
Tanka mengeluh padaku, dia marah karena rumah ini tidak terurus. Bisa dilihat banyak dinding yang retak, perabotan yang lama, dan kebun yang tidak mewah.
Sepengingatannya, rumah Sanktessy mempunyai pemandangan indah. Aku menanggapinya dengan tertawa. Mau bagaimana lagi, inilah kenyataannya. Waktu memakan segalanya.
Aku malah lebih penasaran dengan apa yang Tanka bawa dari Redvet. Aku belum bertanya saat di Redvet, karena baru sekarang dia mengeluarkan apa yang dia bawah.
Di dalam kamarku, dia meletakan semua tanaman itu di atas meja.
Ada semacam tumbuhan seperti lobak dengan dua sisi berkelok berdaun coklat, lalu seperti beri berwarna merah, dan rerumputan berbagai jenis.
"Hmmm Aku mengeluarkan suara tanpa sadar saat memperhatikannya.
Punggung kecil Tanka terlihat seperti tupai, apalagi dia begitu antusias dengan tumbuhan sihirnya.
"Lihat betapa menawannya mereka," pamernya.
Aku memperhatikan lagi. Di mataku mereka terlihat seperti gulma.
"Apa Akion tidak kagum?" tanyanya sedikit memaksa.
"Aku hanya melihatnya seperti tumbuhan biasa." Aku menjatuhkan diri di sofa, kubiarkan jariku membuka lembar koran satu persatu.
Tanka tampak kesal, dia menurunkan koran yang kubaca untuk menanggapi percakapan mengenai tumbuhan sihir.
Aku menghela napas.
"Baiklah, jelaskan padaku."
"Sungguh kau ingin tahu?" Matanya bersinar.
Aku mengangguk malas. Aku kenal karakter seperti Tanka, dia seperti anak-anak.
"Sungguh?"
"Ini adalah tanaman yang dapat membantumu."
"Jadi kau sungguh ingin tahu apa ini?".
Aku menyipitkan mata dengan pemaksaannya, yang membuatku seakan aku yang memaksanya untuk memberi tahu.
"Aku sungguh ingin tahu apa itu, Tanka," jawabku antusias yang dibuat-buat.
Dia terbang sekali memutari kamarku, serbuk berwarna emas berjatuhan dari sayapnya yang coklat.
"Kau tidak akan menyesal!"
Tanka berhenti di dekat tumbuhan seperti lobak, dia menunjuk itu dengan wajah membara. "Ini adalah kaki iblis."
Waw, nama yang sangat hebat untuk tumbuhan seperti lobak.
"Kaki iblis bisa digunakan untuk mengobati sihir hitam yang kuat sekali pun."
Aku teringat sesuatu, ini seperti film sihir yang kutonton. Apa sebaiknya aku belajar herbologi?
"Tentu dengan elemen-elemen lainnya. Tapi tanpa kaki iblis ini, kau tidak akan bisa membuat ramuan sihir hebat itu. Ini adalah tumbuhan langkah yang bisa membeli rumah!"
Mendengar omongannya, tubuhku langsung merespons cepat, condong memandang kagum ke kaki iblis.
Ini bisa membeli rumah, bukankah tanaman ini luar biasa.
"Kau hanya mengambil satu?" tunjukku pada kaki iblis.
Tanka menggeleng.
"Aku mengambil tiga!" serunya semangat sambil tertawa, aku ikut tertawa juga.
"Ayolah Akion, kau baru semangat setelah mengetahui harganya" Tanka memandang sinis padaku.
Uang itu penting saat di mana pun. Walaupun uang tidak dibawa mati, tapi mampu membawamu tetap hidup.
"Itu manusiawi."
Aku cengengesan.
"Kenapa kau tidak mengambil lebih banyak dari ini?"
"Oh Akion, ternyata kau begitu rakus," ejeknya.
"Mendapatkan satu saja kita sudah sangat beruntung." keluhnya.
Aku mengangguk-angguk. Aku setuju, inilah alasan kenapa Madaf memilih untuk tinggal di sana.
Banyak tumbuhan sihir.
Jika mereka tahu Tanka mengambil tumbuhan sihir langkah di sana, entah bagaimana reaksi mereka.
"Lalu kau mau membuat ramuan itu sekarang?"
__ADS_1
"Tisak. Aku membutuhkan bahan lainnya. Seperti bulu phoenix, kuku badak putih, dan hal lainnya."
"Perjalanan yang panjang ya,"
"Coba pikirkan, menurutmu berapa harga dari ramuan ini jika harga salah satu bahannya saja bisa membeli rumah?"
Aku menggenggam erat sofaku memikirkan perkataan Tanka. Itu pasti harga yang sangat fantastis.
"Sepertinya kamu paham sekarang."
"Ayo kita berburu!" pekikku kuat.
Bastian masuk ke kamarku dengan terburu-buru, dia pasti salah paham dengan pekikanku.
"Tidak apa-apa," kataku sambil memintanya keluar.
**
Setelah mengetahui semua kegunaan dan harga dari tumbuhan sihir yang Tanka kumpulkan, rasanya aku terlalu kejam mendiamkannya kemarin. Bertemu Tanka adalah sebuah keberuntungan beruntun. Dia tahu letak harta keluargaku, dia bisa menggunakan sihir, dan dia tahu membuat ramuan dan tumbuhan langkah.
Bahkan jika aku merekrut beberapa orang, tidak mungkin akan sebagus Tanka dalam hal ini.
Selain menjanjikan akan mengumpulkan bahan yang Tanka butuhkan, aku juga berjanji akan memperbagus taman Sanktessy.
Sebagai peri tanah, dia lebih menyukai untuk tinggal di alam.
Setelah bulan biru tidak muncul lagi, keadaan cuaca sedikit panas. Es serut telah disiapkan di hadapan kami.
Ada pria berambut seperti jagung itu, Verion, lalu Levian dan Tanka. Kami memakan es serut di udara yang memanas.
Selama ini, Verion tidak mengetahui tentang Tanka. Aku belum mengizinkannya, dan Tanka juga merasa tidak nyaman menampilkan wujudnya.
Diluar dugaanku dengan sikapnya yang cería, Tanka adalah peri yang cukup waspada, yang tidak mudah percaya pada siapa pun.
"Surat telah dikirim, tuan Akion." Seorang prajurit melaporkan kepadaku. Aku mengirimkan surat perintah untuk Hayd, di Aurus.
Aku juga menginginkan informasi perkembangan. Untuk kembali ke Aurus, aku tidak mempunyai waktu lagi.
Mereka akan mendapatkan bantuan juga. Setidaknya seminggu dari sekarang bantuan itu akan sampai ke mereka. Aku tidak khawatir akan itu, Marquis Kingston adalah orang yang menepati janjinya. Terlebih anak semata wayangnya berada di sini.
Yang lebih kukhawatirkan berada di pihak lain. Pihak lain yang sejak dulu ingin menghilangkan Sanktessy. Pasti mereka telah mendapatkan beberapa kabar mengenai aku yang membantu Marquis Kingston.
"Akion, berikan aku stoberimu,"
Aku melirik Tanka yang memegang stroberi di ujung sendokku.
Dia memandang penuh penasaran. Itu adalah bagian dari rumahku yang tertutup gorden besar di dalamnya. Gorden itu bergerak-gerak, seseorang bersembunyi di baliknya.
Gaun berwarna biru, dengan renda-renda sederhana namun tampak lucu. Satu-satunya yang berpakaian manis seperti itu adalah Renia.
Sesekali dia mengintip kami, memperhatikannya dengan rasa cemburu. Ketika dia sadar aku melihatnya dan tersenyum, dia buru-buru menarik gorden secara kasar.
"Dia adikku." Penjelasan singkat untuk Verion yang penasaran.
Aku berdiri dari kursi.
Kaki panjangku melangkah dengan cepat dan semakin cepat saat sadar bahwa Renia ingin kabur setelah mengetahui aku mendatanginya.
Tapi, langkah cepatku menghentikannya. Wajahnya gugup seperti seorang yang ketahuan mencuri. Senyumnya dipaksa dengan kaku.
Nami memberi salam padaku. Dia berdiri tenang di samping Renia yang terpaku.
"Apa kamu ingin makan es serut bersama kakak?"
Bertanya mengenai apa yang dia lakukan akan melukai harga diri seorang gadis. Satu-satunya cara adalah berbuat seolah tidak tahu, dan melemparkan percakapan terlebih dahulu.
"Cuaca panas seperti ini sangat enak untuk makan es serut. Apalagi jika ditemani adikku yang manis."
Aku tersenyum. Melihat senyumanku, Renia tersipu malu. Dia mengangguk setuju.
Kuimbangi langkahnya yang kecil. Sangat berbeda saat aku berjalan sendiri. Disekitarnya seolah berubah menjadi sedikit lambat, dan aku mengetahui bahwa angin bertiup dengan nikmat.
Levian berdiri, tanpa perintah dariku, dia telah menyiapkan satu kursi tambahan untuk Renia.
Verion juga berdiri, dengan sikapnya yang ramah, dia mengenalkan dirinya terlebih dahulu.
"Aku Verion Kingston. Nona manis siapa namanya?"
Renia menatapku saat tahu namanya Kingston. Matanya seolah berbicara, "Apakah dia dari keluarga Marquis Kingston?"
Aku mengangguk membenarkan apa yang dia pikirkan.
Buru-buru dia mengambil etika salam yang sangat baik. Marquis adalah orang yang berada tingkatnya lebih tinggi daripada Baron.
Dia tampak takut terlihat salah dan memalukan keluarga Sanktessy.
"Jangan gugup, nona. Saya di sini di bawah pengawasan Tuan Akion. Jadi posisi nona lebih tinggi dari saya."
__ADS_1
Verion merendah. Bahkan dengan kerendahan hatinya, Renia masih merasa tidak nyaman.
"Wah, adikmu terlihat seperti lily emas,"
Tanka melihat wajah Renia dari dekat. Aku menggerakan tangan agar Tanka tidak terlalu dekat dan mengganggu Renia.
"Ada apa, kak?" Renia yang sedang memakan es serutnya berhenti karna gerakanku barusan.
"Kakak melihat serangga."
Setelah aku menyakinkan Renia, aku menatap tajam ke Tanka. Dia tidak ambil pusing dengan tatapanku, dan masih sibuk berbicara.
"Dari ekspresimu, kamu pasti tidak pernah melihat Lily emas, kan?"
Aku mengangguk pelan.
"Sayang sekali. Lily emas adalah bunga langkah, dia sangat cantik. Saat bulan berwarna emas, lily emas akan bersinar sangat terang. Bahkan seluruh tubuhnya,"
Pengetahuan yang luar biasa dari peri tanah. Aku selalu kagum dengannya. Apakah semua peri berdedikasi tinggi sepertinya? Entahlah. Dia satu-satunya peri yang pernah bertemu denganku.
"Walaupun lily emas langkah, tapi Caesar punya sebidang besar kebun lily emas." Dia bangga.
"Bagaimana dengan sekarang?"
Aku memutuskan untuk menggunakan telepati.
"Aku tidak tahu dimana lily emas. Mungkin dunia terus berubah, selalu ada pergantian akan sesuatu."
"Tapi, memang sangat disayangkan jika lily emas hilang. Tidak ada bunga tercantik menurutku selain lily emas," keluhnya.
Yang hanya terbayang dalam otakku hanyalah gambar lily biasa dengan warna emas. Tidak ada yang terlalu istimewa selain kan warna yang berbeda.
Aku menanggapinya dengan mengangguk. Tidak ada yang bisa kuubah jika sudah berlalu ratusan tahun lalu.
"Kakak memikirkan apa?" Renia ragu untuk menyentuhku. Sentuhan pelan tak berdaya itu begitu ketahuan bahwa dia ragu-ragu.
"Ada yang menyebutmu sebagai lili emas." Aku tersenyum. Secara perlahan, Renia menerima kebiasaan baruku ini. Dia tidak terlalu kaget melihat kakak keduanya tersenyum.
Wajah kaku berubah menjadi wajah penuh ekspresi.
Diluar dugaanku, Renia ternyata cukup hebat dalam belajar.
"Lily emas adakah bunga yang sangat cantik. Aku tidak bisa dibandingkan dengan itu." Wajahnya memerah. Aku tahu dia senang menerima pujian itu, tapi dia juga merasa malu.
"Kau tahu tentang lily emas?"
Dia memandangku terkejut.
"Itu ada di buku botani. Aku membacanya di sela-sela waktu senggangkul"
Tampaknya dia sadar, bahwa tidak semua orang mengetahui tentang bunga lily emas itu. Verion, Levian, dan aku, satu pun tidak mengetahuinya. Tapi, anak perempuan berumur delapan tahun mampu mengetahuinya, berarti dia cukup berpengetahuan tinggi.
"Adikmu akan menjadi botanis yang hebat."
Tanka memperhatikan jari-jari adikku. Aku mengikutinya memperhatikan jari-jari-jari Renia, ada sedikit goresan-goresan kecil di tangannya.
"Apa kau suka berkebun?"
Renia kembali ragu menjawab pertanyaanku.
Berkebun adalah hobi yang rendah bagi bangsawan, itu pikiran dari orang-orang di sini. Menurutku tidak sama sekali. Lihat, sepertinya Renia tidak main-main dengan hobinya.
"Kakak pernah bilang lakukanlah apa yang kau mau. Tidak akan terjadi apa-apa." aku mengusap lembut kepalanya.
Renia mengangguk, "Ya, aku menyukainya."
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Selain aku, tampaknya ayah juga mengetahui hobi Renia. Dia membebaskan Renia melakukan hobinya. Tidak heran, di bagian selatan kebun Baron, terdapat rumah kaca yang cukup terawat.
Itu pasti Renia.
"Apa keinginanmu?" Aku menatapnya lurus, memberinya keyakinan.
"Renia ingin menjadi seorang botanis yang sangat hebat."
Pipinya yang memerah, wajah yang tertunduk, serta jari-jari yang dimainkan, dia tampak ragu dengan dirinya sendiri.
Aku memegang pundaknya, kudekatkan wajahku di telinga kanannya, dan berkata, "Renia akan menjadi botanis yang sangat hebat, bahkan sebenua Xellim."
Dia menatapku haru, kulihat Levian dan Verion yang memperhatikan kami. Sebuah perintah kecilku yang kugambarkan di ekspresiku, tersampaikan pada mereka.
"Nona pasti menjadi botanis yang sangat hebat!" Mereka berdua berbarengan.
Aku tersenyum lega, dan kembali memberikannya keyakinan.
"Asal Renia tidak menyerah dan terus mencoba, Renia akan menjadi seorang botanis yang sangat hebat. Lihat kakakmu, menjadi ahli pedang yang sangat hebat. Tentu Renia akan menjadi botanis terhebat. Karna darah kita sama.
Renia loncat dan memelukku. Inilah perlakuan terjujurnya padaku. Aku membalas pelukannya.
__ADS_1
Bahu kecilnya yang bergetar, besok akan menjadi lebih kuat dan lebih kuat. Seorang hebat akan terlahir lagi dari keluarga Sanktessy.