
Kami tidak mengambil banyak waktu untuk beristirahat. Setelah kami menyelesaikan sarapan, Marquis Kingston dikirim pulang oleh penyihir Madaf.
Sebuah portal sihir yang cukup besar berada di desa ini, tampaknya ini semua adalah uang dari Marquis Kingston, sehingga orang-orang yang ada di sini menghormati dan melindunginya.
Walaupun, ini desa kecil, tapi mereka tampak makmur.
Portal sihir itu menggunakan tujuh buah batu Mana berukuran sebesar telapak tanganku, lalu Madaf merapalkan sihir. Sihir pertama telah dia rapalkan, lalu untuk kali keduanya dia merapalkan sihir lagi. Sihir itu menyatu seperti sebuah roda ya dan membuka portal.
"Aku tidak akan melupakan jasamu. Untuk urusan perdagangan batu Mana, serahkan padaku. Tolong latih anakku dengan baik." Dia memandang Verion. Wajah Verion berusaha tenang, tapi aku mengerti kekhawatirannya yang membiarkan ayahnya sendirian di sana tanpa dirinya.
"Terima kasih, Akion."
Marquis Kingston masuk ke dalam portal, lalu semua kesatrianya ikut dan menghilang di hadapan kami semua.
Portal yang luar biasa. Percikan sihir darinya walaupun telah tertutup masih terasa di bulu kudukku.
Aku melirik Verion. Pria berwajah ramah itu kenapa tidak dititipkan kepada pamannya ini? Bukan urusanku untuk menanyakannya. Tapi jika Verion dilatih oleh Madaf, mungkin sihirnya bisa sehebat ini juga.
Madaf mungkin melihatku memperhatikan Verion. Dia mendekat, tubuhnya yang besar menghalangi penglihatanku.
Inikah tujuannya?
"Apa Tuan Akion akan segera pergi juga?"
Mungkin terdengar seperti pertanyaan biasa, tapi aku berpikiran lain. Aku termasuk orang asing di sini, ada ketidaknyamanan saat aku harus menetap lama di sini, dan ada ketidaksopanan jika mereka mengusirku. Mengusir orang yang pernah membantu adiknya dan akan menjaga Verion.
Aku tersenyum, "Tidak, mungkin dua atau tiga jam lagi."
Sejujurnya, aku tidak ingin berlama di sini, karna banyak hal untuk diurus. Selebihnya karna aku menunggu Tanka. Dia meminta izin padaku untuk berkeliling desa dan mengumpulkan tanaman sihir.
Di daerah lembah pegunungan ini, menurutnya, akan banyak tanaman sihir liar yang dapat dia panen, dan bisa berguna untuk kami. Kuizinkan karna keahlian dan pengetahuannya dapat membantu.
Tanka pergi pun masih dengan sosok tak terlihat. Bahkan bagi Madaf, penyihir terkuat di sini tidak mampu merasakan eksistensi dari Tanka.
**
Aku membuka mulutku lebar. Sendirian di perpustakaan sihir Madaf, membaca buku hingga bosan dan mengantuk.
Levian dan Verion sedang berlatih, Tanka sepertinya lupa waktu sampai tidak sadar diri. Madaf sibuk di ruang penelitiannya.
Madaf mengizinkanku untuk membaca buku di sini. Untuk menambah pengetahuanku ini cukup bagus.
Bagaimana sihir bekerja? Penyihir terlahir sebagai cawan, cawan itu berisikan energi sihir. Semakin besar cawanmu, maka semakin besar energi sihirmu. Dalam dunia sihir, untuk mengupgrade diri, bisa menyerap sihir dari batu Mana. Setiap penyihir mempunyai yang namanya lingkaran sihir.
Madaf penyihir terkuat di sini, mempunyai empat lingkaran sihir. Sedangkan Verion, dia adalah penyihir lingkaran satu. Dia masih sangat pemula dibandingkan yang lainnya.
Semakin banyak lingkaran sihirnya, maka semakin hebat dirimu. Dalam sejarah benua Xellim, penyihir tingkat tertinggi mempunyai lingkaran sihir delapan, dan sampai sekarang tidak ada yang mampu melampauinya.
Sedangkan Akion, Akion terlahir tanpa cawan sihir. Akion tidak bisa menggunakan sihir. Berbeda dengan Harzem, Harzem yang seorang playboy mempunyai lingkaran sihir tiga. Kurasa dia cukup berlatih dengan baik hingga bisa setinggi itu.
Lalu, batu Mana keluargaku bisa sangat membantunya.
Beruntungnya Akion walaupun dia tidak mempunyai sihir, dia adalah seorang swordmaster dan pengguna aura. Kupikirkan ulang tentang itu, Akion tidak beruntung. Aku meremehkan semua kerja kerasnya.
Tubuhnya penuh dengan luka, wajahnya kaku, bahkan sosialisasinya kurang, dia adalah makhluk yang bekerja dengan sangat keras. Kurang ajar sekali jika aku mengatakannya beruntung. Itu menginjak semua kerja kerasnya.
Bugh!
__ADS_1
Buku yang kupegang terjatuh, tampaknya aku begitu mengantuk. Aku tersenyum kecil mengejek pada diriku sendiri.
Selama ini aku tertidur seperti ninja. Masa tenang seperti ini tidak pernah ada sehari pun. Tanka seperti lupa diri, sudah lima jam terlewati dari waktu yang dia janjikan.
Tidak buruk, sepertinya kami akan tiba di Sanktessy malam hari dan aku langsung tidur di ranjangku.
**
Ya, coba lihat sayap berwarna coklat itu bergerak. Dia akhirnya muncul juga saat kami makan malam. Dia menyapaku, tapi aku mengabaikannya dengan memakan makan malamku terlebih dahulu.
Untuk sementara kuanggap dia tidak ada. Wajahnya cemberut padaku, tapi dia menyadarinya kenapa aku sedikit marah padanya. Jadi dengan tenang dia duduk di kepala Levian.
Levian tentu mengabaikannya, seolah tidak ada apa-apa. Siapa yang mau berbicara pada sesuatu yang tidak tampak dan di cap sebagai orang gila?
Setelah menyelesaikan makanku, kuletakan sendok dan garpu sesopan mungkin.
"Penyihir Madaf, Terima kasih banyak atas kebaikanmu selama ini, dan telah menjamu kami. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu."
Dia tersenyum, jenggot putihnya yang lebat terlihat kaku.
"Setelah ini, aku akan kembali ke Danktessy."
"Adikku telah memberitahuku untuk memberi 3 gulungan sihir."
Dia mengeluarkan gulungan sihir dari jubahnya yang lebar, dan memberikannya padaku.
"Kau hanya perlu menulis nama daerah yang mau kau datangi, dan mengoyaknya. Dengan begitu kamu akan tiba disana," jelasnya.
"Terima kasih." Aku tersenyum. Tubuhnya saat berdiri dan aku masih duduk, seakan melahapku.
Memandangi batu Mana merah itu, dia tersenyum puas. Batu ini akan berguna untuknya.
Kami semua telah berada di luar menara sihir. Madaf ada di luar juga. Di Bawah cahaya bulan yang berwarna biru pudar, kami bersiap untuk kembali.
Sekali lagi aku memandang Madaf dan berterima kasih padanya. Lalu aku mengoyakkan gulungan sihir, dan lingkaran sihir muncul di bawah kami. Kami semua berpegangan tangan. Lingkaran sihir itu melahap kami. Sensasi yang unik, cukup aneh jika dikatakan unik.
Karna aku merasakan lingkaran sihir ini seperti mulut yang sedang menelan kami secara menjijikan, membuat kepalaku sedikit pusing, dan pandanganku tidak fokus. Tubuhku bergoyang saat menyentuh tanah kembali.
Tampaknya ini Sanktessy. Rumahku terlihat, ini adalah wangi bunga di taman. Ini benar, ini rumahku. Lima detik kemudian, semuanya telah menjadi normal. Efek menggunakan perpindahan sihir terasa di seluruh tubuhku.
"Anda hebat, Tuan Akion,"
Verion ternyata dari tadi memperhatikanku. Sikapnya tenang, senyuman di wajah yang kukenal itu memang Verion. Dia seperti air yang menghanyutkan. Air tenang yang dapat membuat siapa pun tenggelam.
"Ini kali pertamanya bagi anda, kan?"
Aku mengangguk. Dalam benakku ada rasa malu untuk baru kali pertama untuk mencobanya. Gulungan sihir mungkin lebih murah dibandingkan portal sihir karna hanya bisa membawa sedikit orang. Tapi tetap saja gulungan sihir termasuk benda yang susah dijangkau Sanktessy.
"Penyesuaian anda sangat baik, Tuan Akion. Kebanyakan orang lain, jika pertama kali mencobanya adalah muntah atau pingsan." Dia melirik Levian yang sedang muntah.
Apa ini pengaruh kekuatanku? Aku membuang napas pelan.
"Bagaimana denganmu?"
Dia menggaruk tengkuknya, ingin menghindari dari pertanyaan kuis. Tapi, tatapanku yang terus padanya membuatnya mau tak mau untuk menjawab.
"Saya hanya sedikit pusing."
__ADS_1
"Anda hebat."
Wajahku tampak kesal, Verion meninggikanku lalu menjatuhkannya lagi. Bukankah dia yang lebih hebat dalam hal ini.
Beberapa kesatria menghampiri kami karna keributan yang terjadi, saat mereka melihat wajahku. Mereka memberi salam secepat mungkin.
"Salam hormat kepada Baron muda Sanktessy, Akion Naal Sanktessy. Semoga cahaya selalu bersinar bahkan dalam kegelapan sekalipun!"
"Semoga cahaya menyinari kita semua," balasku mengambil posisi sempurna.
Mereka memperhatikan sekitarku. Menyadari ada kehadiran wajah baru yang pulang bersamaku.
Kubiarkan mereka dengan rasa penasarannya. Hal begini harus dibicarakan pada orang yang tepat.
"Masukan Aaron ke kandangnya. Sampaikan pada penjaga kuda, mandikan Aaron dan merawat kukukukunya," perintahku sambil meninggalkan mereka.
Para Kesatria bergerak cepat, aku melihat sekilas tali kekang Aaron sedang mereka pegang.
Aku melihat wajah yang selalu kupikirkan, wajah ayahku yang menatapku dari pintu. Kabar aku telah pulang sepertinya telah tersampaikan padanya.
Udara malam menggelitik, wajah yang dikenalnya mungkin dulu terlalu kaku, yang walaupun berpisah cukup lama tetap memasang wajah tanpa ekspresi.
Dia cukup terkejut menurut dugaanku saat melihat aku tersenyum sangat manis memberinya salam karna lama tidak bertemu.
"Apa kamu serius, Akion?"
Aku berada di ruang kerjanya, wajahnya terkejut saat kujelaskan aku telah melunasi hutang kami pada Invit.
Kukatakan padanya semuanya mengenai penemuanku.
Selain tentang Tanka.
Wajahnya yang penuh kerutan karna selalu memikirkan Sanktessy menangis bahagia, dia akhirnya merasakan beban yang menghilang dari kedua pundaknya. Aku mengetahuinya dari pundak yang tertunduk sekarang dalam posisi lurus.
Itu sikap alamia.
"Jangan berurusan lagi dengan Invit, Ayah."
Sebenarnya aku ingin menggunakan kata makian untuk Invit. Tapi didepan ayahku yang menghormati jiwa kebangsawanan, aku menahannya.
"Baiklah." Ayahku mengangguk.
Dia telah menggunakan baju tidurnya saat akan menjemputku, kurasa malam ini dia akan tidur sangat nyenyak, dan kurasa lagi rumahku akan berubah menjadi lebih mewah dari ini.
Itu memang sudah seharusnya.
"Untuk urusan gunung Berk, dan perdagangannya, semuanya ada ditanganmu Akion."
Wajahnya lembut, tapi keyakinannya sangat dalam. Sorot mata yang hangat.
"Kamu adalah penerus Baron Sanktessy, semua orang tahu itu. Bahkan kamu juga yang menemukan harta keluarga kita. Jadi, kamulah yang berhak atas segalanya, tapi pikirkan selalu yang utama tentang Sanktessy."
"Baik, Ayah."
Aku mundur diri dari hadapannya. Ini sudah sangat malam, tubuh tua ayahku perlu untuk istirahat.
Tapi dia keluar bersamaku, dia menanyai kabarku dengan wajahnya yang tersenyum. Lalu kami berpisah ke kamar masing-masing.
__ADS_1