
Kami telah keluar dari wilayah Sanktessy, ini adalah jalan lintas yang digunakan oleh banyak bangsawan, membelah perbatasan Duke Lexier.
Atau dikenal sebagai zona tenang. Siapa pun bisa melewati daerah ini. Tidak ada penguasa yang mengendalikannya. Sehingga gerombolan penjahat, penyihir ilmu hitam atau perkumpulan dunia gelap ada disini.
Matahari telah meninggi, udara semakin terik dengan sendirinya. Namun, ini telah masuk musim dingin, udara terik bukan di daerah Sanktessy itu tidak mungkin.
Tok! Tok!
Seorang kesatria mengetuk pintu kereta kuda, dia gelisah, dan memandangku takut.
"Ada apa?"
"Sepertinya kita harus memutar jalan, Tuan Akion."
Aku mengernyitkan keningku. "Kenapa?"
"Akion, coba kau keluar."
Tanka yang barusan ke luar untuk mencari udara bebas berteriak padaku. Wajahnya tidak seperti biasa. Ada yang tidak beres.
Di luar kereta kuda, aku melihat sesuatu yang mengerikan. Asap hitam pekat menjulang tinggi, menutupi pemandangan di atasnya.
Desa di bawah, tempat yang akan aku lewati untuk Kekaisaran sedang mengalami kebakaran hebat. Itulah alasan kesatriaku mengatakan akan mencari jalan lain.
"Ada apa? Aku mencium bau terbakar, dan di sini panas."
Verion turun dari kereta kuda, dia menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Itu hal yang sedikit lucu pada seorang penyihir api. Bau terbakar membuatnya sensitif tapi dia sering membakar sesuatu.
"Ya, Dewa... apa yang terjadi di sini?!"
Wajahnya memucat, mulut yang tidak tertutup rapat. Dia mengalami syok.
**
Jika saja Harzem bersama kami sekarang, maka api itu akan dengan mudah dipadamkan olehnya.
Saat itu Verion meminta padaku untuk mendekat dan membantu mereka. Aku menyetujuinya. Para kesatria kuperintahkan untuk mengevakuasi korban, agar korban nyawa tidak bertambah.
Verion memandang api besar di depannya, dia sedang memutar otak bagaimana caranya untuk bisa membuat api ini hilang. Sebuah api yang bukan miliknya dia tidak punya kehendak diatasnya.
"Tuan Akion, semuanya telah di evakuasi." Aku mengangguk, dan memintanya mundur.
"Verion, menyingkir dari sana."
Dia menatapku bingung untuk beberapa saat, lalu mengetahui apa yang akan kuperbuat-dia menyingkir.
BUSH!
Kibasan pedangku mematikan api dengan cepat. Pemandangan gosong pada bangunan tinggal setengah yang tersisa di hadapanku.
"Bantulah mereka, Verion."
__ADS_1
Dia menyadarkan dirinya sendiri, dan berlari ke arah korban terluka yang paling parah pertama kali.
Kekuatan suci dia gunakan untuk menyembuhkan mereka. Luka patah itu tidak terlalu terlihat membaiknya, tapi darah yang mengalir berhenti, dan dia menghentikan luka bakar yang lebih parah.
Verion tetap berusaha fokus untuk menyelesaikan tugasnya. Kekuatan sucinya yang kecil, membuat hal itu kesulitan. Wajahnya penuh keringat, dia mengelapnya dengan pundak agar cepat.
Diam-diam Tanka juga membantu, dia menyembuhkan beberapa orang. Lalu dia juga mengambil obat yang dia simpan seperti anak sendiri.
"Apa itu?"
Cairan merah seperti sirup yang sering kuminum saat di bumi ada di botol kecil yang dia pegang.
"Ramuan penyembuh, Akion."
"Tapi kita tidak punya banyak." Dia kecewa pada dirinya sendiri.
"Berikan pada orang yang terluka sangat parah. Bertindak efisien lah. Kau juga bisa menyembuhkan luka ringan mereka dengan kekuatanmu."
Dia telah membulatkan tekadnya, matanya menajam dan mengangguk. Lalu terbang ke arah orang yang sangat membutuhkan. Setiap detiknya adalah sebuah taruhan.
Sama seperti Verion yang mempunyai jiwa kemanusiaan tinggi karena sebelumnya dia adalah pendeta dan menganggap bahwa nyawa mereka juga penting, aku juga berpikir begitu. Walaupun mereka berkata untuk apa aku membantu mereka, tidak ada hubungannya dengan Sanktessy. Tapi diabaikan dan ditinggal itu sangat menyakitkan.
Aku tahu perasaan itu.
Setelah keadaan kritis itu, Tanka dan Verion yang sangat berjasa saat ini duduk menyender-sangat kelelahan.
Tubuh mereka yang lemah akhirnya jatuh ke tanah, dan berbaring di sana. Saat ini membaringkan tubuh mereka adalah yang ternyaman.
Desa ini hancur. Aku tidak tahu bagaimana nasib mereka nanti saat musim dingin telah tiba. Mereka akan berlindung di mana?
Keduanya berakhir dengan kematian.
Mereka adalah imigran. Orang-orang yang ditolak di mana pun dan akhirnya berakhir menetap disini, tempat berbahaya dengan tipu dayanya.
"Apa anda ingin permen, Tuan?"
Dia seorang gadis lusuh, wajah belepotan oleh arang, dan setengah bagian dari roknya habis di makan oleh api.
Aku mengambil sebuah permen yang dia tawarkan.
"Terima kasih telah membantu kami, tuan."
Baru saja aku akan mengucapkan Terima kasih padanya, tapi dia telah mengatakannya terlebih dahulu. Dia masih membungkuk.
"Itu hal biasa yang dilakukan manusia. Terima kasih atas permennya." Dari lubuk hatiku, aku tulus berterima kasih padanya.
"Tuan, apa anda tahu kenapa permukiman kami terbakar?"
Sebentar lagi akan masuk musim dingin, udara mendingin, mereka butuh menghangatkan tubuh mereka. Hal yang sering terjadi saat musim dingin, perapian membakar rumah juga.
"Karena perapian."
__ADS_1
"Bukan, Tuan. "
Aku menatapnya penasaran. Tapi dia bimbang untuk mengatakannya.
"Katakanlah."
"Ada monster di bukit sana. Monster api yang sangat menakutkan."
Aku mengangkat satu alisku, monster jenis apa yang dia maksud.
"Bentuknya mempunyai tiga kepala, kepala tengahnya berbentuk ular, ekornya seperti kelabang yang bergerak, di kaki depannya adalah kaki laba-laba."
Dia mencoba mengingat lagi.
"Ah, satu kepalanya juga laba-laba, satunya lagi jika aku tidak salah adalah Harimau."
Coba bayangkan wujud hewan yang dia deskripsikan, sangat tidak biasa.
"Di leher mereka dililit oleh api, dan menyemburkan api dari kepalanya." Dia ketakutan. Ketakutan itu masih menghantuinya walaupun hewan tersebut tidak ada di dekatnya.
"Anni, kukatakan jangan menceritakan hal bohong pada orang lain." Seorang pria menarik tangannya. Tapi aku membuka tanganku, membuatnya berhenti.
"Apa kau berbohong padaku?"
"Tidak." Dia menggeleng kuat.
"Mereka tidak melihatnya karena mereka sibuk memandang di titik penglihatan mereka saja."
Aku memandangnya curiga. "Tuan, hewan itu itu keluar dari air terjun di dekat sini. Alirannya dari bukit itu. Makanya aku menyimpulkannya begitu." Dia menjelaskannya dengan berani, tanpa ragu sedikit pun.
"Saat aku bertemu dengannya, dan hendak kabur, aku pingsan. Saat kembali ke sini, permukiman telah terbakar."
Aku mulai merasa apa yang dikatakan oleh perempuan ini benar. Untuk apa dia berbohong? Di dalam keadaan yang seperti ini, menarik kesimpulan dari cerita untuk menemukan titik terang lebih baik.
Makhluk apa itu sebenarnya?
Aku memainkan jari-jariku di dalam kereta kuda. Keduanya, Tanka dan Verion telah berbaring di dalamnya. Mereka tertidur. Energi yang mereka habiskan sangat besar, dan membutuhkan istirahat.
Setelah mereka terbangun, aku akan menceritakan apa yang kudengar tadi. Mungkin Tanka tahu makhluk apa itu sebenarnya.
Kami akhirnya bermalam di sini. Kesatriaku aku perintahkan mereka memasak untuk semuanya, termasuk penduduk desa ini. Mereka sempat protes mengenai bahan makanan yang akan langsung habis jika memasak dalam jumlah besar.
**
Tapi sebentar lagi kami akan tiba di pedesaan yang dikelola Duke Lexir, kami akan membeli bahan makanan pokok di sana sebelum melakukan perjalanan kembali.
"Apa energimu sudah terisi?"
Verion yang sedang memakan supnya mengangguk.
"Aku tahu kau mendengar apa yang perempuan itu tadi ceritakan." Aku menatapnya, sesaat aku mencemaskannya yang menyalahkan diri sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kau akan ikut bersamaku?"
Tidak diragukan lagi ketika wajah itu menegang. Sebuah balas dendam darinya akan terjadi. Saat dia meletakan sendok diatas piringnya dengan tenang, aku tahu bahwa dia serius.