai warna yang gelap, tapi rumah Tanka berbeda.
"Sepertinya dia suka menjadi pusat perhatian." Aku memandangi rumah yang cukup besar untuk peri tanah kecil itu. Rumah yang hangat. Dan dia secara terang-terangan ingin mengatakan bahwa di sinilah tempat tinggalnya pada siapa pun. Jadi wajar jika saat itu Ogre dapat menangkapnya.
__ADS_1
Lalu pemandangan di depannyalah yang membuatku kagum luar biasa. Seharusnya sejak awal aku menyadarinya. Kenapa aku sebodoh itu. Aku akan meminta penjelasan pada Tanka mengenai ini semua.