Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Permintaan Maaf Sang Tuan


__ADS_3

Meskipun aku menyalahkan diri sendiri karena membangkitkan kenangan buruk Eli, aku mencoba bersikap nyaman ketika bertemu dengannya.


Sampai saat itu, dia menggunakan gelang yang kuberikan, wajahnya masih terlihat cerah seperti biasanya.


Memakai gelang itu dan tersenyum untuk menutupi suasana hatinya, bukankah itu bodoh? Aku yakin bahwa gelang itu seakan bara api yang melingkar pada lengannya.


"Kau tidak perlu memakai nya."


Aku berbicara dengan sepenuh hatiku. Suara rendah yang kugunakan sengaja untuk membuatnya nyaman. Bagaimana pun sekarang, aku sedang menyentuh titik sensitif yang dia coba kubur dalam.


"Apakah ada masalah jika aku memakai pemberianmu, Akion?"


Matanya seterang Peridot, jauh dari sikap kasar atas balasanku yang kurang ajar.


"Maafkan aku."


Dia duduk di kursinya, keadaan laboratorium yang sepi membuatku bersyukur. Datangnya aku dan berkata lembut dengannya pada saat ini membuat kami seperti sepasang kekasih yang bertengkar.


Dia memiringkan kepala.


Dia belum mengetahui bahwa aku telah mengetahui cerita dibalik sikapnya.


"Jika hadiah yang ku berikan kepadamu terlalu berat. Kau tidak usah memakainya, memaksakan dirimu sendiri hanya karena menginginkanku tidak terluka."


Matanya sedikit berkaca, jantungan sedikit tidak stabil, Jari-jari panjangnya yang kulihat, sedikit meremas di balik meja yang sengaja dia sembunyikan.


Dia mengatupkan bibirnya pelan. Sebuah dengungan suara darinya terdengar.


"Kau telah mendengar ceritaku dari Tanka, bukan?" Matanya menatapku berani, tapi tidak arogan. Bola mata itu berpendar seakan kesedihannya muncul.


Aku mengangguk karena tidak bisa menjawabnya.


"Haaa...."


Tangannya memegang kening dan dan kepalanya menunduk, membuat rambut panjangnya menutupi wajahnya.


"Bukan salahmu."


****


"Sejujurnya aku sedikit lega karena Tanka telah menceritakan tentangku."


Aku tidak dapat menemukan arti senyuman sebenarnya. Entah itu senyuman lega, atau mengasihani dirinya sendiri.


"Dan sejujurnya aku senang menerima hadiah darimu, Akion."


"Aku tahu bahwa kau memberi hadiah seperti ini pada orang yang membuatmu percaya. Artinya telah mempercayaiku."


Dia membuang muka dengan malu-malu.


"Akulah yang kurang ajar di sini. Kenyataan bahwa aku membenci mereka tidak ada sangkut pautnya denganmu. Itu alasanku menggunakan gelang pemberianmu."


"Apa kau tahu bahwa aku berpikir kau hanya ingin memanfaatkanku?"


Sejujurnya itu tidak salah.


"Ternyata keturunan Caesar semuanya berhati murni." Dia tertawa, entah apa yang terpikir olehnya, tapi perasaan lega muncul dalam hatiku. Atmosfer berat berubah menjadi lebih ringan dan hidup.


"Dia menyukai Caesar."


Tanka tidak melihatku ketika mengatakannya. Dia sibuk mengusap telur mistikku dengan lembut dan jiwa keibuan yang tinggi.


"Bukankah kau juga?"


Wajahnya memerah. Caesar pasti sangat rupawan.


"Tidak, aku hanya mengaguminya."

__ADS_1


Sikap malu-malunya membuatku lebih ingin untuk menggodanya.


"Itu pasti alasan kalian berdua tidak akur."


"Ti-tidak, aku hanya mengaguminya!"


Wajah memerah seperti tomat. Pipinya yang membulat, bergoyang dengan lucu.


"Nah, Kurasa Caesar tidak menyukai Eli."


"Dia hanya tidak peka. Bahkan menikah pun karena dijodohkan." Suaranya mengejek.


"Haa, aku mensyukuri hal itu."


"Kau bersyukur bahwa Caesar menjadi orang yang tidak peka dan seperti pohon kaku?"


Yang aku syukuri di sini adalah karena dia menikah dengan seorang gadis yang dijodohkan, maka Akion juga ada di dunia ini. Jika tidak, Akion jelas tidak akan ada.


"Bisa dikatakan begitu," jawabku santai bahkan saat dia mengomel tanpa henti mengenai sikap kami berdua yang tidak peka.


Tanka menyisakan waktunya yang sedikit setiap hari untuk datang ke kamarku hanya untuk mengeloni telur mistikku.


Keinginan Tanka adalah ada saat telur itu kali pertama pecah, dan hewan didalamnya menampakkan diri.


"Telurnya tidak menetas juga."


"Telur mistik ini telur purba, legenda, apa kau pikir mengeraminya hanya dalam beberapa hari bisa membuat ini menetas? Bahkan ratusan tahun pun jika buka takdirnya, ini tidak akan menetas."


Ini keterlaluan, aku tidak ingin mengerami sebuah telur mistik dengan auraku selama beberapa tahun.


Bukankah ini sama seperti mystery box, kita tidak tahu isi dalamnya, zonk atau sangat berharga.


Ketika aku mengeraminya beberapa tahun, bisa saja telur ini tidak menetas juga, kan?


"Apa kau ingin berhenti memberinya makan?"


"Tidak. Bisakah kau menyingkir dari telurku?"


Dia memiringkan kepala.


"Mungkin karenamu telur itu sedikit susah menetas." Aku tertawa kecil mengejek. Dia menggembungkan kedua pipinya, menatapku tajam.


"Aku yakin telur ini adalah takdirku. Aku bisa mencium bau Unicron darinya."


"Hidungmu bermasalah. Isi telur ini pasti Phoenix." Dia meninggikan hidungnya dengan sombong, sangat yakin apa yang dia pikirkan benar.


**


Ayahku menggandeng tangan Renia, sesekali tangan mereka bergoyang dengan sengaja, lalu tawa kecil muncul di wajah mereka. Sebuah candaan ringan sepertinya terjadi selama perjalanan.


Langkah kakinya yang kecil membuat ayah memperlambat jalannya. Dia memberikan senyum termanis pada Renia-seorang putri tercinta.


"Kakak, kau sedang apa disana?"


Aku tersenyum nakal padanya yang memandang khawatir seakan aku terluka.


"Aku sedang menatap alam. Bukankah sangat indah, Renia?"


"Ya, aku tahu itu, kak. Tapi kenapa kak Akion duduk di sana? Itu berbahaya."


Aku menatap wajahnya beberapa detik, wajahnya yang mendongak terlalu lama akan membuat lehernya sakit. Itu tidak bagus untuk perkembangannya.


"Apa kau sedang mencari sesuatu, Akion?"


Ayahku tidak akan takut seperti Renia. Dia tahu bagaimana hebatnya tubuh ini.


"Tidak, Ayah. Aku sungguh sedang mengagumi pemandangan."

__ADS_1


"Kakak...." Itu rengekkan khawatir dari Renia.


Duduk di pagar pembatas lantai dua yang setinggi 12 meter adalah hal yang tidak menyeramkan. Tapi di mata Renia itu sangat mengerikan, bagaimana jika aku tergelincir, jatuh, dan terluka.


Dia hanya tidak menginginkannya.


Bugh!


Aku menjatuhkan diri dihadapan mereka, mendarat lembut dengan kedua kaki yang nyaman.


Renia memandangku kaget.


"Kau menggunakan kalungnya."


Aku tersenyum. Sebelum dia memprotesku, aku telah memilihkan topik untuknya. Kalung itu sesuai dengan tubuhnya.


Dia menyentuh liontin berbatu merah, dengan dekorasi pohon yang menjalar indah.


"Hmm, aku sangat menyukainya, Kak. Apalagi ini lambang keluarga kita."


"Kalung itu hanya ada satu. Khusus untukmu."


"Jika begitu, Renia akan menjaganya dengan nyawa."


Dia bersikap sangat manis. Dia menggenggam liontin untuk membuatnya aman.


"Tentu harus. Ayah saja mendapatkan hal yang sama. Dan itu bukan satu, kau tahu ada berapa?" Saat bertanya pada Renia, ayahku memasang wajah kecewa. "Ada tujuh. Jadi bros yang ayah pakai ini kembar tujuh. Renia yang mendapatkan satu-satunya benda yang tidak sama."


Mata Renia berkilat, mulutnya terbuka dengan kagum, rasa bahagianya memuncak. Dia merasa sangat istimewa.


"Benarkah begitu, kak?"


Ak mengangguk. "Untuk Tuan Putri, tentu yang spesial."


Aku mengedipkan mata dengan genit. Dia mengerjapkan mata cepat dan malu.


"Te-terima kasih, Kak Akion."


Aku mengusap rambutnya yang dikuncir rapi.


"Apa ayah menginginkan hal lain? Bahkan jika ayah menginginkan bak mandi penuh dekorasi dan batu Mana aku bisa mewujudkannya."


Dia menggaruk sekilas di bawah matanya. "Itu terlalu berlebihan, Akion."


"Jadi, Ayah menginginkan kancing manset baru, dan sebuah jam tangan agar berbeda dengan yang lainnya?"


"Akion, sejujurnya ayah tidak pernah kecewa dengan hal ini,"


"Sungguh? Aku tahu aku membuat hal yang sama untuk anda Baron Sanktessy yang kuhormati."


Aku meletakan tangan di dada, dan memandang ke bawah, membuat status ayahku terlihat lebih tinggi dariku.


"Sekarang kau sedang bercanda pada ayahmu."


Aku tertawa dengan mulut tertutup.


"Aku ketahuan."


"Tapi jika Ayah ma-"


"Tahun ini luar biasa kejutan yang ayah dapat, Akion. Jika kau terlalu membuat Ayah senang dengan kejutanmu, Ayah bisa saja terkena serangan jantung dan meninggal."


Dia mengatakannya dengan tersenyum. Tetapi mengatakan hal seperti itu sebagai hal yang sederhana dan biasa, itu tidak menyenangkan.


Aku mengikuti langkah kakinya. Punggungnya terlihat bergoyang saat berjalan.


Aku tidak akan membuat keluargaku satu pun meninggal.

__ADS_1


Tidak lagi.


__ADS_2