
Bam! Bam! Bam!
Sesekali aku mengibaskan tanganku agar debu dari pertarungan mereka tidak mengganggu pernapasan dan pemandanganku.
Bahkan Renia ternyata lebih tangguh. Gadis kecil ini terlihat menikmati pertarungan ini.
Bam!
Air itu meluncur dengan cepat, kemudian Verion menghindarinya. Dia tampak kelelahan, tapi matanya tetap tajam.
Api berpusat padanya, dia terlihat membutuhkan konsentrasi tinggi untuk mengolahnya menjadi bola api. Itu bola yang cukup besar, Verion melemparkannya pada Harzem.
PYAS!
Dinding air besar muncul di depan Harzem, bola api itu menghilang dengan cepat. Perbedaan kekuatan mereka sangat terlihat. Untuk mengeluarkan dinding air itu saja, Harzem tidak membutuhkan gerakan yang banyak. Aku mengakuinya, dibalik sukanya yang suka bermain-main, Harzem cukup hebat dalam sihirnya.
Hilangnya bola api Verion dengan mudah membuatnya terkejut, saat dia sedang berusaha untuk mengeluarkan kekuatan lagi, Verion jatuh karena kelelahan. Mana-nya telah habis.
Dia menjatuhkan diri diatas tanah Luas ini. Harzem menatapku dengan senyum bangga. Lihatlah aku, aku berhasil mengalahkannya, ekspresinya berkata begitu.
"Apakah Kak Harzem memang sehebat itu?" Renia yang berdiri disampingku bersuara. Melihat kakak tersayangnya ternyata penyihir kuat, dia merasa kagum.
"Dia memang kuat, tapi aku lebih kuat."
Dia menatapku berani, itu bukanlah sebuah rahasia yang tidak diketahui orang lain. Membandingkan Harzem denganku itu tidak sesuai menurut Renia.
"Aku hebat, kan?"
Harzem berteriak sambil melambaikan tangan padaku. Dia berjalan ke arah kami.
"Sebaiknya kau berusaha lebih keras lagi." Dia menghentikan jalannya, memiringkan kepala sedikit dengan heran.
Aku tersenyum licik padanya.
"Akion! Biarkan aku istirahat dulu!"
Dia berteriak sangat keras saat tahu aku melemparkan ramuan penarik tidak jauh darinya. Sekaranglah waktunya mereka menjalani latihan neraka.
"Renia, ayo kita duduk di sana." Aku mengabaikan suara teriakan Harzem dan menunjukkan ke bawah pohon yang telah dibentangkan tikar oleh Nami. Dibagian keranjang kue, Tanka sedang memakan roti manis sambil memperhatikan.
Aku memutuskan untuk pergi ke hutan kegelapan menggunakan gulungan sihir. Di aini luas, ada ogre, dan kami akan dengan leluasa melakukan latihan.
Aku duduk menunggu reaksi dari ramuan penarik itu. Nami memberikan minuman dingin padaku, sambil meminumnya, mataku terus memperhatikan.
Itu bekerja!
Tidak butuh wakti lama Ogre mendatangi mereka.
Aku melihat lima Ogre berlarian dengan tubuh besarnya. Tanah bergetar. Levian menatapku, tapi aku membalas tatapannya acuh sekali.
Aku telah bersiap jika terjadi apa-apa pada mereka. Renia memakan rotinya santai menyaksikan Harzem dan Verion di kepung oleh Ogre.
"Mereka telah berlatih dua jam. Apakah kau tidak terlalu kejam, Akion?"
Aku menyangkal itu. Kulihat dari hasil istirahat sebentar Verion, dia melemparkan bola api kecil pada Ogre, tapi itu tidak berarti. Harzem memerangkap satu Ogre dalam dinding airnya yang besar.
Ogre lainnya memandang Harzem, melemparkan bongkahan tanah besar yang mereka angkat ke arah Harzem. Harzem cukup pintar, dia mempertajam sihir airnya dan membela bongkahan tanah itu dengan cepat.
Aku menatapnya, matanya sekilas mirip dengan Akion. Seorang predator. Tubuhnya yang lelah tegap, kemudian terhuyung sedikit ke belakang.
Verion berjongkok di dekatnya, wajahnya menunduk, untuk memfokuskan dirinya lagi atau hanya sekedar bernapas.
Tapi kemudian.
Duar!
Tubuh mereka berdua terpelanting cukup jauh.
"Uhuk.... Dari mulut Verion keluar darah, dia mengusapnya. Memandang tajam ke Ogre.
Harzem sedikit memaki, entah apa yang dia gumamkan. Lalu mata birunya yang tajam, dia membunuh dua Ogre di depannya.
Itu emosi yang sangat terasa.
Di maju, tangannya menyuruh Verion tetap di belakangnya. Dua Ogre lagi, maka semua akan baik-baik saja.
Ini adalah pertarungan satu lawan dua.
Ogre itu meraung hingga telinga sakit. Melayangkan tinju besarnya, angin kencang itu tidak membuat Harzem mundur. Harzem tetap maju, dan merapal sesuatu. Sebuah rune muncul di depannya, dan Ogre itu terpelanting.
Harzem tersenyum kemenangan.
Tidak! Itu bahaya!
Tubuhku bergerak cepat lalu kepala Ogre itu menggelinding di dekat kaki Harzem.
__ADS_1
"Euw, itu menjijikkan" Dia memasang wajah jijik.
"Jangan pernah merasa menang terlalu awal, Harzem." Aku bicara tegas pada Harzem.
Jika tadi tidak ada aku, maka kepala Harzem pasti telah hancur karena hantaman dari tinju Ogre itu.
Dia diam. Melirik tidak fokus.
Levian membantu Verion. Dia mengecek Verion yang berdarah. Tapi dengan harga dirinya, Verion menolak Levian untuk membantunya berjalan. Wajahnya kecewa, dia hanya menunduk dan berjalan dengan wajah muram.
**
"Kau baik-baik saja?" Verion menguruti pelan tangannya. Wajahnya masih muram.
"Kemajuanmu cukup bagus."
"Apa kau sedang bercanda?" Dia sedang tidak percaya diri.
"Bagaimana Levian?"
"Kekuatan fisik Tuan Verion telah meningkat cukup banyak. Pertarungan yang dilakukan tadi juga cukup intens, walaupun masih ada kekurangan dalam pengalaman dan kekuatan sihir."
Verion pasti kehabisan Mana sehingga dia kesulitan bertarung di akhir tadi.
Dia menatap tidak percaya, wajahnya tidak ramah lagi. "Jangan berbicara omong kosong untuk menyenangkan hatiku."
"Apa kau pikir kami berbohong? Sikapmu pada gurumu sendiri tidak sopan. Apakah begitu sikap seorang bangsawan terhormat?"
Sejujurnya aku memang sedikit kesal mendengar ucapan Verion yang penuh penolakan. Aku tahu dia kecewa pada dirinya, tapi seharusnya dia tidak melupakan pencapaiannya.
"Maafkan aku...." Dia menyadari kesalahannya, tapi tetap dengan tidak semangat.
Dia telah membuat perbandingan pada Harzem.
"Harzem adalah penyihir lingkaran empat. Apa kau tahu itu?"
Dia menggeleng.
"Silakan bersedih, tapi jangan pernah melupakan bahwa memang benar dirimu berkembang." Aku meninggalkannya.
"Anda telah berusaha, Tuan Verion." Aku mendengar Levian masih menyemangatinya dari samping.
Namun, dia, Verion menjatuhkan dirinya di tanah gersang, dia menatap matahari yang bersinar tidak terlalu terang.
Tidak lama dia menutup matanya.
Seperti yang diharapkan. Dia langsung berdiri saat aku mengatakan untuk memulai latihan kembali.
Sementara itu Harzem malah menyeret kakinya saat berjalan. Ketika mata mereka bertemu, Verion tersenyum kepada Harzem.
"Akion lebih baik kita beristirahat lagi. Aku masih lelah. Kenapa kita tadi tidak mengajak Eli, sih?" Dia menggerutu.
Dibandingkan mendengarkan gerutukannya, aku menatapnya tajam. Harzem menuruti Akion. Dia telah bersiap dengan sikapnya yang tidak serius.
Harzem memainkan kakinya di atas tanah. Rambutnya bergerak saat angin menyentuhnya. Aku tidak menegurnya saat dia tidak mendengar suaraku dengan jelas. Itu masalahnya.
"Mulai."
Bam!
Kobaran api menyerang Harzem cepat, ujung rambutnya terbakar. Api menyalah pada ujung lengannya. Dengan cepat dia menyadarinya, Harzem mematikan itu dengan mudah.
Yang membuatnya paling kesal adalah rambutnya yang menawan terbakar oleh api Verion.
Dia menatap penuh amarah.
Di sana, seperti yang diharapkan, Verion tidak menunggu Harzem, dia melangsungkan serangan sekali lagi.
Serangan berbentuk ular api yang meliuk melingkar. Dalam api yang berputar berputar, Harzem disambar oleh api.
Harzem menemukan cara. Dia terbang ke atas menaiki airnya. Itu hal yang mencengangkan. Membentuk air dan menaikinya pasti memerlukan fokus yang tinggi. Kesalahan sedikit saja Harzem bisa terjatuh.
Tapi, Verion tidak menyerah. Dari atas langit, Verion menghujani Harzem dengan hujan api.
Harzem mendongakkan kepala, menatap hujan api yang datang seperti meteorit kecil.
Dia membentuk payung.
"Mereka bertarung dengan sengit, Tuan Akion."
Aku tidak menatap Levian. Memberikan jawaban hanya dengan anggukan kecil.
Jenius.
Harzem termasuk orang yang jenius menurutku. Tapi Verion orang yang tidak pantang menyerah.
__ADS_1
Kali ini, dari atas Harzem membentuk puluhan anak panah dari air. Tangannya bergerak ke depan, saat itu semua anak panah bergerak cepat menuju Verion.
Bugh! Bugh! Bam!
Bunyi ledakan dan sayatan terdengar di balik debu yang menutupi.
Aku memperhatikan. Dari balik debu itu, aku melihat bayangan Verion yang memasang kuda-kuda.
Apa yang akan dia lakukan?
BAM!
Itu bunyi ledakan yang besar.
Dia melesat seperti anak panah ke atas. Harzem yang terkejut tidak sempat membuat perlindungan, satu tinjuan keras bersarang di pipi kirinya. Harzem kehilangan keseimbangan, sihir airnya hancur, dia terjatuh cukup keras.
"Itu pasti sakit." Tanka cekikikan di sebelahku.
Dia pasti menyimpan kesal pada Harzem yang terlalu dekat dengan Eli, memandangnya dengan indah, dan merayunya tanpa henti.
"Ugh...."
Darah mengalir dari bibirnya yang pecah.
Berhasil menjatuhkan Harzem bukanlah penentunya. Verion sendiri tidak dalam keadaan baik. Di kedua lengan dan kaki kirinya, aku melihat luka goresan yang membuat darah mengalir. Itu pasti karena serangan Harzem tadi.
Lalu, dia telah kehabisan stamina.
Harzem menggerakan tangan kanannya, meletakkannya di depan, dan menutup telapak tangan itu. Tiba-tiba dari bawah tanah Verion berpijak, air langsung menyelimutinya membentuk gelembung. Itu terbang, dan kuat. Dari dalam Verion tidak bisa keluar bagaimana pun dia berusaha.
Aku melihatnya, dia perlahan melemah.
"Harzem, lepaskan."
Dia tidak melepaskannya. Kondisi Harzem terlihat tidak bagus, matanya terlihat kosong. Sedetik aku telah disampingnya.
"Kak, lepaskan," kataku lembut sambil tersenyum.
Dia melepaskan Verion, menatapku yang tersenyum dengan ekspresi terkejut. Dia hilang kesadaran. Itu sangat membahayakan.
Verion terbatuk. Air yang terminum olehnya keluar.
Levian menenangkannya.
Dia duduk dengan lemah, matanya masih memandang tidak fokus. Tapi tampaknya dia baik-baik saja. Itu membuatku lega.
"Apa aku hampir membuatnya celaka?"
Untuk sesaat aku merasa bersalah, tapi aku terkekeh pelan.
"Hampir. Tapi latihan kalian sangat memuaskan." Aku menyentuh sudut bibirnya yang terluka. "Kau terlihat lebih baik dengan luka ini."
"Saat tinjunya bersarang di wajahmu, itu adalah hal yang sangat indah yang kulihat hari ini."
Ejekan Tanka penuh dengan perasaan pribadi-Dendam.
Dan jangan lupakan penampilan mereka yang begitu berantakan. Pakaian mereka berdua sobek di mana-mana.
Verion menyembuhkan dirinya sendiri, aku melihat dari kejauhan, luka-lukanya menutup perlahan namun tidak sempurna. Setelah memulihkan dirinya, Verion mendatangi kami.
"Apa kau tidak apa-apa, kak Harzem?"
Harzem menyeringai menanggapinya.
"Itu lucu. Bukannya kamu yang hampir mati."
Verion menggaruk tengkuknya dengan malu, "Kau memang hebat, Kak Harzem. Walaupun aku kalah, aku menikmati pertarungan ini."
Dia mengulurkan tangan pada Harzem yang duduk. Harzem menyambutnya, mereka berdua tersenyum. Dalam latihan tanding, selalu ada persaingan yang terkadang hingga membawa perasaan pribadi, tapi jika mereka menerimanya, maka mereka bisa menjadi lebih dekat.
"Sini kubantu menyembuhkan lukamu, kak."
"Ah?"
Harzem menyadarinya saat melihat bekas luka di tubuh Verion yang menutup. Dia memandang heran.
"Dulu Verion adalah pendeta," jelasku.
"Ah?!" Dia bahkan lebih terkejut saat mendengar itu.
"Kita mulai." Verion meletakan tanganya di wajah Harzem tanpa menyentuhnya. Tangannya bersinar, kemudian luka Harzem menutup.
"Wah, ini luar biasa!" Harzem kagum. "Kau mempunyai kekuatan yang hebat, Nak." Harzem merangkul Verion seperti adiknya. Aku tahu bahwa Harzem adalah orang yang mudah berbaur. Sekarang pun dia menjadi lebih dekat dengan Verion.
Verion bertingkah canggung malu.
__ADS_1
"Ya, jadi masalah luka tidak perlu dikhawatirkan. Kalian bisa berlatih tanding mati-matian jika begini." Aku tersenyum licik.
Dari kedua bola mataku, mereka tahu aku akan bersikap lebih kejam lagi pada mereka. Saat mereka menelan ludahnya, aku merasa lucu sendiri dengan tindakan itu.