Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Ilmuwan Gila dan Makhluk Ciptaannya


__ADS_3

Kami bergerak cepat saat malam hari. Tidak ada yang mengetahui kami pergi meninggalkan desa.


Verion membuat bola api kecil yang mengikutinya sebagai penerang.


Tidak ada yang tahu makhluk apa itu sebenarnya, tapi dugaan Tanka bahwa itu adalah makhluk buatan manusia.


Dia sebuah makhluk buatan.


Itu hal yang umum. Manusia tidak bersikap lurus saja, mereka menginginkan kekuasaan. Terkadang mereka menciptakan penyakit mematikan, terkadang lagi mereka membuat monster yang mengerikan. Itu adalah sebuah sejarah manusia, di mana pun kita berada. Bahwa kekuatan membuat diri kita tenang untuk memegang kekuasaan dan mengatur yang di bawahnya.


Membuat makhluk semacam itu bukanlah hal sulit jika dilakukan disini. Siapa yang akan mengawasinya? Siapa yang peduli? Fakta bahwa ini adalah zona bebas, membuat penjahat menetap di sini. Dan pengawasan pada mereka lemah.


Tap!


Kami berhenti di atas pohon, kuminta Verion mematikan bola api kecilnya. Jika mereka berjaga-jaga, kami akan ketahuan sebelum waktunya.


Di dekat gunung, di dalam hutan yang sangat dalam, sebuah gedung yang bersatu dengan gunung berdiri dengan kokoh. Gedung itu hanya mencuat sedikit dari gunung, yang membuatnya tampak misterius.


Beberapa penjaga menjaganya. Tidak ada lambang kesatria, tapi pose berjaga mereka membuatku ragu akan hal itu.


Sebuah masalah akan muncul jika aku terlalu banyak membuang waktu di sini, jadi aku turun dan menghabisi penjaga itu dengan cepat dan senyap.


Kami masuk, di kedua sisinya setelah kami masuk, banyak baju zirah tua dengan memegang pedang besar. Setelah dua menit kami menelusuri jalannya, terdapat dua persimpangan jalan.


Aku dan Verion memutuskan untuk berpisah agar dapat mencari tahu apa yang terjadi dengan cepat.


"Aku yakin, ada ilmuwan gila di sini."


Tanka berbicara padaku seolah dirinya bukanlah ilmuwan gila juga.


"Lihat." Dia menyeringai memandang pemandangan di depan.


Terdapat banyak tabung besar berisi makhluk yang berbentuk mengerikan. Bahkan aku juga menemukan kepala Ogre. Yang paling membuatku terkejut adalah, ada juga manusia yang setengah wujud darinya telah berubah.


Ini hal yang mengerikan bahkan aku berhenti bernapas sebentar.


Kemudian pelupuk mata itu dengan berat membuka, dan menatapku dengan kaget. Tanka mendekatinya, menyentuh sisi tabung bagian luar, humanoid itu menggeliat, dia seperti menangis. Hal yang tersisa darinya adalah kesadaran sifat manusianya.


"Sungguh malang nasibnya. Mereka sangat tersiksa ada di sini."


"lya." Aku memegang pedangku, jalan inilah satu-satunya bisa kulakukan. Humanoid itu menyadari apa yang akan kulakukan, dia mengangguk dengan mata yang sedih.


"Lakukan dengan cepat, Akion."


Begitulah niatku, sesaat aku mencabut pedangku semua tabung yang ada di ruangan terbelah menjadi dua. Makhluk yang ada didalamnya juga terbelah dua. Melihatnya menggelepar sebentar di lantai, dan sungguh telah mati, aku baru menghela napas tenang. Mereka telah menjalani hidup dengan baik, dan kembalilah mereka pada sang Pencipta.


"Akion, apa kau mau melihat ini?" Tanka yang sedari tadi berkeliling membawa sebuah buku laporan penelitian padaku.


Di sini tertulis penelitian budak monster.


Hal yang umum untuk mencari bawahan yang kuat. Tapi ini keterlaluan.


Pada halaman pertama terdapat sebuah kata gila yang tertulis di atasnya.


"Mereka yang mendapatkan anugerah dari tanganku akan merasa bersyukur. Para makhluk bodoh yang aku ciptakan dengan seribu kebaikan dari hatiku. Seribu monster kuat juga akan terakhir darinya "


Ilmuwan gila ini tampaknya seorang narsistik, dia percaya bahwa dirinya dewa. Dia percaya bawah ciptaannya akan merasa senang dengan apa yang dia perbuat, dan orang-orang akan menyembahnya sebagai dewa.


"Dia ilmuwan yang suka dipuja. Itu berbahaya."


Kepakan dari kedua sayap Tanka membuat angin kecil di dekat wajahku. Aku memandangnya setuju.


Ilmuwan yang suka dipuja dan dianggap dewa akan memamerkan dan menggunakan ciptaannya untuk disembah. Dia ingin diakui oleh siapa pun. Karena dia suka dipuja layaknya dewa.


"Akion, ada apa ini?"


Verion menyusulku setelah menelusuri jalan lainnya.


"Kau bisa melihat sendiri. "


Tidak butuh waktu lama, dia menyadari apa yang ada di depanku. Wajahnya yang memucat saat memandang adalah perasaan syoknya.


Aku membaca lembar per lembar laporan itu. Lalu aku tertarik pada sebuah kesimpulannya.


"Monster yang hanya berasal dari monster, sulit dikendalikan. Mereka mempunyai mental yang rusak. Humanoid lebih stabil, mereka akan mempunyai kendali dan mental yang bagus. "


"Verion, apa yang kau temukan?"


Aku mencurigai sesuatu, pasti dugaanku benar.


"Aku menemukan perkumpulan manusia yang disekap."


Aku menutup laporan itu, dan memandangnya emosional.

__ADS_1


"Aku belum membebaskan mereka. Para penjahat menjaganya. Kupikir lebih baik kita menyelesaikan orang gila di sini, baru membebaskan mereka."


Aku setuju. Jika para sandera itu melihat Verion, mereka akan berteriak dengan heboh.


"Kita harus menangkap ilmuwan gila ini terlebih dahulu. Jangan membuat keributan yang membuatnya kabur."


Ada alasan kenapa aku bisa menghancurkan sekumpulan tabung ini dengan tenang, itu karena Tanka telah mengisolasi ruangan ini dari luar.


Setiap kali kami bertemu dengan penjaga, kami melenyapkannya dalam senyap. Seperti ninja. Mereka akan terkejut mengetahui saat tiba-tiba telah diserang.


Sebuah pintu besar, jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Mungkin di sinilah ilmuwan itu sedang berada.


Kami masuk seperti seorang yang terbiasa di sini. Santai dan tenang, Orang-orang berpakaian putih menatap kami kaget. Tampaknya bukan hanya satu ilmuwan gila di sini, mereka sekelompok ilmuwan gila.


Seseorang ingin menyerang kami, dengan menembakkan sesuatu yang terlihat seperti jarum. Kami menghindarinya, walaupun itu tampak lemah, kemungkinan terbesar jarum tersebut telah ada racunnya.


"Kalian telah puas bermain-mainnya?"


Aku memperhatikan satu persatu. Tiga penjaga tiba, dan empat ilmuwan gila di sini. Pada bagian tengah ruangan mereka, terdapat monster yang dijelaskan oleh perempuan di desa yang terbakar itu. Mereka melepaskannya dengan sengaja.


"Puas? Apakah kata itu adalah sebuah kebodohan? Aku tidak akan puas sebelum mereka mengakui penelitian ini dan menyanjungnya. Betapa hebat apa yang aku ciptakan."


Pria tua berambut hitam dengan kursi roda itulah pemimpinnya. Aku tahu, sikap narsistiknya adalah penjelasan dari semuanya.


"Kau akan merasa terhormat menjadi bahan percobaan kami. Humanoid yang kuat akan terlahir dari tubuh kalian berdua anak muda."


Dia tersenyum tersungging, memikirkan bahwa kami berdua tidak ada apa-apanya dibandingkan pikiran hebat otaknya, yang membuatku tertawa.


"Hahahah."


Aku tertawa terpingkal. Astaga, didepanku ada hal yang membuatku jengkel dan geli secara bersamaan. Sudut mataku menajam, jika keluargaku melihatnya, mereka akan mengatakan beginilah wajah Akion asli.


Mata tajam yang tegas membuat siapa pun merinding melihatnya. Seorang predator ganas yang tidak akan melepaskan buruannya.


Tiga penjaga itu menyerang, dan Verion mengalahkannya tanpa sihir. Secara bersamaan itu membuatku bangga karena fisiknya meningkat.


"Lepaskan."


Dia memerintahkan, dan ilmuwan lainnya menurutinya dengan buru-buru. Monster itu mengibaskan kepalanya beberapa kali, membuat air yang membungkusnya tadi jatuh.


"Serang dia, Archmenez."


Dia mengaum pada kami, saat itu kepala tengahnya yang berbentuk ular memanjang ke arahku, taringnya terlihat.


SLASH!


Kepala itu terlepas dari tubuhnya, terpelanting di antara kaki ilmuwan di depanku. Aku tersenyum.


"Itu yang terkuat?"


Mereka menelan ludah, wajah ketakutan mereka sangat menyegarkan di tempat pengap ini.


Monster bernama Archmenez masih berdiri, kedua kepala berbeda itu menatapku tajam. Kepala harimau mengaum pada kami, dan napas api tersembur darinya. Dialah yang membakar desa. Aku tidak menyadari bahwa Verion maju selangkah dari sebelumnya, dan mengalahkan api Archmenez dengan apinya yang lebih panas dan padat.


Kepala harimau itu berteriak karena api Verion mengenai wajahnya.


"Siapa kalian?" Ilmuwan narsis itu akhirnya sadar bahwa dia menghadapi orang yang salah.


Aku tidak menjawab pertanyaannya. Tidak ada gunanya untuknya mengetahui siapa kami.


"Kami menyerah. Lepaskan nyawa kami, akan kami berikan semua ilmu kami untuk membantumu ke puncak."


Aku mengetahui bahwa Verion akan mengumpat pada mereka, keningnya berkerut kasar yang jelas, tangan yang dikepal kuat. Tidak akan ada pemaafan di sini. Ada korban dalam kebakaran itu, bahkan mungkin akan ada korban lainnya di cuaca dingin ini.


Aku menahannya dengan sentuhan di dada.


Mereka licik. Seolah menyerah, ekornya Archmenez yang berbentuk kelabang memanjang dan menyerang kami cepat.


Slash!


Aku memotongnya. Kali ini seluruh bagian tubuh dari Archmenez terbelah menjadi potongan-potongan yang tidak dikenali.


Bagi Verion yang sebelumnya seorang pendeta, dia mungkin tidak terbiasa untuk membunuh secara kejam. Berbeda denganku, aku sudah terbiasa. Jadi masingmasing dari mereka kupotong satu kakinya agar tidak bisa berjalan. Sedangkan sih pengguna kursi roda itu, aku menendang kursi tersebut dan dia terjatuh tersungkur, lalu ujung pedangku menancap di tangannya.


"ARHHH!!"


"Siapa kalian? Katakan agar nyawa kalian tidak melayang."


Aku menatapnya dari posisi yang lebih tinggi, mataku berkilat, dan mengintimidasi.


Dia menyadari perbedaan kami. Tapi dia berusaha keras untuk menutupnya rapat.


"Verion, bakar tangan mereka jika tidak membuka mulutnya."

__ADS_1


Dia diam sebentar, lalu membulatkan tekad bahwa ini tidaklah salah. Dia membakar tangan ketiga ilmuwan yang kakinya telah kupotong.


"TIDAK!"


"TOLONG! TIDAK!"


"PANAS!" "KUMOHON HENTIKAN INI!!"


"AKU AKAN MENJELASKANNYA.!!!"


Mereka meraung, memohon.


"Verion."


Verion menghentikan sihir apinya. Aku menatap sinis kepada pemimpin ilmuwan gila di bawahku.


"Kami dari Unit 774, bertugas untuk membuat monster baru... Se-senjata...."


"Tutup mulut kalian! Kalian semua mau mati!"


Pemimpin ilmuwan gila itu berteriak mengerikan.


"Jika kalian tidak membuka mulut kalian, kalian akan mati di tanganku."


"Aku lebih baik mati dibandingkan memberitahumu!" Dia meludahiku.


Aku memutar pedang yang menusuk tangannya.


"ARHHHH!"


"Teruskan."


Mereka mengerti dan melanjutkan penjelasannya.


"Kami bertugas menemukan senjata makhluk hidup yang bisa digunakan dan menurut pada pemberi perintah."


"Jadi, terdapat unit lain?"


"I-iya."


"Di mana mereka?"


"Kami tidak tahu... hanya pemberi perintah yang mengetahuinya. Kami hanya menerima surat dan menjalankan tugas."


"Verion."


Satu kata yang dimengerti oleh Verion. Kami tidak bisa percaya saja penjelasan dari mulut mereka.


Bush!


"AKU MENGATAKAN HAL SEBENARNYA... TOLONG...,"


Dia berteriak sambil menangis.


Apinya meredup.


Mereka menggeliat kesakitan.


"Kalian bodoh! Kalian pikir orang itu akan melepaskan setiap hubungan DNA kalian!" Dia tertawa kuat, dia gila.


"Matilah kalian pengkhianat!"


DUAR!


Ini kesalahanku, aku tidak menyadari semuanya. Dalam kediamannya dia diam-diam mencoba meraih tombol untuk meledakkan kepala mereka.


"HAHAHA!"


Dia tertawa senang karena telah menutup rapat mulut mereka. Día gila! Dia telah bersiap mati untuk menutupi semua hal tentang unit 774.


"Kau akan mendapatkan bayarannya."


Krak!


Dia menggigit sesuatu. Tidak lama dari itu, tubuhnya mengejang dengan sendirinya, dan mulutnya berbusa hingga darah mengalir dari kedua bola matanya.


Dia mati.


Aku mengetahui bahwa ini cukup berbahaya.


Ada seseorang yang cukup kuat dan hebat untuk melakukan hal seperti ini dan membuat mereka menjadi pasukan berani mati.


"Verion, bakar semuanya."

__ADS_1


__ADS_2