
Levian membungkuk pada ayahku.
Mereka berbincang dengan santai, namun Levian tidak kehilangan rasa hormatnya pada ayahku.
Setelah itu, dia membungkuk kepadaku.
"Tuan Akion, apakah tidak apa kami pergi terlebih dahulu dibandingkan anda?"
Aku mengangguk. Terlepas dari rasa sungkannya, kami harus mempersiapkan diri dan mengantisipasi segalanya. Apalagi akhir-akhir ini pergerakan mereka semakin agresif.
"Tolong jaga Eli."
Dibelakang Levian, aku hanya bisa melihat rambut Eli yang berkibar ditiup angin.
Aku telah memikirkannya matang-matang, dan memutuskan Eli dan Levian untuk ke Aurus dan menetap di hutan kegelapan, sedangkan Tanka mengikutiku, dan Harzem akan tetap tinggal di rumah.
Harzem mengeluh kepadaku. Lalu, memohon dengan matanya yang seperti anak anjing agar bisa setim dengan Eli.
Tapi itu tidak bisa. Yang mengetahui medan hutan kegelapan dan segala rahasianya adalah Levian. Sehingga aku menolak walaupun dia memohon. Lalu keberadaannya di Mansion akan menjadi bantuan yang besar. Harzem seorang penyihir yang cukup kuat. Di umurnya yang 18 tahun, dia telah mencapai lingkaran sihir tingkat 4, dia bisa menjadi lebih hebat lagi.
"Maaf, Eli. Sebenarnya aku ingin mengikutimu ke sana, tapi Akion melarangku."
Yah, dia mencoba memperdaya orang lain dengan suaranya yang lemah dan seakan tertindas olehku.
Eli mengusap tangan yang memegang erat tangannya.
"Akion pasti mempunyai banyak pertimbangan akan itu."
Eli seorang yang bijak. Sikapnya yang lembut, dan tegas, akan membuatnya menjadi ibu yang baik.
Dia melepaskan pegangan tangan itu-kecewa.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Akion."
"Aku tahu. Kalian adalah seorang pekerja keras. Orang-orang yang sudah kupilih sendiri. Aku percayakan semuanya pada kalian."
Semuanya melihatku dengan haru. Rasanya tidak biasa memandang mereka yang biasanya gahar menatapku dengan lembut seperti bayi.
"Kami tidak akan mengecewakan anda, Tuan Akion.”
Mereka semua menunduk.
Seterang matahari pagi, aku membalas mereka dengan senyuman tulus dari lubuk hati.
Menggunakan kuda-kuda yang telah disiapkan, mereka meninggalkan Mansion Sanktessy. Punggung-punggung mereka bergerak cepat menjauh, lalu diiringi dengan debu dari kaki-kaki kuda yang berlari, suara ringkikan kuda serta cahaya matahari, membuat mereka tampak keren.
Setidaknya ada 30 prajurit termasuk Levian dan 1 siren dalam rombongan mereka.
Yang tertinggal di sini adalah seorang pria yang sedang kecewa tidak bisa bersama wanita incarannya. Bahkan ketika kami semua memutuskan untuk masuk, dia masih menatap sedih ke arah mereka pergi.
Harzem, kuyakin kau hanya sedang dilema yang nanti akan terbiasa kembali. Bukankah itu tabiatmu?
__ADS_1
Meskipun aku tertidur karena kelelahan pada sore hari, aku bangun dengan kondisi baik. Semua energiku seakan terisi penuh kembali.
**
Seperti hati-hari biasa, Tanka telah ada di kamarku untuk bermain bersama telur mistikku. Dia bersenandung sendiri, sejujurnya karna senandungnya yang tidak merdu itu aku terbangun.
"Akion, kau telah bangun." Senyumnya hanya terlihat setengah dari balik telur yang dia peluk.
"Begitulah." Aku menggaruk kepala bagian belakangku "Apa kau memberi dia energi alam lagi?"
Tanka mengangguk.
Dia melakukan itu hanya selama lima menit setiap harinya, dan sisanya mengagumi seolah dia sedang memandang bahwa itu telurnya sendiri.
"Akion, bolehkah aku tidur bersamanya?"
Permintaannya bertambah lagi. Setiap kali dia mengajukan permohonan, dia akan memelas dengan sangat baik lalu saat aku telah mengabulkan, permintaan itu akan terus beranak.
"Tidakkah itu kurang ajar ingin merebut anak dari orang tuanya? Aku harus memeluknya setiap kali akan memberinya auraku. Kurasa itu lebih efisien."
Aku membuat hipotesis sendiri agar auraku tersampaikan dengan baik padanya, menjalin hubungan dengan sentuhan dan memberi makan dengan jarak sedekat mungkin adalah yang terbaik.
Bukankah bahwa anak manusia untuk memahami orang terdekatnya dia harus selalu terhubung dan bersentuhan. Begitu juga dengan makhluk ini.
"Rasanya aku ingin membunuhmu untuk mencuri telur mistik itu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Tanka merasa bersalah. Dia seperti seorang penghianat yang menginginkan tuan tempatnya bersumpah setia untuk mati.
Tapi aku tidak memikirkannya. Aku mengetahui itu hanya sebuah perumpamaan yang cukup kasar, tapi Tanka sama sekali tidak menginginkan aku untuk benar-benar mati. Apalagi saat berbicara, peri tanah itu sering mendahulukan mulutnya dibandingkan berpikir dahulu.
Aku tersenyum. "Aku tahu maksudmu bukan begitu."
Ketika aku telah mengatakan hal itu, dia masih merasa bersalah. Siapa pun mungkin akan bersikap sama sepertinya. Dia melirik telur mistik ragu-ragu, jari jemarinya bersentuhan dengan gelisah.
"Apa kau akan membuangku, Akion?"
Aku memandangnya bingung.
Oh, dia merasa sensitif dengan kesalahannya sendiri. Selama ini dia melakukan sesuatu dengan baik, dia banyak membantu Sanktessy. Lalu, aku tidak menyukai kata 'membuangku' yang keluar dari mulutnya.
"Kau bukan barang. Kau boleh di sini dan pergi dari sini sesukamu."
Aku tidak hanya khawatir dengan pola pikirnya bahwa hidupnya di tentukan oleh perkataanku. Dia bebas kemana pun.
Melihatnya yang terus merasa bersalah membuat kami canggung.
"Sudahlah. Bagaimana laporan tentang ahli hipnotis itu?"
Dia mencoba bersikap seperti biasa lagi dan menjelaskannya dengan tenang.
"Aku menggunakan ramuan penggali memori padanya, dan apa yang dia katakan adalah benar, bahkan sebenarnya orang yang dia lihat tidak menggunakan penutup wajah apa pun. Di ingatannya, wajah itu menghitam. Dan setelah aku mencari tahu lebih dalam, ingatannya hancur."
__ADS_1
"Bagaimana dengannya?"
"Dia telah mati. Penghancur ingatan membuat sel-sel otaknya membengkak dan hancur."
Itu seharusnya bisa diprediksi.
Mereka menggunakan pencegahan yang berlapis. Seorang perencana pintar yang berhati-hati. Mereka akan sangat sulit untuk ditangkap.
Tentu saja, itu malah membuatku semakin waspada dan meningkatkan kekuatanku. Seperti aku yang tidak tahu mereka, mereka tidak tahu apa-apa tentangku.
Jika mereka mengetahui orang-orang seperti apa yang ada di sisiku, mungkin mereka akan lebih berhati-hati dibandingkan ini. Jadi aku akan menunggu mereka dan menyebar umpan.
"Setelah kita meninggalkan mansion, pasti akan banyak hal merepotkan." Aku mengeluh sendiri sambil mengusap kasar tengkukku.
Akan banyak hiburan yang kudapati setelah ini. Membuat mereka ketakutan, lalu mengoyak mereka secara kejam.
Ayahku, Baron Einhs Naal Sankteaay dicap sebagai bangswan terburuk sekekaisaran.
Bahkan orang-orang tidak takut untuk mengejeknya di depan. Seolah ayahku adalah hantu yang tak terlihat.
Kami tidak punya aliansi bangsawan, bahkan menjadi pengikut bangsawan lainnya pun tidak. Karena pada keluarga kami, kami dikenal tidak mempunyai apa pun yang menguntungkan.
Setelah itu mereka merasa iri dengan Marquis Kingston, karena keluarga kami bekerja sama.
Yang membuat perbedaan itu begitu besar adalah, orang pertama yang mengajukan diri adalah Marquis Kingston. Dia orang yang bijaksana. Mengetahui nilai Akion, maka secara terus terang dia mengatakan maksudnya.
Setelah itu, aku mengatakan maksudku, dan kami menjadi rekan bisnis, sebuah aliansi datang, dan pemilik.
Bahkan salah satu hal berharganya berada di tanganku.
Verion telah membanggakan dirinya yang menggunakan bros yang ku berikan padanya kepada semua orang. Pelayanan, Ksatria, penjaga gerbang, ayahku, dan Renia. Semua orang tidak lepas dari ocehan mengenai bros yang digunakan.
Dia bahagia bukan karena hal itu, tapi karena batu Mana yang menempel pada rangka bros. Itu batu Mana Merah yang merupakan lambang penyihir api. Dia merasa terhormat.
"Verion, apa kau ingin menambah dagingnya?"
Ayahku menatap piringnya yang telah kosong, hanya tersisa asparagus diatasnya.
"Boleh. Hari ini aku begitu lapar karena sangat senang."
Aku meneguk lembut wine saat dia bercerita.
"Aku akan pergi ke ibukota bersama Akion."
"Oh, apa kau sedang mengejekku di sini seorang diri?" Harzem memutarkan kedua bola matanya.
Seorang penjelajah seperti Harzem untuk tinggal di satu tempat lama pasti sangat membosankan. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap tinggal di sini demi kepentingan bersama.
"Maafkan aku, Kak Harzem."
Dia mengedipkan mata dengan centil, Harzem berdecak.
__ADS_1
"Kalian akan berada di satu kereta yang sama ya." Ayahku tersenyum, senang anaknya mempunyai teman perjalanan.
"Hanya sampai Veranses."