
Bagaimana wajah ibuku?
Dia mempunyai rambut berwarna coklat terang, dan mata yang biru. Rambut panjang, khas wanita Kekaisaran mana pun yang menjunjung tinggi mahkota wanita itu. Rambut selalu menjadi penghias terbaik bagi para wanita.
Dia elegan, terdapat lesung pipi di pipi kanannya, dan tahi lalat kecil di dagunya. Dia sangat cantik.
Ibuku adalah putri dari Count Invit sebelumnya, ya dia sedarah dengan paman brengsek itu.
Ibuku adalah anak bungsu, dari 4 bersaudara dan 3 saudara perempuannya. Merekalah yang mengusir ibuku ke Sanktessy, beranggapan sebagai hama yang harus dibuang pada tempatnya.
Ibuku mencintai ayahku, bahkan dalam hardikan dan cibiran orang-orang. Begitu pula dengan ayahku, dia terlalu mencintai ibu yang telah banyak berkorban untuk orang yang menurutnya tidak pantas.
Melihat lukisan besar ibu yang terpanjang di lorong utama, menandakan betapa mencintainya ayah dan berharap siapa pun melihat kecantikannya dan mengaguminya.
Itu memang wajah yang cantik. Dia versi dewasa dari Renia.
Aku mengingat ibu kandungku, dia juga sering merawat rambutnya dengan baik. Mengatakan bahwa ini adalah mahkota wanita.
Saat ibuku menyisir rambut dan aku memperhatikannya, ibu akan tersenyum dan menggelitikiku.
Mereka berdua sama-sama cantik. Aku menemukan persamaan lagi dengan Akion, kami sama-sama kehilangan ibu.
"Ayo, kak." Renia menarik ujung jariku.
Tanpa sadar saat aku melewati lorong ini, aku terlalu terpaku pada lukisan ibu Akion. Langkahku terhenti, padahal tadi aku dan Renia ingin ke rumah kaca untuk melihat semua koleksi tanamannya.
Melihatku yang masih kesulitan melepas penglihatan pada lukisan itu, Renia bertanya padaku, "Apa kakak kangen dengan ibu?"
Pertanyaannya membuat ku memandang tubuh kecilnya, dia sedang memandangku dengan meneguhkan hatinya sendiri. Tubuh kecil ini pasti berusaha sangat keras untuk tidak merengek agar bisa melihat ibu.
Aku menggendong Renia. Kami berdua memandang lukisan besar itu.
"Bukankah ibu sangat cantik?" tanyaku.
Renia mengangguk, "Ibu adalah wanita tercantik di dunia," katanya keras untuk tidak memasang wajah sedih.
Aku mengusap kepalanya.
"Tampaknya, gelar itu nanti akan diwariskan padamu."
Senyuman tulus dari kakaknya ini mungkin bisa menghangatkan hatinya.
"Itu tidak benar. Ibu akan menjadi wanita tercantik selamanya."
"Oh, benarkah? Tapi ibu pasti sangat senang jika Renia mengalahkan rekor itu."
Aku tertawa menggoda. Lalu kami mulai berjalan.
"Sungguh?" Pipinya menggembung dengan sangat lucu, lalu kucubit pelan salah satu pipinya dengan lembut.
"Tentu. Orang tua selalu ingin anaknya lebih unggul dari mereka."
Begitulah kata orang-orang, tidak menurut kedua orang tuaku. Mereka lebih menginginkan aku bahagia dan mencintai diri sendiri dibandingkan yang lainnya.
Menurut mereka, aku adalah aku, seseorang yang berhak menentukan keinginannya. Bukan berarti menurutku, keinginan orang tua untuk anaknya lebih unggul itu salah. Mereka hanya mencintai dengan cara berbeda.
Bahkan kedua orang tuaku pun, jika aku melampaui mereka, mereka akan bangga juga.
Ah, sesaat aku kangen Bumi dan kedua orang tuaku. Ingin berziarah ke kuburan mereka dan membawakan ibu mawar merah serta bercerita tentang semua kualami.
Ini seperti mimpi yang tak bisa dicerna.
Tapi nyata dan kujalani. Kehidupan baruku yang luar biasa fantasinya.
Aku senyum-senyum sendiri.
"Apa ada sesuatu yang lucu, kak?" Renia lagi-lagi menyelanya.
**
"La la la~" Renia bersenandung saat merapikan tanamannya.
Dia tampak begitu antusias merawat tanamannya. Bola matanya yang berwarna emas terlihat lebih berkilau dibandingkan biasanya.
Aku tidak percaya pada umurnya yang muda itu, dia telah mencurahkan ketertarikannya pada botani dengan sangat tinggi.
Itu pemandangan yang tenang untuk dilihat.
Mengetahui dia berpengetahuan, dan terampil dalam botani, Renia harus masuk akademi dan menjadi seorang ahli yang sangat hebat.
Hebat? Mungkin itu kata yang terlalu tinggi orang pikirkan untuk digapai oleh Renia.
Sebagai kakaknya, akan kuyakin kan, bahwa Renia berada di Akademi terbaik di benua ini. Lalu, tidak akan kubiarkan orang lain untuk menginjaknya.
Itu tugasku.
"Aku akan menambahkan pupuk untukmu." Renia berbicara pada bunga Begonia ungu dengan tersenyum.
Dalam interaksinya dengan setiap tanaman yang dia rawat, aku merasa seperti terasingkan. Dia begitu fokus hingga melupakan sekitarnya.
Tangannya yang mungil terampil, dan bibirnya yang kecil terus terbuka berbicara pada tanaman yang dia rawat.
Setidaknya, aku mengerti bahwa tanaman juga dapat dipengaruhi suara. Banyak penelitian yang mengatakan bahwa musik dapat membuat respon baik pada pertumbuhan tanaman.
Aku tidak mau mengganggu dunianya. Hanya ada kami berdua di sini, mengenal dunia Renia adalah jalan untuk semakin dekat.
Bugh!
Dia tersandung oleh lantai yang sedikit menonjol. Dia langsung berdiri seolah tidak terjadi apa-apa, dan menepuk gaunnya beberapa kali.
"Kau baik-baik saja?"
"l-iya." "Tidak ada yang terluka?"
Dia melihatku sekilas, kemudian wajah kecilnya beralih melihat pupuk yang terjatuh.
"Butuh bantuan?"
Aku bukan tipe orang yang akan turun tangan untuk membantu masalah sepele seperti ini. Kenapa? Itu pertanyaan yang sering dikatakan.
Ini adalah hal kecil, aku menginginkan Renia mandiri. Aku ingin dia menjadi wanita yang dihormati, bijaksana, dan hebat menentukan pilihan dirinya sendiri.
__ADS_1
Jika dalam masalah kecil aku langsung terjun untuk membantunya, selain aku membuatnya manja, aku juga tidak menjaga perasaannya.
"Tidak usah, kak," jawabnya pelan.
Dia memunguti pupuk dengan hati-hati, melihatku yang masih tersenyum padanya dan tidak mengintervensi dia, Renia tampaknya lega.
Hal yang umum di Kekaisaran bahwa perempuan dituntut untuk sempurna.
"Kau sangat baik memperlakukan mereka."
Aku berjongkok di sampingnya yang sedang memberikan pupuk. Dia tampak malu.
"Ini bunga yang umum di Elperanda?"
Renia menatapku, tidak percaya dengan pengetahuanku yang rendah dalam hal ini. Yang kutunjuk tadi adalah anggrek hitam, sesuatu yang unik. Sejujurnya, aku pernah mendengar anggrek hitam saat di Bumi, itu ada di pulau Kalimantan.
"Ini adalah bunga endemik, kak."
Aku mengangguk, Renia beralih menyentuh daun bunga anggrek hitam seakan menunjukkan padaku, lihat bunga ini, mereka unik dan kita tidak bisa menemukannya di sini.
Itu disampaikannya dengan ekspresi yang lucu.
Kelihatannya, tawa kecil tak bersuara yang kucoba tahan diketahui Renia. Aku buru-buru mencari alasan.
"Kau memang pintar, Renia."
"Aku tahu dari kak Harzem."
Entah kenapa aku tahu dia sedikit kecewa padaku. Lirikan mata yang dia buang, dan gerakan kepala yang menghindar, itu sungguh agak mengganggu.
Rasa iri dalam diriku juga muncul. Harzem sepertinya sangat dekat dengan Renia. Beberapa kali Akion melihat mereka berjalan berdua, berbicara santai layaknya saudara pada umumnya.
"Apa kak Harzem yang memberikan ini?"
Dugaanku benar, Renian mengangguk. Matanya yang berpendar ragu memperlihatkan bahwa dia kangen dengan Harzem. Enam bulan Harzem belum pernah kembali ke mansion.
"Kata kak Harzem, bunga ini didapatkan dari benua Timur."
Aku menyentuh rambutnya yang lembut, kelembutan itu lebih dari sutra. Rambut itu bergerak halus saat mereka terjatuh.
"Sepertinya, kakak akan memberimu tanaman juga."
Persaingan dalam persaudaraan memang sering kali terjadi. Aku tiba-tiba saja ingin bersaing dengan Harzem untuk membuat Renia terkesan. Akan kuberikan tanaman yang lebih hebat dari yang diberikan oleh Harzem.
Sekilas aku memikirkan untuk memberikan kaki iblis pada Renia, tapi mengingat Tanka yang sangat cerewet dan kegunaannya, aku menahan ide itu.
Akan kuberikan sesuatu yang sama hebatnya. Lalu aku bisa berbangga diri mengalahkan Harzem, sih playboy petualangan yang sekarang entah ada dimana dia.
"Mari makan camilan."
Ketika aku mengatakan itu, Nami telah menyiapkan camilan untuk kami. Sebuah tangan kecil itu memegang tanganku, kusamakan langkah kaki kami.
Sebuah pemandangan indah untuk dinikmati saat memakan camilan. Berada di dalam rumah kaca yang terawat. Seperti pesta minum teh khusus untuk kami berdua.
**
"Apa kau mau ke festival?"
Ini adalah festival bulan biru. Belum lama ini bulan biru muncul, dan itu bersamaan dengan turunnya hujan yang deras dan lama. Jadi, mereka merayakannya sebagai ucapan syukur pada bulan biru.
Aku tidak akan tahu jika Tanka tidak menerobos masuk, dan berceloteh panjang lebar hingga telingaku panas
Semua perkataannya membuat telingaku panas. Aku sedang berbicara berdua dengan Renia, tapi yang kudengar hanya suaranya.
"Akion, Akion ayo kita ke festival!"
"Akion aku mendengar dari para Ksatria bahwa festival dilakukan hari ini!"
"Akion~ ayo kita ke festival~" rayunya berulang-ulang.
"Ayo ke festival bersama Renia. Pasti dia sangat menyukainya." Kali ini dia menggunakan adikku untuk keinginannya.
Festival, mungkin itu bisa menjadi hiburan untuk Renia. Dia sering terkurung di mansion. Aku bahkan meragukan dia mempunyai teman.
Jadi, kuturuti kemauan Tanka. Pasti di festival banyak makanan manis dan benda lucu yang akan membuatnya senang.
"Apa kau mau ke festival?"
"Ayo kesana, kak." Dia sangat antusias dan Tanka juga bergoyang kesenangan.
Paksaan halusnya berlangsung.
Setelah makan siang, kami baru berangkat menuju festival Rakyat. Hanya kami bertiga yang pergi, kesatria lainnya kuizinkan setelah mereka menyelesaikan latihan mereka.
Tanka tersenyum bahagia memikirkan suasana festival. Aku tahu, dia terkurung lama di hutan Kegelapan, menghabiskan hari-harinya melihat hal yang sama. Membosankan.
"Tidurlah, Kakak akan membangunkanmu saat sampai."
Kereta kuda bergerak pelan, sesekali bergejolak pelan karna jalan yang bergelombang.
Dia memandangku dengan mata yang mengantuk.
"Baiklah, kak. Terima kasih."
Dia merasa lega ada seseorang yang akan membangunkan dan menjaganya, Renia mengusap matanya dengan jari-jari kecilnya. Lalu menutup matanya.
Suara napasnya lembut, wajahnya damai saat tertidur.
Aku membaringkan tubuhnya di kursi kereta. Ini cukup pas untuk ukuran tubuhnya. Jika dia tertidur dalam posisi duduk terus, maka seluruh tubuhnya akan sakit.
Perjalanan berlangsung cukup lama, setelah Renia tertidur, aku terus-terusan menepuk pundaknya pelan. Ini adalah sugesti diri sendiri yang menganggap saat menepuk lembut pundaknya maka Renia akan tidur lebih lelap.
Suara berisik terdengar. Langit telah kehilangan cahayanya perlahan, dan digantikan oleh lampu-lampu kecil berwarna warni yang indah.
"Kau tidak membangunkannya?"
"Biarkan saja dulu."
Sesekali aku melihat dari balik jendela kereta kuda, orangorang berjalan dengan wajah bersuka ria.
Merasa kereta kuda yang tidak bergerak lagi, Renia mengusap kedua matanya. Dengan anggun dia menguap.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, kak?"
"Iya."
Aku membuka tirai jendela kereta kuda, cahaya warna warni itu masuk mempertontonkan keindahannya kepada Tanka. Dengan takjub dia membuka mulutnya. Menyenangkan.
"Wah, cantik sekali."
"Ayo turun."
Aku memegang tangan mungilnya untuk menurunkan kereta kuda yang cukup tinggi untuknya. Saat kami turun, Orang-orang memperhatikan kami.
"Itu bangsawan," bisikan itu kudengar saat kami menurunin kereta.
"Pak, tunggu kami di simpang sana." Aku menunjuk sudut kota yang tidak terlalu ramai.
"Baik, Tuan Akion."
Aku ingin Renia mengalami hal yang menyenangkan tanpa rasa sungkan dari orang lain yang cenderung menghindari kami.
Bahkan baju kami berdua lebih seperti penduduk setempat agar tidak muncul keributan.
Yang pertama kali Renia lakukan adalah mencari makanan yang terlihat cantik dan enak. Kue-kue dipanggang dengan baik dan dibuat dengan krim yang manis.
Renia menyukainya. Dia membawa dua kotak untuk dibawa pulang.
"Ah! Meleset!"
"Buka matamu! Ini percobaan yang kesepuluh, tidak ada satu pun yang kena."
"Dia tidak berbakat." Sekumpulan orang itu tertawa.
Titik itu adalah tempat teramai yang ada di sini. Mereka berkumpul untuk bertaruh dan memenangkan hadiah. Sebuah permainan yang di Bumi pun ada. Hanya perlu melempar dan menjatuhkan target.
Aku pernah mencobanya, dan itu mustahil. Aku tidak punya akurasi yang baik.
Tangan kecil Renia menarik pelan bajuku. Wajahnya menginginkan sesuatu. Dia membuka lebar matanya dan menatapku penuh harap.
Ini hal yang mudah.
"Akion ingat fokus. Kontrol dirimu."
Suara berisik dari Tanka. Dia mungkin sedikit meremehkanku di sini.
Semua mata itu sedang menatapku, terlebih Renia yang memandang intens. Seakan aku akan melakukan kesalahan. Padahal ini hal kecil.
Aku menarik napasku, gangguan itu hal biasa. Bagi kesatria itu adalah bumbu untuk mempertajam kemampuan.
Jariku meremas bola dan melemparnya. Aku tahu, itu akan tepat sasaran. Lalu boneka beruang itu akan menjadi milik Renia.
Senyumku terlukis jelas di wajah.
DUAR!
"Aku bilang kan kontrol dirimu, Akion!"
Tanka berteriak di telingaku. Teriakan itu seakan membuat telingaku tuli sementara.
Orang-orang batuk, dan memandangku dengan kaget. Kekuatanku berlebihan ketika melempar bola.
Jangankan mendapatkan boneka beruang, aku malah menghancurkannya menjadi keping per keping, bahkan lapaknya hancur. Aku tertawa tidak enak hati melihat bapak itu sedang memandangku meminta ganti rugi.
Dua keping emas kuberikan. Itu sebenarnya jumlah yang banyak untuk ganti rugi barang yang harganya dibawah itu. Tapi kurasa, dia pantas menerimanya. Dia adalah wargaku, jadi aku membantu ekonomi untuk berkembang, kan?
Renia berjalan lebih dulu untuk menyembunyikan rasa kekecewaannya. Dia sangat ingin boneka beruang itu.
"Maafkan kakak," rayuku setelah menyusulnya.
Renia tidak menjawab.
"Kakak sungguh tidak bermaksud untuk menghancurkannya."
Sampai kapan dia akan diam?
Aku berjongkok di depannya memandang lurus ke matanya, "Maafkan kakak."
Akhirnya, orang yang kecewa ini membuka mulutnya. "Baiklah. Belikan akan itu," perintahnya menunjuk lapak di depan kami.
Itu adalah es krim yang menggunakan buah sebagai alasnya.
Aku menggandeng tangannya, "Mau rasa apa?"
Dia melirik ke sekitar, seorang pria membawa es krim dengan wadah buah melon dan es krim berwarna pink di atasnya.
"Baiklah."
"Yang itu," tunjukknya.
Aku langsung memesan apa yang diinginkan Renia, tidak lama es krim itu siap. Satu untuk Renia, dan satu untukku dan Tanka.
Kami duduk di dekat air mancur, udara malam mendingin. Namun karna Tanka telah memberikan sihir pada Renia aku merasa tidak khawatir.
Menikmati es krim di bawah bulan dan bintang, dan keramaian festival tidaklah buruk. Wajah Renia juga membaik, dia tampaknya telah melupakan boneka beruang itu.
"Itu rasa stroberi?" tanyaku penasaran.
"Kakak mau coba?"
"Bolehkah?"
Renia menyodorkan es krimnya padaku, kusendok penuh es krim itu dan memasukkannya ke mulut. Rasa stroberi segar begitu terasa di mulutku. Ini begitu manis, dan harum.
Tampaknya dia menggunakan madu dibandingkan gula. Aku mengangguk senang.
Kusodorkan es krimku, ini rasa vanila, dengan wadah buah semangka kecil yang sangat merah.
Renia mencicipinya. Matanya membelalak menatapku kaget. Bukankah itu enak?
Dia bersenandung kecil, tampaknya memang itu enak menurutnya. Apalagi saat dia memakan semangkanya dia kaget dengan rasa manis luar biasa dan garing saat memakannya. Itu memuaskan mulutnya.
Setelah itu, kami menikmati makan malam dibawah bulan. Mereka melakukan konsep makan bersatu dengan alam yang baik. Jadi, orang-orang bisa menikmati udara bersih ini.
__ADS_1
Aku menengadahkan wajah ke langit, bintang yang tidak terlalu banyak. Cahayanya seperti bola mataku, dan banyak hal membuatku diam berpikir saat duduk disini. Setidaknya melakukan sesuatu yang kuinginkan tidak akan membuatku menyesal dibandingkan tidak melakukan apa pun seperti dulu.