
Aku terus berjalan saja. Tapi dia menghentikanku dengan omong kosongnya.
"Bukankah itu adalah Baron Sanktessy yang miskin?"
Aku menatapnya. Dewa, tidak bisakah aku tenang sebentar? Kenapa terlalu banyak orang seperti ini dihidupku?
"Apa kau mampu memasukkan uang di sini? Semua orang tahu betapa miskinnya kalian." Dia menyeringai.
Aku mengambil napas saat dia menjeda hinaannya.
"Semua orang juga tahu bahwa aku seorang sowrdmaster dan menebas kepalamu adalah perkara mudah."
"Apakah kau tak pernah membaca berita? Itu pasti tidak mungkin, 'kan? Pantas rambutmu seperti jamur kotoran." Aku meliriknya dengan kehinaan.
Tanka tertawa besar di sampingku.
Dia sih kepala jamur kotoran tidak bisa membalas. Dia hanya menggertakkan gigi karna kesal.
"Ternyata mulutmu pintar sekali menghina."
"Aku belajar darimu."
Aku tersenyum penuh kemenangan.
***
Tik! Tik! Tik!
Suara mesin ketik disekitarku. Mereka tampak sangat sibuk.
"Jadi, nama anda adalah Akion Naal Sanktessy?"
Dia melihatku dari balik kacamata yang dia turunkan sedikit.
"Ya."
"Untuk apa Anda membuka akun?"
Karena Sanktessy tidak pernah membuat akun, jadi wajar perempuan paruh baya di depanku bertanya. Kenapa keluarga Sanktessy baru membuka akun?
"Untuk menyimpan sebagian uangku."
Aku menatapnya dengan tersenyum.
Tik! Tik! Tik!
Dia mengetik lagi. Berita tentang bisnis kami tidak membuatnya bingung dari mana aku mendapatkan uang.
"Baiklah, Tuan Akion. Akun anda telah selesai. Mari kita lihat berapa yang akan anda tabungkan."
Aku meletakan kantong berukuran sedang di depannya. Dia menatapku. Saat aku menumpahkan koi emas di atasnya, mulutnya terbuka lebar. Suara gemercik dari koin emas membuat semuanya melihatku kagum. Mari buat mereka kaget. Ekspresi seperti itu sangat bagus.
***
"Semuanya seratus ribu koin emas, Tuan Akion." Itu senyum yang tidak dia berikan tadi.
Seorang pekerjaan bank bahkan menawarkan aku minum setelah melihat koin emasku. Sejujurnya jika aku mau dan membawa lebih banyak koin dari ini, kuyakin mereka bisa saja menyembahku.
Koin emang yang kutabung sekarang adalah uang jajan yang kubawa sedikit sisanya masih ada kusimpan, dan masih banyak ada di gunung Berk.
"Terima kasih, Tuan Akion."
Aku meninggalkan bank. Satu urusan selesai.
__ADS_1
"Kau ingin ke mana lagi?"
Aku masih memikirkannya, itulah kenapa kepalaku bergerak ke kanan kiri. Aku masih menimbang akan ke mana terlebih dahulu.
Pada akhirnya, aku memilih untuk datang ke kuil. Dari kejauhan saja menara kuil dapat terlihat. Kuil berada di bukit yang tidak jauh dari sini. Kuil pusat yang sangat mewah, Kaisar memberikan bantuan yang sangat banyak karena putri tercintanya adalah seorang Saintess.
Dia membuat Kaisar bangga, seorang Saintess yang lahir dari keluarga kekaisaran mampu membuat kekuatan tetap stabil.
Andai saja Akion mau menikah dengan putrinya, maka semuanya lengkap. Mereka akan menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan.
Lebih baik aku bergerak cepat lagi dengan berlari di atas gedung, jika aku berjalan santai, maka malam hari akan sampainya.
Wush!
Aku melompat lagi dan kembali berlari.
"Tanka beritahu aku bagaimana hebatnya seorang Saintess."
Angin kuat yang menerjang Tanka tidak membuatnya mundur.
"Dikatakan bahwa Saintess adalah pemilik terkuat kekuatan dewa yang ada pada manusia. Mereka bisa memurnikan kekuatan apa pun, termasuk sihir dan lainnya. Mereka bisa membuat kubah pelindung yang sangat besar."
"Pada era Caesar bahkan dia bisa membuat kubah pelindung sekekaisaran ini. Dia menghalau semua serangan. Tapi umumnya mereka lemah pada fisik, kelebihannya, mereka bisa menyembuhkan diri mereka dengan cepat."
"Seingatku Caesar seorang yang mampu membuat orang lain pingsan saat menggunakan kekuatan penuh."
Aku tahu mengenai dewa yang menitipkan kekuatannya pada Saintess. Tapi kekuatan itu ternyata tidak main-main. Jika begitu, bukankah Saintess orang terkuat di seluruh benua?
Kaisar mempunyai sesuatu yang mengerikan di tangannya. Bahkan salah satu pangeran mempunyai makhluk mistik.
Jika mereka saling berperang, maka mudah untuk menghancurkan istana.
Tap!
Kami telah tiba di pintu gerbang kuil. Ini sangat luas dan megah. Wajar, dana penyokongnya dari pihak kekaisaran.
Seorang pendeta menyapaku dengan ramah.
"Apa anda ke sini untuk berdoa?"
"Benar, Pendeta."
"Lurus saja ke sana, pintu terbesar adalah tempat beribadah." Pendeta itu tersenyum, lalu aku membungkuk dan berjalan ke arah yang pendeta tadi tunjukkan.
"Apa kau sungguh ingin berdoa, Akion? Aku tidak pernah melihatmu berdoa."
Itu hanya sebuah alasan untuk masuk ke dalam kuil. Tidak mungkin aku akan mengatakan akan mencari informasi, atau berdonasi di sini. Kenapa? Aku tidak ingin hartaku berada di tempat yang salah. Apa ini Cuma kuil biasa? Dana besar sering kali mengendalikan jalan apa yang akan mereka lalui.
Apa lagi aku mengetahui kelicikan mereka. Jadi tidak ada alasanku untuk berdonasi di sini. Mereka sudah sangat makmur.
Aku menemukan pintu besar yang pendeta tadi maksud. Saat kami membuka pintu, didalam tempat beribadah sangat tenang. Terdengar suara pujian kepada dewa dari seorang pendeta perempuan di depan mimbar. Lalu seorang pendeta perempuan sedang duduk dan berdoa dengan khidmat. Langkah kakiku tidak membuat mereka berpaling.
Aku duduk di bagian paling depan, dan berdoa. Dibandingkan berdoa, itu lebihsseperti keluhan.
"Dewa, kenapa kau tidak pernah menjawab doaku dan mengirimku ke sini? Lalubagaimana Akion yang asli? Dia menggantikanku atau telah mati?"
Aku memandang patung dewa di depan. Tidak ada jawaban. Ya, dewa memang selalu seperti itu.
Tidak akan memberikan jawaban yang pasti. Mereka selalu bertindak semaunya dan misterius.
Setelah melakukan doa yang tidak begitu khidmat, aku keluar dari ruangan berdoa. Mengelilingi kuil yang mewah ini. Beruntung aku tidak datang di hari berdoa, jadi di sini tidak ramai.
"Berapa uang yang mereka habiskan untuk membuat satu patung ini?"
__ADS_1
Pada setiap lorong yang kami lewati setidaknya selalu ada dua patung yang dibuat dengan sangat mewah dan cantik. Ini patung yang berbeda dengan dewa, patung wanita yang seolah menari.
"Pasti sangat banyak, Tanka,"
Aku membuka pintu perpustakaan mereka. Kuil terbesar pasti mempunyai buku yang banyak, 'kan? Saat aku masuk, para pendeta di dalamnya memandaku terkejut.
"Siapa Anda?"
"Selamat siang, Pendeta, saya Akion Naal Sanktessy." Aku bersikap hormat pada pendeta tua di depanku.
Aku melihat bibirnya bergerak sedikit. "Ada urusan apa kesini?"
Itu pertanyaan aneh. Aku datang ke perpustakaan karna jelas ingin membaca sesuatu, lalu mereka terlalu tegang dalam situasi yang bahkan aku tidak menodongkan pedang ke leher mereka.
"Anda tidak bisa berada di sini,"
"Kenapa?"
"Kami sedang membereskan perpustakaan." Matanya yang menggelap tidak membuatku percaya.
"Benarkah? Aku tidak melihat kegiatan itu sedikit pun." Aku memandang curiga sambil tersenyum cukup menyeramkan. Mereka pasti tahu tentang rumor sih gila Akion yang menyukai darah.
"Kami baru memulainya, Tuan Akion,"
"Kalau begitu mulailah, aku tidak akan menganggu kalian." Aku masuk begitu saja, padangan gelap mereka kuabaikan. Ini perpustakaan dibuka untuk semuanya, kenapa mereka melarang?
Aku mencari buku yang menarik untuk kubaca. Melihatnya gelisah dan mau tidak mau membiarkanku itu membuatku tersenyum.
"Kau mau mencari tahu tentang Caesar?"
"Salah satunya."
Sebagian besar aku menginginkan informasi tentang Orakel lebih banyak. Sebuah catatan jelas yang mengatakan setiap kejadian di masa depan.
Aku mengambil buku besar berwarna coklat.
Dikatakan bahwa Orakel merupakan gerbang untuk dewa berbicara. Dewa akan memberikan Orakel pada orang yang dia kasihi, dalam hal ini dialah pendeta ataupun Saintess. Namun, Orakel besar yang akan terjadi selalu dipercayakan kepada Saintess.
Orakel terkenal adalah orakel Delp itu terjadi delapan ratus tahun lalu, yang mampu menyelamatkan peradaban saat itu. Orakel tidak pernah bisa diabaikan, karena dianggap akan pasti terjadi.
Dikatakan lagi bahwa selain Dewa akan selalu ada Dewa palsu lainnya yang menginginkan keimanan manusia, hingga kepercayaan pada dewa asli meredup. Dewa palsu akan memberikannya kekuatannya, sehingga mereka menganggap dewa palsu adalah dewa yang sebenarnya.
Salah satu dewa palsu terkenal adalah Beill, dia suka membutakan manusia dengan kuasanya.
Seorang Saintess bisa mengetahui tipu daya Beill. Beill yang resah akan mengirim orang lain untuk mengalahkan Saintess, membungkamnya untuk menerbitkan
kekuasaanya. Beill akan tertawa besar ketika Saintess kalah dan jatuh di tanah, ketika Saintess menangis, air matanya jatuh mengenai tanah dan tanah itu bercahaya. Dari dalamnya keluarlah tombak yang mampu melukai Beill.
Beill bersembunyi, ada yang mengatakan bahwa Beill telah hancur, dan yang lain mengatakan bahwa dia sedang membangun kekuatan dan pasukannya.
Hmm, menarik. Sebuah cerita yang membuatku seperti membaca novel. Ini terlalu luar biasa, jika memang begitu seharusnya putri yang seorang Saintess telah menyadari beban beratnya.
Apa dia sering melatih kekuatannya?
Klek!
Pintu perpustakaan dibuka, bunyi langkah kaki yang berat terdengar. Mereka adalah segerombolan kesatria yang sedang mengawal tuannya.
Dengan tangan yang menumpuh di pipi, aku melihat seorang wanita berambut silver sedang bicara pada pendeta tadi.
Wanita itu melihatku tenang namun waspada.
Dia mendatangiku, dressnya yang panjang terseret di lantai. Lilitan kain ditangan dibawa dengan lembut dan liuk yang cantik.
__ADS_1
"Akion, sedang apa kau di sini?"
Mataku terbuka sedikit lebar. Astaga, dia putri Mahkota, sang Saintess yang agung.