Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Ketahuan Karena Tak Sengaja


__ADS_3

"Ini peri, kan?"


"Ternyata begini aslinya. Ah, cantik sekali."


Harzem menyentuh lembut Tanka dengan telunjuknya. Dia antusias, saat ini dia terlihat seperti Renia. Seorang penyihir pasti menginginkan untuk bertemu peri. Makhluk mitologi yang susah untuk ditemukan.


"Bagaimana kamu bisa menemukannya? Ini peri apa?


"Apakah dia sedang tidur?"


Dia menanyakan bertubi-tubi pertanyaan.


"Tanka itu peri tanah."


Aku duduk di sofa sambil menatapnya dengan tangan kiri yang menopang pipiku.


"Pantas warnanya begini."


"Setiap peri mempunyai klasifikasi?" tanyaku penasaran.


"Iya, mereka seperti penyihir. Elemen mereka menentukan warna. Kau menemukannya di gunung Berk?"


Itu dugaan yang tidak benar seutuhnya, "Di hutan kegelapan."


Harzem duduk di sofa, sekarang kami berhadapan, tapi pandangan matanya masih kearah Tanka yang tertidur.


"Ayah telah menceritakan semuanya padaku, kau luar biasa Akion."


"Tapi...." Dia diam sebentar, lirikannya terlihat ragu, "Aku tidak pernah mendengar tentang peri bernama Tanka ini."


Aku menghirup napas lalu membuangnya cepat, "Karena aku belum memberitahu Ayah. Tanka selama ini membuat dirinya tidak terlihat. Kau yang beruntung mengetahui pertama kali, karena Tanka pingsan," jelasku.


Dia memandangku bingung. Kenapa aku tidak menceritakannya pada ayah?


"Sejujurnya, aku akan memberitahu ayah saat kami hanya berdua saja. Tapi karna selalu banyak orang dan aku sibuk, aku jadi belum sempat memberitahukannya."


"Tanka itu rahasia keluarga kita," tambahku.


"Aku merasa tersanjung mendengar akulah yang pertama." Senyuman manis mereka di wajahnya. Kembalikan dari wajah kaku Akion, dia mempunyai wajah bermurah senyum.


"Haha, tidak, Levianlah orang pertama yang mengetahuinya." Aku tertawa mengejek.


Dia memasang wajah kecewa beberapa detik, tapi kembali tersenyum karna pertama kali melihatku tertawa mengejeknya.


"Lalu, apa itu?"


Dia menunjuk sudut dekat mejaku. Sesuatu yang kusandung tadi.


"Itu taring Kaliya. Kau belum mendengar ceritanya dari Ayah?"


"Sepertinya banyak cerita yang menghebohkan, ya. Aku pastikan akan mendengar semua cerita itu nanti."


"Lalu, taring Kaliya itu mau diapakan?"


Harzem tampaknya mengetahui apa Kaliya, dia tidak menanyai apa itu Kaliya. Tapi dia menanyakan untuk apa taring kaliya disini.


"Tanka menggunakannya untuk penelitian," jawabku singkat.


"Aku bisa membantunya, mungkin tidak terlalu banyak." Dia menundukkan kepalanya, malu, "Kau tahu kan, aku tidak begitu pintar dalam belajar." Dia tersenyum dengan kaku.


Aku mengangguk.


"Aku ingin membantu Tanka, lalu belajar darinya."


Aku mengangguk. Penyihir memang sangat dekat dengan spirit, dia mampu mempelajari sesuatu dari Tanka. Mereka akan menjadi duo cerewet yang tak tertandingi. Aku menelan ludah membayangkannya.

__ADS_1


"Aku akan mengatakannya pada Tanka. Itu urusannya menerimamu atau tidak."


Aku tahu Tanka pasti menerima Harzem, dia menghormati semua keturunan Sanktessy. Harzem mengangguk dengan penuh harap. Tidak lama kemudian, Tanka mengusap kedua bola matanya, mulutnya bergumam, dia merenggangkan tubuhnya. Kedua sayapnya berkepak dengan lambat.


Dia sadar secara perlahan.


"Kau berlebihan dalam bekerja."


"Sejujurnya aku keracunan dengan bisa Kaliya." Dia tertawa kecil seakan itu hal yang sepele.


"Tenang. Lebih tepatnya itu seperti obat tidur bagiku." Dia mengurut kepalanya, "Menggerus seluruh taring kaliya ternyata sulit juga ya."


"Apa kau ingin kubantu?"


Suara penawaran tiba-tiba dari Harzem membuat Tanka kaget.


"Ah! Siapa dia!?" Tanka panik, dia bersembunyi di belakangku.


"Dia adalah Harzem Naal Sanktessy." Tanka melirikku bingung.


"Kakakku."


"K-k-kakmu yang playboy itu?" Tanka masih tidak percaya.


"Tampaknya aku hanya dikenal sebagai playboy, ya?" Harzem tertawa miris. Itu ulahnya sendiri.


Tanka memandangi Harzem, dia mencari persamaan diantara kami berdua.


"Itu warna mata yang sama seperti ibuku." Aku menjelaskan sebelum Tanka membuka mulutnya. Aku tahu hal itulah yang akan dia tanyakan padaku, dia sudah bertemu Renia yang mempunyai rambut, dan bola mata berwarna sama denganku.


"Sihir tidak memperlihatkan wujudmu berakhir saat kamu pingsan, bagaimana dengan sihir perlindungan di gunung Berk?" Ini membuatku khawatir. Aku tidak ingin ada makhluk lain mengacaukan isi dalamnya.


"Tenang saja. Kedua sihirnya berbeda, dan di gunung Berk jauh lebih kuat."


Melegakan mendengarnya.


"Maafkan atas sikap aroganku, Tuan Harzem. Tentu anda boleh membantu saya, bahkan saya akan sangat merasa terbantu." Dengan sikap hormatnya yang elegan, Tanka memperbaiki perasaan Harzem.


"Terima kasih." Harzem tersenyum.


"Bawa semua barang-barangmu dari sini. Aku akan menunjukkan tempat baru untukmu melakukan penelitian." Aku memerintah Tanka sambil menggerakgerakan tangan.


Sejujurnya, bau pekat yang kucium sebelumnya belum hilang seluruhnya, dan membuat ruangan ini tidak terlalu nyaman untuk kutepati. Ini salahku tidak menyediakan tempat secepatnya.


"Aku punya ruangan sendiri?!" Dia gembira.


"Iya. Lakukan semuanya di sana, dan Harzem akan membantumu."


Tanka terbang ke arahku, "Terima kasih Akion!" Suaranya melengking bahagia.


**


Dia memahaminya dengan baik. Di ruangan yang berukuran 10x10 itu Harzem sibuk membantu Tanka. Aku mengatakan pada Levian untuk tidak membiarkan siapa pun termasuk Verion ke sini.


Dia masih tidak tahu tentang Tanka. Kepercayaan kami belum tinggi. Satu-satunya jalinan hubungan kami sekarang adalah simbiosis mutualisme.


Setelah beberapa saat aku memperhatikan mereka, aku pergi karena telah yakin Harzem dan Tanka tidak akan membuat keributan. Bahkan dengan mulut mereka yang cerewet, mereka berdua bahkan tampak lebih dekat dari sebelumnya. Sebuah proses yang cepat.


"Tuan Akion, diletakan dimana kulit Kaliya ini?"


Enam orang prajurit menggotong kulit abu-abu milik Kaliya, mereka telah selesai mengawetkannya dengan baik.


"Masukkan ke sana. Di sana ada Harzem. Kalian bisa bertanya padanya selebihnya."


Aku menunjuk ruangan tempatku keluar barusan. Aku telah menjelaskan pada Harzem bahwa dia harus tutup mulut mengenai Tanka dan menganggap laboratorium ini dialah yang menjalankannya.

__ADS_1


"Baiklah, tuan Akion."


Mereka melewatiku setelah memahaminya, kulit itu tampak berat ketika mereka pikul. Aku mendengarkan langkah kaki lain, kali ini langkahnya sedikit lebih berat dan lambat, itu rombongan prajurit yang membawa daging dan kepala Kaliya.


Secepatnya aku menunjuk ruangan tadi. Kuberi tahu mereka bahwa mereka akan memahaminya jika kesana.


Aku memalingkan wajahku dan berjalan kembali ke ruangan kerja ayah. Mengulur waktu untuk memberitahu ayah tentang Tanka tidak baik. Ayah harus mengetahui nya dan ayah saat ini masih memimpin sebagai Baron.


"Lalu, di mana dia?"


Ketika aku telah menjelaskan semuanya pada ayah, dan memohon maaf, ayahku bertanya tentang keberadaan Tanka. Wajahnya yang bersemangat dan bola mata yang bersinar tidak sabar untuk melihat Tanka. Sejauh ini, melihat peri adalah sebuah keberuntungan. Dan bukanlah ini sebuah jackpot mendapatkan peri sebagai orangmu?


Ada banyak cerita mengenai peri, seperti peri rumah yang membuat rumah yang ditempatinya beruntung. Apakah Tanka akan membawa keberuntungan di rumah ini? Yang kupahami kami beruntung karena Tanka peri yang hebat, berpengetahuan, dan peri pengumpul barang barang mahal.


Bukankah uang adalah segalanya?


"Maafkan kecerobohanku, Ayah. Aku terlalu bersemangat untuk memberitahumu tentang Tanka hingga melupakannya yang sedang bersama Harzem." Aku mengatakan penuh penyesalan. Aku melupakan Tanka kama setiap saat dia lebih suka bersembunyi dan muncul tiba-tiba memberikan tonjokan langsung ke saraf kaget.


"Jadi, dia bersama Harzem?!" Dia berdiri dari kursinya, aku mengangguk sekali.


"Jangan bilang Harzem tahu lebih dulu daripada Ayah.?


Perasaanku bercampur, kenapa mereka terlalu ekspresif? Dia menunduk kecewa dan membuatku lebih merasa bersalah.


"Harzem tahu karena tidak sengaja, Ayah. Hanya ayah yang langsung kuberitahu." Aku tersenyum sambil menjelaskan.


Ayahku menatapku cepat, ekspresinya berubah seperti anak kecil yang disogok dengan YouTube.


"Ayo kita kesana. Ayah tidak sabar untuk bertemu anggota keluarga kita." Dia berjalan dengan semangat. Sesekali dia bersiul santai. Aku mengikutinya dari belakang, dan memerintahkan kesatria yang ingin mengikuti untuk mundur, dan tinggal disini.


"Mana dia?" Ayahku bertanya dengan lantang saat kami tiba di laboratorium.


Harzem memandangku dengan heran.


"Kenapa Ayahmu. Akion?" Tanka bertanya bingung


"Ayahku ingin bertemu denganmu."


"Kau telah memberitahu ayahmu?"


Aku mengangguk, ayahku melihatku, dia kebingungan melihat tingkahku yang tampak berbicara sendiri.


"Ayah, kenalkan ini Tanka" Aku menunjuk udara kosong di depanku, dia memandang tidak percaya. "Tanka."


Tanka langsung menampakan dirinya, sebuah kibasan di rambutnya terlihat, mata ayahku mengerjap cepat, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Hallo" katanya dengan masih terpaku.


"Kenalkan saya Tanka, seorang peri tanah yang menjaga harta keluarga Sanktessy, Baron Sanktessy." Tanka menyampaikan salam dengan penuh hormat.


"Aku telah mendengar tentangmu dari Akion."


"Maksudku barusan." Dia mengoreksi.


Tanka tersenyum, "Maafkan ketidaksopanan kami, tuan Baron."


"Tidak, kalian bersikap waspada itu wajar. Aku ke sini bukan untuk membahas masalah itu. Aku hanya ingin melihat keindahanmu."


"Lihat sayapmu, sangat cantik." Mata ayahku fokus, dia seperti tersihir pada sayap peri tanah itu.


"Lalu, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu yang telah menjaga harta kami sangat lama." Ayahku bersikap hormat pada Tanka.


Walaupun wajah Tanka biasa saja, aku tahu dia senang dengan perlakuan itu.


"Tolong sekali lagi pinjamkan kekuatanmu untuk Sanktessy." Itu adalah permintaan tulus dari ayahku

__ADS_1


Tanka menerimanya dengan mengangguk dan tersenyum. Dia melakukannya karna telah terikat oleh keluarga Sanktessy dan berhutang nyawa padaku.


__ADS_2