Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Utusan Marquis Kingston


__ADS_3

"Tuan Akion, ada utusan dari Tuan Marquis Kingston."


"Baiklah."


Aku meletakan sendok dan garpu. Saat ini baru saja aku akan menyantap makan siangku. Dalam etika bangsawan, datang ketika makan siang adalah hal yang tidak sopan, tapi ini bukanlah kesalahannya, aku telah melewatkan jam makan siangku dan baru bisa untuk makan sekarang.


Bahkan ini pun baru suapan pertamaku. Tapi, aku buru-buru menemuinya dibandingkan memakan makananku hingga habis.


"Salam hormat pada Tuan Akion Naal Sanktessy." Dia langsung mengucapkan salam saat melihatku datang. Aku membalas ucapan itu secara sederhana.


Kami duduk berhadapan. Dia tampak seperti orang lugu yang mudah untuk dibodohi. Namun jika dia adalah orang kepercayaan Marquis Kingston, maka hal itu tidaklah benar.


Jangan menilai orang lain dari luarnya saja.


Namanya Aries, tubuhnya lebih kecil dariku, dan dia sepertinya lebih tua juga dariku. Pertama kali yang dia berikan padaku adalah empat gulungan sihir. Lalu dokumen-dokumen penting kerjasama kami berdua.


Dia berbeda saat sedang berbisnis. Sorot matanya tenang seperti lautan tanpa ombak, mulutnya ringan, dan postur tubuhnya kokoh seperti giok. Seorang pebisnis ulung memang selalu menyembunyikan sesuatu.


"Lalu di mana batu mananya."


Aku mengambil batu mana yang telah kusiapkan untuknya. Bahkan aku memberikan lebih dan batu Mana biru gelap.


Aries memegangnya. Aku tahu saat ini dia sangat terpukau dengan kualitasnya. Begitulah wajah Marquis Kingston pertama kali melihatnya.


"Tuan Marquis hanya mengatakan batu Mana merah. Saya tidak tahu bahwa anda juga mempunyai batu Mana Air ini."


Ya, itu adalah batu mana Air. Penyihir air akan sangat terbantu dengan itu. Setelah tiba di mansion pun aku langsung memberikan batu Mana air pada Harzem, dia menyerapnya dengan baik. Lingkaran sihirnya naik satu tingkat. Itu luar biasa


"Begitulah. Harta karun kami mempunyai banyak hal yang mengagumkan," kataku berharga diri.


"Ini akan saya bawa juga, Tuan Akion?"


Aku mengangguk.


"Aku menginginkan batu ini dibuatkan 7 bros, satu kalung, satu gelang, dan sebuah pita rambut kecil." Aku memberikan batu Mana berwarna merah yang lebih pekat.


"Itu hal yang tidak sulit, Tuan Akion."


Aku tersenyum menanggapinya. Mereka memang mempunyai kapasitas tinggi. Hal yang selalu menguntungkan dapat mereka cíum dengan cepat. Pasti Marquis telah memberitahunya untuk tidak melepaskanku apa pun yang terjadi.


"Tolong, buat seperti ini."


Aku memberikannya buku yang didalamnya terdapat desain yang telah kubuat. Ku gambar dengan detail baik dan ukuran yang ingin kubuat. Aries tidak bertanya, mendengar penjelasanku dia mengangguk dan mengagumiku dari sorot matanya.


"Baiklah, Tuan Akion. Kami akan membuatnya sesuai waktu yang Anda tentukan."


Dia menyodorkan tangannya, dan aku menyalaminya. Ini adalah kesepakatan bisnis.


"Sebelum saya undur diri dari sini. Bisakah saya melihat Tuan Verion?"


Aku mengangguk.


Saat kami tiba di tempat latihan, dia menyipitkan kedua matanya untuk mencari Verion diatara prajurit yang banyak.


Menemukannya tidak terlalu sulit.


Seorang pria dengan wajah yang ceria sedang memamerkan ilmu pedangnya yang payah. Pemandangan yang langkah, dia melakukan gerakan berpedangnya di bawah pohon rindang, dibandingkan semua kesatria yang berada di tengah lapangan.


Dia meletakan pedang kayu itu dan tertawa pada Levian yang sedari tadi memperhatikannya. Levian memberikan pukulan kecil di pundaknya. Sedetik kemudian dia menatapku dan menunduk. Verion tidak menyadari hal itu.


"Dia melakukannya dengan sangat baik."

__ADS_1


"Apakah kau tidak akan ke sana?"


Dia menatapku dengan wajah muram, "Tidak, Tuan melarangku. Biarkan dia tidak mengetahuinya,"


Alam rasa khawatir Marquis Kingston, dia tetap menginginkan anaknya kuat. Jika mereka bertemu dan melihat penampilan Verion yang lusuh, mungkin Marquis akan sedih.


"Katakanlah Verion melakukannya dengan baik. Kekuatan fisiknya meningkat. "


"Baiklah, Tuan Akion. Terima kasih telah menjaga Tuan Verion. Saya undur diri dulu."


Aku menemaninya berjalan menjauh dari tempat latihan, saat kami sampai di tempat cukup kosong, dia merobek gulungan sihir, dan mengucapkan Terima kasih sekali lagi.


Angin menyelimutinya, dan dia benar-benar menghilang.


Tidak beberapa lama kemudian, gerimis turun seakan menghapus jejaknya dari Sanktessy.


Aku berjalan melewati lorong ingin kembali ke kamarku. Lalu bertemu Verion yang tubuhnya basah karena hujan. Handuk kecil yang dia gunakan untuk mengerikan rambut juga telah basah. Pedang kayu masih dia pegang di tangan kiri.


"Akion apa kau mau beristirahat?"


Dia memandangi ku lembut.


"lya. Aku ingin membaringkan punggungku," keluhku.


"Bukankah saat hujan lebih enak berdua."


Itu adalah kata-kata yang ambigu. Dia memandangiku, entah apa maksudnya.


"Aku berdua dengan bantalku."


"Bukan begitu. Maksudku dengan manusia."


Anak ini ternyata lebih dewasa dari dugaanku. Dibalik senyumannya yang secerah matahari, pikirannya malah sekotor tinta cumi.


Dia kaget mendengar kata-kata ku.


"Kenapa aku tidak sopan?" Dia menatapku tanpa merasa bersalah telah mengatakan hal yang tabu.


"Kau tidak boleh berkata begitu. Aku belum menikah," jawabku malu.


"Apa hubungan, aku mengajakmu minum kopi bersama dan menikah?"


Deg!


Aduh, jadi dia mengajakku untuk minum kopi bersama. Ditengah hujan begini memang lebih enak meminum minuman hangat. Akulah yang berpikiran kotor disini.


"Baiklah. Setelah kau mandi datang ke kamarku untuk minum kopi." Aku berlalu meninggalkannya tersenyum. Wajahku memerah. Ini memalukan. Menodai kepolosanku.


Aku duduk di teras. Ini adalah teras yang cukup besar. Sebuah meja dan dua kursi bahkan masih menyisakan ruang disekelilingnya. Hujan yang turun tidak masuk sama sekali dalam teras. Langit menggelap di daerah Sanktessy. Penduduk pasti sangat senang dengan hadirnya hujan ini.


Itu tidak terlalu deras, tapi berlangsung cukup lama. Ketika aku melewati sisi luar mansion tadi, aku melihat semua pelayanan sibuk untuk mengisi bejana kosong. Dalam kesibukan mereka, wajah mereka sangat bahagia.


Seperti anak kecil yang mandi hujan, kepolosan dan wajah bahagia itu nenenangkanku. Lalu aku meninggalkan mereka untuk melakukan pekerjaannya.


Setelah itu, aku memerintahkan Bastian untuk menyiapkan jamuan minum kopiku bersama Verion.


Saat aku keluar dari kamar mandi, aku telah melihat meja dan kursi ditata sedemikian, sehingga kami berdua nantinya bisa nyaman.


Aku duduk di teras, menghirup wangi hujan yang khas. Wangi itu tercipta dari geosim yang dilepaskan ke udara, sarafku yang tegang rileks mendengar suara hujan yang turun dan wangi khasnya yang mengatur.


"Masuklah."

__ADS_1


Aku tahu dia baru saja tiba, dengan gerakannya yang lugas dia masuk dan memandangku yang telah duduk di teras.


"Apakah aku membuat kau menunggu?"


"Tidak. Aku sedang menikmatihujan."


Ini tampak sangat mewah. Tahukah kau, jika di tempat kering air lebih berharga dari emas. Aku tersenyum lirih.


Tepat saat Verion duduk di depanku, Bastian datang menyajikan kopi untuk kami berdua.


"Terima kasih, Bastian." Verion tersenyum tulus.


"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan, Verion?"


"Kau terlalu terus terang." Verion tertawa dengan mata menyipit.


"Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Tidakkah kau melihatku sebagai teman juga?" Matanya memelas seperti anak anjing, menghadapi hal itu aku hanya mengangguk kecil.


Anggap dia seperti itu, selebihnya aku masih penuh dengan kewaspadaan.


Tiba-tiba angin bertiup, membuat rambut kami berdua bergerak, saat itu aku samar-sama melihat Verion seperti tersenyum saat dia menunduk.


Aku tidak iri jika dengan wajahnya yang ramah, Verion mempunyai banyak teman. Mereka pasti merasa tenang melihat senyuman Verion. Meskipun itu perasaan yang asing padaku, aku merasa mungkin itu menyenangkan.


"Apa kesukaanmu, Akion?" Dia menyesap kopi santai.


Sebelumnya aku tidak pernah memikirkan hal ini. Apa yang sebenarnya aku sukai? Apa yang Akion sukai?


Aku menggeleng.


"Kau tidak tahu?" Dia meletakan gelasnya seperti obrolan selanjutnya akan sangat penting. Dia menatapku dalam, matanya berbicara mengasihaniku.


"Manusia itu hidup selalu dengan pekerjaan, keahlian, dan hobi untuk menyenangkan diri."


"Jika begitu, maka hobiku adalah tidur di waktu istirahatku."


"Akion, itu bukan hobi. Itu keperluan." Ekspresinya khawatir.


"Jadi, apa hobimu, Verion?"


"Membaca novel. Itu cukup menyenangkan. Apa kau mau kupinjamkan novel?" Aku menggeleng. Kehidupanku di sini bahkan sudah seperti novel itu sendiri.


"Aku pikir, mungkin nanti aku bisa menemukan hobiku sendiri." Aku memintanya untuk tidak membahas masalah ini lagi.


Kopiku telah habis, hujan masih berlangsung, sekarang yang tersisa hanyalah cahaya lampu yang terang.


"Verion, apa kau takut dengan kehidupan?"


Aku tidak menyadarinya sebelumnya, bahwa dia tercengang dengan pertanyaanku.


"Apa kau takut, Verion?"


Dia malah menimpali pertanyaanku dengan pertanyaan lagi. Aku memadangnya tanpa respon, dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan rileks.


"Sebagai seorang bangsawan, yang seharusnya hidup tenang dibawa perlindungan harta, tahta, nama, tapi itu membawa kegetiran dalam hidup."


"Bukankah di dunia kita semuanya selalu sikut menyikut? Dibandingkan takut, aku merasa tidak senang, dan ingin mengubahnya. Akhir-akhir ini, aku sadar, bahwa kaisar sekali pun tidak tenang di kehidupannya." Dia tertawa, tawa itu mengejek Kekaisaran.


Hal benar diucapkan Verion. Bahkan kaisar pun tidak tenang, makanya dia melakukan hal-hal busuk untuk menyingkirkannya.


Hujan berhenti, terdengar suara serangga berbunyi dengan baik, kopi kami berdua telah habis. Tanpa menginginkan camilan, kami berdua menyudahi obrolan kecil ini. Dia keluar dari kamarku, sesaat kemudian aku membaringkan diri di ranjangku.

__ADS_1


Aku ingin menutup mataku dan tertidur lelap secepatnya, tapi pikiranku terus bekerja. Sangat sibuk.


__ADS_2