Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Penjudi Handal, Willian Cassis


__ADS_3

Grace menggigil, mulutnya bergumam hal apa pun yang bisa membuatnya selamat.


Willian seseorang yang hebat mengontrol mimik wajahnya, jika aku tidak mendengar detak jantungnya yang keras, aku tidak menyadari bahwa sebenarnya dia juga merasakan takut di situasi ini.


Dia berusaha keras untuk menenangkan detail jantungnya, apalagi saat mataku bertemu dengan matanya yang tenang. Siapapun akan takut bertemu pria dengan aura sekuat Akion.


Kalau dipikir-pikir, apa pekerjaannya sebelumnya? Ini sangat menarik untuk di telusuri.


Dia berumur 25 tahun, pria dewasa yang berusaha keras untuk menyembunyikan kegentaran hatinya.


"Kalian tidak menjawab?"


Di sebelahku sejak tadi ada pedang kesayanganku. Gadis itu menatap pedang, dan jatuh tersungkur. Dia meletakan keningnya ke atas lantai.


"Maafkan saya atas segala kesalahan saya, Tuan Baron muda ... saya masih sangat muda untuk mati."


Dia menangis.


Melihat air mata seorang wanita, aku merasa bersalah. Mungkin ini terlalu kejam hanya untuk mengetes mereka. Tapi, mempercayai rumor begitu saja bukanlah seorang pemikir yang kritis.


Willian membungkuk.


"Jika itu yang anda inginkan. Saya rela memberikan nyawa saya di tangan anda. Itu sebuah kehormatan terbesar dalam hidup saya, menyerahkan nyawa pada penguasa hebat seperti anda."


Mulutnya manis.


Tubuhnya yang gemetar dan rengkuh adalah bukti betapa kerasnya dia berusaha


Aku menepuk tangan dua kali dengan wajah bahagia yang seterang matahari.


"Hahah, berdirilah kalian."


Dengan tangan yang menutupi mulutku untuk berhenti tertawa, aku masih tertawa kecil.


Aku menggelengkan kepala.


Mereka berdua terlihat kebingungan dengan apa yang kulakukan.


Air mata Grace bahkan belum kering.


Awalnya, aku hanya ingin menguji mental mereka. Jika mereka ada disekitarku, tidak mungkin mereka tidak akan pernah mengalami hal mengerikan. Apakah mereka akan melarikan diri atau tetap bersamaku?


Alih-alih hanya itu, aku menemukan sesuatu yang menggelitik perutku. Willian seorang pria penakut yang berusaha keras untuk tetap tenang. Mentalnya bukan main-main.


"Grace, kau boleh pulang ke rumah."


Dia menatapku dengan mulut terbuka dan masih terintimidasi.


"Kau tidak lolos. Bastian, di luar akan memberikan kompensasi yang layak atas mentalmu yang tertekan."


Aku tersenyum lebar, dia tersipu mengaguminya.


"Maaf atas itu."


Wajah ramah yang membuatnya terpukau, membuat lidahnya kaku.

__ADS_1


"An-anda tidak bersalah, Baron muda ...."


Dia begitu terpesona, tanganku bergerak memintanya untuk segera pergi dari ruanganku. Saat dia tersadar, dia dengan berat hati meninggalkan ruangan.


Kompensasi yang kuberikan layak untuknya. Itu setara dengan gaji sebulan sekretarisku yang baru. 100 keping koin emas. Dia mungkin kaget saat melihat isi kantong kecil itu.


Aku mengulurkan tanganku pada Willian, dia tidak bergeming, lalu telunjukku menunjukkan tumpukan buku yang dia pegang. Dia memberikannya tanpa mengucapkan apa pun.


"Kau akan menjadi sekretarisku. Akan mengurus semua pembukuan Sanktessy, dan kau harus mengingat semua kesibukanku. Bisakah?"


"Saya bisa melakukannya, Tuan Akion."


Salah satu yang kusukai darinya adalah dia memanggilku menggunakan nama dibandingkan dengan Baron muda.


"Apa pekerjaanmu sebelumnya?"


Hal yang membuatku penasaran sejak awal. Ada banyak pekerjaan yang menggunakan poker face, bahkan jika dia seorang perangkai kata-kata handal.


"Saya seorang penjudi."


Dia sedikit menelan ludah. Dia merugikan diri sendiri saat mengatakan itu.


Wajar saja, seorang penjudi adalah hal yang rendah di sini. Mereka masuk kedalam orang tamak yang bodoh. Tapi Willian tidak tampak bodoh.


"Kau tampaknya orang pintar. Ku yakin saat kau berjudi, kau bisa memenangkan taruhan dengan mudah."


"Sebagian anda benar, sebagian lagi tidak, Tuan Akion."


Wajah lelahnya seperti memelas dan dingin.


"Dalam judi, orang yang mempunyai koneksi kuat dan uang banyaklah yang bisa menekan orang pintar yang menang."


Ternyata begitu dalam hal judi, intimidasi hal yang biasa selain poker face itu.


"Kenapa memutuskan mengikuti ujian ini?"


Itu pertanyaan dasar yang mengingatkanku pada interview perusahaan.


Dia sedikit terlihat lebih hidup saat pipinya merona dengan malu.


"Karena saya ingin melamar gadis impian saya. Kedua orang tuanya tidak menerima saya jika masih menjadi penjudi."


Aku tidak peduli tentang alasannya yang seperti anak-anak menurut orang lain, bukankah itu cukup romantis, membuat seorang pria memperjuangkan keinginannya untuk bersama pujaan hatinya.


Entah kenapa, aku tersenyum hangat padanya.


"Kau boleh bekerja mulai besok, Willian."


"Bastian, masuklah."


Bastian masuk dengan sikap profesionalnya yang menyegarkan. Keriput berkumpul muncul di wajahnya yang tersenyum.


"Saya akan menjelaskan pekerjaan anda, dan ini adalah bonus dari Sanktessy."


Jika seorang runner up saja mendapatkan hadiah, seorang pemenang tentu akan mendapatkan hadiah. Di kantong itu terdapat 150 keping emas. Terus terang, aku adalah tuan yang royal kepada pegawainya, apalagi jika mereka mempunyai nilai yang tinggi.

__ADS_1


Kehidupan Willian telah terjamin dengan pekerjaan ini.


Dia mempunyai pekerjaan tetap dengan gaji tinggi, lalu bonus yang cukup besar, dan tuan tampan yang baik hati.


"Baiklah, kami berdua permisi, Tuan Akion."


Bastian membungkuk, kemudian Willian mengikutinya. Keduanya menghilang dari ruang kerjaku.


Akhir ujian yang telah diprediksi oleh kami, terutama aku.


Sama sekali bukan hal remeh untuk mendapatkan nilai sempurna pada soal yang kubuat.


Seberapa kuat dia akan menjalani pekerjaannya?


"Bukankah dia begitu kurus bagi seorang pria dewasa?"


Tanka telah memperhatikan Willian sejak tadi dia masuk.


Perkataannya tidak salah, memandangi tubuh kurus yang ringkih itu, dia terlihat seperti orang yang kurang gizi.


Segera aku meletakan penaku.


Matanya, yang melihat dokumen tajam, dengan seberkas cahaya sedikit membuatku berpikir hidup seperti apa yang dia jalani hingga melupakan diri sendiri.


Aku menyembunyikan tawa kecil lirihku saat menunduk. Bastian akan menertawakanku karena aku sendiri sering melupakan untuk istirahat dan makan.


Disamping itu, tampaknya Bastian senang dengan kehadiran Willian. Karena dia berpikir aku akan santai sedikit untuk melakukan pekerjaan, dan satu hal lagi.


Itu adalah sebuah alasan untuknya menyiapkan lebih banyak makanan dalam ruanganku.


Dia masuk seperti menjinjit kakinya dengan wajah yang niatnya kuketahui.


Sebuah pasta udang dia siapkan di mejaku.


Aku berencana untuk menggabungkan makan pagiku dan makan siangku, tapi Bastian secara cerdas membuat aku menikmati semuanya, makan pagi, makan siang, dan makan diantara pagi dan siang itu bukanlah camilan.


"Ini agar tuan sekretaris mempunyai tubuh yang kuat. Lihat tubuhnya, Tuan Akion? Itu terlalu lemah,"


Kata itulah yang diucapkan oleh Bastian saat aku melirik makanan yang dia siapkan untukku. Sebuah alasan dari orang tuang yang cerdas ini.


"Jika saya tidak menyiapkan makanan untuk tuan Akion juga, betapa kurang ajarnya kami."


Mendapatkan kode dari Bastian, Willian mengangguk.


Setelah melihat pemandangan penuh drama, aku menoleh sedikit dan memakan pastaku.


Tetapi Bastian tidak pergi sebelum aku menghabiskan pastaku. Wajah tua itu penuh harap. Dia menginginkan aku tumbuh besar, dan baik. Apakah dia melupakan seberapa besarnya aku?


Oh Tuhan, tubuh ini mempunyai tinggi 192 cm, dan bobot 78 kg, dengan telapak tangannya saja aku bisa membuat tubuhku yang ada di bumi untuk tidak bisa bergerak.


Akhirnya aku menghabiskan pasta itu, dan memberinya kode untuk membereskannya.


Dia tersenyum puas.


"Willian, kau harus makan lebih banyak dariku. Buat tubuhmu menyerap semua nutrisi dari semua makanan disini."

__ADS_1


Setengah darinya adalah limpahan kekesalanku. Bahkan ruanganku telah berubah seperti toko kue. Dia harus makan jauh lebih banyak dariku, dan bekerja tanpa istirahat.


__ADS_2