Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Tarian Ajaib


__ADS_3

Akhirnya aku tahu kenapa mabuk itu berbahaya.


Mataku menyipit saat matahari masuk dari jendela, kepalaku masih pusing, telingaku berdenging. Ini adalah waktu bangun tidurku yang paling siang. Pukul sepuluh, aku melewatkan sarapan, dan latihan serta urusan lainnya.


Tampaknya, tubuh ini tidak kuat dengan alkohol. Salahku menganggap bahwa Akion yang bisa minum segelas wine, bisa minum sebanyak kemarin. Aku tersenyum lirik. Kujatuhkan badanku lagi di atas kasur, hari ini lebih baik aku bermalas-malasan.


Terkadang masa muda harus diisi dengan kemalasan kecil untuk mencari inspirasi.


"Dasar lemah."


Itu adalah suara yang kukenal, tapi aku sengaja untuk tidak melihatnya. Sih kecil itu pasti senang melihatku tumbang tidak berdaya. Wajahnya pasti sedang tersenyum dengan cara yang sangat menyebalkan.


"Kau lemah sekali terhadap alkohol. Bagaimana kau menikmati hidup?"


Aku tetap tidak membalasnya. Ini hanya tentang alkohol.


"Apa mau kuceritakan sesuatu yang lucu?"


Dia memperlihatkan wajahnya secara mengejutkan, sedetik memang aku terkejut. Lalu aku membuang muka darinya, dengan berguling ke arah lain.


"Ini cerita tentangmu."


Aku menautkan alisku. Ini sedikit mengganggu, tapi aku tetap bertahan untuk tidak melihatnya.


"Suaramu cukup bagus, Akion." Dia terkekeh.


Mana mungkin jika suaraku bagus, dia akan tertawa seperti itu.


"Lalu tarianmu juga sangat luar biasa." Suaranya bersemangat.


"Apa itu nama tariannya ... ngg... Bre... Breakfast dance...?"


"Break dance kali."


Aku langsung menutup mulutku. Luar biasa sekali keteledoranku ini.


"Ya! Itu dia namanya! Dari mana kau belajar tarian itu!?"


Aku menutup wajahku dengan bantal. Sialan, sepertinya aku bertindak memalukan di hadapan banyak orang.


Break dance apaan? Pasti itu goyangan kejang seperti dulu yang kulakukan. Aku menekan bantal dengan lebih kuat. Ini sangat memalukan.


Dulu, itu cukup menjadi aib yang membuatku tidak bisa menatap wajah orang lain, sekarang pun menjadi aib.


Suara Tanka yang berteriak mengejek tidak kudengarkan. Seharusnya aku tidak minum alkohol sebanyak itu, dan untuk mereka, aku akan membalasnya.


**


"Kenapa Tuan Akion memasang wajah kesal seperti itu?"


Suara Verion yang lemah kudengar dalam kebisingan latihan sore ini.


"Lebarkan langkah kaki kalian. Tambah tiga puluh putaran lagi, kesatria tidak boleh lemah!"


Aku berteriak, wajahku tegas, sorot mata predator kembali lagi. Ada perasaan kesal yang sedari tadi menyelimutiku.


"Tuan Akion menyeramkan... aku baru ini melihatnya begitu...."


Lagi-lagi suara Verion, suara lemahnya terdengar seperti merengek pada Levian yang hanya melihatku.


Aku melirik mereka berdua. Sekarang Levian sedang menatap Verion, terlihat tidak nyaman dengan rengekan kecilnya.


Dia membuang napas sekali. Pasti dia merasa risih, kan?


"Ah, kau beruntung belum pernah melihat Tuan Akion dalam versi paling mengesalkannya."


Aku terdiam.

__ADS_1


pasti sangat menyeramkan...."


Levian mengangguk-angguk, "Benar sekali. Baru-baru ini sikap tuan Akion sedikit hangat, dia mau tersenyum. Jika dulu, pasti kau berpikir untuk kabur setiap kali melihat Tuan Akion, karna terlihat seperti ingin membunuh."


Alisku bertautan. Pembicaraan yang menyebalkan dari kesatria setiaku.


"Apakah wajahnya seperti itu?"


Verion bersembunyi dibalik punggung Levian yang dia pegangin dengan erat. Mata Levian melirikku ragu, dan senyuman tidak enak hati muncul di wajahnya.


Bagus. Tampaknya mereka berdua sadar telah melakukan kesalahan membicarakanku.


"Kalian berdua ke sini."


Dengan suara rendah, aku memanggil mereka, tatapan memburu terus melekat pada mereka. Aku bahkan tahu bahwa bulu kuduk mereka berdiri.


Levian datang dengan Verion yang masih meremas lengannya.


"Tidakkah kalian terlalu santai?"


Kupandangi dua pendosa ini.


"Kami telah menyelesaikan latihan, Tuan Akion." Itu adalah sanggahan halus dari Levian, namun itu tidak berhasil.


"Tambah lagi. Lakukan, bahkan ketika rasanya kalian ingin mati." Aku menyeringai kejam.


"Baik, Tuan Akion!" jawab mereka bersamaan dan mereka langsung meninggalkanku.


Dari ekspresi mereka berdua, tampaknya aku terlihat seperti mempunyai tanduk dan ekor. Sejujurnya, ini bukanlah salah mereka karena aku sedang badmood. Tapi sesekali menyiksa mereka tidaklah salah.


Lalu, sepertinya aku akan menghindari alkohol untuk beberapa saat. Aku tidak menyukai pengaruhnya. Mempertontonkan aib yang akan mereka kenang selamanya, itu memalukan dan membuatku menyesal.


Andai saja tiga kesatria itu tidak menyodorkan minumannya. Kulihat mereka tertatih ketika berlari, lalu kubiarkan. Mau jadi apa mereka jika aku terlalu lembek.


Napas mereka berat. Langit telah berubah menjadi lebih gelap secara perlahan, perintah yang ku berikan pada mereka telah dijalankan.


Mereka tidak bergeming dari tempatnya, tidak ada satu pun dari mereka yang meninggalkan tempat latihan. Itu karena mereka masih menunggu perintah dariku.


Otot dan kekuatan memang harus dipaksakan, namun untuk berkembang juga mereka harus istirahat, agar tubuh mereka memahami dan memperbaiki kerusakan, sehingga menjadi lebih kuat lagi.


Ketika kesatria itu melewatiku, mereka menunduk dengan tersenyum. Bisik-bisiknya mereka telah tahu bahwa merekalah penyebab latihan yang lebih keras ini.


Aku tahu, Levian mengatakan pada mereka untuk tidak menyinggung tentang tarian kejangku.


Aku menghela napas. Memalukan. Tapi sedetik pun aku tidak boleh memasang wajah lelah.


Luar biasa sekali seorang pemimpin itu.


"Tuan Akion...."


Napasnya terengah, aku dapat melihat dengan jelas dadanya naik turun dengan kuat dan cepat.


"Verion, bukankah kau bisa menggunakan sihir penyembuh?"


"Ya... sedikit, tuan Akion." Napasnya belum stabil juga. Setidaknya semua kesatria di sini fisiknya telah mereka latih, berbeda dengan Verion.


"Gunakan pada tubuhmu."


Verion melihatku kaget.


"Kenapa? Tidak bisa?"


Setahuku, tidak ada masalah dengan itu, bukankah itu semacam buff yang bisa meningkatkan kekuatanmu dan membuat tubuhmu sehat?


"Aku tidak pernah melakukannya."


"Bagaimana dengan orang lain?" aku sangat penasaran dengan jawabannya. Apakah ini artinya berbeda dengan apa yang kubaca di Bumi dulu?

__ADS_1


"Tidak ada yang pernah, Tuan Akion. Jika kami ingin melakukannya, maka kami akan meminta orang lain untuk itu,"


"Sama halnya dengan penyucian."


Aku mengusap daguku sekali. Itu jawaban yang tidak kuinginkan.


"Apa alasannya?"


"Karena energi di dalam tubuh seperti magnet. Saat kita menggunakan sihir penyembuh pada diri kita yang sakit, bukankah energi yang akan keluar akan negatif dan membuat energi itu bertabrakan. Itu malah membuat semakin lelah," jelasnya.


"Aneh...." Suaraku keluar tanpa kusadari. Aku sedikit bingung dengan konsepnya.


"Pernahkah mencobanya, Verion?"


Verion menggeleng. Dia terlihat seperti murid yang terlalu patuh dengan gurunya, dan kaku. Padahal menurutku, bersikap elastis lebih baik.


"Verion, sepertinya kamu melupakan sesuatu." Tatapan yang kuberikan membuatnya bingung, mulutnya sedikit tidak tertutup karna menstabilkan dirinya.


"Kau adalah penyihir pada dasarnya. Kenapa tidak menggunakan energi dari luar?"


Dia masih diam mendengarkanku.


"Mungkin baik penyihir maupun pendeta, prinsip kekuatannya sama, yaitu seperti magnet. Tapi kalian lupa, magnet itu digunakan untuk menarik kekuatan dari luar."


"Ini berhubungan dengan cawan sihir, Tuan Akion."


Aku mengangguk. Mereka ini terlalu terpaku.


"Memangnya cawan sihir tidak bisa diperbesar? Apakah hal yang pasti tentang ukuran cawan sihir?"


Ya, dia tidak bisa menjawab. Pengetahuan tentang cawan sihir belum benar 100%. Tidak ada yang mengatakan bahwa cawan sihir tidak bisa diperbesar, mereka hanya sibuk menyatakan bahwa penyihir dan pendeta lahir dengan cawan itu.


"Pikirkan tentang analogi itu, cawan dan magnet. Sesuatu yang menurutku sudah tersedia, harusnya kamu asah dengan baik."


Aku menepuk pundak Verion.


"Kadang perlu melakukan hal yang berbeda, Verion."


Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin membahas tentang sihir itu. Mungkin sebelumnya aku mengingat salah satu adegan di film, yang mana penyihirnya bisa menyembuhkan diri sendiri, dan itu sangat baik jika Verion bisa berbuat demikian.


Dia seumuran denganku, namun dia selalu penuh dengan rasa kagum padaku. Menatapku dengan cermat, dan memikirkan pendapatku.


Orang yang sering kali tersenyum, dan mempunyai dua watak ini.


Entah yang mana watak aslinya. Namun, yang kutahu, Verion seseorang yang patut diperhitungkan untuk Sanktessy. Di luar dari kehebatan ayahnya, anak ini mempunyai potensi.


Aku tahu dia sering berlatih diam-diam pada malam hari. Sihirnya itu unik, berjenis api. Walaupun kecil, api selalu berbahaya.


"Terima kasih, Tuan Akion. Masukan anda sungguh hebat."


Dia memegang tanganku saat menyampaikan rasa Terima kasihnya. Aku berdehem sekali, ini canggung. Dia tidak perlu menyanjungku. Apalagi kami seumuran.


"Panggil Akion saja," jawabku.


"Bukankah itu tidak sopan? Aku di sini dibawah pengawasan anda, tuan Akion."


Aku meliriknya, "Sudahlah, kita seumuran dan kau pun juga calon Marquis."


"Panggil Akion saja atau aku akan memulangkanmu?" Aku sedikit mengancam. Verion adalah tipe manusia yang mengagumi bakat. Dia cenderung menghormatinya dengan perasaan agung yang membuatku canggung.


Apalagi aku lebih menyukainya sebagai teman, jika dia memanggilku tuan, maka akan ada jarak pada kami.


Dia akhirnya mengangguk.


Aku tersenyum, "Ya, begitulah, bukankah kita teman?"


"Teman? Anda menganggap saya teman?"

__ADS_1


"Verion sejak awal adalah temanku."


Dia tersenyum hangat padaku, matanya sedikit berkaca, mungkin terharu dengan ucapanku. Kami baru saja bersama, tapi tidak masalah kan jika membuat pertemanan. Sosialisasi dibutuhkan. Apalagi untuk orang seperti Akion.


__ADS_2