
"Apa yang kalian beli?"
Itu adalah belanjaan yang cukup banyak. Di samping mereka aku melihat tiga tas berisi belanjaan berukuran sedang.
Melihat semua kesatriaku setidaknya mempunyai satu tas belanjaan, dan mereka sedang berbaris menungguku, ini terlihat seperti kami sedang berlibur. Mereka tidak salah. Karena akulah yang memerintahkan mereka dan mengizinkannya.
Menerima uang sebagai bonus kepada mereka, mereka akan senang berbelanja untuk orang terkasih di rumahnya.
Dan mereka dengan sadar tidak berbelanja berlebihan agar dalam perjalanan tidak menjadi beban.
Seorang kesatria tersenyum malu. "Aku membelikan istriku dress baru. Dia pasti akan menyukainya. Terima kasih, Tuan Akion."
"Aku harap kau akan sering memberikannya dress baru mulai sekarang, Wade. " Aku tersenyum tulus untuknya dan istrinya.
Mereka adalah orang-orang setia kami. Jadi sepatutnya aku akan memperlakukan mereka dengan baik.
"Kurasa kalian telah selesai semua. Mari kita lanjutkan perjalanan kita." Aku menepuk tangan sekali sambil tersenyum pada mereka.
"Baik, Tuan Akion," jawab mereka bersamaan.
"Kau memakan sari bunga?"
"Ya, mereka mempunyai taman bunga yang sangat luas."
Dia menyampaikannya dengan ekspresi yang menyebalkan. Yah, aku tahu bahwa di Sanktessy taman bunga yang ada sangat kecil, dan aku belum memenuhi permintaannya.
"Nanti saat kutukannya telah terangkat, kau akan mendapatkan taman bunga termewah. Dan sepertinya harus berbagi bersama Renia."
Aku tersenyum tipis dengannya. Renia tidak akan melepaskan taman bunga di depan matanya. Seorang botanis, dia akan menggelora melihat hal itu. Mungkin mereka berdua akan menulis kesepakatan bersama atau malah bekerja sama.
Maksudnya, terkadang seorang pecinta tanaman mempunyai keinginan untuk mengelola dan menanam tanamannya sendiri.
Telepati yang kami gunakan sangat praktis.
Aku tersenyum tidak jelas.
"Akion, apa yang kau pikirkan hingga senyum-senyum sendiri?"
"Ih, ada deh."
Aku mengedipkan mata untuk menggodanya. Untuk kali pertamanya, Verion menatapku dengan jijik. Aku mengabaikan hal itu dan malah tertawa.
**
Kemudian, seperti biasa aku memberi makan telur mistikku. Aura kufokuskan ke telur mistik ini.
Dia tidak menetas juga. Tapi aku terus berpikir positif, seperti janin manusia yang bisa merasakan perasaan ibunya, maka telur mistik ini kemungkinan bisa merasakannya juga. Jadi, setiap kali aku memberinya makan, aku berpikiran positif dan menyuruhnya untuk segera keluar dari cangkang telur.
Duk!
Apa jalanan memburuk lagi. Ya, pasti di wilayah kaya pun ada jalanan yang buruk dan sedikit berbatu, tapi tidak separah di Sanktessy. Aku ingin membuat jalan yang sangat mulut nantinya, agar menaiki kereta kuda terasa sedikit nyaman.
Duk!
Lagi.
Kami memang baru meninggalkan desa terpinggir Duke Lexir, tapi merasakan guncangan terlalu cepat membuatku tidak percaya.
Dari tirai yang terbuka, aku melihat keluar. Semuanya tampak baik. Jadi,guncangan apa itu?
"Akion, lihat itu."
Verion menuju telur mistik di pelukanku. Aku melihatnya. Telur itu yang berguncang sedari tadi.
Guncangan itu cukup kuat, membuat kereta kuda merasakan efeknya.
"Dia akan menetas."
__ADS_1
Kami bertiga menatap antusias.
Tidak kusangka bahwa semua pesan positifku tersampaikan padanya, dan tuan Marquis tidak berbohong tentang telur ini.
Yang paling hebat adalah, aku bertakdir dengan telur mistik ini. Karena menurut Tanka, telur mistik akan menetas pada orang yang tepat.
Telur itu bergerak lagi, kali ini aku tahu cangkang atasnya akan segera di tembus, dia mengeluarkan cakarnya.
Makhluk apa dia sebenarnya? Melihat cakarnya saja membuatku tidak sabar. Tapi kami tetap menunggu, hingga dia berhasil melepaskan cangkang bagian atasnya.
Ini tidak sesuai keinginanku, tapi untungnya aku tidak mendapatkan ular.
Dia adalah naga putih.
Mata naga itu merah, cakarnya tajam, sayap masih kecil, dan lidahnya sedikit keluar di bagian samping.
Sayang sekali aku tidak bisa memberikan unicorn untuk Renia.
"Ini adalah naga putih!" Tanka takjub, naga itu seakan tahu keberadaan Tanka.
"Luar biasa! Ini makhluk yang sangat mengagumkan."
Ketika verion ingin menyentuhnya, naga itu hampir saja menggigit jari Verion.
"Dia buas ...."
Kemudian aku mencoba untuk menyentuhnya. Responsnya berbeda, naga itu mendekatkan kepalanya pada tanganku seakan meminta untuk diusap. Aku menuruti keinginannya.
Dia bermanja padaku.
Cerita tentang makhluk yang ada di telur mistik akan menurut pada orang yang memberinya makan tampaknya benar. Karena hanya aku yang bisa menyentuhnya sekarang.
"Kau tidak lupa janjimu, 'kan?"
"Coba kita dengar dulu apa namanya."
Dia berpikir cukup lama. Keningnya sampai terlihat jelas kerutannya. Nama pemberiannya nanti mungkin tidak akan buruk.
Dia protektif padaku, tidak ingin Verion mendekati kami. Atau ini hanyalah perasaan tidak ingin cintanya terbagi.
"Sunny. Kurasa nama Sunny cocok untuknya."
"Kenapa?"
"Dia lahir di hari yang mataharinya belum tenggelam, dan warnanya putih seperti cahaya."
Aku memikirkannya sebentar
"Biklah, aku setuju."
**
Sunny adalah naga yang lincah.
Setelah tiga puluh menit dia melihat dunia, hal pertama yang dia lakukan adalah mencoba terbang di dalam kereta kuda dengan pelan. Tubuhnya yang belum besar, dan kereta kuda yang cukup luas membuatnya mampu sedikit menghabiskan waktu untuk merenggangkan.
Tanka mengikuti Sunny ke mana pun terbang. Tampaknya, dia mengenal energi Tanka dan dengan lembut mengizinkan Tanka untuk berada diatasnya.
"Apakah kau tidak memberi dia nama?"
Verion memperhatikan Sunny. Wajar dia tidak mengetahui bahwa aku telah memberi nama karena aku dan Tanka membicarakannya melewati telepati.
"Namanya Sunny."
"Kaaaackk!" Saat aku menyebutkan namanya, Sunny berhenti dan memandangku seakan tersenyum. Aku tersenyum tanpa sadar padanya.
"Nama yang sangat sesuai untuknya."
__ADS_1
"Sejujurnya aku iri melihat hewan mistikmu. Naga putih seperti cahaya yang sangat indah untuk dilihat." Verion ingin menyentuh Sunny kembali, Sunny mengerang padanya.
"Sunny, tidak apa."
Aku menenangkan Sunny, dan mata kami yang saling menatap, kami berbicara. Aku memberi keyakinan pada Sunny bahwa Verion bukanlah orang jahat, dan tidak masalah untuknya menyentuh dirinya.
Sunny melihat Verion, seakan mengangguk, dia terbang dan membaringkan tubuhnya di sebelah Verion.
"Ah, lihat, betapa dia menurutmu. Bagaimana jika aku belajar aura juga ya? Mempunyai hewan mistik seperti ini menurutku sangat menyenangkan."
"Walau kupikir akan sulit untukmu, kau bisa mempelajarinya. Mungkin lima tahun ke depan kau bisa menggunakan sedikit aura." Aku tersenyum dengan tangan menyender di pipiku.
Verion tahu bahwa aku mengejek keinginannya, namun dia tidak marah dan malah mengusap lembut Sunny di sebelahnya.
"Kaaaack."
Tidak lama kemudian Sunny melihatku dan terbang kembali kesisiku. Wajah Verion kecewa, tapi Sunny akan merasa lebih nyaman di dekat orang tuanya.
Saat aku mengusapnya, kualiri juga aura padanya. Dia merasa nyaman hingga memejamkan mata untuk tidur.
"Apa kau hanya akan memberimu auramu?"
Aku berpikir sebentar, apakah mungkin dia cukup hanya dengan auraku saja?
"Dia harus memakan makanan lain. Daging atau lainnya." Tanka menjelaskan padaku jawaban yang berhubungan dengan pertanyaan Verion.
Bukankah itu benar, dengan auraku saja dia tidak akan bertumbuh dengan baik.
Kami menggunakan telepati lagi.
"Apa aku perlu memberinya makan daging?"
"Kasih daging Kaliya."
"Ah?"
"Dia akan semakin kuat jika memakan monster, sesama makhluk mistik, atau sesuatu yang mempunyai energi."
"Jadi apa aku tidak bisa memberinya daging biasa?"
"Bisa. Tapi jika kau menginginkan Sunny lebih kuat, maka biarkanlah dia memakan makanan yang pantas. Lalu sunny butuh untuk belajar berburu."
Tanka menatapku.
"Baiklah. Aku mengerti."
"Akion, kau kenapa?"
Telepatiku terputus karena Verion berbicara padaku.
"Kurasa aku akan memberinya makanan yang lain."
"Begitu." Didalam kereta kuda berjam-jam bahkan membuat Verion masih duduk dengan posisi yang baik.
"Apa kau tahu naga adalah makhluk legenda yang tidak pernah terlihat seribu tahun lamanya, Akion?"
"Tentu aku tahu."
Itulah yang membuatku khawatir saat orang-orang melihatnya. Para bangsawan lain akan lebih iri padaku. Seolah aku tak pantas mempunyai Sunny. Ya, siapa sangka aku malah menetaskan makhluk mistik yang berada di puncak.
Sunny baru saja menetas. Bahkan sihirnya tidak terlihat dengan jelas. Katanya, naga adalah makhluk yang mempunyai sihir tertinggi. Tapi yang kulihat sekarang,
Sunny bertingkah seperti kucing.
Dia membalikkan tubuhnya dipangkuanku, memintaku menggaruk perutnya yang gemuk. Ketika aku menggaruk ya, lidahnya akan keluar keenakan.
"Kita harus menyembunyikan Sunny. Dia belum cukup mampu melawan dengan kekuatannya sendiri jika dalam keadaan terdesak."
__ADS_1
Verion memberikan nasihat. Tampaknya dari matanya yang lembut, dia memahami Sunny butuh banyak belajar untuk sihirnya.
"Ya, itu benar."