Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Ulah Verion


__ADS_3

Pada pagi hari, koran telah mengabarkan tentang kematian Count Invit dan Alec yang mati dengan menyeramkan.


Tertulis disana bahwa semua Ksatrianya tidak terluka sedikitpun. Orang-orang menyimpulkan Count Invit memang diincar karena dia memang mempunyai banyak musuh.


Ayahku menutup koran itu dengan tidak peduli. Dia memandangku sekilas lalu beralih melakukan hal lainnya.


Setelah itu dia berjalan ke lorong utama. Aku tahu bahwa ayah akan memandangi potret ibu yang besar itu. Biasanya dia memandang dengan belas kasih, dan rasa rindu yang besar. Sesekali dia akan memegang wajah ibu yang ada di potret seakan dia sedang secara nyata menyentuhnya.


Tidak ada satu pun yang akan mengganggu ayah saat dia menikmati waktu berdua bersama ibu. Kebanyakan dari kami akan memutar arah atau berusaha tidak membuat suara sedikit pun.


"Itu ulahmu, kan?"


Tanka menunjuk berita tentang Count Invit. Matanya penuh curiga.


"Ya, tidak masalah. Aku juga tidak menyukainya." Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


Aku hanya tersenyum.


"Apa kau melakukannya dengan Levian?"


"Tidak, bersama Harzem."


Dia menatapku tidak percaya. Lalu mengangguk.


"Tidak kupikir dia tidak akan membunuh orang lain. Tapi melihat kejadian kemarin, yah, mungkin Harzem tidak terlalu ramah." Aku merendahkan suara dan berbisik perlahan.


"Jangan menilai dari luarnya."


Melihat dia mundur dengan lucu, aku tertawa kecil.


Bohong jika mengatakan bahwa aku sendiri tidak terkejut dengan sikap Harzem. Lihatlah, dia terlihat suka bermain dan tak pernah serius. Tapi ternyata dia cukup kejam.


Ya, Harzem suka berjalan ke mana saja. Tidak mungkin dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Aku tidak tahu hal apa saja yang terjadi padanya.


"Akion bisakah kau memindahkan Eli?" Dia memelas. Sudah hampir dua minggu mereka bersama, tapi dia masih berusaha untuk mengusir Eli dari laboratoriumnya.


"Tidak." Aku menjawab acuh tak acuh.


"Kakak sedang bicara dengan siapa?"


Aku langsung melihat sumber suara. Renia memegang buku besar di tangannya melihatku bingung.


"Kakak hanya sedang berbicara sendiri."


"Oh ya, apa yang sedang kakak bicarakan?"


Dia berbicara dengan ekspresi polos yang pintar. Dia tidak melepaskan kecurigaannya dengan cepat. Ini membuatku senang, di dunia ini penuh dengan tikam menikam, jadi dia harus tetap waspada.


"Kakak habis melihat berita kematian Paman kita."


Dia mendekat, memiringkan kepala sedikit untuk berpikir. "Paman?" Dia menggaruk kepalanya dengan telunjuk.

__ADS_1


"Maksud Kakak, Paman gendut yang wajahnya tidak ramah itu? Paman bau yang suka marah-marah?"


Dia hampir mendeskripsikan semua kejelekan Count invit.


"Dan orang yang sangat kurang ajar." Aku menambahkan. Kami berdua tertawa saat berhadapan.


"Duduklah."


Dia tidak duduk disampingku, itu sedikit mengecewakan. Lalu dia membuka buku dengan cepat.


Kupikir dia akan membaca buku itu, tapi dia bertanya penasaran.


"Bagaimana dia mati, Kak?"


Entah mengapa dia begitu penasaran. Bahkan dia memandangku dengan antusias, aku tidak ingin menceritakan kekejaman itu secara gamblang kepada adik manisku.


"Dia mati dengan tangan terputus dan jantung ditusuk. Darah yang mengalir dari tangannya pasti banyak banyak."


Aku terkejut Harzem yang tiba-tiba muncul menjelaskannya tanpa perasaan bersalah menjelaskannya secara gamblang.


Aku memandangnya tajam.


"Begitulah yang ada di koran." Dia tersenyum kaku." Bacalah di koran. Kau akan mengetahuinya sendiri."


"Tidak." Renia menggeleng sambil menunjukkan buku besar yang dipegangnya.


"Adik kecil manisku, kau jangan terlalu sering membaca buku seperti itu." Harzem memeluk kepala Renia. Renia hanya diam menerimanya.


"Kaulah yang jangan terlalu sering mengganggunya belajar."


"Kita harus sering menikmati waktu santai bersama."


"Itu benar. Aku sangat menyukai waktu bersama Kakak semua." Renia tersenyum.


"Pelayan."


Aku memanggil mereka hanya sekali, mereka mendatangi kami dengan cepat. Aku meminta mereka untuk menyiapkan minum dan camilan untuk kami. Oh, dan singkirkan koran itu. Melihatnya saja, aku masih merasa kesal kepada mereka.


Hari ini adalah hari tiga bersaudara menghabiskan waktu dengan tenang, Tanka bahkan menarik dirinya sendiri untuk itu. Tidak ada percakapan yang istimewa, diisi dengan percakapan ringan, guyonan Harzem yang menggelikan, dan menghabiskan waktu untuk duduk saja.


Renia menutup buku besar itu. Dia telah menyelesaikan bacaannya. Satu macaroon merah masuk kedalam mulutnya, aku menyuapinya.


Dia adalah gadis yang mempunyai tubuh kecil, yang membuatku takut mungkin saja dia bisa pingsan dengan tubuh yang terlihat lemah. Aku menginginkan dirinya untuk tumbuh dengan baik. Jadi, aku menyuapinya dan sering kali memberikannya makanan.


Mata Harzem memiliki kilau cahaya biru.


Singkatnya, setelah Harzem menyerap batu mana lagi, dia menjadi lebih kuat. Tatapannya setajam pecahan kaca.


Dia memainkan Mana-nya dengan semangat.


Harzem berlatih dengan tujuh kesatria yang cukup kuat. Dia mengambil inisiatif sendiri dalam latihan ini.

__ADS_1


Sangat sulit melihat pemandangan berikutnya, tujuan kesatria itu berjongkok di hadapan Harzem. Itu bukanlah aura sepertiku, Harzem sedang bermain pada mereka. Aku lihat air yang sangat tipis melingkupi mereka dan memaksa mereka berjongkok. Sekuat mereka menolak,


Harzem semakin kuat menekannya.


Dibandingkan dengan latihan tanding, aku melihat hanya Harzem yang sedang bermain-main.


Sementara itu, sesuai dengan surat dari Marquis Kingston, dan bayaran di muka, aku telah memberikan Verion batu mana api untuknya. Sejak tadi aku tidak melihatnya di tempat latihan, mungkin dia sibuk untuk meningkatkan kekuatannya.


Levian mencari murid barunya itu, tapi aku tidak menaruh minat kemana Verion sekarang berada.


Pada hari itu juga, sebuah ledakan terjadi dari sisi barat mansionku. Tepat di kamar Verion. Api besar dengan asap yang tinggi membuat semua orang panik.


Harzem dengan cepat terbang kesana dan mematikan api.


Aku dan levian berlari, ketika aku membuka pintu dengan tergesa-gesa aku melihat Verion yang pingsan di dekat ranjang. Untungnya dia masih bernapas, dan tanpa luka parah.


Eli adalah orang pertama yang dilihat oleh Verion saat bangun dari pingsannya.


"Akion, Verion telah bangun."


Dia mengabariku yang berada di ruang kerja. Aku bangkit dari kursiku, dan segera melihatnya. Di belakangku ada Levian.


Aku sedikit kaget, bukan aku orang pertama yang hadir disana. Ayahku dengan wajahnya yang sangat khawatir sedang memberikan minum pada Verion.


"Minum perlahan."


Verion menurutinya, dia tampak akan batuk tapi itu berhasil ditahannya.


"Terima kasih, Baron Sanktessy." Dia Tersenyum halus.


Dia melihat sekelilingnya, ruangan yang berbeda desainnya pasti membuatnya sadar bahwa dia berada di kamar lain.


"Kami terpaksa memindahkanmu di tempat yang sedikit kecil, karena kamarmu telah kau hancurkan."


Penjelasanku membuat wajahnya merasa bersalah.


"Itu hal yang biasa. Lagian aku bisa meminta biaya perbaikan pada ayahmu." Senyumku merekah agar dia tidak terbebani.


"Maafkan aku, Baron Sanktessy. Aku sungguh tidak berniat menghancurkan mansion-mu."


Ekspresi sedihnya yang tulus tidak bisa membuat orang lain marah padanya. Selain itu, mungkin dia mengingatkanku pada anak anjingku di bumi.


"Aku akan menggantinya"


"Tidak masalah. Kau tidak perlu memikirkannya, Verion. Keluargamu telah banyak membantu kami. Jadi, jangan lakukan itu"


"Dengan kerendahan hatiku, kumohon terimalah ganti rugi dari ayahku. Aku akan menulis surat untuk itu."


Setelah mendengarnya, ayahku masih bersikeras bahwa itu tidak perlu. Verion diam sambil tersenyum kecil yang kuyakin hanya untuk menutupi niat aslinya.


Besoknya, kamar Verion yang sebelumnya dia tempati sedang diperbaiki. Bunyi berisik perbaikan terdengar dari mana pun.

__ADS_1


Kamar Verion meledak, itu membakar hampir semuanya. Dalam kamarnya, hanya ada hitam legam yang terlihat. Verion mengatakan dengan jujur bahwa dia kehilangan kendali saat memusatkan sihir apinya untuk menjadi kuat, sehingga api itu meledak dan membakar semuanya. Beruntung saat itu ada Harzem yang seorang penyihir air.


Jadi, api bisa dipadamkan dengan cepat hingga tak menjalar ke bagian lain.


__ADS_2