
Dari pelayan, kesatria, bahkan masyarakat, berita itu telah diketahui oleh mereka.
Bisnis baru keluarga Sanktessy.
Itu adalah bisnis yang mengejutkan bagi semuanya sekekaisaran.
Mereka membicarakan skeptis, tapi mengagumi dari celah mata mereka ini ladang uang mereka.
Keluarga yang rendah hati, ramah, lurus, dan selalu mengatakan iya demi kepentingan bersama.
Bukankah itu buruan yang mudah?
Bisnis baru ini juga membuat mereka takut dan tersaingi. Kenapa bisa keluargaku seberuntung ini di ujung tanduk kehancuran?
Terima kasih kepada leluhurku-Caesar.
Padahal aku hanya mengeluarkan sedikit dari koleksi batu Mana yang kami punya, tapi mereka sudah ketar ketir.
Marquis Kingston telah mempromosikannya di tempat lelang. Aku menyuruhnya untuk melakukan debut di sana, para bangsawan terhormat suka berkumpul di sana, dan sikap tidak ingin kalah mereka akan membuat mereka bersaing ketat.
Boom!
Seperti kembang api, pembicaraan batu Mana merah berkualitas tinggi menjadi pembicaraan sosialita bangsawan.
Begitulah kami mendapatkan pamor tinggi hanya dalam beberapa hari.
Surat yang datang tidak henti-hentinya. Itu mengenai permintaan batu Mana merah. Memborong? Aku menolaknya.
Bahkan Duke Lexir yang telah membeli tujuh puluhan batu Mana masih ingin membeli lagi tetap kutolak.
Aku mengirimkan surat pada mereka, bahwa Marquis Kingstone yang akan menjadi penyalur batu Mana merah, dan harus menggunakan kuota.
Harus melakukan pembicaraan bisnis, dan mengantre. Bahkan pada pihak Kekaisaran sekalipun, aku tidak ingin meringankan aturanku.
Akulah yang mempunyai barang, mereka membutuhkan, maka mereka harus patuh.
Prinsip setiap transaksi.
Dengan semua suara yang membicarakan batu Mana merah kami, aku sangat menyukainya, terdengar seperti musik di telingaku.
Aku memeluk telur hitam pemberian Marquis Kingston, daguku menempel pada bagian atas telur. Dalam posisi yang terlihat santai, aku memberikannya auraku.
"Ah, telur mistik."
Kali pertamanya Tanka melihat telur besar ini. Aku tidak menyembunyikannya, Tanka hanya menjadi sedikit jarang masuk ke dalam kamarku saat berada di laboratorium.
"Apa itu telur mistik?"
Dia melihatku dengan tatapan tidak percaya. Ayolah, jika aku tahu maka aku tidak menanyakannya.
"Sama sepertiku yang makhluk mitologi, itu adalah telur dari mahluk mitologi tipe beast."
"Beast?"
"Phoenix, Unicorn, Basilic, Kaliya, Naga, itu tipe beast."
Aku mengernyitkan keningku.
"Kaliya? Aku tidak ingin mendapatkannya." Aku menjauhkan wajahku dari telur itu, sekilas warnanya menjadi terlihat mendekati Kaliya.
Kaliya ular yang besar tapi menurutku lemah. Jika ingin memilih, mungkin aku lebih menyukai unicorn. Itu akan sangat cocok untuk Renia.
"Aku harap juga bukan Kaliya."
"Kau tidak tahu telur ini isinya apa? Coba lihat baik-baik." Aku mendekatkan telur itu pada Tanka.
Dia memiringkan kepala lalu mengetuk telur beberapa kali.
"Tidak ada yang tahu apa isi telur mistik. Itu sesuai denganmu. Kau memberi makannya auramu, kan?"
Aku mengangguk.
"Dia akan menjadi makhluk yang kuat sepertiku."
"Sepertinya. Ini juga kali pertama aku melihatnya langsung."
Oh, aku mengerti tatapannya yang sedari tadi tidak bisa jauh dari telur ini.
"Kau tidak boleh menguji cobanya."
Aku serius mengatakan itu, dengan tampang kecewa dan pipi menggembung, dia mengangguk.
Dia terlihat seperti ilmuwan gila.
"Izinkan aku memberinya makan sekali."
__ADS_1
Aku menatapnya tajam. Itu akan menjadi sebuah masalah.
"Tidak akan masalah. Kau tetap menjadi tuannya, aku hanya memberikan energi alam. Kau tahu, energi alam itu lebih ringan dan mudah diserap dibandingkan Aura. Hanya sekali saja." Dia memohon padaku.
"Apa keuntungannya?"
"Telurmu akan lebih cepat menetas."
Tawaran yang menggiurkan dia sampaikan dengan yakin. Tanka yang telah bersumpah padaku tidak mungkin membohongimu, dia tidak akan menghalangiku mempunyai hewan peliharaan karena dia iri, kan?
"Baiklah. Untuk hari ini saja."
Aku meletakkan telur tersebut di atas ranjang, Tanka yang disampingnya telah bersiap memberikan energi alam. Setelah aku melihat energi alam itu membungkus telur dengan nyaman, aku meninggalkan mereka berdua.
**
Ketika aku berjalan, aku melihat dua pelayan wanita sedang cekikikan karena mendengar cerita masing-masing.
Menyadari langkah kakiku yang semakin mendekat, mereka bersikap serius dan menyapaku.
"Selamat siang, Tuan Akion."
Mereka membungkuk, aku tersenyum pada mereka. Aku tahu salah satu diantara mereka mencoba mengintip dengan mencondongkan matanya ke arahku. Saat aku berlalu dari mereka, seorang pelayanan yang mengintip itu memukul pundak rekannya.
"Kau lihat, Tuan Akion tersenyum. Itu hal terbaik di sini. Wajahnya dan senyuman itu sangat cocok."
Mereka cekikikan lagi.
Lalu, tidak lama kemudian aku bertemu dengan pelayan pria, dia sedang sibuk memasukkan barang keperluan ke dapur.
Dari jauh dia membungkuk padaku. Aku hanya membalasnya dengan lambaian tangan sekali.
Tidak lama saat aku berjalan, aku menemui Bastian. Dia wajahnya yang khas, dia melihatku gelisah.
Beberapa kali dia menghadap ke depan dan ke samping seolah ragu.
Seseorang muncul di sampingnya. Dia adalah Willian, di tangannya, terdapat banyak tumpukan buku.
Mereka tampaknya baru keluar dari perpustakaan keluarga.
Tumpukan buku di tangan Willian, membuat ekspresinya ragu sejak tadi. Tumpukan tinggi yang menutupi wajah.
"Selamat siang, tuan Akion. Ada sesuatu yang bisa dibantu?" Bastian langsung bersikap formal mengetahuiku memperhatikan mereka diam-diam.
Aku mengira bahwa dia sebenarnya merasa sedikit lelah beberapa hari ini, karena banyaknya surat yang harus dia sortir dan dokumen yang diurus.
Tapi tampilan Willian semakin hari semakin baik dibandingkan pertama kali aku melihatnya. Rambutnya lebih rapi dengan menggunakan minyak rambut, setelah hitam putih dengan dasi, sepatu pantofel berhak sedikit yang sesuai.
Sesuai arahanku, Bastian telah mengaturnya perlahan. Wajah poker face nya tetap sama. Seorang penjudi dan sekretaris profesional tampaknya tidak berbeda.
Secara alami, Willian akan terbiasa.
"Apa kau ingin meregangkan badanmu, Willian?"
Willian tampaknya ingin menolak, tetapi itu agak sulit. Karena, tuannya sedang mengajaknya.
"Bastian kuserahkan semua buku itu kepadamu."
Pada akhirnya, Willian meletakan buku-buku tersebut pada tangan Bastian yang menyambut. Walaupun dia menolak karena tidak enak hati, tapi setelah dia meletakan buku itu, dia lega.
"Terima kasih, kepala Pelayan Bastian."
"Tidak masalah."
Secara khusus tidak masalah artinya dia akan menambah kerjaan kepada pegawai baru ini nantinya.
Willian mengekor kepadaku.
"Apa kau penasaran kita ingin ke mana?"
"Tentu, tuan Akion. Tapi saya lebih penasaran pada batu Mana merah berkualitas tinggi itu."
"Apa kau ingin kuberikan?"
Matanya membulat dengan lucu, tidak sembarangan orang bisa memilikinya, itu mempunyai harga yang tinggi. Willian berpikir telah menyinggungku secara pribadi.
"Maafkan saya, T-tuan Akion. Saya telah lancang."
Aku tersenyum sejenak, dia berdebar lagi.
"Oh, kita telah sampai."
Dia menatapku tidak percaya. Pemandangan di depan adalah pemandangan biasa bagiku. Penuh dengan teriakan, keringat, dan luka.
Tempat latihan Kesatria.
__ADS_1
"Merenggangkan otot paling baik dilakukan dengan olahraga." Aku terkekeh sambil melemparkan pedang kayu padanya.
Willian menangkap pedang kayu itu buru-buru sehingga terjatuh.
"Aku tidak akan menggunakan seluruh kekuatanku." Setika senyumku merekah lagi, dia menelan ludah khawatir. Seorang swordmaster ingin latihan pedang dengan seorang sekretaris.
"Apa ini hukuman, Tuan Akion?"
"Lancang."
Sesekali Aku ingin mengucapkan kata itu, mendominasi dengan intimidasi status, dia mundur karena merasa telah melukai hati penguasanya.
Lalu, aku tertawa renyah.
Astaga, kenapa aku suka sekali mengusili dia?
Mungkin karena wajah poker face itu, sehingga aku ingin melihat ekspresinya lebih banyak lagi.
"Maafkan aku, aku bercanda."
Dia mengernyitkan keningnya. Dia telah banyak
mendengar rumor bahwa aku orang yang kejam, tapi tidak dengan rumor bahwa aku gila.
"Nah, mari kita mulai."
Aku tidak menunggunya bersiap, satu ayunan pedang lemah mengenai kayunya, dan itu bergerak ke belakang cepat, kedua tangannya yang memegangi tidak sanggup untuk menahan.
Aku menatap Willian dan memasang senyum maaf.
Jika ada kesempatan dengan mata tenang itu, dia akan menyerangku. Seolah aku mengendurkan kewaspadaanku, dia menusukkan pedang itu ke arahku cepat.
Tubuhku meliuk menghindarinya.
Ini adalah serangan liar yang cukup tajam, tapi sangat mudah diprediksi.
Wajahnya memerah karena pembuluh kapiler di wajahnya membesar dan melebar.
Disaat napasnya terengah, napasku tetap stabil. Jadi aku memutuskan untuk menyelesaikannya sekarang sebelum dia benar-benar pingsan dan tidak bisa melakukan pekerjaan besok.
Plak!
Pedang kayunya terlepas.
Penyelesaian telah kulakukan. Tubuhnya yang lemah terkulai. Napasnya saling memburu. Aku menatapnya dari atas.
"Bagaimana? Ototmu meregang semua, kan?"
Napasnya yang masih berat, membuatnya kesulitan berkata-kata.
"Tu-tuan Akion... I-ini bukan merenggang... t-tapi ... menegang...haaa."
Aku tertawa. Jika benar aku menginginkan tubuhmu rileks, aku pasti lebih memintamu untuk tidur. Aku tahu Willian kurang tidur karena terlalu sibuk.
Tapi bukankah seorang penjudi itu kurang tidur?
"Tubuhmu lemah sekali, Willian?"
"Ya,saya tidak pernah berlatih seperti kesatria anda, Tuan Akion."
Napasnya perlahan stabil. Dia terlihat dingin dengan pipi memerah.
"Penjudi orang yang sering mempertaruhkan nyawanya. Bagaimana kau bisa selamat selama ini?"
Bukan sebuah rahasia bahwa dalam dunia judi penuh tipu daya. Rumah judi tidak ingin rugi, dan pemain ingin untung besar. Jadi mereka sering kali berkonflik, belum lagi konflik sesama pemain. Sering kali nyawa penjudi hilang karena taruhan mereka.
Dia selamat. Artinya dia beruntung, atau memang dia hebat melarikan diri.
Dia menggaruk dagunya yang diselimuti oleh pasir.
"Saya cukup pintar membaca situasi, Tuan Akion. Seperti kadal, jika bahaya maka saya akan memutuskan ekornya."
Kadal di daerah yang gersang sangat pantas. Perumpamaan yang sesuai untuknya.
"Baiklah, cukup peregangan hari ini."
Dia tersenyum getir. "Maksud anda akan ada hari lainnya?" Ketika dia baru berdiri aku menjawabnya. "Cerdas seperti yang diharapkan."
Dia mengangguk dengan putus asa.
"Selamat istirahat Willian. Semoga semua ototmu tidak menjerit."
Lambaian tanganku membuatnya meninggalkan tempat
latihan dengan gumaman tidak jelas. Menurut analisaku mungkin dia sedang mengutuk kepada dewa mendapatkan tuan yang setengah gila.
__ADS_1