
Jika hari-hari biasanya kulalui dengan mengurus dokumen, latihan, dan hal lainnya yang membuatku sulit
untuk tidur. Ini adalah hari terakhir itu. Untuk beberapa bulan kedepan, aku akan lepas dari mengurusi dokumen.
Ayahku akan mengurusnya, dan Willian yang menjalankannya, mengaturnya. Pekerjaannya akan membuatnya lebih sibuk.
Mungkin dia akan berteriak di sela-sela kerjanya. Lalu Bastian akan mengatasinya dengan mata ramah penuh kecurigaan dan tekanan.
Tanka menguap disampingku. Empat jam perjalanan dan dia tidak terbang membuatnya lelah. Dia bilang bahwa sayapnya sangat mati rasa jika tidak terbang cukup lama. Karena itu aku menyuruhnya untuk terbang di dalam kereta kuda.
Aku membalikkan buku yang kubaca. Buku ringan, tentang semua legenda untuk menghabiskan waktu. Setelah berbicara dengan Verion cukup lama aku memilih untuk membaca buku, lalu dia memandangi telur mistik pemberian ayahnya.
"Ayahku tidak pernah menunjukkan hal keren seperti ini." Mungkin Dia merasa kesal pada ayahnya, sehingga aku melihat kerutan di wajahnya yang biasa lembut.
"Memikirkan apa yang diberikan padanya, ayahmu hanya berpikir itu tidak akan berguna untukmu."
Aku membalik lembar buku yang telah kubaca.
"Itu benar," jawabnya lemah.
"Dibandingkan dengan telur itu, ayahmu memberikanmu cemilan 250 batu mana api. Apa itu kurang?"
Menggunakan telunjuknya dia menggaruk pipi kanan dengan malu.
"Mengatakan itu camilan agak terlalu." Dia menghadap keluar kereta. Hanya gersang yang kami lewati.
"Karena ayahmu belum memberi makanan utamanya." Aku tersenyum misterius.
Dia penasaran, tapi melihat mulutku yang tertutup rapat dengan senyum misterius dia menahan keinginannya.
Duk! Duk!
Jalan bebatuan tandus Sanktessy membuat perjalanan tidak nyaman. Telur mistik itu berguncang, lalu Verion memeluknya agar telur itu tetap nyaman.
"Membosankan."
Tanka yang mengantuk tidak jadi untuk tidur. Dia selalu terbangun dengan guncangan kereta. Sepanjang perjalanan wilayah Sanktessy, hampir seluruhnya jalan berbatu, jalan raya sangat minim.
DUK!
Itu guncangan yang besar. Kepala Verion tersentak ke belakang. Sejujurnya, aku ingin tertawa saat tubuhnya jatuh ke belakang dengan pose lucu.
"Maaf atas Ketidaknyamanan ini, Verion. "
"Ini hal biasa saat aku menjadi pendeta."
Seorang pendeta pasti sering melakukan perjalanan untuk memberkati, atau penyucian, dan penyembuhan. Apa yang dikatakan Verion adalah kebenaran, bukan karena untuk membuat hati kecilku merasa nyaman.
Menggunakan kereta kuda tidak senyaman menunggangi kuda. Tapi jika aku memilih menunggangi kuda untuk Kekaisaran, maka keluargaku akan menjadi bahan ejekan lagi. Sebuah kereta dengan lambang keluarga mencerminkan siapa tuannya. Memberitahu siapa tuannya.
Itulah kenapa aku dan Verion akan berpisah di Veranses. Karena masing-masing dari kami membawa nama keluarga.
__ADS_1
Langit perlahan menghitam. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tengah gurun. Jika monster menyerang, hal yang umum disini adalah kadal gurun. Mereka mudah untuk dikalahkan, hanya saja cukup merepotkan karena berkelompok.
Mereka mirip
"Raptor."
Tanpa sadar aku mengucapkannya.
"Apa? Raptor?"
Verion ternyata mendengarnya. Aku berbohong padanya.
"Lapar kataku." Sambil tersenyum kecil.
"Jelas-jelas kau mengatakan Raptor, Akion. Apa itu?"
Tanka yang duduk di pundakku pasti mendengarnya lebih jelas. Tapi aku tidak akan menjelaskan pada mereka apa itu Raptor, mereka tidak akan mengetahuinya.
"Sebentar lagi mereka pasti akan memanggil kita untuk makan." Jawabnya tenang tidak mempermasalahkan Raptor tadi.
Tidak lama kemudian, seorang prajurit bertanya kepadaku, akankah aku makan di dalam tenda atau di luar.
Aku mengatakan padanya kami akan makan di luar. Bintang di gurun biasanya lebih banyak dan terlihat dengan jelas, makan diluar membuatku bisa menikmati suasana yang berbeda.
**
"Proposal pertunangan akan ada."
Dia bisa digantikan dengan yang lebih berkemampuan. Serikat dagang sulit untuk dicampuri bangsawan, mereka mempunyai orang-orang kuat dengan keahlian bermacam-macam.
Kembali kepada gumaman Verion tadi. Dia tidak ada teman mengobrol saat aku memfokuskan diri untuk membaca atau berpura-pura tidur.
Aku membawa beberapa buku yang terlihat menarik di mataku, dan beberapanya adalah novel romance.
Itulah yang Verion baca. Dia membaca buku berjudul bunga di keluarga Count menjalin cinta pada Kesatrianya.
Itu hal yang mustahil dalam keluarga bangsawan. Kebanyakan dari mereka dinikahkan berdasarkan keuntungan. Jika mereka saling mencintai, itu adalah keuntungan tersendiri.
Jadi, tampaknya dia mengumumkan bahwa putri Count itu akan mendapatkan proposal lamaran dari keluarga lain.
"Kau juga nanti akan mendapatkan proposal dari keluarga bangsawan lain." Aku nyeletuk saat dia masih sibuk membaca buku yang dia pegang.
"Apa, Akion?"
"Kau akan mendapatkan proposal dari keluarga lain. Kau satu-satu keluarga Marquis, mereka tahu betapa kayanya kau, dan tidak ada pesaing lainnya. Lalu jika ada gadis di Kekaisaran melihat wajahmu, mereka mungkin akan cukup menyukainya."
Aku sengaja sedikit merendahkannya pada bagian terakhir.
"Dan mereka akan mengelilingiku seolah aku adalah benda pusaka?"
Aku mengangguk. Itu hal yang biasa. Pernikahan memperkuat dua keluarga.
__ADS_1
"Apakah Marquis pernah menyinggungnya?"
Duk! Kereta berguncang lagi.
"Pemikiran ayahku sangat idealis. Kau bisa menebaknya ke mana nanti."
Aku menertawakannya tanpa suara.
"Lalu, bagaimana denganmu?"
Dia ingin menyamakan nasib kami.
"Ayahku membebaskanku."
Dia mengangguk, lalu matanya seakan bercahaya memandangku dengan penasaran.
"Bukankah kau mendapat proposal dari putri mahkota?"
Aku mengangguk. Itu adalah berita yang sangat menggemparkan, semua bangsawan bahkan masyarakat mengetahui dan membicarakannya. Seorang tuan putri Mahkota akan dijodohkan pada putra kedua Baron miskin yang tidak punya apa-apa.
Orang-orang berpikir aku sangat beruntung mendapatkan proposal itu, dan menganggap keluarga kaisar terlalu rendah hati mau menerimaku yang rendah ini.
Namun, berita paling menggemparkan adalah, aku yang menolak untuk menjadi tunangan Tuan putri Mahkota.
Bukankah aku tidak tahu diri, berani menolak proposal yang sangat berharga. Berani jual mahal pada keluarga Kekaisaran. Berani membuat mereka malu.
Semua jari mereka menunjuk padaku, dan mulut mereka menghardik seakan akulah pendosa. Aku menjadi semakin lebih terkenal karena itu.
Alasan Akion menolaknya karena merasa tidak seharusnya tuan putri berhubungan dengannya. Akion sedikit mengidap rendah diri Dari Baron Einhs. Tapi alasan terbesarnya, karena dia tidak nyaman dengan persona tuan putri.
"Akion, kita masih muda. Kita tidak seharusnya memikirkan pernikahan sekarang." Mata Verion menyipit saat tertawa.
Aku juga menertawakan masalah ini. Aku sangat setuju padanya. Masih banyak tujuan yang ingin dicapai.
Menikah adalah urusan berbeda yang bahkan tidak kupikirkan.
"Lihat kalian berdua, para pria jomblo bodoh yang menertawakan kesendiriannya." Tanka mengejek sambil melipat kedua tangannya.
Saat itu matahari semakin meninggi, perjalan menuju ibu kota masih memakan waktu sekitar dua minggu lagi.
Hari-hari yang kami lakukan adalah berlatih, beristirahat, makan, dan melanjutkan perjalan lagi.
Tanpa menduga ada sebuah kejadian yang terpaksa membuat kami sedikit memperlambat perjalanan.
"API!"
"PADAMKAN!"
"To-long... ukh...."
"Mama ... huwee... ma-ma ...."
__ADS_1
Asap hitam menyembul tinggi ke langit. Semua emosi berkumpul di sana, suara tangis dan kesakitan memenuhinya. Aku memandang api raksasa itu-tegang.