Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Seharusnya Kau Jaga Mulutmu


__ADS_3

Saat kami pulang, ayahku sedang menerima tamu di ruangannya. Aku melihat kereta kuda di halaman depan. Kereta kuda itu berwarna hitam, dan mewah. Pada bagian pintunya, terdapat lambang ular dan tombak yang seolah ular itu melingkar untuk melindungi tombak.


Itu adalah lambang dari keluarga pamanku-Count Invit.


Tampaknya dia ingin menyebarkan taringnya pada kami lagi. Pasti berat untuk kehilangan hal sebagus Akion, entah apa yang akan dia lakukan kali ini.


Aku masuk begitu saja ke dalam ruangan ayahku. Ayahku memandangku terkejut, tapi dia tidak marah. Mata itu, dia hanya merasa khawatir.


Aku melihat wajah sombong Count invit dan Alec. Mereka tidak menyentuh minuman sedikit pun, mungkin karena merasa dia tak pantas menerima minuman dari keluarga miskin seperti kami.


Aku tidak memberikan salam pada mereka. Bahkan aku mengabaikan.


"Ayah, ada apa mereka datang ke sini?" Aku secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaanku, terakhir kali aku dan pamanku berkonfrontasi.


"Dasar bocah kurang ajar ini. Apa kau tidak mengajarkan dengan baik?"


Aku mendengar suara busuknya lagi. Segelap lautan, begitulah niatanku untuk menenggelamkannya sekarang. juga.


"Ayah!"


Harzem masuk dengan semangat. Ketika dia menyadari keberadaan Count Invit, Harzem masih bersikap lunak. Begitulah sikapnya.


"Halo, Count Invit dan Alec."


Lalu dia berpaling kepada ayahnya dengan wajah yang ceria. Sepertinya Harzem akan membanggakan dirinya di hadapan ayah, namun dia menyimpan itu rapat karena kedatangan tamu yang tak terduga,


"Kalau begitu ...."


"Lihat pakaiannya. Apa kalian tidak mampu untuk membeli pakaian?"


Count Invit mencari celah untuk menghina kami. Kebetulan Harzem belum mengganti bajunya sejak latihan tadi, baju itu penuh sobekan, dan Harzem sendiri berantakan.


Memanfaatkan hal itu, dia menyela dengan berani.


"Apakah anda tidak pernah mengetahui kerasnya latihan?" Di hadapan ayahku, aku tidak mengeluarkan amarahku. " Lihat anak manja anda itu. Dia terlalu sering anda suapin dengan kotoran berlapis emas." Itu hinaan yang membuat mukanya merah gelisah.


"Ya, anak kurang ajar ini harus bertanggung jawab!" Dia menunjukku kasar.


"Tolong maafkan dia."


Aku kecewa mendengar perkataan itu dari mulut ayahku. Dia tidak perlu memohon maaf pada mereka.


"Tidak. Sebelum anakmu membayar hal yang sama dengan apa dia lakukan pada Alec-ku tercinta."


Aku tertawa mengejek. Dia berani masuk kedalam kandang monster.


"Kenapa kau mematahkan tangannya, Akion?"

__ADS_1


"Karena dia menghina keluarga kita."


"Menghina?! Itu adalah sebuah kenyataan bahwa keluarga kalian itu miskin seperti pengemis."


"Ssst!" Harzem mendesis pelan saat dia telah tiba di dekat telinga pamanku, kedua tangannya menekan-nekan kedua pundaknya.


"Sungguh kasihan nasib adikku yang menikah denganmu. Kau miskin, dan bodoh. Sehingga adikku menjalaninya hidupnya secara sial, tidak terhormat yang mati seperti ******...."


Ayahku mengepalkan tangannya. Saat itu sorot mata kami bertiga telah berubah menjadi pembunuh.


Ayahku sangat mencintai ibuku, dia tidak suka orang lain membawa-bawa ibu untuk merendahkan. Tindakan lancang itu membuat ayahku telah siap menerima konsekuensi apa pun dengan yang kedua anaknya perbuat.


"Keluar dari ini. Sanktessy tidak menerima tamu orang seperti kalian." Ayahku menunjuk pintu. Dia telah muak memasang wajah ramah pada kakak iparnya yang tak tahu diri. Selama ini dia meminjamkan uang dengan menaikkan bunga sepuluh kali lipat setiap tahunnya.


"Kau lancang! Baru sekali mampu melunasi hutang, kau telah sombong. Akan kubuat keluargamu menyesal."


Dia melewatiku dengan kesal, aku meliriknya tajam, mengikuti gerakannya yang seperti pengecut.


Pintu tertutup.


Ayahku berdiri dengan tangan yang memegang meja sebagai tumpuannya. Kurasa ayahku tahu apa yang kami berdua akan lakukan. Tapi ayahku bungkam, dia sepertinya sepemikiran dengan kami.


Tanpa mengucapkan apa-apa, kami berdua keluar dari ruangan ayah. Dua orang wajah predator melewati lorong, beberapa pelayan menghindari kami dengan ketakutan.


"Kenapa Tuan Harzem dan Akion?"


"Apalagi tuan Harzem ... itu mengejutkan dia mampu berekspresi seperti itu."


Kami berdua mendengarnya tapi kami tidak peduli dan terus berjalan mengincar buruan.


**


Mereka baru berjalan dua jam. Saat kereta kuda itu berhenti karena batu yang kulemparkan. Lemparanku membuat rodanya rusak parah.


Mengetahui roda kereta tuan mereka rusak dengan cara tidak biasa, semua kesatria waspada.


Burung terbang. Bayangan sayapnya yang lebar menutupi sebagian kereta kuda itu.


"Harzem."


Dia mengangguk. Dengan sihirnya, dia menyeret semua kesatria itu ke tempat yang cukup jauh.


Awalnya Harzem menolak untuk melakukannya, dia ingin ikut menyiksa mereka bahkan sampai mati. Namun akhirnya aku berhasil merayunya.


"Apa yang terjadi di luar?"


Itu suara Count invit. Suaranya khawatir, tapi tetap dengan nada sombongnya, sudah mendarah daging.

__ADS_1


"Hei, kalian tidak ada yang menjawab satu pun! Apa yang sedang terjadi!?"


Aku mengetuk pintunya. Dia membuka gorden yang menutupi kereta kudanya. Melihatku ada di hadapannya, dia dengan lantang menghardikku.


"Kau apakan kesatriaku, anak sialan?!"


Suara paniknya, aku menyukainya.


Dia tidak keluar dari kereta, di belakangnya Alec sedang bersembunyi ketakutan. Aku tersenyum, tapi senyuman itu kulakukan untuk membuatnya sangat ketakutan.


Brak!


Pintu kereta kuda itu kutarik dengan mudah. Itu melanting dan tertancap di batang pohon. Melihatku bertindak kasar, Count Invit tahu dia dalam bahaya.


Tidak kutahan lagi, pedangku memutuskan tangannya.


"ARGH!!


Dia berteriak keras saat darah itu muncrat dari tangannya yang putus. Wajah Alec pucat, sangat ketakutan.


"Kumohon lepaskan kami. Kami tidak akan mengadu pada siapa pun."


Aku menggeleng. Kelakuan mereka selama ini sudah keterlaluan.


Harzem muncul, "Apakah aku melewatkan pestanya, Akion?"


"Tidak. Bagaimana mereka?"


"Aku membuatnya pingsan." Dia tersenyum.


"Bagus. Kita tidak menginginkan korban tidak bersalah. Cukup mereka saja."


Harzem yang ceria, menembakkan panah airnya ke jantung Count Invit. Dibalik wajah periangnya, dia cukup kejam dan berani untuk membunuh. Selama ini, dia mungkin menahannya cukup baik karena memikirkan keluarganya yang tidak punya apa pun.


Sekarang, dia tidak terlalu memikirkannya.


"Ah, bagaimana kita membunuh yang satu ini?" Aku sengaja bertanya pada Harzem, membuat Alec semakin ketakutan. Dia mundur hingga tersudut, memohon sambil menangis.


Tapi kami tidak peduli.


"Begini saja."


Tubuhnya terbelah menjadi dua. Aku melihat tubuhnya menggelepar seperti ikan yang terlempar jauh dari air. Memandangi genangan darah yang muncul, aku bersikap seolah tidak terjadi apa pun.


Aku terbiasa.


"Ayo kita pulang. Kita akan makan malam bersama Renia, Verion, dan Ayah."

__ADS_1


Harzem merangkulku, dia bersenandung ketika meninggalkan lokasi berdarah itu. Jika dia tidak menyinggung tentang ibuku, mungkin ayahku akan menahan kami. Sayangnya mereka bodoh, berani tak menjaga mulut mereka di sarang para monster.


__ADS_2