Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Hadiah dari Marquis Kingston


__ADS_3

Verion duduk di taman, wajahnya menghadap matahari, tapi wajah itu tertutup oleh buku. Dia sedang berjemur atau sedang meratapi rasa bersalahnya.


Tanpa menyadari keberadaanku, dia masih bersikap begitu. Aku juga tidak mengatakan apa pun, hanya duduk di taman dan menikmati waktu yang tenang. Ketenangan di sini cukup sulit didapatkan.


Jarak kami hanya dua meter, aku sengaja menjaga jarak karena kami butuh waktu sendirian walaupun ada di tempat yang sama?


Seorang Pelayan perempuan mendatangiku, untuk memberitahu jika Eli mencariku. Sebelum pelayan perempuan itu pergi, Eli menampakan wujudnya dari arah sebaliknya. Dia melambaikan tangan padaku dengan ringan dan senyum secerah matahari.


"Akion!" teriakannya sangat kuat, hingga beberapa prajurit yang sedang berpatroli melihat ke arahnya.


Roknya berkibar saat berlari ke arahku, bergelombang dengan irama yang sama dengan gerakan tubuhnya.


Dengan cepat dia telah berada di dekatku. Apakah Siren memang bisa bergerak cepat juga di daratan? Ternyata mereka mengerikan.


Pelayan itu belum pergi, dia mungkin ingin mendapatkan perhatian dari Eli karena telah menyampaikan pesan padaku.


"Katanya kau mencariku?" Aku melirik pelayan itu, Eli mengikuti. Lalu mengangguk penuh semangat.


"Ada apa?"


"Kau boleh pergi," kataku pada pelayan itu. Dia membungkuk pada kami dan pergi dengan tersipu.


Sepasang bola mata memandangku dengan mata yang menyipit karena belum terbiasa dengan cahaya matahari. Verion.


Tampaknya suara kami membangunkan tidur santainya. Aku tersenyum untuk menyadarinya.


Eli menarik kursi dan duduk di dekatku seolah tidak masalah dia telah membangunkan Verion.


"Kenapa kau tidak pernah ke laboratorium beberapa hari ini?"


Nah, aku benar-benar melupakan keberadaan laboratorium itu.


Eli menatapku intens yang membuatku tidak nyaman. Apalagi saat dia memegang tanganku dan menariknya ke atas pahanya. Wajahku memerah.


Ini benar-benar tindakan yang tak senonoh, membuatku malu.


Dia memang mempesona dengan sikap tidak terduga yang membuat jantung sedikit berdebar. Tapi, aku bukankah Harzem, entah apa yang dia rencanakan, tapi itu tak akan berhasil padaku.


"Ehm!" Aku batuk sekali memberitahunya bahwa aku tidak nyaman. Karena itu tidak berhasil, aku menarik tanganku seolah aku sedang memanggil Verion yang melamun.


Dia menekukkan wajahnya ketika Verion duduk di sampingku seperti anak yang patuh. Verion orang yang sangat peka ternyata, padahal matanya belum lagi terbangun sempurna.


Melanjutkan pembicaraan agar tidak canggung.


"Apakah kalian berhasil membuat ramuan lain lagi?"


Tim mereka terdiri satu orang penyihir air, satu peri, dan satu siren. Jika diperkirakan, mungkin mereka adalah tim laboratorium terkuat yang ada saat ini. Diisi oleh makhluk legenda yang hebat dengan sihir, jika orang lain tahu, mereka pasti iri.


"Kami cukup banyak membuat ramuan sihir. Tapi sih cebol itu sering kali tidak puas." Suaranya yang lembut tapi begitu terasa rasa kesalnya.


"Oh ya, kami membuat ramuan obat untuk berbagai penyakit, harganya lumayan jika dijual. Lalu kami masih membuat ramuan penambah stamina."


Saat dia tersenyum, itu adalah bagian tercantik pada hari itu.


Matanya yang hijau berkilau, membuatnya sebagai fokus utama, dan pemandangan taman sebagai backgroundnya.


"Jika itu telah selesai, apakah kamu akan menjualnya padaku, Akion?"


Verion memandangku dengan wajah bangun tidurnya.


"Jika kau membelinya dalam jumlah banyak, akan kuberikan bonus dan diskon. Bagaimana?" Senyum bisnisku merekah.


Dia tertawa kecil, dan menyambut tangan yang kuberikan. "Setuju."


"Jangan lupakan bagian kami, Akion. Aku ingin membeli gaun yang sangat cantik. Jika bisa dihiasi dengan berlian peridot yang menawan." Dia membuat suaranya sangat manis.


Saat dia tiba disini, baju yang dia kenakan cukup sederhana. Kami belum pernah belanja keperluannya. Tentu saja seorang wanita membutuhkan gaun dan perhiasan yang banyak. Di bumi dulu, para wanita sering membeli keperluan mereka di media belanja online. Hingga pengantar paket hafal dengan wajah mereka.

__ADS_1


"Aku akan membelanjakan kalian semua jika kalian berusaha keras dan membuatnya berhasil."


Bugh!


Aku sangat terkejut saat dia memukul meja dengan kuat. Dia tidak marah, tapi matanya berapi. Mungkin peridot yang mahal membuat hatinya membara agar bekerja lebih semangat.


"Oh, tapi kau harus mengunjungi kami sesekali. Sejujurnya aku merasa kecewa telah dilupakan seorang diri di sana bersama sih cebol."


Dia memandangku sedih.


Tanpa dia memandangku seperti itu aku telah merasa bersalah. Telah beberapa kali aku hanya meninggalkan Eli sendirian di laboratorium. Saat itu aku hanya membawa Tanka dan Harzem


"Eli~" Panggilan itu mempunyai suara yang manis.


Rambut emasnya yang terkena sinar matahari berkilau. Langkah kaki Harzem ringan mendatangi Eli, dia terlihat seperti anjing yang mendatangi tuannya.


Tubuhnya menutupi kami, tangannya dengan maksud tertentu diletakkan diatas meja dan dia berbicara pada Eli. Terlihat seperti pria yang ingin menggoda wanitanya.


Cara bicara sangat manis. Dia melihat Eli dari atas, Eli sedikit mengangkat wajahnya saat berbicara pada Harzem dan membuat pemandangan itu cukup ambigu.


"Akion, kami akan kembali ke laboratorium."


Harzem memandangku dengan simpul senyuman yang mengandung banyak arti.


Harzem memegang tangan Eli saat berdiri. Setelah itu, Eli melepaskan tangannya pada Harzem.


"Permisi, Akion."


Mereka berdua berjalan beriringan. Disampingnya Harzem memandang Eli dengan bahagia.


"Apa kau membiarkannya pergi, Akion?"


"Tentu, mereka mempunyai urusan di laboratorium." Aku menjawabnya acuh.


"Ternyata kau dingin."


Pikiran yang aneh.


Memang kenapa aku harus menghentikan Eli?


**


Hari berjalan dengan cepat.


Aku menatap matahari terbit dari jendela kamar yang tirainya telah terbuka oleh Bastian. Aku telah meminum air putih yang diberikan Bastian. Seperti dugaanku, Verion tidak akan membiarkan hal itu berlalu saja.


Dari jendelaku, kulihat keramaian di depan pintu masuk. Ada tiga kereta kuda tanpa lambang yang telah muncul di pintu utama. Sepertinya itu milik pedagang.


Mereka menurunkan beberapa kotak yang dipitakan dengan sederhana namun cantik. Di depan mereka Verion telah berdiri untuk mengarahkan, tangan dan mulutnya bergerak untuk memberikan titah seorang penguasa.


Tanpa memperhatikannya lebih lama, aku melepas pakaianku dan masuk ke kamar mandi. Air hangat langsung merilekskan semua ototku. Dalam bathup, melegakan.


Mataku terpejam karena semua indra merasa nyaman. Wangi dari bunga mawar yang manis memenuhi kamar mandi.


**


Ketika aku baru saja keluar dari kamarku, aku mendengar perdebatan mereka.


"Ini hanyalah hadiah, Baron Sanktessy."


"Aku telah menganggapmu anak sendiri. Tidak perlu begini." Wajah ayahku tidak senang.


"Ini ucapan terima kasih ayahku telah menjagaku dengan baik. Apakah sebagai seorang ayah anda tidak akan melakukan hal seperti ayahku?"


Ayahku diam.


"Benar, kan? Jadi terimalah. Seorang keluarga itu saling memberi dan menerima." Verion tersenyum, dia mencoba meyakinkan ayahku dengan senyumannya. Semakin lama ayahku menatap wajah polos berlukis senyuman, ayahku terlena.

__ADS_1


Itu senjata Verion.


Pada akhirnya, ayahku menerima semua hadiah itu. Hadiah yang tertuju dengan jelas untuk setiap orang dalam keluarga Sanktessy.


Verion memberikanku sebuah surat bercap keluarga Kingston, dan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Dia menjelaskan ini perintah ayahnya, bahkan dia tidak tahu isinya.


Memang seharusnya begitu, ini adalah hal yang menjadi rahasia di antara kami, walaupun mereka berhubungan darah, jika ayahnya tidak ingin memberitahunya, maka dia harus menerimanya. Hal yang harus dilakukan, dan dia melakukannya.


Keduanya kubawa ke dalam ruanganku. Bunyi berisik masih terdengar dari percakapan mereka, tapi tidak terlalu kuat.


Aku membuka surat itu.


Kepada sekutuku, Akion Naal Sanktessy.


Terima kasih telah menjaga Verion dengan baik.


Kudengar beberapa hari ini dia telah membuat keluargamu kesusahan. Aku telah mengirimkan hadiah sebagai ganti rugi karna ayahmu terus menolak.


Tapi hadiah terbaik kuberikan untukmu.


Sebagai pengguna aura, mungkin kau akan menyukainya.


Aku sarankan beri dia auramu.


Salam hormat


Marquis Kingston


Kotak hitam yang dia berikan berukuran sedang. Sekitar 30x30 cm. Tidak terlalu berat, dan tidak bergoyang.


Benda apa pun yang ada didalamnya, kuyakin akan membuatku terkejut. Karena Marquis sendiri yang menjaminnya.


Seperti anak kecil yang berdebar membuka kado ulang tahunnya, aku merasakan itu di sekujur tubuhku, mataku menatapnya fokus untuk menantikan hadiah apa yang akan kulihat ini.


Tanganku berhenti bergerak. Ternyata ini cukup sulit.


"Ya, lagian ini hanyalah kado." Aku bergumam sendiri dan langsung menarik pita emas yang mengikatnya.


Hal pertama yang kulihat adalah tumpukan jerami halus yang menutupi seluruh kotak. Merasa Marquis kingston tidak akan melakukan candaan murahan, tanganku langsung menyingkirkan jerami itu.


Itu adalah telur berwarna hitam yang sangat hitam. Telur itu mempunyai struktur yang kuat, tidak mempunyai wangi saat aku mengendusnya, dan ukuran yang cukup besar.


"Telur t-rex?"


Itulah yang terpikir olehku saat menggumamkan tentang telur. Ketika di bumi dulu, aku sering bermimpi untuk menemukan telur T-rex utuh. Ternyata dewa mengabulkannya disini.


Aku mengusap permukaan telur itu, kasar. Dia tidak punya permukaan licin seperti telur pada umumnya, dia seperti mempunyai permukaan heksagon saat aku menyentunya.


"Baiklah, mari kita hangatkan kau."


Aku mengangkat telur itu, dan memeluknya seperti guling. Sedikit takut untuk memeluknya terlalu kuat, aku menggosok-gosok bagian telur yang berada tepat dibawah telapak tanganku.


Sebuah surat mencuat saat aku menarik telur itu keluar.


'Aku tahu kau menyukainya.'


Marquis


Itu pesan singkat yang seolah mengejekku sebagai pencinta telur T-rex.


"Tapi telur apa ini sebenarnnya?"


Aku yang sedari tadi memperhatikannya tidak menemukan jawaban.


Jika benar kata Marquise, maka aku harus memberikannya auraku. Apakah dengan begitu dia merasa hangat? Entahlah, aku hanya melakukan apa yang disarankan oleh pemberi hadiah ini.


Bahkan jika ini tidak menetas, aku masih bisa memajangnya dan melihatnya sebagai tercapainya mimpiku di bumi.

__ADS_1


Cantik.


__ADS_2