
"Renia awas!"
Bugh!
Aku menangkap kursi itu. Teriakan Tanka dan perasaanku yang tajam berhasil menghentikan kursi itu mengenai Renia yang asik memakan makanannya.
Siapa yang berani berbuat seperti ini?!
Aku meremas kursi besi itu hingga penyok. Bukan hanya Renia saja yang kaget di sana, tapi orang-orang yang memperhatikan juga.
Mata mereka bergetar, berpendar dengan rasa takut. Auraku keluar karena marah.
"Akion, kontrol dirimu. Renia dalam bahaya jika kamu begini...."
Tanka menenangkanku, bagi orang biasa, Aura adalah racun.
Wajahnya pucat, dia kesulitan bernapas. Aku menghilangkan aura itu secepatnya. Memperhatikan Renia telah bernapas dengan baik, dan wajahnya tak sepucat tadi, aku merasa lega.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku dengan perasaan bersalah.
"Aku baik-baik saja, kak." Dia melihat tanganku yang memegangi kursi, "Kakak baik-baik saja?"
Satu-satunya yang tidak baik-baik saja adalah dirimu, Renia. Kau tidak perlu mengkhwatirkan kakakmu yang hampir membunuhmu dengan aura.
Setelah aku menghirup napas pelan, aku menjawab pertanyaannya dengan tersenyum.
"Kakak baik-baik saja."
Lalu, aku mengamati lebih detail apa yang sedang terjadi sekarang. Kenapa bisa kursi ini melayang ke arah Renia? Ekspresi tidak senang, aku marah melihat sekumpulan pria berotot di seberang tempat kami makan.
Tiba-tiba, seorang pria bertubuh besar dengan luka di pipi kirinya mendatangi kami. Dia tersenyum percaya diri. Di pinggang bagian kirinya, sebuah pedang bergelantung, dan dia memamerkannya dengan bangga.
Mari kita lihat.
"Siapa nona manis di sini?"
Dia mengincar adikku dengan sombong, membuat aku tidak tampak di pengelihatannya. Seorang perempuan muda tersungkur di hadapan mereka, mereka memperlakukannya secara tidak hormat. Seorang pria lainnya kulihat sedang tergeletak tidak berdaya. Aku memahami situasi ini, dan merekalah sumber masalahnya.
Tanganku menarik kursi Renia mendekat padaku. Tangannya yang hampir menggapai Renia berhenti. Wajahnya berubah mengintimidasi, sorot matanya penuh dengan merendahkan.
Kontrol diri. Itu yang sedang kuusahakan.
Aku sudah mengubah raut wajahku menjadi seram, tapi dia begitu arogan tidak ingin mundur, walaupun dia ketakutan dengan tubuh gemetar.
Alih-alih berlari dari sini, dia mengayunkan pedangnya padaku. Kututup mata Renia cepat. Hal mengerikan tidak pantas untuk dia lihat.
"Jangan buka matamu sampai kakak menyuruhmu."
Renia menurut.
Pedang yang diayunkan patah. Dia kaget, matanya bulat sempurna. Sungguh sial baginya telah salah memilih lawan.
Dia terjatuh karena takut, teman-teman yang sebelumnya berada di belakang mendekatinya dengan perasaan yang enteng.
"Kenapa kau jatuh? Hahaha, apa kakikmu berubah menjadi spons." Mereka mengejeknya.
Orang itu matanya tidak fokus, dengan tubuhnya yang gemetar dia masih berusaha untuk kabur dan menyelamatkan diri.
Beberapa kali dia terjatuh, dan itu malah menjadi ejekan teman-temannya. Mereka menantangku. Aku berpindah cepat, pukulan menghantam perut pria bermuka congkak yang tertawa itu.
Bugh!
Dia terpelanting, sekarang tampaknya mereka sadar orang seperti apa yang mereka lawan. Dengan sikap tidak sadar diri, mereka mengeroyokku. Pukulan dan pedang melayang ke arahku, tapi satu pun tidak berguna.
Mereka terlempar, darah menghiasi mereka. Tubuh mereka remuk sesaat mereka menghadapiku. Semua teriakan keras terdengar dari mulut-mulut mereka dan meminta ampun.
__ADS_1
Orang-orang hanya memperhatikan dengan suasana yang mencekam. Pria yang kabur itu, kulemparkan pedang ke arahnya, dan itu menembus betisnya. Teriakannya yang memekakkan telinga, memenuhi malam yang seharusnya indah ini.
Sungguh orang-orang tidak berguna yang merugikan orang lain. Aku memejamkan mata sebentar, kontrol diri. Itu penting. Aku tidak ingin membunuh mereka.
Aku berdiri di hadapan Renia agar pemandangan seram di depannya tidak terlihat. Tanpa perintahku, Tanka bahkan memberikan sihir isolasi agar Renia tidak mendengar teriakan yang mengerikan.
"Ada apa ini?!" Seseorang berteriak. Langkah kaki yang berat dan ramai, suasana berubah menjadi lebih ringan dari sebelumnya.
Aku mendengar perempuan yang tersungkur sebelumnya menjelaskan pada mereka tentang situasi yang terjadi. Suara mereka tidak percaya dan sedikit ada kemarahan di dalamnya.
Aku berbalik menghadap mereka, wajahnya berubah menjadi pucat. Mereka sungguh terlambat dalam merespons masalah.
"Selamat malam, Tuan Akion."
Tampaknya dia yang berbicara tadi adalah pimpinan pengaman.
Aku tidak menjawab salamnya, hanya memandangi dengan ekspresi yang mengatakan beginikah kalian kerja?
"Apa kalian tidur?" Suaraku tenang dan berat. Mereka menyadari bahwa aku marah.
"Tuan Akion katanya?" Suara bisik-bisik terdengar tidak percaya.
"Bukankah itu anak Baron Sanktessy, dan seorang swordmaster termuda, kan?"
"Seharusnya kita tahu sejak tadi...."
"Lihat, rambut dan warna mata emasnya... siapa di sini yang mempunyai ciri khas indah seperti itu?"
Mereka membicarakanku. Sedetik aku membuang napas, saat mereka akan membuka mulut untuk mengatakan keteledorannya dalam menjaga keamanan.
"Seret mereka dari sini."
Aku perintahkan cepat agar Renia tidak melihat hal mengerikan seperti ini. Pimpinan itu memberikan perintah pada pasukannya, mereka membawa penjahat itu dengan diseret kasar.
"Apa kau menganggap enteng keamanan?"
"Aku tidak tampak sedikitpun batang hidung kalian hari ini." Aku menatapnya tajam.
Udara dingin menusuk tubuhnya yang berkeringat banyak, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Maafkan saya, tuan Akion. Tapi masalah seperti ini tidak pernah terjadi."
"Jadi kalian menganggapnya enteng?"
Aku menyentuh keningku yang sedikit berkerut. Kulihat Renia sedang memakan roti yang baru selesai dipanggang, atas perintahku tadi. Seharusnya aku membawa Nami juga tadi.
Renia tersenyum padaku, memberikanku waktu untuk menyelesaikan masalah. Dia lebih dewasa dari umurnya, dibandingkan merengek, dia mengerti situasi yang terjadi.
Bahkan ekspresinya tadi khawatir padaku. Mengingat berapa kali aku diserang oleh orang-orang gila yang berani mendatangi mansion kami.
Aku memanggil perempuan tadi dengan menggoyangkan tangan. Lukanya sudah diobati, dia jalan dengan tertatih.
Aku memandang sekali ke arah ketua keamanan itu, mengancamnya dengan tatapan jika dia berani mengganggu intropeksi, kupastikan dia akan menyesal.
"Nona, apakah masalah seperti tadi sering terjadi?"
Dia meremas roknya, "lya, Tuan Akion."
"Seberapa sering?"
"Cukup sering, Tuan Akion."
"Kenapa tidak melaporkannya?"
Dia memandangku dengan berani, "Tuan Akion, kami sering melaporkan hal ini. Tapi mereka bilang, mereka telah menangani hal ini dan penjahat akan selalu ada." Bibirnya bergetar.
__ADS_1
Aku melupakan satu hal, bahwa tempat terdekat dengan keluarga Sanktessy pun belum tentu aman. Tampaknya mereka bahkan membuat sarang disini.
Aku memandang ketua keamanan itu.
"Apa kau menganggap main-main Kesatria Sanktessy?"
"Kenapa kau mengatakan penjahat selalu ada? Jika memang begitu, kalianlah yang harus bekerja lebih keras lagi."
Dia menunduk, tatapan membunuhku tidak sanggup untuk dia hadapi.
"Aku akan mencopotmu dari jabatanmu. Sekarang pergilah dari hadapanku sebelum aku menjadi sangat marah."
Dia berjalan terhuyung, semua energinya telah terserap dalam percakapan yang menakutkan ini.
Bertambah satu pekerjaan lagi, mencari asisten yang kompeten untuk hal ini semua. Kepalaku berkedut tidak karuan.
"Tuan Akion, Terima kasih sudah menolong saya." Perempuan itu belum pergi, dia membungkukkan badannya untuk berterima kasih padaku.
"Tidak. Itu sudah kewajibanku, nona. Maafkan kelalaianku mengatur mereka. Kupastikan semuanya akan membaik." Aku tersenyum untuk menenangkannya. Tapi senyuman tulus itu membuat dia sepertinya jatuh hati padaku, pipinya merona seperti bunga mawar, gerakan tubuhnya berubah menjadi centil.
"Jika Tuan Akion mau, anda bisa mampir ke kedaiku. Di sana banyak alkohol yang cukup enak, tuan Akion."
"Jika itu sesuai selera anda."
Oh tidak... aku tidak ingin dia merayuku. Wajahnya memang cukup manis, tapi tolong pahami situasi bahwa aku di sini bersama adikku. Aku juga tidak menginginkan hal itu, apa lagi aku lemah pada alkohol. Bisa-bisa aku yang lemah ini terpedaya olehnya dan melakukan hal yang sangat kuhindari.
"Tidak, Terima kasih. Aku di sini untuk bersenang-senang bersama adikku," jelasku singkat.
Dia mendongakkan kepalanya memandang Renia yang tersenyum ke arahnya sambil mengunyah roti.
"Kakakku tampaknya orang yang terkenal di kalangan wanita." Entah berapa kali Renia mengatakan hal itu dengan wajah yang kesal.
"Mungkin, kak Akion bisa menjadi playboy seperti kak Harzem."
"Ha ha...." Aku tertawa lirih.
Buat apa aku menjadi playboy, kesamaan satu lagi antara aku dan Akion. Kami jomblo sejak lahir. Karena Akion terlalu sibuk dalam bekerja, dia tidak pernah melirik perempuan manapun, dan perempuan manapun saat mendengar nama Akion akan takut.
**
Menurut rumor, Akion adalah orang yang sangat menyeramkan. Yang bisa menebas siapa pun orang yang berhadapan dengannya. Wajahnya kasar, dan penuh luka.
Kebanyakan dari mereka tidak pernah bertemu dan menyapa Akion. Jadi, itu hanyalah sekedar rumor. Akion adalah pria rupawan dengan ekspresi kaku mematikan. Itulah masalahnya.
"Bukankah wanita itu cantik?"
Renia, tolong hentikan pembicaraan ini. Kenapa kau selalu menyinggungnya?
Aku hanya merespons dengan tertawa masam.
"Benar, Akion. Dia wanita yang cantik. Jika kau menerimanya, kau bisa melakukan ini dan itu."
Apa yang diharapkan oleh Tanka, sih?
Aku meliriknya tajam, perkataan yang menyebalkan. Aku tidak serendah itu.
"Kakimu tidak capek, Renia?"
Aku mengalihkan topik pembicaraan. Kami telah berjalan cukup lama, seorang gadis kecil walaupun menggunakan hak yang datar pasti dia merasa kelelahan, kan?
Dia menyentuh kakinya dengan cara yang manis.
"Sejujurnya, aku baru merasakannya, kak."
Mengatakan dengan cara yang sangat manis membuatku tersenyum.
__ADS_1
Aku menggendong Renia dengan enteng. Kami meninggalkan festival yang meriah ini, tidak lama Renia terlelap dalam pelukan tanganku.
Nami menyambut kami saat melihatku membawa Renia yang tertidur, dia perlahan membangunkan nona mudanya untuk menukar baju tidur, karena baju itu tidak nyaman.