Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Makhluk Berumur Sehari yang Menakjubkan


__ADS_3

Kereta kuda kembali berhenti. Aku yang tertidur dengan posisi duduk langsung terbangun karena merasakan kereta tak berjalan lagi. Seorang swordmaster memiliki kepekaan yang tinggi.


Matahari baru saja terbit, sehingga cahayanya tidak terlalu terang. Langit masih terlihat sedikit gelap, pada bagian pepohonan yang sedikit lebat masih hanya ada kegelapan disana.


Sesuai rencana, saat subuh datang, kami akan beristirahat. Semua kesatriaku tidur selama beberapa jam untuk memulihkan stamina mereka.


Ketua Ksatria kali ini adalah August, dia adalah kesatria senior, jauh lebih senior dibandingkan Levian. Dia adalah kesatria ayahku. Ayah yang memerintahkan August untuk bersamaku, dan Denran yang merupakan kesatria ayahku tetap bersamanya.


Ini karena Levian yang kutugaskan di hutan kegelapan untuk menjaga wilayah, dan melatih mereka.


"Tuan Akion, kita akan beristirahat sebentar di sini. Jika anda memerlukan apa pun, silahkan katakan." Dari balik pintu, August menyampaikan pesan dengan hormat.


Sunny meliuk di pangkuanku.


"Tidak ada. Kau dan lainnya boleh istirahat."


"Terima kasih, Tuan Akion. Permisi."


Langkah kakinya menjauh dari kereta kuda, aku melihat Sunny yang telah terbangun, dan Tanka masih tertidur di dalam kantong.


"Apa kau akan membawanya ke luar, Akion?"


Sama sepertiku, Verion juga tidur ayam. Sedikit saja ada perubahan, maka mata akan terbuka.


"Ya. Ini saat yang tepat untuk dia bermain."


Aku tersenyum.


"Aku ikut."


Aku turun dari kereta, tanpa penolakan dan kata-kata, Verion mengikutiku.


Kami masuk ke daerah tergelap, cahaya matahari yang belum menjamahnya karena serasa yang lebat.


Sunny yang sejak tadi kugendong terlihat senang saat di alam liat.


"Kaaack! Kaaack!"


Aku tidak mengerti yang dia katakan, tapi aku melepaskannya begitu saja. Dia berlari-lari di hutan dengan kesenangan. Sebuah kelinci lewat di depannya, dia melompat sekali, kemudian berlari. Kemudian leher kelinci itu telah ada di antara gigi-gigi tajam Sunny.


Di depanku, dia menggoyangkan ekor, kelinci yang telah mati di mulutnya, dia letakan di depanku. Bekas darah kelinci menghiasi mulutnya yang berwarna putih. Sangat kontras.


Dia menatapku penuh harap sembari terus menggoyangkan ekornya. Mungkin dia ingin aku memujinya, jadi aku berjongkok dan mengusap kepalanya.


"Hebat sekali, Sunny."


Lidahnya keluar, dia memandangku bahagia.


Mungkin semua hewan, tidak peduli dia hewan peliharaan atau mistik sekali pun, sangat menyukai pujian.


"Makanlah, Sunny." Aku menunjuk kelinci buruannya.


Sunny mengangguk, dan memakan kelincinya. Dia hanya butuh waktu sebentar untuk melahapnya, dan tampaknya masih sangat kurang.


Jadi, Sunny berlari-lari lagi mencari mangsanya kembali.


"Nah, mari kita meregangkan otot yang kaku." Aku menggerakkan tubuhku untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Verion hanya diam memperhatikanku.


Setelah selesai pemanasan, aku melemparkan pedang padanya. Dia memandangku, lalu menghela napas panjang.


Pemanasan terbaik adalah berlatih pedang. Aku mengedip sekali pada Verion. Dia menyerangku beberapa kali, tapi aku menghindar dengan mudah.


Bahkan ketika aku tampak memberikannya kesempatan, dia masih payah untuk menyerang titik yang dilemahkan.


"Ayolah, jangan mengejekku dengan wajah tersenyummu."


Ya, selama latihan ini aku tersenyum padanya. Dia merasa jengkel dengan hal itu. Tapi aku malah tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kenapa? Ini adalah sikap keramahtamahanku."


"Ah!"


Kakinya tergelincir ketika ingin menyerangku, dia terjatuh. Ketika aku mendekatinya, dia menatapku seperti kejutan.


"Kena kau."


Dari tangan kirinya keluar api, dan dia menyerangku dengan itu.


BAM!


Api itu mengenai pohon di belakangku, respons yang sangat cepat dari tubuh ini. Dia menunduk sedetik sebelum api menyentuh, bahkan pedangku telah ada di leher Verion.


"Akion, apa kau serius?"


Aku tertawa kecil menanggapinya. Kujauhkan pedangku dari lehernya, dan menyarungkannya.


"Jika aku serius, maka kepalamu telah berpisah dengan tubuhmu."


Dia cemberut.


Dia berdiri sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor.


Matahari lebih terang dari sebelumnya. Pepohonan yang sebelumnya tidak berhasil ditembus oleh cahaya matahari, telah mampu ditembus oleh cahaya matahari.


Aku mencari Sunny, tapi dia tidak terlihat. Mungkin dia berburu hingga ke hutan yang lebih dalam.


Aku memutuskan untuk mencarinya.


**


Kami masuk lebih dalam, tapi belum juga menemukan Sunny. Aku mulai merasa khawatir padanya. Umurnya baru saja sehari, kukatakan bahwa dia masih lemah walaupun dia hewan mistik.


Saat matahari mulai memanas dan Sunny belum juga ketemu, aku menjadi lebih terburu-buru dalam menjelajahi hutan. Beberapa titik yang kutemui ada tanda bahwa di sana Sunny pernah berburu dan memakan buruannya.


"Sunny!"


Aku berteriak, aku belum tenang jika belum melihatnya. Tampaknya bahkan dengan suaraku yang besar, Sunny belum menunjukkan wujudnya.


"Sunny!" Verion membantuku memanggil agar Sunny mampu mendengar.


Namun, ketika aku melihat genangan darah di dekat goa, aku kaget dan berlari kesana. Mata yang berkilat itu, dia sedang memandangku.


Mulutnya yang penuh darah, dan ekor yang mengibas.


"Sunny!"


Sunny melompat ke pelukanku. Tampaknya aku telah meremehkannya. Dia telah menumbangkan beruang hutan yang sangat besar. Hewan besar itu kalah dan setengah bagian dari tubuhnya telah dilahap oleh Sunny.


Dia mempunyai perut yang lebar. Berbeda dengan apa yang kulihat. Mungkin seluruh daging Kaliya akan cukup di perutnya.


"Apa kau sudah kenyang?"


Sunny mengerti maksudku, dia menggelengkan kepala. Kemudian aku melepaskannya kembali agar dia bisa memakan habis beruang itu.


"Tampaknya dia akan menghabiskan persediaan makan kita."


Verion tersenyum tanpa maksud apa pun.


Setelah setengah jam, Sunny telah menghabiskan sarapannya. Kami memutuskan untuk kembali.


Ini berjalan begitu saja. Aku melupakan bahwa Sunny harus kusembunyikan. Saat August tidak sengaja melihat Sunny, dia mundur karena terkejut.


Kami saling berhadapan dan tersenyum canggung.


"Apakah ini peliharaan Tuan Akion?"

__ADS_1


Aku mengangguk dan dia menahan napasnya. Aku tahu bagaimana respons orang-orang ketika melihat Sunny. Hei, aku punya makhluk sihir terhebat yang menjadi legenda. Mereka akan sangat kagum dan iri padaku.


Tapi August, dengan cepat mengubah sikapnya. Dengan tenang dia tidak ingin terlalu mencampuri urusan tuannya.


"Siapa nama naga ini, Tuan Akion?"


"Sunny. Kuharap kau tetap membuat mulutmu tertutup tentangnya." Aku tersenyum tipis, dan dia mengerti maksudku.


"Wah, kalian meninggalkanku sendirian di dalam kereta."


Tanka telah menungguku dengan wajahnya yang cemberut.


"Berikan daging Kaliya pada Sunny." Tanka menunjuk kereta yang membawa perlengkapan kami.


Aku mengubah arah jalanku, dan meminta Sunny agar tetap di sudut yang tidak terlihat oleh para kesatriaku.


Aku mengambil daging Kaliya yang dikemas dengan baik. Daging Kaliya yang dibawa oleh Tanka tidak terlalu besar. Kuperkirakan beratnya setara lima puluh kilogram.


Tanka sengaja membawa daging Kaliya untuk berjaga-jaga jika telur mistik menetas. Dan instingnya benar.


Ketika aku membawa daging Kaliya ke Sunny, matanya membesar, mulut nya terbuka lebar dengan lidah yang keluar.


Dia menatapku dan menatap ke bawahnya beberapa kali dia lakukan. Dia tampak tidak begitu sabar dengan daging Kaliya yang kubawa.


Dia memahami perbedaan daging yang bagus untuknya. Sehingga dia mendekatiku dan mengelilingiku.


Aku menjatuhkan daging Kaliya yang kubawa, Sunny memakannya lahap tanpa jeda.


Yang membuatku terkejut adalah, saat daging kaliya itu habis, tubuh Sunny bercahaya sangat terang.


Sehingga kami bertiga menutupi mata kami agar tidak buta.


Tapi yang terjadi setelah itu adalah Sunny mengalami evolusi. Tubuhnya lebih membesar dibandingkan tadi. Dan kau tahu, dia berbicara padaku.


"Ayah?"


"Sunny berbicara padaku."


Aku mengatakan itu pada Verion dan Tanka, tapi mereka berdua memasang wajah bingung.


"Apakah kau tidak mendengarnya."


Verion menggeleng.


Lalu Tanka menjentikan jarinya sekali.


"Itu pasti telepati."


Aku memandang Sunny.


"Apakah benar begitu, Sunny?" Aku berbicara menggunakan pikiran.


"Iya, ayah. Aku belum mampu berbicara secara nyata. Kekuatanku hanya bisa sampai sini."


Itu adalah sebuah kemajuan yang besar. Memudahkanku untuk berkomunikasi padanya.


"Apa yang terjadi, Akion?"


"Kurasa Sunny dan aku bisa berhubungan dengan telepati."


Wajah Verion gembira. "Jadi,Sunny bisa berbicara seperti kita."


"Untuk sekarang dia hanya bisa berbicara denganku. Daging Kaliya membantunya tumbuh dengan baik." Aku melirik Tanka yang sekarang sibuk mengelus tubuh Sunny.


"Jika begitu, kita harus memberikannya makan daging Kaliya lagi."


Aku menggeleng. Daging Kaliya yang dibawa sedikit. Tidak mungkin juga untuk membawa seluruhnya. Dan kurasa hanya memakan daging Kaliya saja juga tidak banyak membantu.

__ADS_1


Aku tahu bagaimana bisa membuat Sunny berkembang dengan lebih baik. Tempat yang sangat mendukungnya.


__ADS_2