Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Kembalinya Anak Tertua


__ADS_3

Sementara aku tertidur dua jam, sebuah keributan muncul di depan kamarku. Aku tidak membuka mataku, telingaku berkedut mendengarkan suara berisik yang tidak jelas itu.


Seorang yang kukenal bersuara panik melarangnya untuk masuk ke kamarku.


"Jangan, Tuan Har...."


Suaranya tidak begitu jelas. Tolong biarkan aku untuk tidur lagi.


"Tuan Akion baru saja tidur...."


Bastian entah sedang berdebat dengan siapa. Dia tidak begitu bisa melarangnya, ada suara keraguan dan takut didalamnya.


Pria satunya tertawa, itu tertawa yang sangat renyah dan leluasa.


Siapa dia?


Bruk!


Pintu kamar dibuka dengan keras, langkah kakinya berat dan begitu semangat.


"Aku kangen adikku sayang!"


Dia melompat di atas kasurku, memelukku dengan erat seakan aku anak kecil yang membuatnya geram.


Aku mengintip sedikit, sebuah rambut berwarna blonde menutupi pemandanganku. Kudorong kepalanya untuk menjauh, pelukan kuat itu lepas. Dia terduduk di atas kasur dengan wajah sumringah.


Apa yang kukatakan kemarin?


Tubuhku seakan magnet yang menarik masalah mendekat. Hari ini pun juga.


Saat aku duduk aku meremas rambutku, mataku yang baru terbuka menyipit dengan sendirinya melihat cahaya yang terang.


Aku menatap orang itu, yang duduk dengan senyuman yang lebar. Matanya biru seperti ibuku, senyumnya cemerlang, pantas banyak perempuan yang tertarik padanya.


"Adikku sayang, apa kamu kangen padaku?"


Dia akan melompat lagi untuk memelukku secara paksa. Tapi aku menghindar, membiarkannya sendiri di atas kasur.


"Harzem silakan pergi."


Aku menuju ke arah pintu. Bastian wajahnya khawatir.


"Maafkan saya, Tuan Akion. Tuan Harzem memaksa."


Wajahku sedikit ditekuk karna diganggu saat sedang tidur. Aku menghela napas panjang, dan menyembunyikan wajahku dibalik telapak tangan, mencoba untuk menghilangkan rasa kesal ini agar tidak salah sasaran.


"Harzem keluar," pintaku.


Tapi dia merespons itu dengan tertawa, dia tidak takut dengan wajah seram Akion.


"Ayolah, Akion, aku sangat kangen denganmu. Apa kau tahu setiap hari aku memikirkan bagaimana kabar adikku ini."


Dia bersikap sangat imut, membuatku enek untuk melihatnya. Wajahnya terus tersenyum, tapi aku membalasnya dengan ekspresi aneh di wajahku.

__ADS_1


"Dasar jahat!" pekiknya.


Lalu dia tiba-tiba dia merengek layaknya anak kecil.


"Oh ayolah, Harzem. Bisakah kau membiarkanku istirahat? Ini baru jam 4 subuh."


"Akion memang dingin tapi tidak kusangka sedingin ini. Tidak kangen padaku yang meninggalkan rumah ini selama enam bulan lalu."


"Oh..."


Rayuannya itu terdengar sebagai alasan untuk mengganggu lebih dari ini. Mempertimbangkan gelarnya, tidak mengherankan perempuan hanyut dalam rayuan mulut manisnya.


Bahkan hanya dengan senyumannya saja kuyakin pasti banyak perempuan yang mengejarnya.


"Tuan Harzem, Tuan Akion harus istirahat, dan anda juga membutuhkan istirahat. Anda baru saja sampai di rumah." Bastian menenangkannya.


"Tidak, aku akan tidur disini." Dia menggerakkan tangannya, meminta Bastian berhenti untuk mencoba membawanya pergi dari sini.


"Harzem, bisakah kita bertemu besok saja?"


"Kau pasti akan menghindariku."


'Tentu.'


"Lihat keadaanmu sekarang, kau tampak seperti pria yang tidak pernah menyentuh perempuan. Begitu lusuu dan pemarah."


Alisku berkedut. Semakin lama Harzem semakin menyebalkan. Dibalik sikap hangatnya itu, mulutnya menusuk dengan sangat manis.


Aku berjalan mendekatinya dengan wajah ditekuk keras.


"Hentikan,Akion."


"Aku ini kakakmu."


Dia meronta dan berteriak saat kuseret untuk keluar. Dia memang kakakku, tapi sikapnya seperti anak kecil yang labil. Membingungkan, Akion terlihat lebih dewasa dan bertanggung jawab. Tentu, inilah alasan Baron Sanktessy menentukan bahwa penerusnya adalah Akion.


Harzem masih mengedor pintuku dengan kuat saat pintu itu sudah tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Aku tahu Bastian memohon padanya untuk berhenti. Lalu suara ayahku terdengar, dia meminta Harzem untuk berhenti dan mengikutinya.


Dua menit kemudian, keadaan kamarku tenang kembali. Aku memejamkan mata damai dengan wangi khas pagi yang telah tercium.


"Aku merasa dikhianati." Mulut Harzem mengkerut. Sendok dan garpu di tangannya di gesekannya di atas piring.


Dia melupakan etika makan dengan sengaja sebagai bentuk protes.


"Sejak kapan kalian dekat?" Dia bertanya pada kami berdua, melihat Renia yang menempel padaku itu hal yang luar biasa baru baginya.


"Bahkan tadi Renia menyapa Akion lebih dulu dibandingkan aku." Dia cemberut.


"Maaf kakak, tadi aku tidak melihatmu. Jadi aku menyapa kak Akion terlebih dahulu."


"Itu menyakitkanku."


"Harzem jangan mendramatisir segalanya. Saat Renia melihatmu, dia memelukmu erat dengan wajah bahagia." Aku menyuapi mulutku dengan sesuap daging.

__ADS_1


"Jahat." Dia tertawa lepas, "Jadi sejak kapan kalian dekat?"


Dia masih berusaha untuk mendapatkan jawabannya.


"Sejak dulu mereka sudah dekat, Harzem. Apa kau tidak akan memakan makananmu?" Ayahku yang telah menyelesaikan makannya mengelap mulut dengan lembut. Tatapan jangan dia berikan pada Harzem.


"Ayah, lihat ekspresi Akion, dia banyak berubah."


Senyuman di wajah ayahku mengembang. "Banyak hal yang terjadi Harzem. Bukankah itu hal yang baik?"


Harzem mengangguk, "Tapi dia masih tidak ingin kupeluk." gerutunya


"Kita sudah besar, Harzem. Apa kakak tidak merasa geli?"


"Kakak!"Teriaknya terkejut.


"Luar biasa! Kamu memanggilku kakak!"


Itu perkataan yang sederhana tapi bermakna bagi Harzem. Akion dan Harzem hanya beda setahun, jadi jarak diantara mereka tidak terlalu jauh.


Karena sejak kecil Akion lebih unggul dari Harzem, tanpa sadar mereka berdua seperti terlahir ditahun yang sama. Jadi kata kakak adalah sesuatu yang langkah.


"Sudahlah. Habiskan makananmu terlebih dahulu, Harzem. Baru kau bisa melepaskan rindu pada saudara-saudaramu."


Senyuman itu adalah senyuman bahagia melihat semua anaknya yang akur dan dekat. Sebuah ikatan yang jarang terjadi pada setiap bangsawan. Bisa dikatakan, Harzem lah yang mempunyai hati besar, sebagai anak pertama, sejujurnya dia yang meneruskan gelar Baron. Tapi dia mengatakan kepada ayah, bahwa Akion lebih pantas dan mampu melindungi Sanktessy.


Setelah itu dia memutuskan untuk berpetualang kemana pun dan dikenal sebagai playboy Kekaisaran. Mata dalam seperti lautan, warna cantik seperti langit cerah, dan rambut blonde yang lembut.


Sebagai anak tertua, dia selalu berusaha mendekatkan diri dengan saudara-saudaranya, dan menurunkan ego dengan cara unik yang terkadang membuatku kesal.


Harzem mengangguk dengan semangat. Hari ini aku pasti akan ditempel olehnya.


Aku menyelesaikan sarapanku lebih dulu, dan meminta izin pada ayahku untuk pergi terlebih dahulu. Ada hal yang mau kucek. Aku sedikit merasa khawatir dengan Tanka, sejak tadi aku tidak melihatnya jika dia mengetahui tentang Harzem, maka mulutnya yang cerewet itu tidak akan tertutup. Tapi hari ini suara berisiknya itu tidak terdengar.


Apa dia keracunan dengan bisa Kaliya?


Apa dia melakukan kecelakaan dalam penelitian?


Aku harus memastikannya terlebih dahulu. Saat aku membuka ruang kerjaku, bau yang pekat tercium, aku batuk sekali dan mengibaskan tangan agar bau itu tidak tercium. Lalu kubuka jendela ruang kerjaku.


Apa-apaan ini?


Apakah ini rencana baru untuk membunuhku?


Kakiku tersandung sesuatu. Itu mempunyai warna putih yang berkilau, dengan ukuran yang sangat tajam. Kuperhatikan sisi lainnya, Tanka sedang terbaring sambil memegang taring itu.


Aku mengecek napasnya, dia masih hidup. Mungkin dia pingsan, kubawa Tanka diatas sofa dan membaringkannya di sana. Kemudian dengan saputanganku, kuselimuti tubuh mungil Tanka.


"Wow! Bukankah itu peri!?"


Saat itu pintu ruangan kerjaku masih terbuka dengan lebar, lalu aku melupakan sesuatu. Peri yang pingsan tidak bisa mempertahankan sihirnya agar tidak terlihat orang lain.


Dan kenapa di keluarga yang mengetahuinya untuk pertama kali adalah dia?

__ADS_1


Orang yang sangat berisik.


__ADS_2