Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Siren Yang Berjalan


__ADS_3

"Tuan Akion, apakah anda baik-baik saja?"


Levian bertanya padaku yang tepaku di tempat. Ini adalah hal yang sulit aku Terima.


"Aku merasa kecewa pada diriku sendiri."


Jantungku terasa sakit, ini sakit karna kekecewaan yang luar biasa. Kenapa sejak awal aku tidak memikirkannya? Tanka si peri tanah, dia mampu membuat kebun bunga di halaman depan rumahnya.


Tanka kenapa tidak pernah mengatakannya?


Levian mendekatiku dan berlutut dengan satu kaki.


"Tolong jangan katakan hal seperti itu, Tuan Akion."


"Seharusnya aku menyadarinya sejak awal dan mampu membuat perkembangan lebih cepat."


Aku melirik Levian, "Kau berdirilah."


Ini bukanlah salahnya. Aku yang kurang kemampuan.


"Tuan Akion, anda sangat hebat, anda memperkenalkan teknologi baru dan itu berhasil. Itu sebuah kemajuan hebat."


Seminggu yang lalu prototipe sampai ke rumah, dan itu bekerja sangat baik, bahkan laporan yang kuterima mereka telah memanen beberapa hasil pertanian. Sesuatu yang sangat bagus untuk mereka.


"Tuan Akion, saya tahu anda akan menjadi lebih hebat dari sekarang, anda harus menyadari tujuan kita ke sini untuk apa. Bukankah ini untuk Sanktessy juga?"


Deg!


Itu benar. Aku melakukannya untuk wilayahku, jika aku kehilangan semangat dan terlalu terpaku pada masalah ini, maka persoalan lain tidak akan selesai dan bahkan akan bertambah.


Aku menepuk keningku sekali, menyadarkan diri untuk fokus.


"Kau benar, Levian. Maafkan sikap labilku."


Aku berjalan kembali, memasuki rumah yang hangat ini. Disisi dalamnya, rumah ini sedikit berdebu karena Tanka telah meninggalkannya sebulan, lalu perabotan di sini sangat sederhana. Tidak ada kursi, hanya ada meja, lemari dan peralatan laboratorium.


Kami memasukkan semua keperluan dengan hati-hati agar rumah ini tidak ditinggal dalam keadaan yang berantakan. Suatu saat orang yang mempunyai rumah ini kan bisa saja kembali.


"Apakah saya perlu membersihkan rumah ini?"


"Lakukanlah jika diperlukan."


Aku duduk di lantai, dan diam-diam mengamati Levian yang bersemangat membersihkan rumah Tanka dan mengatur perabotannya. Bisa saja di dalam hati Levian dia menginginkan menjadi bapak rumah tangga yang baik, yang selalu bersedia membantu istrinya kelak. Lihat saja, betapa pandai dan efisien semua tindakannya itu.


Levian mungkin bisa menjadi salah satu pria di urutan teratas sebagai pria Kekaisaran yang ingin dinikahi jika perempuan-perempuan bangsawan itu mengetahui bahwa Levian sangat suamiable, papaable, dan ksatriaable. Wajahnya pun cukup ganteng.


"Silahkan diminum tuan akion."


Levian meletakan minum berwarna gelap dihadapkanku. Dia sekarang sedang bertindak seperti pelayan bertubuh kekar, bahkan celemek yang dia pakai membuat badan ksatria ini terlihat lucu.


"Apakah ini racun? Jenis apa?"


"Itulah masalahnya, Tuan Akion. Saya tidak tahu ini racun jenis apa?" Levian tersenyum ceria dengan kening yang mengerut.


Aku tertawa kecil dengan mulut terbuka dan meminum minuman yang disiapkan oleh levian, ini kopi biasa dengan gelas yang unik.


"Bagaimana rasanya, Tuan akion?"


Aku mengangguk untuk memikirkannya, sesuatu yang cukup unik tapi sangat menarik dan nikmat.


"Kopi jenis apa ini, Levian?"


"Sepertinya ini kopi biji-bijian dari tanaman yang di tanam Tanka, tuan Akion. Saya tidak tahu pastinya," Dia tampak ragu dan berjalan mencari dimana dia menyimpan biji kopi itu.


"Bawa itu juga. Aku akan memintanya sebagai upeti."


"Baiklah. Apakah saya harus membawa yang lainnya?"


"Seperti apa?"


"Tanka memiliki pasta basil yang enak." Levian menunjukkan hasratnya, sepertinya dia tertarik dalam dunia memasak, dan menyarankan yang sebenarnya ada di dalam pikirannya.


"Ambil saja. Kau pasti ingin mencoba memasaknya, bukan?"


Mulutnya terbuka kaget mendengar dugaanku yang tepat. Dia tersenyum kaku.


"Nanti aku yang akan memintanya pada Tanka."


"Saya sangat berterima kasih pada anda, Tuan Akion." Senyumannya tulus.


"Jangan lupakan menyajikannya untukku. Sajikan dengan nikmat, jika tidak, mungkin aku akan memarahi."


Dia menggaruk pipinya halus, ragu.


"B-baiklah, Tuan Akion"


Namun, dia tidak perlu meragukan dirinya sendiri. Dia memasukkan sisa barang-barang yang akan dibawa. Seperti dugaan awal, kami akan berada dua hari di gunung Berk. Ini sudah gelap total, saat siang hari saja kerapatan pepohonan disini menutupi sebagian besar jalan masuk matahari. Ini baru pukul empat sore, tapi matahari telah menghilang total menyisakan kegelapan yang pekat.


Aku mengatakan pada Levian untuk tidur di dalam rumah Tanka, besok pagi kami akan kembali ke tempat Siren. Jika kami keluar sekarang, pasti akan merepotkan. Saat malam hari monster akan bergerak dengan lebih leluasa. Aku tidak ingin terburu-buru, semuanya bahkan sesuai jadwal. Jadi aku harus sedikit santai dan beristirahat.


**

__ADS_1


Alangkah lebih baiknya jika dia tidak mencoba berlari saat melihatku.


Aku harus melompat dan menangkapnya, lengannya yang kecil terbungkus seluruhnya dengan telapak tanganku. Dia melihatku kaget, ekspresinya ketakutan. Bola mata hijau itu memandangku gemetar, dia tampak seperti ingin menangis.


"Maafkan aku." Aku melemahkan pegangan itu. Aku tidak ingin melepaskannya. Sisiknya berkilau saat matahari mengenainya.


Dia tidak berbicara, wajahnya pucat dengan mulut yang tertutup rapat.


"Aku tidak akan menyakitimu. Aku janji." Aku tersenyum tulus.


"Le-lepaskan aku!" Dia berteriak ketakutan.


"Maafkan aku, aku tidak bisa."


Aku sungguh tidak nyaman dalam situasi ini. Melihat dia meronta dan memohon.


"Perkenalkan aku adalah Akion Naal Sanktessy."


Perkenalan sederhana itu mengubah ekspresinya dengan cepat. Tubuhnya bergetar, matanya membelalak, tapi dia tidak meronta. Itu tampak seperti kesedihan yang begitu dalam.


"Sanktessy...." Suaranya nyaris tidak terdengar.


"Iya, itu nama keluargaku." Aku tersenyum menanggapinya.


Dia menunduk, beberapa kali aku melihatnya menggigit bibir dengan ekspresi sedih.


"Apa kau menangis?" Aku bertanya lembut yang tanpa kusadari telah melepaskan pegangan tanganku. Dia bergerak, kurasa aku telat menghentikannya untuk kabur. Tapi dibandingkan dengan kabur, dia sekarang memandangku dengan lurus, pandangan yang membuatku bingung.


"Apa yang kau butuhkan?"


Suaranya sangat halus seimbang dengan wujudnya yang cantik. Suara itu memabukkan, dan menarik


Aku terdiam cukup lama. Hingga Levian muncul dan memanggilku. Aku tersadar, dia masih memandangku lurus.


"Aku membutuhkan sisikmu." Aku mengatakannya permintaan itu dengan ragu. Apakah itu hal yang akan menyakitkannya? Sisik juga bagian dari tubuhnya.


"Hanya itu?" Dia memandangiku penuh harap. Tapi aku hanya mengangguk, hanya itulah yang kubutuhkan.


"Seberapa banyak?"


"Jika bisa sampai memenuhi kantong ini." Aku mengangkat kantong kecil yang telah kuambil dari kantong jubahku.


"Baiklah, itu mudah." Dia diam sebentar, "Lalu kabulkan satu permintaanku."


Sekarang dia menawarkan pertukaran transaksi. Dia tahu bagaimana bisnis bekerja.


"Katakanlah."


Dia memandangku nanar, tarikan napasnya terasa berat. "Bisakah kamu memindahkanku dari sini?"


"Lalu bagaimana dengan keluargamu?"


Dia menggeleng, dia memandang ke sungai tempatnya berada.


"Aku tidak punya keluarga. Aku seorang diri di sini." Dia menatapku. Mungkin dia jenis satu-satunya yang tersisa.


"Tanka mengatakan bahwa di sini tempatnya Siren. Bagaimana bisa kau hanya tinggal seorang diri?"


"Tanka?!" Wajahnya berubah menjadi masam.


Ada sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Tanka.


"Jadi, kau telah bertemu dengan Tanka?" Nadanya kecut.


"lya."


"Dan dia yang meminta sisikku. Dia memang selalu penuh dengan tipu daya." Wajahnya ditekuk.


"Siren asalnya dari lautan, aku hanya satu Siren yang dibawa oleh caesar disini"


Dia membuat ekspresi pahit.


"Kenapa leluhurku membawamu ke sini? Bukankah lebih baik untukmu tinggal bersama di lautan. Jadi kau menginginkan aku membawamu ke lautan untuk bertemu keluargamu?"


"Tidak! Itu adalah permintaan konyol."


Dia terlihat sedih ketika dia acuh tak acuh membicarakan hal itu seolah bukanlah masalah.


"Aku ingin kau membawaku ke kediaman Sanktessy. Kau tahu betapa bosannya aku seorang diri disini."


Dia menghela napas. Tanpa mengatakan apa pun, dia memandangku memohon menggunakan mata.


Apa masalahnya?


Akhir-akhir ini terlalu makhluk hebat yang hadir di kediaman sanktessy.


"Aku bisa saja melakukannya. Tapi apa kau yakin meninggalkan tempat ini? Dan akan sulit untuk membawamu." Setengahnya adalah kebohongan kecilku.


"Ada alasan kenapa Tanka malah meminta sisik siren kepadaku yang sebenarnya adalah musuh bebuyutannya." Dia tertawa lirih, mungkin dia butuh teman untuk berkelahi lagi. "Pantas saja aku tidak melihat batang hidungnya beberapa minggu ini, ternyata dia mengikuti pria tampan."


"Baiklah, aku akan membawamu. Sebelumnya penuhi dulu permintaanku."

__ADS_1


Dia tersenyum ceria, lalu masuk kedalam air. Beberapa lama aku menunggu hingga dia datang kembali dengan kantong berisi sisiknya.


"Apakah itu menyakitkan?"


Dia menggeleng dengan senyuman gembira.


"Bisakah kau bertahan diluar air untuk beberapa waktu? Kita akan jauh dari air, dan Levian yang akan menggendongmu." Aku menunjuk Levian yang sedang duduk dibawah pohon sambil menimang pedangnya antusias.


"Tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri."


Angin bertiup dengan kuat. Ekornya yang indah telah berubah menjadi kedua kaki yang ramping dengan gaun hijau yang berkibar, dan matanya bertemu dengan mataku. Mengagumkan. Aku tersenyum cerah seperti anak perempuan yang menemukan sesuatu berkilau.


"Bisakah kita berjalan sekarang?"


Levian telah selesai memindainya dengan mata kagum. "Ya."


"Anda bersikap tidak sopan pada nona muda ini, tuan Akion?"


Aku menatapnya curiga. Kenapa aku berbuat tidak sopan padanya? Bahkan sedari tadi aku tersenyum lembut agar dirinya tak takut padaku.


"Siapa nama nona siren?"


"Eliana, Kalian bisa memanggilku Eli."


Dia mulai berjalan, untuk seseorang yang menghabiskan kebanyakan waktunya di air, dia sangat hebat untuk menggerakkan kedua kakinya dengan ringan dan lincah. Sesekali bahkan dia menangkap dedaunan yang jatuh seakan dia telah menunggu dengan lama untuk itu.


Aku telah mengambil barang yang sebelumnya aku tinggalkan di dalam gunung Berk. Itu memakan empat karung berukuran besar. Aku memang membutuhkan banyak hal dari sini.


Jadi semua total barang yang kami bawa ada tujuh karung, dan seekor siren yang bisa berjalan di daratan.


Dia memperhatikan kami dengan malu-malu. Saat aku memergokinya melihat kearah kami, dia akan membuang muka dan bersikap tidak pernah melihat.


"Sudah selesai semuanya. Saatnya kita pulang." Aku lega dengan selesainya ini.


"Eli, ayo kita pulang." Dia sibuk melihat sekelilingnya, mengucapkan rasa terima kasih dan perpisahan pada tempat yang selama ini bersamanya.


Dia mendekati kami, tangan Levian penuh dengan barang, lalu aku merobekkan gulungan sihir itu.


Perpindahan itu selalu terjadi dengan cepat, seperti hanya mengerjapkan mata dengan efek yang sedikit menyebalkan.


Ini adalah teknologi yang belum ditemukan di bumi. Dibandingkan kami berdua, bukankah sikap Eli itu menyebalkan. Dia mendarat dengan elegan saat menggunakan teleportasi dengan gulungan sihir.


Seperti efek sihir yang sering kulihat di televisi, dia mendarat dengan sangat pelan seakan waktu berjalan lambat padanya, bahkan rambut panjangnya bergerak halus ke atas dan turun dengan lembut.


Itu pemandangan yang sangat cantik untuk diperhatikan. Membuat sosok Eli seperti lukisan.


Aku muncul di ruangan kerjaku, ya aku telah mengaturnya demikian. Sehingga saat portal itu terbuka di ruanganku, angin yang kencang membuat ruanganku berantakan dan keributan. Bastian orang pertama kali mendatangi kami.


Wajahnya kaget, namun dia lebih kaget lagi dengan keberadaan Eli.


Dia menatapku dengan sorot mata menyebalkan, mengejekku dan menggodaku secara bersamaan. In memang bisa membuat salah paham.


Tidak, ini bukan seperti kata orang-orang pergi sendiri pulang berdua. Aku tidak memikirkan itu.


"Kita di mana?"


"Ruang kerjaku."


"Bastian sampai kapan kau mau memandangku begitu?!"


Dia mengatur ekspresinya, lalu dengan senyum kecilnya dia berkata.


"Apakah ini calon anda, Tuan Akion?"


"Jangan banyak berkhayal, Bastian."


"Jadi, anda belum memiliki hubungan?"


Astaga kesalahpahaman ini membuatku gila. Aku masih sangat muda, dan belum memikirkan hal itu. Bukankah hubungan itu sering kali menjadi penghalang.


"Bukan begitu, Bastian. Dia tamu. Seorang siren."


Eli tersenyum pada Bastian yang wajahnya kaget tidak percaya. Ya begitulah kau seharusnya.


"Pantas dia sangat cantik."


"Kenapa bisa mempunyai kaki ini?" Bastian sedikit menutup mulutnya karna kagum.


Eli tidak tersinggung akan itu, dia menjawab Bastian dengan tulus, "Aku menyihirnya. Menyenangkan bisa berjalan."


"Bastian, keluarlah. Jika aku membutuhkanmu, aku akan memanggilmu."


"Oh, baiklah, Tuan Akion. Saya pergi dulu."


"Nona...?"


"Eli," jawabnya singkat.


"Baiklah, Nona Eli, jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa memanggil saya." Bastian mengedipkan matanya.


"Bastain," Kataku berat.

__ADS_1


Bastian buru-buru keluar dengan wajah semeringah. Diluar aku mendengar perkataannya yang berharap aku telah mempunyai musim seminya sendiri. Memang orang tua


itu memiliki khawatir terlalu berlebihan bahkan pada hal sepeleh sekali pun.


__ADS_2