
"Jika kau penasaran, aku mengizinkanmu untuk bertanya, Levian."
Dia melihat telur mistikku lagi dan kemudian melihatku.
"Telur apa itu, Tuan Akion?"
"Telur mistik."
Jawaban singkat itu tidak memuaskannya. Levian memandang lama ke arah telur yang berwarna hitam. Itu tampak seperti monster jahat yang akan keluar dari sana.
"Kita akan mengetahui isinya saat menetas," jelasku.
Aku meletakkan kacamata yang sebelumnya kupakai dan buku yang kubaca di atas meja. Lalu, merenggangkan tubuh yang entah berapa jam duduk diam tanpa bergerak sedikit pun.
Sofa empuk yang kududuki bahkan tidak begitu terasa nyaman.
"Jika yang keluar dari telur itu adalah sesuatu yang berbahaya, bagaimana, Tuan Akion?"
Aku berpura-pura berpikir dengan wajah kebingungan. Levian waspada. Telur itu seakan akan terlempar ke wajahnya dengan kewaspadaan seperti itu.
"Levian."
"Ya, Tuan Akion?"
"Apa kau akan terus berdiri di depan pintu dan tidak menutupnya?"
Aku menunjuknya dengan simpul senyum yang menakutkan.
"Maafkan saya, Tuan Akion." Dia buru-buru menutup pintu dan mendekatiku dengan tenang.
"Jika itu berbahaya, malah itu semakin bagus."
Dia menatapku semakin bingung.
Sambil menunjukkan telur. "Yang keluar dari sana akan mematuhiku." Simpul senyum jahat terus menghiasi wajahku.
"Bagaimana bisa, Tuan Akion?"
Aku menimbang beberapa saat, dan memberitahunya.
"Aku memberinya makan auraku, jadi saat dia menetas dia akan mengenal aku sebagai avahnya."
Dia mengagumi cara kerjanya. Menatap telur tersebut beberapa dibandingkan pertama kali dia menatapnya.
"Tapi aku mengharapkan Unicorn yang cantik."
"Anda akan menungganginya bahkan di medan perang sekali pun?"
Apakah ini sebuah ejekan halus yang diberikan oleh Levian Atau dia sedang mempelajari bagaimana cara melawak dengan baik? Bagaimana bisa aku berperang menggunakan
unicorn berbulu pelangi, dan dihiasi pitapita nantinya?
"Levian, itu tidak lucu."
Dia diam memandangku. kenapa dia bertindak seakan dia melakukan kesalahan.
"Itu untuk Renia. Dia akan terlihat lebih hebat dari gadis bangsawan mana pun."
Tidak semua orang 'kan bisa memiliki dan menaiki unicorn.
"Nona Renia tidak menyukai Unicorn. Nona lebih menyukai Anjing."
"Jika begitu aku berharap yang keluar dari sana adalah Serigala taring emas."
Aku menanggapinya santai, tapi Levian seperti akan menentang keinginanku yang berbahaya. Jika dia menurut padaku, maka perintah untuknya mematuhi Renia adalah hal yang bisa kulakukan. Levian berpikir berlebihan. Dia tidak mengetahui, bahwa setiap darah Sanktessy, mengandung bakat yang luar biasa.
__ADS_1
Bisa saja bakat bertarung muncul pada Renia pada tahun depan atau tahun depannya lagi. Yang pasti, aku menganggap adikku-Renia, sebagai gadis pemberani dan berbakat.
"Duduklah. Kau ke sini ingin melaporkan sesuatu, 'kan?"
"Saya telah membagi kesatria yang sesuai kriteria untuk tugas-tugas yang Anda berikan, Tuan Akion."
Aku mengurut pelat keningku.
"Bagaimana persiapannya?"
"Sudah selesai, Tuan Akion."
"Walaupun aku tidak ada, kau harus menjalankan tugasmu dengan baik dan membuat mereka berlatih dengan keras."
"Saya akan menjalankan perintah anda." Dia bersimpuh, melakukan sumpah kesatria padaku.
"Lalu, kau telah menemukan tikus-tikusnya, bukan?"
"Ya, Tuan Akion."
Senyumanku meruncing, dalam keadaan tenang pun mereka masih mencoba melakukannya.
Dua hari yang lalu.
Aku merasakan hal aneh, tentang suasana mansion, yang walaupun telah diatur dengan baik oleh Bastian dan Levian, tetap mengalami kekurangan pasokan makanan.
Bahkan di luar Mansion, gosip tetap mereka yang kesusahan mendapatkan makanan pokok tersampaikan olehku.
Bukannya aneh jika gudang telah di periksa berkali-kali, dan didata tapi selalu ada yang berkurang? Padahal Ksatria menjaganya.
Jadi aku mengutus Levian untuk menyelesaikan masalah ini.
Air menetes perlahan dari celah dinding batu yang menyerap air hujan semalam.
Tubuh tiga prajurit mundur kebelakang tanpa perlawanan. Ketika para mercenary itu menyentuh mereka, mereka hanya diam.
Ada sesuatu yang tidak beres terjadi di sini.
Jadi, aku mencoba lebih dekat dan lebih berhati-hati. Aku mencurigai seorang pria yang memakai pakaian serba hitam dengan sabuk merah. Dia menggerakkan tangannya memutar. Saat itulah aku mengetahui alasan kenapa satu pun dari mereka tidak menyadari hilangnya makanan pokok seperti sihir.
Mata mereka kosong.
Aku sangat yakin ini adalah hipnotis, mereka menggunakan hipnotis dibandingkan dengan racun karena mereka ingin membuat nama Sanktessy jelek sebagai seorang pemimpin yang bodoh, tidak beretika, dan tidak becus.
Aku memutuskan untuk menyerang sih pemberi hipnotis terlebih dahulu. Para Kesatria yang sadar akan bisa membantuku.
Bam!
Si pemberi hipnotis itu jatuh karena dipukul tengkuknya kuat, dan mereka semua ingin menyerangku, tapi aku berhasil membuat jumlah bukanlah masalah.
Mereka lemah.
Bahkan para Kesatria yang baru sadar mampu mengalahkan mereka.
Tiga orang dari mereka mempunyai kemampuan yang tinggi. Tapi pada akhirnya aku berhasil mengalahkan ketiganya.
Setelah mendengarkan cerita Levian. Aku memasang wajah serius. Terdapat 15 mercenary.
"Bangun."
Suaraku pelan tapi aku menggabungkannya dengan aura, membuat mereka tersentak bangun dengan sendiri dengan perasaan sangat tidak nyaman.
Mereka melihat sekelilingnya, mata mereka mengedip-ngedip. Aku menggerakkan tangan dan Levian menyiram mereka dengan air.
"HAH!"
__ADS_1
Mereka mengelap wajah mereka dengan cepat, tapi air itu berhasil membuat mereka tersadar sepenuhnya dan melihatku dengan takut.
Aku duduk di kursi, berhadapan dengan mereka. Lampu gantung bergerak maju mundur, ruangan tidak terlalu terang, pada sudut-sudut ruangan ya akan sulit melihat apa yang ada disana.
Tanpa berbicara mengetahui aku di depan mereka, mereka menggigil. Aura kecil baru saja kulepaskan, sebagian dari mereka kesulitan untuk bernapas.
"Siapa yang mengirim kalian?"
Aku mengajukan pertanyaan. Suaraku pelan, tapi mereka memahami bahwa nyawa mereka berada di tanganku.
Mereka bungkam.
Hanya dengan gerakan jari, seorang tahanan baru saja tewas di tangan Levian.
Semuanya bergidik.
"Siapa yang mengirim kalian?"
Sekali lagi aku bertanya.
"Kami tidak mengetahuinya. Dia menggunakan penutup wajah saat mendatangi kami."
Tampaknya itulah seorang yang pintar menghipnotis.
Mercenary tidak akan menanyakan siapa kliennya. Mereka mempunyai aturan seperti itu.
"Kau sungguh tidak mengetahuinya?"
Darah menyembur lagi, kali ini orang yang berada di sebelahnya lah yang tewas.
"Sungguh kami tidak tahu...."
Dia gemetar.
"Apa kalian juga tidak mengetahui siapa aku?"
"Anda adalah swordmaster termuda, Akion Naal Sanktessy," jawabnya cepat.
"Dan kalian masih berani menerima permintaan mereka. Artinya kalian sudah tahu nyawa kalian akan melayang atau kalian meremehkanku?"
Aura yang kuberikan lebih besar dari tadi. Udara memekat, dan mencekik. Mereka semua sekarat.
Air mata keluar dari pelupuk matanya yang memerah.
"Berapa mereka membayarmu?"
"Satu ju-ta... K-keping emas."
Aku menajamkan mataku. Itu harga yang fantastis. Membayar sebesar itu, pasti dia orang yang kaya.
"Bagaimana dia?"
"ng...."
Dia menggapai tanganku, napasnya akan habis. Aku melemahkan auraku.
"Dia tinggi, suaranya rendah... dari cara bicaranya dia keluarga bangsawan... ah, kakinya. Dia sedikit pincang saat berjalan...."
Hanya itulah informasi yang kudapat.
"Sisakan yang satu ini untuk Tanka."
Setelah memberikan perintah pada Levian, aku keluar. Empat hari lagi aku melakukan perjalanan Kekaisaran, tapi mereka malah berulah. Tanpa sadar, aku membuat penjara bawah tanah retak dengan auraku.
Aku segera meredamkan amarahku.
__ADS_1