Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Pemburuan Berkedok Piknik


__ADS_3

Ada alasan kenapa Renia dengan semangat mendatangiku hanya untuk sekedar piknik. Tubuh kecil ini mempunyai banyak ide di dalam sel kelabunya. Sebelumnya, dia mendengar dari tukang kebun mengenai bunga air yang langkah.


Ya, karna bunga air langkah itu dia dengan berani dan semangat menerobos ruang kerjaku untuk mengajak piknik. Sebenarnya piknik hanya alasan yang dia berikan. Bagaimana seorang nona manis piknik di sarang monster yang menakutkan?


Aku tersenyum kecut.


"Kakak, kau pasti mau, kan, menemaniku?"


"Tentu saja. Kakak pernah bilang padamu untuk meminta apa pun yang kau mau, kan?"


Perlu kalian ketahui, bahwa hampir seluruh wilayah Sanktessy dikelilingi oleh hutan kegelapan, mereka itu terberai-berai. Susah untuk dipahami kenapa hutan terlarang ada di lokasi satu dan lainnya tanpa menyatu. Kemudian, lokasi terbesarnya ada di Aurus.


"Danau yang cukup besar. Bahkan ini terlihat seperti lautan," ucap Renia mengagumi danau.


Ini danau yang terbekalai. Cukup besar jika dikatakan danau. Berjarak 4 jam dari mansion kami. Berada di sisi timur mansion, dibatasi oleh hutan kegelapan, bukit yang tidak terlalu tinggi. Tempat yang terisolasi dan lembab.


Wajar jika Renia mengajakku. Aku adalah tiket untuk dia menemukan bunga air langkahnya.


"Biar kakak saja yang mengambilnya," pintaku padanya. Kemarin baru saja dia mengalami sesuatu yang buruk, sekarang dia mau berada di tempat berbahaya secara terang-terangan.


"Tidak. Aku mau mengambilnya sendiri."


"Kenapa?"


"Nanti kakak menghancurkannya lagi."


Aku mengerutkan kening. Renia pasti senang mengungkit masalah boneka beruang yang dia inginkan itu.


"Tidak. Percayalah padaku."


"Tidak. Aku mau mengambilnya sendiri, lalu kita juga bisa piknik di sana," gerutunya.


Lanjutnya, "Bukankah kakak pernah mengajakku untuk berpiknik sebelumnya?"


Aku yakin ingatan Renia sangat baik. Dia mengingat perkataanku beberapa bulan yang lalu. Dengan begini akhirnya aku menyerah dan menuruti perintahnya.


Aku, Levian, Renia, Tanka dan Nami duduk di bawah pohon rindang yang bagian bawahnya telah terbentang tikar berpola kotak-kotak berwarna salem.


Aku seperti sedang bermain rumah-rumahan dengannya.


Sepotong cake Renia suapkan ke dalam mulutku, dan aku mengunyahnya dengan baik. Wajahnya ceria, dia tampak menikmati semuanya. Sejauh ini belum ada gangguan dari makhluk berbahaya. Mungkin itu hanya rumor.


Tapi aku tetap waspada.


Kubaringkan tubuhku di atas rerumputan, kepalaku memandang langit dengan berani. Cuaca sedang cerah dan terik, awan-awan berwarna putih dan tampak empuk sekali untuk digenggam.

__ADS_1


Mataku perlahan terpejam di ketenangan ini.


Dua jam kemudian, aku mengusap mataku. Tidak ada yang terjadi apa pun. Levian berada di sisi Renia sejak tadi, aku tertidur dalam pengawasan Tanka.


Keranjang yang dibawah oleh Renia penuh dengan tanaman yang dia ambil di pinggiran danau.


"Apa kita sudah selesai?"


Renia memandangku kaget, "Belum. Bunga air yang kuinginkan belum ketemu."


"Mungkin itu hanya rumor," jawabku.


"Rumor terkadang berdasarkan dari kenyataan, kak Akion," dengusnya.


Itu pikiran yang dewasa. Rumor memang sebagian besar dari kenyataan. Tapi hari telah sore, memaksakan diri terus di sini tidak baik untuknya.


"Dua puluh menit lagi jika tidak ketemu maka kita pulang," jawabku tanpa terlihat untuk tidak seperti memerintah.


Dia mengangguk pelan. Tubuh kecilnya yang berjalan di rerumputan bergerak dengan unik. Perempuan bangsawan jarang melakukan hal ini.


"Itu dia!!" Dia berteriak sambil menunjuk bunga yang ada di sisi kiri danau.


Bunga itu sedikit jauh dari pinggiran danau, tapi Renia seakan tidak peduli. Dia mengangkat tinggi bagian bawah gaunnya dan berlari dengan kencang.


Bunga itu bergerak seperti tertiup angin, lalu bunga itu bergerak lagi. Pergerakannya aneh. Di bawah bunga itu gelap, berbeda dengan sisi lainnya. Kemudian aku melihat sesuatu yang bersinar di bawahnya. Dua, dia punya dua titik bersinar berwarna merah.


"Renia jangan!"


Teriakku, dia berhenti berlari, namun hal yang ada di bawah air itu bergerak cepat ingin menyambarnya.


BUGH!!


Ular raksasa berwarna abu-abu itu mundur dengan kuat saat kupukul kepalanya. Ekornya menggeliat ke arah kami, dia mengibaskan ekornya seperti cambuk yang sangat besar, membuat pijakanku goyah, dan aku melompat untuk menghindari seranganku yang bertubi.


Ular itu berdesis padaku. Lidahnya yang panjang mengancam kami. Bunga air yang diinginkan Renia tepat berada di atas kepalanya, tampaknya itu tumbuh di sana dan dia menjebak Renia. Ular ini pintar.


Menggunakan ekornya yang besar, dia mengibas di udara, air danau ikut terbang ke arah kami, membuat pergerakan menjadi lebih sulit. Aku menghindar cepat, menginjak ekornya yang licin. Saat aku ingin meninjunya, dia masuk ke dalam danau dengan cepat.


Tapi kami masih berada di udara, dia muncul kembali dengan mulut yang terbuka lebar. Rongga mulut dan dua taringnya terlihat dengan jelas.


Aku pastikan jika aku tak melakukan apa pun,kami berdua akan berakhir di lambungnya.


"Percaya pada kakak. Semua akan baik-baik saja." Aku menenangkan Renia yang ketakutan dipelukanku.


Kucabut pedangku, saat kami berhadapan, ular itu memandang dengan sangat buas, namun sorot mataku tidak kalah buas darinya. Selanjutnya pedangku menggoresnya dengan cepat, dan membuat ular itu terbelah menjadi dua.

__ADS_1


Byuur!!


Ular itu terjatuh di danau, darahnya terbang ke manamana, agar tak terkena Renia, aku menutupi tubuhnya dengan tubuhku yang jauh lebih besar.


Aku dan Renia mendarat di pinggir danau memperhatikan ular tersebut.


"Anda tidak apa-apa, Nona Renia?" Wajah Nami pucat, tubuhnya gemetar. Dia tampak bisa saja terkena serangan jantung karna melihat hal yang mengerikan ini.


Aku membuka pelukanku, memandang Renia dengan khawatir,


"Aku baik-baik saja, kak."


Aku memang menutupi pandangannya, dan memeluknya dengan erat. Setelah melihat dia tidak terluka sedikitpun, aku memberikan sesuatu padanya.


"Ini hadiah untukmu."


Dia menerimanya, "Terima kasih banyak, kak Akion." Itu adalah bunga air langka yang sangat membahayakan, bunga yang diinginkan Renia.


"Ular langka." Tanka kembali setelah memperhatikan ular tersebut.


"Namanya Kaliya. Air yang ada Kaliya-nya Akan beracun, tidak heran di danau tidak ditumbuhi oleh tumbuhan apa pun."


Dia menjelaskan lagi, "Pasti sangat mahal harga kulit Kaliya, kita membutuhkan setiap bagian tubuhnya."


"Apakah berguna?"


"Untuk membuat alat sihir dan ramuan sihir sangat berguna. Kita beruntung mendapatkannya, Akion."


"Levian." Aku memanggil Levian yang sejak tadi berada di samping Renia. Dia berjalan cepat ke arahku.


"Kau dan Tanka akan tinggal di sini."


Wajah mereka bertatapan, bingung dengan perintah yang kuberikan, alisnya berkedut sekali.


"Panen ular Kaliya itu. Kata Tanka dia sangat bernilai dan berharga mahal," jelasku, Levian mengangguk.


"Tapi, kenapa aku juga?"


"Karena kau yang hanya mengerti memperlakukan bahan-bahan berharga itu dengan baik, kan?"


Tanka terdiam. Itu sudah pasti benar.


"Aku akan pulang terlebih dahulu, dan akan mengirim bantuan ke sini."


Aku meninggalkan mereka berdua, dan mengajak Renia yang wajahnya bersinar bahagia. Dia tertawa kecil

__ADS_1


menunjukkan bunga air itu.


Kami bertiga meninggalkan mereka berdua, prajurit yang hebat dan peri tanah yang cerewet.


__ADS_2