Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Basa-basi Bangsawan


__ADS_3

Aku sedang memakai bajuku ketika angin bertiup dengan kencang dan masuk melalui jendela kamar yang terbuka lebar.


Tanka menggigil, tapi tidak denganku.


Aku merasa beruntung karena susunan otot-otot ini seperti batu bata yang menghalangi angin menembusnya. Ini sejuk.


Pembuluh darah di baliknya bekerja baik, membawa darah dari jantung keseluruh tubuh, mengikat oksigen dengan baik dan menghangatkan tubuhku. Ketika aku menyentuh dadaku, pembuluh darah di dalamnya berdenyut.


Aku mengancingkan kancing kemejaku.


"Ayah, aku berhasil membunuh tiga ogre."


Dari hutan Kegelapan Sunny mengabariku pencapaiannya hari ini. Dia adalah anak yang rajin memberi kabar pada orang tuanya.


"Bagus. Apakah kau telah memakannya?"


"Belum, Ayah."


"Bagaimana dengan Levian?"


"Baik, ayah. Dia melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan rumah untuk mereka beristirahat sedikit lagi selesai, Ayah."


"Baiklah. Kau silakan menikmati hasil buruan mu, Sunny. Tangkaplah lebih banyak."


"Baik, Ayah."


Percakapan kami terputus. Mengetahui semuanya baikbaik saja membuatku tenang.


Setelah baju yang kupakai telah rapi, aku menata sedikit rambutku. Semuanya telah siap, jadi aku akan keluar sekarang. Seperti biasa Tanka duduk di bahuku dengan santai dan bersenandung kecil.


Di depan pintuku, aku merasa seseorang sedang berdiri di baliknya, jadi aku waspada, saat aku membukanya, Altair terkejut.


Aku menyapanya, dan menutup pintu saat dia sedikit menyingkir dari jalan keluar kamarku.


"Saya ingin berjalan pagi dengan Anda, Tuan Akion."


"Baiklah."


Aku menerimanya, tujuanku hari ini memang untuk berjalan santai di istana. Memperhatikan semua dan mungkin bangsawan lain akan melihatku penasaran.


"Apa Anda tidur nyenyak?"


"Ya," jawabku santai, tapi wajahnya meragukan jawabanku.


Kami menuruni tangga yang sedikit melingkar, di bawahnya beralas karpet merah tua.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu?"


Dia berhenti di anak tangga, memandang punggungku. Nyenyak seperti bayi."


Oh itu manis, apakah dia berhenti untuk menyembunyikan wajah malunya?


Kemudian kami berjalan lagi, melihat beberapa pelayan sibuk membawakan barang di tangan mereka. Di belakang mereka, aku melihat kesatria yang kukenal.


Aku melirik Altair, dia berusaha tidak memandangku gugup.


"Apa kau akan pindah ke istana bagian barat bersamaku?"


Dia tersenyum canggung setelah aku mengetahui kenapa semua pelayan sibuk pagi ini.


"Lebih baik berdua dibandingkan sendirian." Senyum canggungnya masih ada menghiasi wajahnya.


Aku tidak marah, dia tidak perlu takut untuk tidak menatapku. Hanya saja, hatiku merasakan haru karena tindakan kecilnya itu.


"Mari kita berjalan. Sepertinya aku harus mentraktirmu lagi." Aku tersenyum nakal padanya.


Kupikir, dia akan menolaknya seperti kemarin, tapi dia diam dan menerimanya dengan senyumannya.


Kami tiba di taman bunga istana, sangat luas, terawat, dan juga sangat hidup. Bunga masih bermekaran di suhu yang dingin. Kurasa pada bagian bawah tanahnya mereka menanamkan batu Mana untuk menjaga suhunya.


"Bukankah Anda adalah Baron muda Sanktessy?"


"Pagi Viscount Ruvenan." Aku tersenyum hangat padanya. Tidak percuma aku membaca buku tebal yang diberikan Bastian.


Mengingat nama mereka saat melihat wajah mereka adalah bentuk dari etiket dasar.


Keluarga Viscount Ruvenan terkenal dengan keturunan mereka yang hebat dalam administrasi negara. Setiap keturunan mereka pasti bekerja di badan pemerintahan.


"Anda bermurah hati sekali mengingat bangsawan tua seperti saya." dia mengusap janggutnya seakan ingin memamerkannya padaku.


"Siapa anak muda di sebelahmu?"


Aku memandang Altair, dia langsung bersikap hormat dan memperkenalkan diri.


"Saya adalah Altair Dena Elbram, anak pertama dari Count Elbram, Viscount Ruvenan."


Viscount Ruvenan memandang dingin, lalu dia kembali ke wajah sebelumnya.


"Sampaikan belasungkawa kepada ayahmu, Count Elbram, Altair."


Dia membungkuk seakan rasa sedihnya sungguh ada. Setelah itu mengabaikan Altair kembali.

__ADS_1


"Bisakah kita duduk dan membicarakan bisnis, Tuan Akion?"


Aku memandangnya dingin. Senyumku masih ada sedikit di wajah. Viscount Ruvenan pasti disuruh oleh Kaisar untuk bisa melobiku, mendatangkan semua batu Mana ke istana.


"Maaf, Viscount Ruvenan, saya tidak bisa sekarang seperti yang anda lihat, saya sedang mempunyai janji dengan Altair."


Wajahnya kecewa dan ingin memohon padaku, tapi aku menunduk padanya dan meninggalkannya mematung sendirian.


Jika memang dia membutuhkanku, kenapa tidak mendatangiku sejak kemarin. Bahkan mereka dengan sengaja mengabaikanku dan memberikan kamar yang jelek padaku.


"Apakah tidak masalah mengabaikan Viscount Ruvenan, Tuan Akion?"


Wajahnya khawatir.


"Itu kekhawatiran yang tidak diperlukan, Altair."


Dia tak menjawab, hanya melirik ke arah Viscount Ruvenan tadi.


"Lihat anak ini mengkhawatirkanmu."


Aku tersenyum merespons perkataan Tanka. Kaki kami melangkah dengan cepat, beberapa kali aku melihat bangsawan lain di sudut taman lainnya. Mereka sedang mengobrol yang sepertinya sangat seru.


"Altair, apa kau tidak ingin berkumpul bersama mereka?"


Altair menggeleng, di perkumpulan sana banyak bangsawan yang telah berumur. Namun jika Altair mampu menjalin koneksi yang baik dengan mereka, itu akan membantunya mengembangkan lebih lanjut wilayah Count Elbram.


"Bukankah itu Baron muda Sanktessy, Akion Naal Sanktessy,"


Seorang bangsawan yang menggunakan setelan coklat berbisik pada yang lainnya. Mereka buru-buru melihatku dari kejauhan. Walaupun secara jelas aku melihat mereka, tapi aku merasakannya. Itu seperti sebuah alarm peringatan bagiku.


Dua bangsawan perkumpulan itu mendekatiku, langkah kaki santai yang penuh maksud.


"Saya baru melihat Anda. Apa Anda ingin berjalan-jalan pagi di taman, Baron muda?"


Basa basinya membuatku geli. Bahkan Altair yang baru saja datang mengetahui bahwa aku telah tiba di istana sejak dua hari yang lalu.


"Saya memang ingin berjalan-jalan dengan teman saya yang baik hati ini."


"Bukankah dia anak Count Elbram?"


"Ya, nama saya Altair Denn Elbram, senang bertemu dengan Anda, Earl Woodsy."


"Bagaimana jika kalian bergabung bersama kami saja. Kami akan melakukan tea time sebentar lagi."


Itu adalah Marquis Gallhant. Orang yang tampak sangat tegas, dengan kumis tipis di bawah hidungnya. Walaupun umurnya telah di atas lima puluh, tubuhnya masih tegap. Mantan pemimpin pasukan perang Kekaisaran.

__ADS_1


**


Aku melihat Altair, dan menyanggupi permintaannya yang rendah hati.


__ADS_2