
Di depanku telah tersedia teh Earl Grey yang disediakan dengan sangat baik. Dan scone, biskuit, dan cake manis.
Pelayanan pria Marquis Gallhant yang menyiapkan semua dengan baik. Semua ditata dengan baik.
Kami duduk melingkar di meja bundar, seketika aku mengingat tentang kesatria meja bundar. Saat meminum teh tersebut, aku tersenyum samar sekilas. Namun Marquis Gallhant yang mempunyai mata tajam menangkapku.
"Apa yang Anda senyumkan, Akion?" tanyanya tanpa basa basi.
"Hanya sebuah ingatan masa lalu, Marquis Gallhant."
Dia tidak menyerah, tetap mengajukan pertanyaan lagi padaku. "Ingatan seperti apa? Apakah itu sesuatu yang lucu?"
Aku tersenyum tipis padanya, dan kuletakan gelas yang kupegang di atas piringnya. Kutatap balik Marquis Gallhant yang duduk dengan tenang.
"Mungkin. Ini sedikit lucu mengetahui kita duduk bersama."
Altair memandangku tidak terduga, teh yang sebelumnya hendak dia minum terhenti pas di bibirnya. Secara jelas aku mengatakan pada mereka bahwa dulu mereka tidak
ingin duduk bersamaku. Sikapku sekarang kurang sopan terhadap para tetua bangsawan. Ya, mereka yang telah lama berada dan menjabat sebagai kepala keluarga.
Dibandingkan semuanya yang berwajah tegang, Marquis Gallhant tersenyum padaku. Itu bukanlah senyum ramah, tapi sebagai bentuk tantangan padaku sejauh mana aku bisa berbuat kepada yang lainnya. Aku bersikap biasa saja, mataku tidak gemetar.
__ADS_1
"Anda begitu lantang mengutarakan isi hati, Akion."
"Apa kepercayaan dirimu naik setelah berbisnis batu Mana yang sangat bagus bersama Marquis Kingston?"
Wajah tenang. Dia telah banyak melalui peperangan, beradu pendapat dan menekan adalah hal biasa dalam militer.
"Tanpa batu Mana sekali pun saya rasa saya cukup berani mengatakannya." Aku tersenyum ramah.
"Anda sangat berani, Akion." Dia menatapku tajam seakan ingin menyeretku ke dalam lautan hitam.
"Anda sangat paham bahwa membicarakan hal seperti ini tidak berguna bagi kesatria, bukan?"
Maksudku lebih baik dia menggunakan urugasinya padaku, atau menantangku sekalian. Melemparkan sarung tangannya padaku akan menjadi pertarungan sengit antara kami.
"Baiklah, aku tidak akan melangkah lebih jauh dari ini." Dia menutup kembali mulutnya dan bersikap tenang. "Kau jelas orang yang berani. Di usia muda, itu sangat luar biasa."
Membingungkan.
"Aku tidak menginginkan batu Mana-mu. Kekuatan tubuh adalah yang paling utama menurutku."
Setelah aku mengingatnya jelas bahwa keluarganya yang merupakan pahlawan perang menyukai melatih fisik mereka dibandingkan yang lainnya. Menyukai pertarungan di garda terdepan. Orang lain mengatakan bahwa mereka sih gila perang.
__ADS_1
"Ehm! Kalian jangan bertarung urat di hari yang damai ini." Earl Woodsy yang menatap kami berdua meminum tehnya.
"Lihat anak di samping kalian ketakutan," lanjutnya. Aku melihat Altair yang membeku di antara kami.
Altair menatapku, lalu membuang napas lembut dari hidungnya, "Tidak. Aku sama sekali tidak takut, Earl Woodsy."
Senyumnya dipaksakan.
Earl Woodsy adalah pemegang surat kabar terbesar Kekaisaran, dialah yang menulis berita tentang keluargaku. Dengan korannya dia bisa mempengaruhi pikiran orang lain. Apakah kau tahu perkataan yang menyatakan siapa yang mengendalikan berita, dialah pemenangnya?
Selama ini Earl Woodsy selalu menulis berita seperti apa yang terjadi, tapi dia tidak pernah menulis berita buruk tentang keluarga Kaisar. Banyak rumor mengatakan bahwa dia dikendalikan keluarga Kaisar, sebagian lagi karena dia takut seluruh keluarganya hilang oleh Kaisar.
Earl Woodsy, kekuatan militernya kurang. Dia mudah ditekan, dan gemetar. Melihatnya sekarang, dia adalah sosok labil yang masih mencoba membuat dirinya tetap bisa menang dengan kondisi apa pun.
"Aku harap suatu saat kau mau main ke wilayahku dan melakukan latih tanding bersama." Dia mengulurkan tangannya, aku menyambutnya dan kami bersalaman dengan hangat.
"Akan kuberi tahu kau sesuatu, Akion." dia menatapku meyakinkan, "Kami berdua kesini bukan sebagai
perwakilan untuk pertemuan nanti. Kami berdua sudah tua, Akion,"
Earl Woodsy yang di sebelahnya juga tersenyum, setelah itu, dia meninggalkan kami. Setelah pertemuan itu, aku baru mengetahui bahwa mereka berdua baru saja tiba di ibu kota semalam. Dia mengatakan kejujuran, dia tidak menginginkan batu Mana-ku, dia hanya penasaran terhadap sosok ku.
__ADS_1
Siapa yang bisa mengalahkan kehebatannya dalam berpedang dengan umur yang sangat muda. Setelah mengetahui aku adalah orang yang berani, dia menyukainya. Karena seorang yang terlatih, mempunyai fisik kuat, selalu mempunyai jiwa berani dan sorot mata menyeramkan. Itulah menurutnya.
Tentang Earl Woodsy, aku tidak terlalu memahaminya. Mungkin setelah ini dia akan membuat berita bahwa aku dan Marquis Gallhant beradu pendapat saat meminum teh itu berita picisan yang laku.