
Levian telah melaporkan kejadian pagi ini. Semua kesatria heboh sendiri. Mendengar laporannya, aku hanya bersenandung cerah. Levian menatapku dengan lega, mengetahui aku dalam suasana sangat baik hari ini.
Aku telah menunggunya cukup lama. Telah kubayarkan secara lunas kepada tuan Marquis Kingston.
Levian juga meletakan beberapa pakaian di kasurku. Itu adalah bahan terbaik. Kemeja sutra kualitas tinggi berwarna putih, sutera terluarnya juga berwarna putih. Ini adalah warna yang tidak biasa digunakan oleh Akion.
Kurasa, bahkan jika dia menggunakan kombinasi warna aneh sekalipun, Akion tetap menawan.
Dua pakaian lagi berwarna lebih gelap. Hitam pekat seperti malam memang sangat cocok pada Akion, dan biru benhur yang lembut dan elegan juga cocok padanya.
"Kenapa kau belum memakainya?"
Aku menyentuh setelan berwarna hitam, sangat halus. Ini pasti akan nyaman saat dipakai.
"Saya tidak ingin merusaknya."
"Itu tidak akan rusak. Aku membelinya mahal."
"Lebih baik digunakan saat tertentu, Tuan Akion."
"Ganti. Kau meremehkanku. Kau lihat saja, kau akan bisa memakainya setiap saat dengan bangga."
Aku mengancingkan bajuku, dada bidang berotot ini menyembul dibaliknya. Levian mengangguk. Aku menggerakkan tangan menyuruhnya pergi.
"Lakukan dengan cepat."
Dia membungkuk lalu pergi.
Ukuran bajunya sangat sesuai. Garis bahu dihiasi dengan benang emas mengkilap, lalu kancing baju yang dihiasi dengan permata kecil berwarna hitam. Seperti bintang jatuh di langit yang malam.
"Anda sangat tampan, Tuan Akion."
Bastian muncul secara mendadak di belakang kita, senyumnya merekah. Di wajah tuanya, dia penuh hari. Sesekali dia mengusap matanya yang sedikit berair. Mungkin dia lega, akhirnya Sanktessy perlahan keluar dari situasi gila yang menggerogoti pikiran karna terlalu banyak masalah di dalamnya.
"Bastian, baju untukmu dan pelayanan lain juga akan segera sampai." Aku berjalan mendekatinya, kupegang bahu tuanya dengan lembut dan hangat.
"Terima kasih, Baron muda Akion." Dia tersenyum harus.
"Ini sudah menjadi kewajiban kita sebagai Tuan kalian."
Aku berjalan menjauhinya yang masih menatapku haru. Hari memang sedang indah.
Aku merasa gendang telingaku akan robek saat mereka berteriak bersamaan secara tiba-tiba.
"Terimakasih, tuan Akion!"
Mereka menunduk padaku. Suara teriakan itu menghargaiku. Mereka tidak kembali ke posisi semua. Dengan canggung akhirnya aku menyuruh mereka untuk mengangkat wajah.
Baju baru untuk mereka semua telah mereka pakai. Penampakan yang sangat rapi, wangi baju baru tercium jelas karena ratusan dari mereka memakainya.
Aku tersenyum cerah. Mendapatkan seragam saja membuat mereka sangat senang. Aku melihat mereka mengagumi seragam ini.
__ADS_1
"Ini enak sekali dipakai."
"Lihat saat aku melakukan ini." Dia menendang diudara, "Tidak robek," Tertawa lepas.
Sama sepertiku, mereka mendapatkan tiga seragam Ksatria yang digunakan pada saat berbeda.
Tidak lama Verion dan Levian muncul. Levian menggunakan baju yang sedikit berbeda dengan kesatria lainnya. Aksen bajunya menandakan dia adalah kaki kananku dan diposisi tinggi.
Dia menggunakan baju itu dengan canggung, entah karna bahagia atau merasa terbebani menggunakan baju yang bagus. Aku tersenyum kecil.
Kehidupan kesatria memang sulit. Jarang menikmati kemewahan atas usaha mereka.
Kemudian Levian mendekatiku, dia menyapaku masih dengan wajah canggung yang sama. Dibelakangnya Verion berwajah bahagia sambil melihat sekeliling.
"Sangat cocok untukmu."
Dia tersipu malu. Pemandangan yang menyegarkan.
Harzem sedang berbaring di sofaku sambil memandangi batu mana yang pernah kuberikan padanya.
Bajunya tidak rapi, tidak terkancing sebagian, dan rambut yang berantakan. Anehnya dia lebih terlihat penuh pesona. Kerutan di bajunya membuat kesan kuat yang berani.
Dia menatapku sesaat mendengar bunyi pintu terbuka. Bukan mengatakan maaf masuk ke kamarku tanpa izin, dia malah tersenyum cemerlang.
"Kau sangat tampan, Adikku."
Dia melirik bajuku, menelusuri seakan matanya bisa menembus dan menggelitik seluruh indraku.
"Kau malu?" Dia duduk dengan cepat, saat itu aku menyadari dia telah melepas kedua sepatunya. Aku memandangnya tajam.
"Mana sepatumu?"
Aku tetap berdiri, memandangnya dari atas seperti akulah disini yang kakak.
Dia tertawa kecil seperti anak-anak, "Aku melepaskannya. Sepatuku kotor, jika aku memakainya, maka kamarmu akan kotor."
Udara dingin menyentuh pipiku, gorden berkibar dengan lembut, terasku terbuka lebar. Harzem masuk kedalam kamarku seperti pencuri.
"Apakah kau melakukan sesuatu yang buruk?"
"Adikku, kakakmu ini adalah seorang terhormat."
Aku tertawa mengejek mendengar itu. Terhormat dari mana jika kau sering kali membuat menangis perempuan yang berhubungan denganmu.
"Responmu tidak mempercayai kakakmu ini." Dia membentak dengan tingkah manis.
"Jadi?"
"Oh, aku habis latihan seorang diri." Dia melemparkan batu mana kecil yang dia pegang sebelumnya, "Karena ini, aku bisa memperkuat sihirku. Bawakan aku lagi. Yang banyak."
"Aku bisa memberimu sebanyak yang kamu mau, tapi meningkatkan kekuatan ke lingkaran sihir lebih tinggi lagi tidak bisa hanya mengandalkan batu mana."
__ADS_1
Dia mengangguk, kemudian menunduk. Dia memahaminya
"Jadi, bagaimana latihanmu?"
"Begitu." Dia tidak begitu bersemangat. Rambutnya yang mencuat ke atas kemudian disisir menggunakan jari-jarinya yang panjang.
"Aku tahu kau pasti bisa melakukannya dengan baik. Jadi tetap semangatlah." Aku menepuk punggungnya lembut. Dia menatapku polos.
"Adikkut ternyata sangat perhatian kepadaku." Dia menarikku cepat dan memelukku erat, ketika aku hendak melepaskannya, Harzem memelukku lebih erat. Lalu aku membiarkannya melakukan pelukan itu.
"Baju yang kau berikan sangat pas untukku. Terima kasih." Dia menepuk-nepuk pundakku seakan mengasihiku dengan segenap jiwanya. Matanya damai, tangannya hangat setiap dia menyentuh punggungku.
"Apakah belum selesai, Harzem?"
"Ah, kau mengacaukan momennya." Harzem melepaskan pelukan itu, memandangku hangat tampak seperti ayahku.
Pada saat itu aku melihat luka-luka kecil di tubuh dan wajahnya. Harzem sangat menyukai wajahnya, mungkin dia akan kesal melihat luka yang ada di wajahnya.
Bukankah sebagai seorang penyihir dia tahu, jika luka tidak akan bisa dihindari jika terjadi.
"Oh ya, kami membuat satu ramuan." Dia tertawa renyah saat menjatuhkan dirinya lagi di atas sofa. Ramuan apa yang membuatnya senang begitu.
"Itu adalah ramuan pemikat. Itu sangat bagus jika diberikan untukmu."
Akhirnya aku tahu arti tertawanya. Dia sedang mengejekku. Aku tidak membutuhkan ramuan hanya untuk memikat.
"Bagaimana cara kerjanya?" Tapi aku bertanya karna penasaran.
"Ah! kau tertarik. Ramuan itu dapat mengikat Ogre."
Aku menjitak kepalanya, leluconnya keterlaluan. Menyamaiku dengan Ogre. Apakah dia sungguh ingin adik ipar seorang Ogre?
"Kau keterlaluan, Akion." Dia mengusap kepalanya yang sakit, "Kau yang menyimpulkan sendiri."
Sayangnya, itu benar.
"Bukankah itu memang sangat cocok untukmu untuk menumpas Ogre dengan sekali serang. Jadi, kerusakan tidak berarti tidak diperlukan, bukan?"
Wajahnya masam masih tidak terima dengan jitakanku.
Tapi, apa yang dia katakan itu benar, menghemat waktu, serangan, dan kekuatan. Paket yang menarik.
Dia mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebotol ramuan berwarna hijau pekat seperti rawa kotor berukuran kecil.
Aku duga itu pasti ramuannya.
Aku benar, Harzem memberikannya di tanganku. Itu adalah ramuan yang cukup susah dibuat tampaknya.
"Itu hanya contoh."
"Kita harus mengujinya, kan?"
__ADS_1
Aku mengingat sesuatu, ini akan menjadi sesuatu yang lebih baik.