
Aku baru saja menyelesaikan sarapanku ketika Levian dan Tanka pulang ke Mansion Sanktessy.
Para Kesatria yang melihat mereka sangat berisik, aku tahu bagaimana reaksi masyarakat saat mereka membawa bangkai Kaliya ke sini. Dihari yang cerah ini, mereka pasti sedang menjalankan aktivitas seperti biasa.
"Itu ular yang sangat besar." Seorang ksatria mengagumi, dia ingin menyentuh daging ular itu.
"Tuan Akion yang membunuhnya." Seorang Kesatria yang dikirim Akion untuk membantu Tanka dan Levian menjelaskan.
"Luar biasa." Dia kagum.
Levian berbicara pada Tanka, lalu menepuk baju bagian pundaknya yang sedikit kotor. Levian mendatangiku yang baru saja keluar dari Mansion.
"Tuan Akion, saya telah menjalankan perintah anda." Dia menunduk padaku.
Memperhatikan besarnya ular itu, membawanya ke sini bukanlah sesuatu yang mudah, wajah mereka tampak kelelahan.
"Bagus," jawabku singkat.
"Tanka, kenapa membawa daging dari Kaliya juga?" Aku beralih bertanya pada Tanka.
Kenapa dia membawa daging Kaliya?
"Akan kugunakan untuk penelitianku dan kukonsumsi sebagian." Dia tersenyum bahagia.
"Konsumsi?"
"Kaliya ular beracun. Apa kamu mau memakan racunnya?"
"Oh iya...." Dia mengangguk seperti baru memahami situasinya.
"Aku bisa mengelolanya. Kurasa bahkan Kaliya ini akan mampu meningkatkan kekuatan. Dia makhluk kuno, entah berapa ribu tahun umurnya."
Melihat antusiasnya, aku tahu tidak akan bisa melarangnya, dia seperti seorang ilmuwan yang tergila-gila dengan penelitian.
"Jangan sampai bau daging busuk tercium."
Pasti Tidak nyaman mencium bau busuk di mana pun. Ular itu sangat besar, mempunyai daging yang banyak, kalau daging itu tidak dijaga kesegarannya bahkan hingga desa pun bau busuk itu akan tercium.
"Apakah ular ini yang diceritakan oleh Renia?"
Ayahku keluar setelah mendengar keributan. Di Sisi kirinya ada Renia yang sedang digandeng.
"Iya, ayah. Nama ular ini Kaliya."
Ayahku memandangi dengan takjub. Dia sedang membayangkan seberapa panjang saat ular itu hidup. Sekarang saja semua bagian dirinya yang telah dipisah
__ADS_1
pisah membutuhkan 8 kereta barang untuk membawanya.
"Luar biasa. Kamu sangat hebat Akion."
Masih kagum dengan Kaliya, ayahku menepuk pundakku dengan bangga.
"Terima kasih, Ayah."
"Terus ini mau diapakan?"
"Aku akan melelangnya, Ayah. Sebagian lagi akan aku simpan untuk keperluan sanktessy."
"Mungkin harganya mahal. Tidak setiap saat orang bisa mendapatkan ular sebesar ini."
Walaupun dia tidak paham berdagang, tapi masih bisa menduga-duga mengenai harga Kaliya.
"Tentu, Ayah. Akan kuusahakan kita mendapatkan harga yang sangat bagus." Aku tersenyum.
Para Ksatria di bawah perintah Levian sibuk membawa Kaliya ke tempat yang ditunjukkan oleh Tanka. Sepertinya aku membutuhkan satu ruangan khusus untuk Tanka. Sosoknya belum ada yang mengetahuinya. Lalu untuk penelitiannya yang berguna untuk Sanktessy, dibutuhkan ruangan khusus yang memadai. Jadi aku tidak perlu mendengar ocehannya lagi ketika penelitiannya gagal.
Keningku berkerut sesaat. Ya, itu memang menyebalkan saat dia mengeluh, merengek, mencaci penelitiannya yang gagal. Di dunia ini gagal itu biasa, tapi sejujurnya aku terkadang memarahi Tanka karena dia menggunakan bahan mahal nan langkah.
Dan setelah kejadian kemarin, Renia lebih melunak padaku. Ketika insiden boneka berubah, wajahnya sering kali ditekuk saat menghadapiku. Sekarang dia adalah gadis bermurah senyum hangat. Aku tahu itu, dia mendapatkan lebih dari boneka beruang, bunga air langkah. Tentu hatinya sedang gembira.
"Selamat pagi Baron, selamat pagi Akion dan Renia." Dia menyampaikan salam dengan penuh hormat bangsawan.
"Selamat pagi, Verion."
Ayahku tersenyum pada Verion. Bagi ayahku Verion adalah orang yang penting, karna ayahnya membantu Sanktessy membangun wilayahnya kembali.
Tidak heran, dengan wajahnya yang khawatir ayahku menanyakan tentang latihan Verion.
"Bukankah itu terlalu berat, Akion?"
"Ah! Lihat apa yang terjadi!"
"Tidak, tidak, Verion kelelahan... buat dia beristirahat, Akion."
"Akion, bukankah Verion terlalu sering latihan?"
Begitulah ayahku mengoceh hampir setiap hari mengatakan aku melatihnya terlalu berat. Terkadang dia hingga datang ke tempat latihan, dan membuat Levian menghentikan latihan Verion. Setelah itu, dengan sikap tidak enak hati Verion dan kekuasaan ayahku, mereka minum teh sambil menyantap kudapan dibawah payung lebar yang dia pasang.
Seakan tempat latihan adalah tempat piknik mereka berdua.
Aku paham kenapa ayahku bersikap begitu. Dia takut terjadi sesuatu pada Verion dan membuat Marquis marah, sehingga kami kehilangan tangan yang menolong Sanktessy.
__ADS_1
"Apa kau telah sarapan?" Lihat betapa manisnya sikap ayahku terhadapnya, dia telah menganggap Verion sebagai anaknya sendiri.
"Sudah, Baron Sanktessy. Roti panggang yang kunikmati sangat enak." Dia tersenyum, tahi lalat di bawah matanya
bergerak, dan membuatnya seperti orang yang tampak suci.
"Kau harus makan sesuatu yang lebih bergizi lagi." Dengan matanya yang membulat, ayahku sedikit memarahi Verion.
"Hanya... itu sudah termasuk makan yang bergizi, Baron." Verion tertawa tidak nyaman.
"Bastian!" Ayahku tidak ingin mengalah. Dengan energi yang tinggi dia memanggil Bastian, dan menyuruhnya memperhatikan makanan yang dikonsumsi Verion.
Itu adalah perdebatan di antara mereka bertiga, Verion, ayahku, dan Bastian. Dimana ayahku memaksa, Verion menolak, dan Bastian menurut.
Verion memandangku meminta tolong untuk menghentikan ini. Namun aku hanya tersenyum mengejek dan mengangkat bahu.
Terima saja.
Hanya itu yang perlu dia katakan, dan semua keberisikan ini akan menenang.
Verion akhirnya menyerah, dia menerima semua tawaran ayahku. Ayahku orang yang sangat ramah, dengan sikap ngotot luar biasa. Dia mempunyai sisi khawatir yang berlebihan, yang seringkali membuat wajahnya terlihat frustasi.
Namun saat ini dia menang. Dan aku tidak akan menyelanya.
Setelah drama pagi itu, ayahku menahan Verion di ruang kerjanya. Mereka berbicara, bukan, tepatnya ayahku lah yang lebih berbicara. Verion hanya membalas seperlunya.
Ayahku menahannya dengan waktu yang cukup lama.
Aku telah mengirimkan surat lagi kepada Marquis Kingstone. Sejujurnya aku tidak menyukai mengirim surat melalui burung ini, terlalu lama, dan terlalu mudah untuk disabotase.
Tentu aku tahu apa yang akan kubuat. Tapi sampai sekarang aku belum menemukan siapa yang bisa membuatnya. Setidaknya aku harus bersabar lebih banyak lagi, walaupun ini lama tapi setidaknya tersampaikan.
"Hihihi."
Aku mendengar suara cekikikan dari bawah, itu adalah suara Tanka yang memasang wajah menyeramkan. Di hadapannya aku melihat berjejer alat lab yang digunakannya.
"Lihatlah ini... apa yang bisa kuperbuat dengan semua ini? Hihihi."
Dia seperti penyihir jahat yang sering kulihat di televisi.
Kubiarkan dia di dunianya. Dia juga terlalu fokus pada percobaannya yang menyeramkan.
Waktu tidak berjalan dengan cepat setiap kali aku melihat dokumen-dokumen ini. Aku tidak mengerti Akion bisa sangat hebat di keduanya, di ilmu pedang dan dokumen. Bukankah dia seperti makhluk yang berasal dari komik? Sebagai pemeran utama.
Aku menyeringai.
__ADS_1
Aku memiliki pemahaman semua dokumen ini, sama seperti Akion asli. Tapi tetap saja aku merasa bosan bila menatapnya lama.
Entah bagaimana hari ini, tapi aku merasa setiap hari semakin sibuk seolah tubuh ini mempunyai magnet untuk membawa semua masalah itu.