Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Pertemuan Teman Atau Musuh


__ADS_3

Kali ini aku telah memberitahukan tentang Eli terlebih dahulu kepada ayahku. Dia memandangi Eli dengan kagum, wajah tuanya tersipu melihat Eli.


Itulah kehebatan siren, dia mempunyai daya tarik yang tinggi.


Eli masih banyak menyimpan misteri.


Aku telah memberikan perintah pada Levian untuk memberikan keperluan Tanka. Jika dia sekarang melihatku dan Eli sedang memakan camilan bersama di ruanganku, Tanka pasti akan sangat berisik.


Eli makan dengan lahap, melihat tubuhnya yang kurus, aku senang melihatnya makan dengan lahap tanpa memperhatikan etika makan yang sebenarnya sangat ribet.


Dia mengunyah cake coklat dalam sekali suap membuat mulutnya penuh dan menggembung lucu. Lalu, tanka masuk dengan wajahnya yang kesal.


Memperhatikan Eli yang santai memakan cake dan ditemaniku. Tanka berteriak melengking.


"Kenapa kau ada di sini sih, siren sialar!?"


Aku menyentuh keningku, Tanka keterlaluan. Saat aku mendengar ocehan Eli tentang Tanka kupikir mereka teman yang cukup dekat. Tapi tanka seakan sedang menyodorkan pedang pada Eli.


Eli hanya tersenyum licik. Mulutnya yang penuh dengan cake membuatnya tidak peduli.


"Cepat kembali ke gunung Berk, kau Siren sialan."


"Akion seharusnya kau menyianginya untuk mengambil sisiknya yang busuk itu."


Tanka menarik rambut Eli, memaksanya untuk keluar.


"Tanka, itu sikap yang sangat tidak sopan untuk tamu." Aku mengatakannya tanpa niat apa pun, tapi Tanka memandangku tidak percaya.


Dia seolah menangis saat berkata. "Kau membelanya. Aku akan dibuang...."


Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Berurusan dengan perempuan, aku saja tidak pernah.


"Bukan begitu. Eli kan teman lamamu. "


"Enak saja!" mereka berdua berteriak menolaknya. Wajah mereka berhadapan.


"Kau pasti menipu Akion agar dia membawamu ke sini," gerutu Tanka.


"Oh, makhluk kecil ini pasti selalu membutuhkan tipu daya busuk agar bisa datang ke sini." Eli menyeringai menanggapinya.


"Kau Siren sialam, pergilah dari sini."


"Akion telah berjanji padaku untuk memperbolehkan aku tinggal di sini." Wajahnya bangga.


"Akion, usir dia sekarang!"


"Tidak bisa, Tanka. Janji harus dipenuhi, kan?" Aku tidak nyaman.


"Dengar itu. Kau di sini pasti hanya membuat kekacauan," ejeknya.


"Diam. Kaulah yang akan tebar pesona dan membuat kekacauan."


Mereka berdua berdebat satu sama lain mengenai siapa yang harus keluar dari sini. Sebagian besar perdebatan mereka aku tidak mendengarkannya, dua perempuan berdebat bisa membuat kepala pecah.


"Eli, bisakah kau keluar? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan pada Tanka."


Mendengar suara rendah dan beratku, mereka berdua menutup mulut mereka rapat. Tanka merasa khawatir aku tahu dari gerakan sayapnya yang ragu.


**


Tanka terlihat seperti anak yang sedang menerima hukuman. Dia tidak berani memandangku. Atsmofir disekitar kami sedikit berat.


Ketika aku meneletakan gelas dan membuat suara kecil, dia kaget. Kemudian dia menggoyang-goyangkan kakinya dengan canggung.


"Kau kenapa?"

__ADS_1


"Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman disini?"


Dia menggaruk pipinya lembut.


"Ngg... wajahmu seram. Itu membuat punggungku merinding."


"Apa aku melakukan kesalahan?"


"Haha," tawa kosong keluar dari mulutmu.


Kening Tanka berkerut dengan responku.


"Sejujurnya kau sedikit melakukan kesalahan Tanka."


Dia menatapku khawatir.


"Aku melihat kebun rumahmu. Sangat cantik. Saat itu aku baru menyadarinya, kenapa mereka bisa tumbuh di sana?"


"Akulah yang salah karena terlalu bereuforia terhadap harta keluargaku dan melupakan hal penting seperti ini."


"Maafkan aku, Akion."


"Tidak, bukan salahmu." Aku mengibaskan tangan sekali," Akulah yang tidak peka dengan keistimewaanmu, peri tanah." Kami bertatapan.


"Pinjamkan aku kekuatanmu untuk membuat subur tanah Sanktessy. Jika kamu mau, aku berjanji akan menjagamu dengan baik."


Sulit dipercaya kejadian berikutnya, Tanka menangis. Aku tidak tahu bahwa wajahku semenakutkan itu sehingga dia menangis sesenggukan.


"Akion, maafkan aku. Aku hanya bisa membantu sedikit. Daerah Sanktessy itu akan sulit jika mengadalkan kekuatanku. Sanktessy diberikan kutukan. Hanya orang yang punya kekuatan suci tertinggi yang bisa membebaskannya."


"Maksudmu?"


"Aku hanya bisa mencoba menumbuhkan sebidang tanah kecil, dengan seluruh kekuatanku. Tapi tidak dengan seluruh wilayah Sanktessy. Maafkan aku, Akion. Aku telah mencobanya sejak lama."


Itu benar-benar pengakuan yang memberantakkan pikiranku. Aku kecewa lagi. Pikirku kami telah menemukan titik terangnya. Ternyata hal ini malah membuat pikiran dan hatiku bertambah kusut.


Yang tersisa hanyalah kebodohanku saja.


Semuanya kembali kerencana awalnya. Jika memang benar hanya orang yang mempunyai kekuatan suci tertinggi yang bisa mengangkat kutukan itu, artinya tuan putri bisa mengangkat kutukannya.


Aku dengar tuan putri adalah saintess yang Agung. Tapi dibawah bayang-bayang kaisar, itu hal yang sulit. Selama ini mereka mengekang kami di segala arah. Mungkin saja tuan putri sejak lama mengetahui tentang kutukan ini, tapi dia tidak membantu.


Aku mengingatnya, Kaisar sebenarnya ingin menjodohkan Akion pada tuan putri, tapi Akion menolaknya karena merasa tidak pantas. Karna rasa rendah diri Akion, dia dikirim kaisar yang marah di medan perang, berharap dia mati.


Namun, Akion yang seorang swordmaster mampu menyelesaikannya dengan cepat. Dia tidak mengharapkan apa-apa, dia tahu bagaimana kaisar memandangnya dengan rendah. Setelah perang itu pun, kaisar memanggilnya dan memandangnya dengan rendah seolah Akion itu adalah serangga.


Tepat sekali. Mau tidak mau aku harus bertemu tuan putri juga. Sebentar lagi aku juga akan menuju ke kaisaran, jika bisa memanfaatkan momen itu, maka aku akan bertemu tuan putri.


Aku menggenggam tanganku.


"Kau baik-baik saja, Akion?"


"Ya." Kali ini aku tersenyum dengan lancar. Mulut Tanka tidak menutup, dia mungkin berpikiran aneh dengan sikapku yang cepat berubah.


"Aku tetap akan melindungimu."


Aku tersenyum pada Tanka yang sepertinya kesulitan untuk menerima perkataanku.


"Itu tidak bisa, Akion. Aku yang akan membantu


melindungi Sanktessy dan mengabdi padanya." Dia menundukkan badan, melakukan salam hormat sambil menekuk kakinya.


"Kau sedang mencoba menjadi kesatriaku?" Aku tertawa kecil.


"Jika bisa begitu, maka bersumpahlah untukku."

__ADS_1


Itu adalah pernyataan yang lantang dan tanpa ragu,


"Kau serius?"


"Hatiku selalu untuk Sanktessy."


"Baiklah, jika itu maumu." Aku mencabut pedangku, dibandingkan meletakannya di pundak, aku meletakannya. diatas kepala Tanka menyentuhnya pelan.


"Tanka saat ini dalam janji yang diikat atas nama dewa, dan dunia, cahaya dan kegelapan, aku menjadikanmu kesatriaku, pengikutku. Atas nama Akion Naal Sanktessy, kau harus mematuhi setiap perintahku, bahkan nyawamu sendiri."


Ketika aku menyarungkan pedangku, aku melihat dia tersenyum malu-malu.


"Terima kasih tuanku, Akion."


"kau tetap harus memanggilku Akion." Aku menunjuknya seakan mengancamnya dengan cara bercanda. Dia mengangguk.


Saat matahari cerah.


Setelah sehari terlewatkan dengan perasaan buruk. Aku mengantarkan Eli, mempertemukannya pada Harzem.


Harzem tidak lepas memandanginya. Dari bawah keatas dan dari atas ke bawah. Dia melakukannya berulang kali hingga aku merasa terganggu sendiri.


"Harzem, sebaiknya kau jangan menganggu Eli."


Dia telah berada disamping eli saat itu. Menjelaskan sesuatu dengan kharismanya.


"Oh adikku, kamu terlalu khawatir."


Dia tidak melihatku, masih memandangi eajah Eli yang fokus memandangi bentar ditangannya. Tangan Harzem mengusirku.


Astaga, pasti dia mengincar Eli.


"Eli, apakah aku boleh menyentuh ini juga?" Mereka bertatapan, bahkan hanya berjarak 3cm antara bibir mereka. Harzem meliriknya dan meneguk ludah.


"Jangan lakukan itu, Harzem." Aku tidak ingin melihat mereka bercium di depan mataku. Karna dia seorang playboy, maka dia selalu bergerak cepat


"Harzem, bisakah kau menyingkir? Itu membuatku gerah."


Eli mendorong tubuh Harzem yang menempel padanya. Wajah Harzem terkejut, mungkin baru kali ini seorang perempuan tidak masuk dalam jebakan pesonanya.


Itu hal yang bagus.


"Akion." Dia mendekatiku dengan lincah, dibelakangnya Harzem memandangku dengan kecut.


"Apakah hanya kami berdua yang disini."


Aku memandang ke arah lain, "Tidak. Ada seorang lagi, dan dia adalah ketua di sini. Jadi kau harus mematuhinya."


"Baiklah. Di mana dia sekarang?"


Aku mengangkat bahu sedikit.


"Aku akan undur diri dulu dari sini. Tolong kalian akur ya." Aku melambaikan tangan saat menutup pintu.


Saat langkah kelimaku selesai, Tanka muncul membawa sesuatu di tangannya. Tampaknya akan ada perang lagi.


"Tolong yang akur.”


Wajahnya bingung mendengar perkataan itu, tapi aku tidak menjelaskannya, kabur dari sana agar tidak mendengar ocehan mereka.


Bahkan di luar dari gendung itu, suara Tanka yang menggelegar terdengar.


"AKION! ARGH! SIREN SIALAN PERGI DARI SINI"


"KAU PERI CEBOL YANG PERGI DARI SINI."

__ADS_1


Suara mereka berdua sama-sama menggelegar. Terdengar seperti petir yang bersaut-sautan.


__ADS_2