Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Pesta Para Kesatria


__ADS_3

Ini pesta yang tidak terlalu mewah. Hanya dilaksanakan di taman mansion Sanktessy. Walaupun begitu, pesta ini dipersiapkan dengan sangat baik oleh kepala pelayan Sanktessy, Bastian.


Pesta dengan gaya garden party. Sebuah konsep untuk ksatria yang menyukai kebebasan, dan untuk merekatkan hubungan bersama. Setiap kesatria yang menjalan tugas dengan tuan yang sama, mereka harus mempunyai ikatan yang jelas, agar bisa menyelesaikan tugas dengan baik.


Aku muncul setelah para kesatria telah berdatangan, sambil memegang tangan Renia, aku memandangi mereka.


Renia menggunakan gaun kuning yang kupilihkan, gaun kuning yang kuberikan sangat cocok padanya.


"Dia persis seperti Lily emas."


Tanka berkata begitu saat kali pertama melihat Renia mengenakan gaun kuning ini. Rambutnya diikat twin tail, dandanan yang sesuai dengan umurnya. Membuat kesan manis yang sangat kuat.


Saat kami sampai di taman, semua kesatria telah ada disana. Levian, dan Verion berdiri berdampingan, Verion menggunakan baju bernuansa gelap, sedangkan Levian kebalikan dari Verion.


Sedangkan, ayahku, memandang takjub ke Renia. Dia sadar bahwa gaun yang dipakai Renia adalah gaun baru. Lalu dia mengalihkan pandangannya padaku dengan tersenyum.


Aku menganggapnya sebagai ucapan terima kasih telah memberikan gaun yang bagus untuk Renia. Putri semata wayang Baron Sanktessy.


Di podium, ayahku batuk sekali. Batuk yang tidak terlalu kuat itu menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.


Ayahku sebagai kepala keluarga, memberikan ucapan Terima kasih untuk semua orang yang berada disini. Dalam masa sulit dan seterusnya, orang-orang yang berada di sini adalah orang yang berharga.


"Akio." Dia memanggilku, menyuruhku untuk berdiri di sampingnya.


Aku telah disampingnya sekarang, lalu tangannya menyentuh pundakku.


"Kalian pasti tahu siapa ini?"


Dia memandang lurus ke semuanya.


"Ini adalah Baron muda, calon penerusku. Akion Naal Sanktessy, seorang pemimpin kalian, seorang anak yang hebat."


Ayahku batuk sekali lagi, saat aku meliriknya, dia tampak malu-malu.


"Baru-baru ini, anakku telah menuntaskan hutang kita di Invit. Itu adalah sesuatu yang luar biasa."


Semuanya bersorak, mereka tahu betapa sulitnya keadaan Sanktessy. Mendengar mereka melepaskan beban besar, mereka bernapas dengan lega.

__ADS_1


Kehidupan ke depannya akan lebih mudah.


"Dia akan menjadi pemimpin yang hebat. Yang membuat Sanktessy berjaya kembali!"


Ayahku bertepuk tangan. Rasa bangga yang meluap dari hatinya, begitu terasa hingga aku sendiri merasa terharu akan itu.


Setelah tepuk tangan meredah, ayahku mengizinkan aku untuk berbicara.


"Salam cahaya bahkan dalam kegelapan sekalipun. Kalian mengenalku sebagai swordmaster termuda dalam sejarah, tapi, aku akan mengatakan yang sejujurnya, dalam setiap langkahku selalu ada kekurangan, dan aku terus mempelajari hal itu." Aku melihat satu-satu wajah mereka yang bisa kuperhatikan.


"Banyak kesatria muda dan baru di sini. Tapi aku selalu percaya pada kalian, bahkan dalam kebimbangan sekali pun kalian bisa menentukan pilihan dan berkembang lebih baik.,


"Terima kasih pada kalian yang telah bersumpah setia pada keluarga Sanktessy. Kepercayaan dan pengorbanan kalian tidak akan kukhianati. Aku akan membuat keluarga ini tidak diremehkan lagi!"


"Jadi, busungkan dada kalian dan merasa banggalah menjadi Ksatria Sanktessy!"


Aku berteriak penuh semangat.


Semangat yang membara mengalir ke mereka. Teriakan penuh semangat ini membakar setiap keinginan untuk tidak diinjak lagi.


Lalu, tibalah saatnya kami makan bersama-sama. Seorang koki sibuk memanggang daging sapi dengan cepat, karna para Ksatria makan dengan lahap dan porsi yang besar. Aku bahkan tidak bisa membandingkan mereka dengan monster yang pernah kulihat, karna keduanya makan dengan lahap.


Aku, Renia, ayahku, levian, Verion, dan Tanka berada di satu meja. Kami sedang menikmati alkohol dengan tenang. Keributan yang dibuat oleh para Ksatria kubiarkan saja, karna ini adalah hari bebas mereka, sebelum aku menyiksa kembali mereka.


Renia menguap, kemudian dia mengusap matanya dengan lembut. Jam untuk tidurnya telah datang. Tubuh kecil ini butuh untuk bertumbuh.


Aku memanggil Nami menggunakan tangan, tapi ayahku menghentikannya.


"Biarkan orang tua ini yang mengantarnya."


Aku menyadari bahwa ayahku bersikap begitu, agar aku bisa melakukan sesuatu dengan bebas. Dibalik itu juga, dia takut aku tidak terlalu dekat dengan para kesatria.


Aku melambaikan tangan pada Renia. Ayahku mengusap kepalanya lembut. Dua prajurit dan Nami mengikuti mereka berdua untuk masuk ke dalam Mansion.


Aku meneguk alkoholku kembali. Seorang pelayan meletakan daging panggang bersamaan dengan kentang panggang berbumbu. Aku mengucapkan Terima kasih padanya.


Verion membuang muka saat aku tidak sengaja melihatnya, wajahnya memerah. Melihat reaksinya, aku merasa telah melakukan kesalahan.

__ADS_1


Verion telah mabuk. Matanya tidak fokus, dia bahkan mengoceh dengan bahasa yang tidak kumengerti.


Ya, aku tidak terlalu khawatir dengan bocah berwajah manis itu. Levian akan menjaganya.


Namun, tiga gelas alkohol besar muncul di hadapanku secara tiba-tiba, membuatku memandang dengan bingung. Tiga kesatria meletakkannya, mereka memberikan hormat padaku. Tampaknya mabuk telah membuat tiga kesatria muda ini berani menantangku.


"Ayo, habiskan Tuan Akion!" seru seorang kesatria berkepala botak.


Aku tidak tahu beban apa yang membuat kepalanya botak seperti itu, di umurnya yang muda, aku merasa kasihan dia telah kehilangan salah satu bagian terpenting untuk menunjang penampilannya.


Kesatria berambut hitam mendekatkan minuman yang dia bawa, "Minumlah tuan Akion. Apa anda takut mabuk?"


Deg!


Bukankah itu menyebalkan?


Mereka kira aku takut mabuk hanya dengan tiga gelas besar alkohol. Aku menggeleng pelan. Ini permainan anakanak. Tanpa sadar aku sedikit menyeringai karena ulah mereka.


Kesatria ketiga tidak berkata apa pun padaku, dia hanya menatap lurus dengan berani.


"Tuan Akion, tolong minum pemberian mereka. Mereka telah mengorbankan nyawanya untuk mengantarkan alkohol itu."


Itu adalah Bastian. Pelayanan tua yang bijak yang menjagaku dengan baik. Perkataannya tidak salah, mereka tahu bahwa aku menyeramkan, dan mereka berani menantangku.


Bagaimana reaksi mereka ketika telah sadar, dengan apa yang mereka perbuat?


"Baiklah. Ini hal yang kecil." Aku tersenyum remeh.


Mulutku dengan cepat meneguk semua minuman yang mereka berikan. Para kesatria bersorak-sorak gembira melihatku minum. Bukankah mereka terlalu berlebihan untuk ini?


Tapi, rasanya mereka menjadi lebih dekat denganku. Ya, aku tahu Akion banyak berubah, karna ini bukanlah Akion, tapi aku. Secara terus terang, aku tidak bisa mengatakan hal ini pada siapa pun.


Kepalaku berdenyut.


"Hah... ha...."


Tawa kecilku terasa menyebalkan. Aku benar-benar kalah, aku tidak tahu bahwa seberat ini pengaruh alkohol. Apa tubuh ini juga masih tubuh seorang remaja yang tidak tahan alkohol?

__ADS_1


Aku menjatuhkan diri di atas meja. Ingatan terakhirku adalah wajah Levian yang ingin menangkapku secara gegabah hingga menjatuhkan Verion disampingnya.


__ADS_2