
Terakhir kali aku ke cafe saat itu bersama dengan Levian, dan sekarang aku bersama Verion.
Dia sedang memakan pasta jamur dengan baik. Di tangan kirinya, novel romance sedang dia baca. Dia begitu menikmati keduanya, hingga sulit rasanya untuk mengajaknya berbicara.
Kesempatan itu dimanfaatkan Tanka untuk memakan makanannya. Bistik ayam dengan asparagus yang sangat enak bagi Tanka. Di depannya juga telah datang es krim pancake pesanannya.
Dia memakannya dengan tenang karena Verion tidak menyadarinya.
Aku juga memakan ikan salmonku. Sejujurnya, saat begini tiba-tiba saja aku kangen dengan rasa nasi padang. Ah, kau tahu bahwa makanan itu adalah hal yang biasa yang orang Indonesia santap. Pada setiap tingkatan, nasi padang menjadi primadona, tidak peduli tua muda, kaya dan miskin, nasi padang tetaplah enak di lidah.
Apalagi jika lauknya rendang. Daging sapi yang dimasak dengan rempah-rempah dan santan yang sangat nikmat sekali. Astaga, memikirkannya membuatku gila dan ingin menangis.
Aku menelan keinginanku dengan menelan kasar daging ikan salmon yang masuk ke dalam mulutku. Tidak apa, aku akan menemukan caranya.
"Kenapa matamu berkaca-kaca, Akion?"
Tanka melirikku curiga. Aku terlalu dalam memikirkan persoalan nasi padang, tanpa menyadari bahwa perasaan kangen itu muncul ke permukaan.
"Terharu dengan rasa makanan yang terlalu enak." Aku mengecapkan lidahku.
"Ah, kau terlalu lama menderita." Tanka mengejekku lalu kembali memakan es krimnya.
Bugh!
Novel romance tebal itu diletakan Verion dengan kekuatan sedang, air bergetar di dalam gelas.
"Kau telah menyelesaikannya?"
Aku menunjuk novel romance itu.
"Belum."
"Kenapa?" Pembatasan buku mencuat sedikit di novel yang dia baca tadi. Melihat dari batasnya, dia hanya perlu waktu sedikit lagi untuk menyelesaikannya.
"Aku tidak sanggup. Aku takut kecewa, ini mengerikan."
Masuk ke dalam cerita adalah hal yang lumrah bagi pembaca yang terlalu mendalami. Sekarang Verion sedang mengalaminya. Dia gelisah, tapi ingin menyelesaikan bacaan novelnya.
Beberapa kali dia memandangi novel di atas meja itu lama sekali, lalu beralih melakukan hal lain agar bisa menahan dirinya untuk tidak membaca kembali.
"Ah, baiklah. Aku akan membacanya."
Tangannya bergerak perlahan untuk menentukan novel itu, sesaat dia akan menyentuhnya, pintu cafe berbunyi. Seseorang masuk ke dalamnya.
Di belakangnya ada beberapa kesatria. Aku tahu, dia adalah anak bangsawan juga.
Dia memandangi kami dengan mata yang merendahkan. Aku tidak memperdulikannya, dan memakan makananku kembali.
Awalnya, kupikir dia ke sini untuk makan siang seperti kami. Tapi mungkin aku sedikit salah.
Langkah kakinya mendekat. Itu adalah langkah kaki yang terburu-buru, dan kasar. Aku masih tidak memikirkannya.
Dia tiba di meja kami. Aku menyadari itu, tapi aku tetap memakan makananku.
"Perkenalkan, namaku Altair Dena Elbram. Putra pertama dari Count Elbram." Dia menunduk dengan penuh hormat padaku.
Count Elbram, wilayahnya berhadapan bersama Count Invit. Mereka saling bersaing, karena wilayah yang berbatasan. Mereka mempunyai gelar yang sama. Secara alami, dialah musuh alami Count Invit.
__ADS_1
Dia mendorong tubuh Verion, lalu duduk di kursi yang baru saja kesatrianya letakan.
Verion memandang tidak senang ke arahnya. Kenapa anak ini tiba-tiba mendorongnya? Menunjukkan ketidaksenangannya pada Verion yang lebih tua.
"Bolehkah saya duduk di sini?"
Yah, dia telah duduk tanpa kupersilakan, jadi aku Cuma mengangguk.
Altair usianya dibawah kami. Tubuhnya belum terbentuk seperti kami, mungkin umurnya antara tiga belas tahun atau empat belas tahun.
Anak laki-laki tertua Count Elbram, jadi dia terpaksa mengirimkannya. Apalagi kudengar berita, kalau ayahnya mengalami kesedihan luar biasa karena istrinya yang meninggal baru-baru ini.
"Betapa merasa terhormatnya saya bisa duduk bersama ahli pedang terbaik di Kekaisaran ini."
Aku memperhatikannya, sebuah pedang menggantung di pinggangnya. Kurasa dia mengidolakan Akion. Ingin menjadi seorang ahli pedang juga.
"Verion, apa kau tidak menyelesaikan makanmu?"
Aku sengaja berbicara pada Verion agar dia menyadari bahwa di sana juga ada Verion.
"Tentu, Akion." Dia memasukkan novelnya ke dalam tas kertas. Dan menyelesaikan makannya.
Altair melihat sinis pada Verion.
"Anda sangat baik hati sekali mempersilakan pengawal anda untuk makan semeja bersama." Dia tersenyum padaku.
Dia terlihat seperti penjilat yang ingin terlihat baik di hadapanku. Sikap kekanakannya masih terlihat.
Aku membayangkan, bagaimana jika dia tahu bahwa Verion adalah anak seorang Marquis yang posisinya lebih tinggi dari ayahnya.
Aku tersenyum kecil lalu melirik Verion.
Ketika aku memanggil namanya, dia terlihat seperti anjing yang menggoyangkan ekornya.
"Sepertinya kau ingin menjadi ahli pedang."
"Iya, Tuan Akion. Anda benar sekali." Wajahnya gembira. Seorang yang dia idolakan bersikap peka padanya.
"Lalu, minta maaflah pada dia." Aku menunjuk Verion yang dari tadi terabaikan olehnya.
Altair bingung. Kenapa seorang bangsawan harus meminta maaf pada pengawal yang lebih rendah darinya?
Aku menggeleng kecil.
"Dia temanku. Bahkan dianggap anak oleh Baron Sanktessy."
Penjelasan singkat itu membuatnya langsung berubah, dia langsung melihat Verion dengan sangat ramah.
"Maafkan aku atas kelancanganku, Tuan Verion."
"Tidak apa, Altair. Aku paham di usiamu yang sekarang sikap arogansi adalah hal yang biasa."
Verion mengusap kepala Altair. Dia sengaja melakukan itu untuk membalas perlakuan Altair. Dia juga tahu, Altair akan menjaga sikapnya di depanku.
Dengan senyuman itu, Verion selalu penuh tipu daya halus.
"Bagus sekali, Altair. Seorang Kesatria memang harus bersikap rendah hati dan berani mengakui kesalahannya. Kau bisa menjadi ahli pedang yang hebat."
__ADS_1
Mulutnya terbuka kecil, kedua pipinya memerah. Dia sangat lucu.
"Apa kau ke sini untuk makan, Altair?"
"Tidak. Aku sengaja datang ke sini saat melihat kereta anda, Tuan Akion." Dia bersikap manis.
"Begitu. Apa ada yang ingin kau sampaikan?"
"Ngg... sejujurnya saya mengidolakan anda, Tuan Akion. Saya pernah menyaksikan anda berpedang, dan sangat luar biasa. Begitulah saya ingin menjadi ahli pedang." Dia malu.
Verion yang memperhatikannya tersenyum kecil. Dia memang mempunyai sikap ramah dan lembut. Dia pasti senang memandang seorang anak malu-malu mengatakan mimpinya.
"Hahah, kau ini bisa saja, Altair." Aku tertawa ramah.
Dia menatapku lekat. Mungkin dia tahu mengenai rumorku yang mengatakan bahwa aku orang yang kaku dan menyeramkan, tapi dia masih mendekatiku karena sangat ingin bertemu.
Tidak ada sikap yang lebih berani dari dia yang tidak mempercayai rumor walau mendengarnya.
**
"Tuan Akion, izinkan aku lain kali untuk mentraktirmu" Dia tersenyum.
"Tidak usah. Itu tugas seorang yang lebih tua untuk mentraktir yang lebih muda."
Altair membuat matanya berkilau dan membuat kepalanya sedikit menunduk. Dia menggerakan kakinya dengan gemas.
"Bisakah anda pergi besok saja?"
"Tidak bisa. Kemarin kami telah bersantai."
Itu adalah sebuah kebohongan. Kami malah menambah pekerjaan, karena itulah jadwal kami sedikit terlambat.
"Kita tunda istirahat kita. Kita pergi bersama Tuan Akion."
Altair meminta pada ketua kesatrianya. Sebuah keegoisan akan membuat kesatrianya ada di dalam masalah nantinya
Aku memandangnya. Di usia yang masih muda, belum memahami cara kerja dunia adalah hal yang biasa.
"Kau tidak boleh begitu."
Dia memandangku bingung. Keegoisannya secara langsung terkurung, dan Altair berpikir apakah perlakuannya ada yang membuatku tidak senang lagi. Dia menggigit sudut bibirnya.
"Jika ingin menjadi ahli pedang yang baik memahami kesatria milikmu adalah hal yang penting. Bagaimana bisa kau memaksa mereka yang membutuhkan istirahat? Manusia adalah makhluk hidup, Altair."
Aku tahu sebenarnya dia memahami apa yang kumaksud. Semua kesatrianya terlihat dengan jelas mengalami kelelahan. Jika mereka tidak istirahat dan memaksa untuk berjalan, dia mungkin akan kehilangan setengah dari kesatrianya. Atau jika dalam keadaan berbahaya, kesastria yang dalam keadaan lemah akan dengan cepat untuk dikalahkan. Nyawanya juga adalah taruhannya.
Dia menunduk, menatapi telapak kakinya sendiri. Dengan berat hati, Altair memilih untuk beristirahat.
"Kita akan bertemu lagi di Kekaisaran, Altair. Jaga dirimu."
Aku melambaikan tangan dan tersenyum manis pada Altair. Bahkan Verion juga melakukan hal sama padanya. Dari kejauhan aku melihat mulutnya yang mengerucut lucu karena kecewa dan kesal yang bersamaan.
"Saat melihatnya aku mengingat Renia."
Tanka yang terbang di sebelahku mengomentari Altair. Seorang anak yang belum dewasa memang sering melakukan tindakan semaunya. Aku akan mengatakannya jujur, bahwa Renia bahkan lebih terlihat dewasa dibandingkan Altair.
"Aku ingin melihat wajahnya yang terkejut saat mengetahui siapa aku." Verion tertawa gemas.
__ADS_1
"Mungkin dia akan mengerucutkan bibirnya lagi, merasa ditipu oleh kita berdua."
Kami berdua tertawa. Mungkin dia akan menjadi ahli pedang yang hebat, dan mungkin aku harus waspada padanya nanti.