Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Istirahat Seperti Anak Muda


__ADS_3

Ini kali kedua Bastian menemukanku tertidur di luar. Bajuku terbuka, dada bidang terlihat dari baju yang tersingkap.


Bastian memeriksaku apakah aku sedang mabuk. Namun bau alkohol pun tentu tidak akan tercium karena aku tidak meminumnya.


Sepertinya, waktu yang kuhabiskan bersama Renia membangkitkan masa laluku lagi. Aku memimpikan tentang keluargaku. Tidak terasa sesedih dulu, tapi tetap membuat lubang kehilangan yang membuatku menghela napas panjang.


Aku keluar untuk mencari angin dan berakhir tertidur dibawah langit lagi. Bahkan Tanka tidak menyadari itu.


Menembak dari kelakuanku, Bastian memberikan teh bunga Camomile padaku, untuk menenangkan sarafku yang menegang. Aku mengendus wangi teh ini, wanginya memang menenangkan. Tapi sejujurnya aku lebih menyukai kopi.


Wajah tua bastian berkerut, dia sering mengatakan padaku untuk istirahat, tidur lebih awallah sesekali, atau berlibur menikmati masa muda. Tapi jiwa gila kerja pada Akion, malah semakin gila saat aku yang menepatinya.


"Silakan dihabiskan, Tuan Akion."


Aku menurut, aku meneguk teh hangat itu di udara pagi yang menyegarkan.


"Jika anda ingin berlibur, maka berliburlah, Tuan Akion. Baron tidak akan marah."


Aku tertawa. Itu ide bagus, hanya saja sejujurnya aku menganggap hal ini sebagai liburanku. Setiap hal yang ada di dunia ini menghiburku, dan aku banyak menemukan hal yang menarik. Liburan? Itu hanya dibutuhkan saat aku tidur


"Anda perlu menjadi seperti Tuan Harzem sesekali. Tapi saya mohon, jangan keterusan." Dia berdeham sekali mengingat tingkah Harzem yang terlalu bebas.


Aku meletakan gelas teh di meja, kubuka bajuku yang tidak terkancing sebagian.


"Aku tidak tertarik, Bastian."


Dia menatap tubuh penuh lukaku dengan perasaan kagum dan kasihan yang bercampur. Dia pasti memikirkan sesuatu lagi. Aku sudah hafal dengan pandangannya yang seperti itu. Dia pasti memikirkan kerasnya kehidupan mudaku.


Bastian mengambil baju yang telah kulepas, aku masuk kedalam kamar mandi dengan dirinya yang tetap terpaku disana. Sementara aku mandi, dia menyiapkan baju yang akan kupakai.


"Aku membutuhkan asisten untuk mengatur semua pembukuan ini."


Wajah Bastian bahagia. Itulah yang dia inginkan tampaknya.


"Itu benar, tuan. Kita membutuhkan asisten." Dia bersemangat.


Keuangan Sanktessy perlahan membaik, tentu mengambil asisten bukanlah masalah. Namun mencari yang berkompeten, dan setia itu sesuatu yang berbeda.

__ADS_1


"Baiklah. Kita bicarakan hal itu lain kali. Masuklah Levian."


Aku tahu Levian telah berdiri di depan pintu sejak beberapa detik yang lalu. Entah kenapa dia tidak mengetuk dan malah berdiri.


"Tuan Akion masalah ketua keamanan telah selesai dengan baik. Dia telah dicopot dari jabatannya, sekarang kita sedang menjalankan kompetisi untuk mencari orang yang pantas."


Aku mendengarkan dengan mengangguk. Levian telah menerima reputasi sebagai tangan kananku. Dia menjalani dengan baik, dan sebagai bayarannya orang menghormatinya seperti menghormatiku, padahal dia tidak pernah memintanya.


Sedikit cerita tentang masa lalu Levian, dia berasal dari keluarga Ksatria di wilayah Sanktessy, dan seorang yatim piatu sejak kecil. Bisa dibayangkan berapa keras hidupnya saat itu. Ketika dia mencuri roti gandum keras, ayahku menolongnya dan mengajak ke mansion. Memberinya pakaian, memberinya tempat berlindung, dan memberinya pendidikan.


Darah Kesatria dari kedua orang tuanya mengalir


dengan jelas. Dia berbakat, dan diputuskan oleh ayahku untuk menjagaku. Di sela-sela waktunya menjagaku, dia mengajariku dan memahami bahwa aku seorang jenius yang sangat berbakat. Dia sangat senang dan antusias akan itu. Terkadang dia menempel padaku seperti saudara, terkadang seperti guru, dan terkadang lagi seperti pekerja. Dia mampu menyesuaikan diri.


"Tuan Akion, apakah anda tidak akan ke tempat latihan?" Levian membuka suara.aku menggeleng pelan. Mengertilah bahwa orang tua di depanku ini memaksa untuk tidak latihan, dan masih bermurah hati membiarkanku untuk menyelesaikan semua dokumen urusan Sanktessy.


Levian undur diri. Dia tidak menanyakan kenapa aku tidak akan datang ke tempat latihan. Tanka menggoyangkan kakinya, duduk di bingkai foto sambil menatapku muram.


Ada yang ingin dia inginkan lagi. Aku tahu itu.


Bastian memandangku curiga. Dia memastikan telinganya apakah dia telah berada di fase budek karna usia. Aku menggerakkan pelan tanganku agar dia tidak merasa begitu.


"Apa anda membutuhkan sesuatu, Tuan Akion?" tanya khawatir.


"Berikan aku minuman dingin," pintaku padanya yang langsung berjalan keluar.


Ini memang cuaca yang panas, membuat tubuhku gerah. Seharusnya aku juga membawa batu mana air untuk mendinginkan ruangan. Itu adalah kesalahanku, hanya mengambil yang terlihat dan paling dekat saja.


Beberapa hari lagi aku akan memastikan untuk mengambilnya dan menanam pada setiap sudut rumah agar udara terasa dingin.


"Akion, kenapa kau berusaha keras untuk orang lain?" Wajah kami berhadapan, pertanyaan yang tidak kuduga akan keluar dari mulutnya sekarang.


"Ini untukku," sanggahku cepat.


Tanganku menandatangani beberapa dokumen yang telah kubaca dengan teliti. Lalu cap keluarga Sanktessy yang dipercayakan ayah padaku kutempelkan pada berkas itu.


"Itu membingungkan." Tanka mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


Seharusnya aku sadar, kenapa Tanka seorang diri, kenapa dia tidak bersama para peri lainnya. Tapi mulutku terlalu berat untuk menanyakan hal yang mungkin sangat sensitif baginya.


"Aku menyukai wilayahku dan aku tidak suka untuk diinjak. Dihina bahkan dipermalukan."


Aku mengingat semua rekaman adegan penganiayaan yang dilakukan Haikal padaku saat itu. Itu menyakitkan, aku tidak punya kemampuan untuk melawan, dan aku seorang pengecut.


"Jadi kamu melakukannya untuk harga dirimu?"


Aku mengangguk. Itu tidak salah.


"Ternyata harga dirimu sangat tinggi, Akion," godanya.


"Itu dibutuhkan agar bisa hidup sesuai kemauanku, Tanka. Kau harus mengetahuinya."


Jangan bersikap naif, dunia ini tidak baik terhadapmu. Jangan menurunkan standarmu, kau pasti akan ditipu olehnya dan menyesal. Buat standar yang tinggi untuk harga dirimu, buat mereka tidak bisa menginjakmu dan itu akan mampu melindungi dengan baik


Tanka tidak bertanya lagi. Sekarang suara kertas yang terbukalah yang hanya terdengar. Kediamannya yang cukup panjang membuat peri kecil tanah ini memutuskan untuk meditasi mengumpulkan sihirnya, dan aku menyelesaikan dokumen dengan cepat.


Aku menguap sekali. Tulisan memang membosankan, itu seperti mantra sihir yang menyuruhmu untuk tertidur lelap. Gelas minuman dingin yang diberikan boleh Bastian telah kosong, embun air yang berada di sisi luar gelas mengalir dan membasahi mejaku.


Aku menghela napas. Aku butuh menggerakan ototku, tapi Bastian akan memandang dengan tatapan yang tajam, atau terus merengek padaku.


"Kakak!" Pintu terbuka dengan lebar, suaranya yang tinggi membuatku cukup terkejut. Ada apa dengan Renia yang dulu takut padaku? Dia mendatangi ruang kerjaku dengan semangat.


"Aku dengar kakak tidak akan latihan hari ini."


Aku mengangguk bingung.


"Ayo, kita piknik." Dia tertawa polos seperti anak-anak.


Kemudian Nami datang dengan napas yang berantakan, dia pasti mengejar Renia sekuat tenaganya.


"Maafkan kelancangan Nona Renia, Tuan Akion."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Tolong persiapkan semuanya," jawabku halus.


Wajahnya bertemu dengan wajah Renia bingung. Dengan senyuman kecil Renia, dia mengerti maksudnya. Lalu dengan gerakan yang canggung dia meninggalkan ruanganku.

__ADS_1


__ADS_2