Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Aku Melupakannya


__ADS_3

"Tidak kusangka Akion begitu hangat pada adiknya,"


Tanka duduk sambil menggerakkan kakinya. Aku mengelap rambutku yang basah dengan handuk.


"Memangnya apa yang kau pikirkan?"


Aku dan Tanka bertemu untuk kali pertamanya tanpa Tanka pernah mengenal sosok asli Akion yang kaku. Tidak mungkin untuknya memikirkan aku yang kejam.


"Aku hanya menggodamu," celetuknya.


"Sekarang, apa kau ingin melihat tubuhku?"


Aku geli saat mengatakan ini. Bagaimana bisa aku begitu percaya diri mengatakan hal yang menjijikkan ini?


Tanka melirik padaku yang menggunakan handuk, lalu dia paham apa maksudku.


"Tidak ada yang dibanggakan dari tubuhmu." Dia tertawa mengejek.


Wajahku merah padam, dia mengejek tubuh berotot sempurna ini seakan tidak bernilai. Sesuatu yang tidak bisa dimaafkan. Itu melukai harga diri Akion dan aku.


"Kau marah?" dia masih tertawa.


"Jadi kau ingin melihatnya?" Aku melepaskan handuknya.


Entah sejak kapan Tanka jadi lebih sering bercanda denganku.


Tanka tetaplah perempuan walaupun dia peri berukuran kecil. Wajahnya memerah, dan dengan pipi yang digembungkan, dia memilih untuk keluar dari kamarku.


Aku telah bersiap. Kami bertiga, aku, Renia dan ayahku telah menyantap sarapan pagi dengan tenang.


Percakapan kecil terjadi. Tapi tidak begitu intens.


Bastian merapikan setelanku. Setelah itu aku keluar mengecek para prajurit latihan, mereka latihan dengan semangat. Yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya adalah Verion.


Dia beberapa kali terjatuh saat berlatih dengan Levian. Aku tidak menyelah latihan mereka. Melihat semuanya lancar, aku mengangguk mendengarkan penjelasan Bastian. Lalu pergi meninggalkan tempat latihan.


Aku mengecek bahan makanan yang kusuruh Bastian kemarin untuk membelinya. Bahan makanan ini untuk pesta prajurit nanti malam. Sudah seharusnya para kesatriaku memakan makanan yang lebih bergizi, dan seterusnya tidak akan kesulitan untuk makan mewah seperti ini secara terus menerus.


Seekor sapi besar masuk ke tempat penjagalan. Sepertinya semua berjalan dengan baik, Bastian yang akan mengurus semuanya. Tentang bahan makanan kami, dia yang mengatur semuanya. kuinginkan yang terbaik, dengan uang yang kubawa saja, semuanya menjadi lebih baik.


Matahari belum berada di tengah, inspeksi mendadak yang kulakukan telah selesai.


Aku menyenderkan punggungku di kursi, tumpukan dokumen diantarkan oleh Bastian. Dimanapun kamu berada, hidup selalu butuh kerja keras.


Sebelum aku menyentuh dokumen itu, Bastian kembali membawakan setumpuk surat. Tapi surat tanpa lambanglah yang sangat membuatku tertarik.


Ini pasti laporan dari Hayd.


"Kapan sampainya?" tanyaku pada Bastian saat meraih surat.


"Tadi pagi, ztuan muda Akion,"


"Seterusnya jika ada surat ini datang lagi, sampaikan kepadaku secepatnya."


"Baiklah, tuan muda Akion." Bastian menunduk hormat padaku.


Rambutnya yang putih, dia telah menua bersama Sanktessy. Dia orang pertama yang kutemui di sini. Tanpa sadar aku tersenyum, lalu mengizinkannya untuk pergi.


Salam kepada Baron muda Akion Naal Sanktessy.


Saya Hayd, menyampaikan pesan bahwa semuanya telah berjalan dengan baik. Desain yang anda buat, telah kami selesaikan dan jalankan. Alat-alat untuk menunjang pertumbuhan tanaman sedang menunggu tahap penyelesaian. Mungkin beberapa hari setelah surat ini diterima, alat itu akan sampai ke anda, tuan Akion.

__ADS_1


Kami telah melakukan percobaannya. Dan, benar pendapat anda, bahwa tanaman itu dapat tumbuh di atas air.


Lalu, untuk bantuan makanan dari Marquis Kingston telah kami Terima dengan kondisi sangat baik sesuai dengan permintaan anda.


Laporan selanjutnya akan saya kabarkan. Salam hormat pada Baron muda, cahaya dalam kegelapan sekalipun.


Aku tidak menulis balasan untuk surat itu. Aku akan menunggu alat yang mereka kirim terlebih dahulu, untuk mengecek apakah benar alat ini yang kuinginkan.


Surat kedua yang menarik bagiku, adalah surat dari Marquis Kingston. Aku tahu bahwa dia telah sampai dengan selamat, semua urusan teratasi dengan baik.


Pada Baron muda, Akion Naal Sanktessy


Dengan segala hormat saya kepada Sekutu yang telah melindungi nyawa saya.


Saya telah mengurus beberapa penghianat, dan mengejar lainnya. Ekor mereka sangat sulit untuk ditangkap.


Untuk penjualan batu Mana, bisakah anda mengirimkan setidaknya seratus buah untuk distribusi awal? Saya akan mengirim orang kepercayaan saya untuk ke Sanktessy.


Tolong jaga anak saya. Terima kasih, Baron muda.


Marquis Kingston orang yang sangat pengertian. Dia paham bahwa aku orang yang begitu sibuk. Aku mengambil penaku, dan menulis balasan untuknya. Ada sesuatu yang ingin kupinta padanya.


Setelah menulis balasan untuk Marquis Kingston, aku menyuruh Bastian untuk mengirimkannya. Dari jendela ruang kerjaku, kulihat dia berjalan dengan cepat menyampaikan surat kepada kesatria untuk diantarkan.


Padahal, aku tahu dia pasti akan melakukannya dengan baik. Hanya saja melihat punggungnya berjalan membawa suratku membuatku tenang.


Sekarang yang menjadi masalah, aku melupakan sesuatu yang penting. Yang seharusnya telah kusampaikan sejak aku kembali ke rumah ini.


Dimana dia sekarang?


Wajar dia sedikit kecewa.


Aku melupakannya.


Aku mengintip dari balik pintunya yang terbuka kecil. Dia sedang membaca buku dengan antusias. Nami, pelayan kesayangannya sedang membuatkan susu dan meletakan snack di depannya.


Snack berwarna warni yang sangat dia sukai. Kali ini gaun yang dia gunakan berwarna abu-abu. Gaun itu memang tampak manis, tapi juga tampak tua dan usang.


Tok!


Tok!


Aku mengetuk pintu hanya menggunakan telunjuk kananku. Tidak ingin membuat keributan yang tidak berarti.


Matanya yang berwarna keemasan menangkap kehadiranku, dia menutup bukunya, dan turun dari kursi.


"Kenapa kakak ada di sini?"


Aku tersenyum kaku, mungkin dia tidak menginginkan kehadiranku sekarang.


"Maaf, maksudku, ada apa, kak?" Diaa mengoreksi kata-katanya.


Tubuhnya yang kecil bersikap malu-malu. Dia tidak menolakku.


"Ada yang ingin kuberikan padamu."


Aku menunjukkan koper yang kubawa, dia memiringkan kepala ingin mengetahui apa isi dalam tas ini. Di umurnya yang sekarang, rasa ingin tahu biasanya sangat besar.


"Boleh kakak duduk?"


Dia mengangguk. Aku duduk di sofa.

__ADS_1


"Renia, kau juga duduk di sini." Aku menepuk-nepuk sofa dengan lembut seakan membersihkan sofa yang selalu diperhatikan dengan baik ini.


Langkanya yang kecil tapi pasti berjalan kepadaku, dia duduk disampingku.


"Sebelumnya kakak minta maaf padam.,"


"Untuk apa?"


Matanya yang polos memandangku penasaran, pandangan itu membuat hatiku berat untuk mengatakan aku melupakan kadonya.


"Hmm ...."


Aku masih mencari alasan, pandangannya begitu lekat.


"Kakak baru bisa memberikanmu ini sekarang." Aku membuat kebohongan untuknya.


Kubuka koper yang berukuran cukup besar itu, dan dia melihat isinya dengan wajah kaget.


"Ini hadiah untukmu." Aku menunjukkan gaun-gaun itu.


Sama halnya dengan Renia, Nami juga memasang wajah kaget. Mungkin Ini adalah gaun terbagus yang Renia punya, selama ini gaun Renia terlihat Shabby.


"Astaga! Itu gaun yang sangat cantik!" Respons Nami dengan suara meninggi.


Renia masih tidak percaya, dia memandangku lagi dan kemudian ke gaun-gaun itu.


"Benarkah itu untukku, kak?"


"Iya," jawabku manis.


Walaupun keluarga Baron adalah bangsawan, tapi membeli baju baru dengan kualitas yang bagus, itu adalah sesuatu yang langka. Tidak heran, jika Renia memastikan diri dengan mencubit dirinya sendiri apakah dia tidak bermimpi.


Lalu dengan tangannya yang gemetar karna tidak percaya, akhirnya Renia menyentuh kedua gaun itu.


Nami membantu nonanya, dia memegangi gaun itu hingga terlihat jelas bagaimana model gaunnya.


Gaun itu berwarna kuning, dan merah muda, dengan aksen pita dan renda-renda yang sangat manis. Pada gaun kuning, terdapat gambar kelinci berpita emas. Sedang gaun berwarna merah muda, bercorak bunga tulip yang sangat cantik.


"Apa kamu menyukainya?"


Renia memeluk kedua gaun itu, senyumnya yang mengembang dengan wajah memerah, dia mengangguk beberapa kali.


"Terima kasih, kak. Akan kujadikan harta berhargaku!"


Aku tertawa mendengar perkataannya. Sikap polos dan manisnya memang membuat pikiranku menjadi tenang.


Renia, kamu akan mendapatkan lebih dari ini.


"Aku akan memakainya di pesta nanti malam."


Aku langsung mengingat kembali tentang pesta untuk kesatria. Renia akan hadir diantara orang-orang menyeramkan itu, itu sedikit mengkhawatirkanku. Tapi, sebagai anggota keluarga Sanktessy, Renia telah bersikap bertanggung jawab.


Jadi, dengan berat hati, aku menerima keinginan Renia.


"Menurut kakak, aku pakai yang mana?"


Dia menyodorkan kedua gaun itu padaku. Membuat pilihan yang sulit, diantara gaun-gaun yang cantik ini.


Lima menit telah berlalu, Renia masih sabar menantikan jawabanku. Lalu, aku teringat sesuatu, dan merasa gaun yang inilah lebih pantas untuknya nanti malam.


Renia mengangguk, dia menyetujui apa pun pendapatku. Setelah aku makan camilan bersamanya, aku pamit untuk bersiap diri.

__ADS_1


Seorang pemimpin kesatria, mana mungkin tidak memunculkan batang hidungnya.


__ADS_2