
Sebelum matahari menunjukkan dirinya, aku sudah bangun dan menuju ke teras untuk melamun sebentar di tengah dinginnya udara pagi.
Aku tidak mengantuk. Kemudian aku merenggangkan badan dan mengambil pedangku untuk berlatih. Yang namanya kebiasaan memang susah diubah.
Ketika aku telah berada di tempat latihan, ada seseorang yang telah berlatih. Itu adalah Verion.
Aku tersenyum melihat hal itu.
"Apa kau tidak bisa tidur?"
Aku sengaja tidak memujinya. Tapi kemudian dia membalikkan kata-kataku.
"Bukannya kau yang tidak bisa tidur, Akion?"
Sunny dan Tanka yang mengikutiku kembali tidur di bawah pohon dengan nyaman.
"Ah, kau pintar membalikkan kata-kata."
Dia hanya tersenyum, dan mengayunkan pedangnya lagi. Aku memperhatikannya beberapa kali. Itu gerakan yang lebih baik dibandingkan ketika ia baru berlatih bersama Verion.
Aku tidak memperdulikannya lagi, jadi aku mulai melatih kemampuan dan tubuhku sendiri. Hingga aku tidak sadar bahwa berjam-jam telah berlalu, dan Verion telah berhenti latihan. Dia malah bermain bersama Sunny-kejar-kejar seperti anjing.
Sebentar lagi matahari terbit, dan tempat ini mungkin akan diisi oleh orang-orang. "Sunny."
Aku memanggil Sunny. Ini sudah saatnya.
Dia datang karena tahu apa maksudku, Verion mengikutinya. Aku mengeluarkan gulungan portal sihir. Tanka mencium pipi Sunny. "Nanti kita bertemu lagi ya, Sayang." Wajahnya sedih.
Aku telah menjelaskan tentang Eli dan Levian pada Sunny. Dia akan berada dibawah pengawasan mereka berdua. Kami juga akan bisa berhubungan dan berbagi visi. Jadi, aku tidak takut meninggalkannya sendiri.
Untuk Levian, aku telah membuatkan surat yang kuberikan pada Sunny, dan dia akan memberikannya pada Levian. Bahkan Sunny sekarang telah mampu berbicara, dia bisa berkomunikasi dengan mudah.
Aku buka portal sihir, dan Sunny menatapku sesaat dengan sedih.
"Jaga dirimu, Sunny."
"Ayah juga."
Dia menghilang setelah memasuki portal sihir. Dan portal itu tertutup.
Sekarang kami tidak melihat lagi Sunny, dan kembali ke dalam mansion.
Ketika berjalan, pelayan yang bertemu kami melihat kami dengan kagum. Seorang bangsawan bangun lebih pagi dari mereka dan telah berlatih.
__ADS_1
Seorang bangsawan pekerjaan keras, dan ramah.
Kami duduk di ruang makan yang mewah. Meja makan yang panjang dan besar, makanan empat sehat lima sempurna yang sangat mewah, dan sebotol wine terbaik.
Pelayannya melayani kami dengan cepat dan tanpa gerakan yang tidak diperlukan.
Aku memulainya dengan memakan sup jamur. Ini sup yang sangat enak dan segar.
"Apakah sunny telah menemui Levian?"
"Sudah. Wajah gurumu sangat terkejut. Kau seharusnya melihatnya. Sayang sekali." Aku tertawa.
Dia meneguk wine.
"Kau akan berangkat nanti siang?" "Ya. Sampai bertemu lagi di kekaisaran."
Mataku menyipit saat tersenyum padanya.
"Baiklah kalau begitu."
"Jangan lupakan latihanmu."
Aku menunjuknya.
Dia telah menyelesaikan sup jamurnya.
"Percayakan padaku."
Dia menyeringai. Senyum seperti itu tidak cocok dengannya, karena menyeringai membuat matanya yang kecil terlihat lebih sinis.
Pelayan datang padanya, menawarkan untuk menambahkan wine di dalam gelasnya. Verion hanya mengangkat tangan kanannya dan pelayan itu mundur. Setelah itu baru dia menawariku. Sama seperti Verion, aku menolaknya.
Aku tidak mau mabuk.
"Apa kau khawatir dengan para kesatriamu?"
Verion menatapku karena aku mempunyai tatapan tidak fokus hari ini.
"Tidak sama sekali. Aku tahu kau pasti melayani mereka dengan baik."
"Oh, kau sangat yakin padaku seolah kita telah mengenal lama."
Perkataan konyolnya membuatku mengerutkan keningku.
__ADS_1
Mata Verion secara alami bersinar sebagai orang yang baik hati. Mempercayai dia berbuat jahat bahkan itu terlihat konyol.
Secara naluriah aku tertawa. Dia terkejut dengan responsku yang tidak terduga.
"Mari kita pastikan." Aku berdiri dari kursi. Telah menyelesaikan sarapan, dan hanya berlama-lama di meja makan aku kurang menyukainya.
Jika ingin berbicara secara santai, maka kami harus berjalan. Kita akan melihat kebohongan Verion. Dia tidak akan melakukan hal yang jahat pada kesatriaku, dan lagi mereka bukanlah orang yang lemah.
Dia meletakan sapu tangannya di atas meja. Lalu berjalan beriringan denganku.
"Kau tidak boleh terlalu mempercayaiku, manusia muda berkhianat."
Oh, ini adalah kalimat yang sering kudengar, dengan versi bahwa pria tidak bisa dipercaya.
"Aku akan melakukan nasehatmu."
Aku menjawabnya santai dan tidak peduli. Saat kami telah sampai di dekat ruang utama. Orang-orang berisik.
"Lihat pertarungan mereka. Itu pasti menjadi hal yang sangat layak untuk di tonton."
Seorang pelayan perempuan berjinjit manja di sebelah temannya.
"Diamlah. Nanti kau bisa ditegur oleh ketua pelayan."
"Tapi aku ingin melihatnya." Dia mengecilkan suaranya.
"Melihat apa?" Kepala Verion menyembul di antara kedua pelayan perempuan itu, mereka mundur, takut.
"Ah, tuan muda Verion... Tidak ada apa-apa."
"Sungguh?"
Dia melirik ku yang ada di belakang Verion. Aku tersenyum sekilas, membuat mereka memerah.
"Ketua Kesatria tuan Akion dan Tuan Verion sedang bertarung."
Aku memegang gagang pedangku dan menatapnya Verion tajam dengan sengaja.
"Akion, aku tidak melakukan hal yang kau pikirkan...." Dia gugup.
"Katamu tadi jangan percaya padamu. Jadi, ini maksudmu."
Dia mundur melihatku tersenyum dengan cara yang mengerikan.
__ADS_1