Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Hadiah Indah Tapi Kejam


__ADS_3

Pada hari-hari berikutnya yang kami lalui dengan banyak drama.


Pada pagi cerah, dan sinar matahari tidak sepanas seperti biasanya.


Ini menandakan musim dingin akan tiba.


Memang cukup aneh menurutku, di tanah gersang sekalipun musim dingin berlangsung. Sedikit berbeda pada wilayah lain, tapi yang namanya musim dingin ya musim dingin.


Orang-orang di Sanktessy biasanya hanya menambahkan syal saja di leher mereka saat musim dingin. Bagi mereka, wilayah Sanktessy bukanlah wilayah terdingin. Jika daerah lain akan menunjukkan suhu hingga -30°c, maka titik terendah suhu Sanktessy hanya 2°C.


Mengenai hal itu, ini telah mendekati masa keberangkatanku ke ibu kota Kekaisaran. Kereta kuda yang aku gunakan telah diperbagus, dan diperhatikan dengan detail.


Pada hari ini, kiriman dari Marquis Kingston datang lagi. Kiriman ini datang bersama orang kepercayaannya Aries.


"Kita bertemu lagi, Tuan Akion."


Dia menatapku tenang, walaupun begitu dia


memperhatikan sekitar. Pada ruangan yang kutempati, Willian baru saja masuk duduk di kursinya.


Aku tahu, bahwa tidak biasa bagi seorang tuan berada di satu ruang kerja yang sama dengan pekerjanya. Tapi kami kekurangan ruangan. Jadi untuk sementara waktu itu tidak masalah menurutku.


Aku mengangguk.


Keluarga kami sekarang adalah mitra dalam bisnis yang diketahui semua orang. Mengirimkan pesanan kusen bukanlah hal yang harus dirahasiakan dari Willian.


"Pesanan anda semuanya telah selesai." Dia memberikan kotak yang dipegangnya padaku.


Di dalamnya terdapat kotak lainnya yang berukuran kecil.


Aku membuka semua kota itu. Tujuh bros, satu kalung, satu gelang, dan satu berukuran kecil, semuanya sesuai dengan pesananku.


Ini diukir dengan baik, batu mana yang menempel pada rangkanya bersinar lebih terang dibandingkan dengan terakhir aku melihatnya. Sedangkan, jepit yang kuminta, ini sangat sesuai untuknya.


Masing-masing punya detail yang sangat hebat.


Apa ini dibuat oleh elf, atau ini buat oleh drawft?


"Itu teknik yang digunakan para Elf."


Seakan mampu mengetahui isi pikiranku, Aries mulai menjelaskan.


"Tidak semua Elf mengurung diri mereka dari dunia luar. Elf daerah utara membuka diri untuk bekerja sama."


"Ini adalah hal yang bagus."


Aku memutar-mutar jepit yang kupegang.


"Jika anda menginginkannya lagi, anda bisa memesannya kepada kami."


Aku menutup kotak itu, dan menatapnya tersenyum seperti anak anjing.


"Akan kupikirkan."


Aries tidak banyak mengambil waktuku, dia tahu aku sedang terburu-buru menyelesaikan tugasku.


Beberapa menit setelah dia menghilang, punggungku terasa memanas karena terlalu lama duduk dengan posisi yang sama.


Aku mengganti posisi dudukku


"Apa kau ingin melihat apa yang diberikan olehnya tadi?”


Dia mengernyitkan keningnya lagi, keringat muncul di keningnya. Ini sudah di luar kapasitasnya lagi. Jantungnya berdetak lebih kencang, tubuhnya mengantisipasi hal lain apa yang akan kulakukan padanya.


Aku senyum setulus mungkin padanya.


Menjadi Baron yang sehangat matahari, itulah keinginanku.


Aku tidak terlalu menyukai tatapan predator Akion. Tapi itu selalu berhasil untuk membuat orang lain gemetar, dan jatuh dalam intimidasinya.


"Saya tidak menging-"


Dia berhenti


Dia berhenti mengatakan apa yang ingin dia katakan dan menangkap apa yang kulemparkan padanya.

__ADS_1


"Tuan Akion!"


Suaranya sedikit meninggi.


Ketika aku menatapnya seolah aku memprotes nada bicaranya, dia menutup mulutnya tergesa-gesa.


"Ini adalah barang berharga. Bagaimana anda bisa memperlakukannya begitu?"


Dia merendahkan suaranya.


"Bukankah itu bagus?"


Aku mengubah topik pembicaraan sesukaku, sejujurnya, entah kenapa aku suka menjahilinya dibandingkan yang lainnya.


Ingatanku kembali saat dia melaporkan pada Bastian bahwa aku belum istirahat sejak satu hari lalu. Akhirnya Bastian memaksaku untuk tidur, dan membuat jadwal yang kuatur sedikit terlambat karena laporan Willian.


Dia menghela napas panjang.


Aku tidak peduli dia menggunakan wajah poker face-nya di depan orang lain, tapi saat bersamaku, itu sedikit menyebalkan. Mengingatkanku pada wajah kaku Akion.


"Ini bros yang sangat cantik, dan menawan. Anda harus menjaganya, Tuan Akion."


Aku mengangguk.


"Jika kau menjatuhkannya tadi, aku berniat memotong satu tanganmu."


Dia menelan ludah, dan berjalan dengan hati-hati padaku, kemudian dengan penuh perasaan menyayangkan tangannya, dia meletakan bros itu pada kotak yang kosong.


"Baiklah, kau aman di sana," bisiknya kecil.


"Kau harus mengenalku dengan baik, Willian." Aku berkacak pinggang melihatnya.


"Aku bukan seorang tiran yang hobi menyiksa orang lain."


Ekspresinya bicara kalau aku memberi tahu kan omong kosong.


"Hahaha, sudahlah. Kau ke laboratorium, dan katakan bahwa semua tim Laboratorium diminta ke ruanganku."


"Baiklah Tuan Akion. Saya permisi."


"Kenapa kau memanggil kami Akion?"


Di depanku telah ada Harzem , Tanka, dan Eli. Setelah menyampaikan pesanku, aku mengusir Willian keluar. Aku izinkan dia untuk tidur siang sebentar, atau makan, atau mencari angin segar.


Dia menurut tanpa penolakan.


"Aku mempunyai hadiah untuk kalian semua."


Wajah sombongku membuat mereka penasaran. Kesan pertama itu penting untuk menciptakan kejutan.


Nah, mata mereka mengarungi ruangan, dan kotak kayu yang kupegang membuat mereka semakin penasaran.


"Kalian harus merasa terhormat menerimanya sebagai orang pertama."


tanpa basa basi aku membuka sebuah kota berisi bros yang berkilau.


"Bagaimana menurut kalian?"


Harzem mendekati seperti anak kucing yang mengibaskan ekornya. Bahkan dari jauh dengan intuisi mereka bertiga, mereka tahu apa yang tertanam di bros ini adalah sebuah batu Mana.


Harzem menyentuhnya, keningnya mengernyit, protes karena elemen yang dibuat berbeda dengan elemennya. Ini hanyalah untuk promosi saja. Dibuat dengan sangat cantik dan menyolok agar saat orang yang menggunakan bros di pergaulan atas, secara natural mereka akan menjadi pusatnya.


Mereka akan menyaksikan sendiri tentang kualitas, energi, dan keindahannya. Aku memang telah menciptakan ombak ketika melakukan pelelangan. Namun, ombak bisa


menghilang karena karang yang menghalangi. Maka kuciptakan riak, walaupun kecil tapi akan menyebar lebih luas dari ini.


Bukankah, tidak semua dari mereka mengetahui hal ini?


Beberapa berita bahkan mengatakan kami telah memanipulasi.


Tentu aku tidak ingin memberikan hal cantik yang telah aku buat ini pada semua orang, sehingga aku membuatnya terbatas dan hanya pada orang yang pantas.


"Pakailah. Batu Mana kecil itu tidak akan menyakitimu."


Wajahnya yang sedikit cemberut akhirnya menuruti keinginanku.

__ADS_1


Sedikit rasa kecewa tidak menghilangkan senyum dan sikap ramahnya, dia memelukku sekali dengan tersenyum.


"Terima kasih atas hal yang dibuat dengan teknik tinggi ini, Akion. Ini adalah aksesoris termewah yang pernah kupakai."


Kenyataannya jelas, bahwa kami selalu menyederhanakan penampilan agar tidak membuang uang.


Lalu, kedua gadis di depanku memandangku secara bersama, apakah mereka hanya dekorasi?


Aku mengambilkan dua kotak yang ukurannya berbeda. Sebuah kotak besar untuk Eli, dan sebuah kotak kecil untuk Tanka. Tanpa mempertimbangkan apa pun, mereka membuka kotak dengan cepat.


"Waw, ini sangat cantik."


Tanka mengagumi jepit yang dia pegang. Jepit itu sangat pas di kepalanya yang mungil.


"Kau sangat cocok menggunakannya. "


Aku menatapnya dengan senyum cerah. Seorang gadis menyukai hal berkilau yang terlihat mewah.


Tapi gadis di sebelahnya menatap cukup lama, memandangi apa yang telah kuberikan dengan kediamannya.


"Ada apa, Eli?"


Dia memandangku, dan tersenyum kecil dipaksakan, "Ini adalah gelang yang sangat cantik. Sungguh."


"Lalu?"


"Akion, sejujurnya aku lebih menyukai Peridot."


Aku merasa sedikit kecewa akan hal itu, dua orang tidak begitu menyukai apa yang telah kubuat dan pikirkan untuk mereka.


Melihat wajahku yang sedikit kecewa, Tanka mendatangiku dan menggeleng. Di wajahnya dia memintaku untuk tidak membahas masalah ini lagi di depan Eli.


Aku menutup mulutku. Menelan rasa kecewa, dan setelah itu dua orang tersebut pergi.


"Maafkan sikap Eli sebelumnya, Akion."


Untuk kali pertamanya, Tanka membela Eli. Sudah jelas dia mengetahui alasan kenapa Eli melakukan hal seperti itu, yang kurang berkenan padaku.


"Sebenarnya Eli sedikit mempunyai trauma pada batu Mana merah."


Dia menggaruk tengkuknya. Hal yang akan dia jelaskan membutuhkan pertimbangan.


"Keluarga Eli itu dibantai oleh seorang penyihir api. Siren yang di lautan yang menurutnya akan membantunya, nyatanya tidak."


Sekarang aku mengerti kenapa Eli sangat misterius mengenai keluarganya. Dia menutup semua lukanya dengan bersikap seolah tidak terjadi apa pun.


"Apa kau tahu bahwa Eli ada keturunan Siren tingkat tinggi? Seperti manusia, siren mempunyai tatanan sosialnya sendiri," lanjut Tanka.


"Tidak semua air mata siren bisa berubah menjadi mutiara, tidak semua siren mempunyai kemampuan menarik yang mumpuni."


Dia menceritakan hal sedih itu dengan baik. Membuat rasa bersalahku memeluk dingin hatiku. Ini sesuatu yang kejam.


"Di atas itu semua, keluarga Eli mempunyai semua kemampuan unggul tersebut. Akion pasti memahaminya, bagaimana saat rasa iri orang lain begitu besar hingga ingin menyingkirkan yang lainnya."


Faktanya bahwa hal itu benar. Sebuah kebusukan dari manusia yang kehilangan jati diri mereka. Mereka lebih buas dari binatang.


Eli cukup hebat menyembunyikan lukanya, Setiap hari dia selalu tertawa dengan ringan, seperti dia menghilangkan kewaspadaannya. Dekat dengan manusia adalah hal yang berat padanya.


Jika bukan karena Caesar, aku meyakini bahwa Eli sampai kapan pun tidak bisa memaafkan manusia. Untuk penyihir api yang membakar seluruh keluarganya, aku sungguh tidak menduganya. Wajar Eli selama ini mengabaikan Verion, ternyata itu adalah sikap baik hatinya.


"Aku mengerti, Tanka."


Ini menyedihkan, sulit menerima gelang Mana-ku hanya seberat bulu jika dibandingkan dengan alasan Eli kurang menyukai hadiah tersebut.


"Seharusnya aku yang meminta maaf padanya. Apa kau tidak akan iri jika aku memberinya hadiah lainnya?"


"Jika kau berjanji untuk mengizinkan aku memberi nama saat telur mistik itu menetas."


Aku menimbang masalah itu. Sejujurnya aku lebih menyukai memberi nama milikku sendiri.


"Aku akan memberi nama yang pantas, yang akan kau setujui saat mendengarnya."


"Baiklah."


Aku menyerah pada perdebatan ini.

__ADS_1


__ADS_2