Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Pilihan Terbaik


__ADS_3

"Tuan Akion dan Tuan Verion tidak ada di tenda!"


Seorang kesatria berlari panik menyampaikan pesan kepada Ksatria lainnya.


Hal itu membuat mereka langsung buru-buru ingin memastikan apa berita itu benar. Tapi, kemudian aku dan Verion muncul di hadapan mereka dengan wajah polos.


"Kami disini."


"Anda dari mana, Tuan Akion?" seorang kesatria tadi yang menyampaikan berita hilangnya aku memelas saat bertanya.


"Mencari angin segar." Alasanku yang sulit mereka Terima. Saat memandangi bungkusan besar yang kubawa.


Aku meminta mengumpulkan warga. Setelah dua puluh menit, warga berkumpul, aku membuka bungkusan besar yang kubawa tadi.


Sebuah kepala ular terlihat. Perempuan kemarin yang menjelaskan padaku menunjuk dan histeris.


"Itu kepala ular monster yang kulihat kemarin. Kau tahu aku tidak berbohong." Dia berteriak pada pria di sampingnya.


"Tenanglah..." pinta pria tersebut.


Setelah semuanya menenangkan, aku menjelaskan apa yang terjadi pada mereka. Tidak seluruhnya aku hanya mengatakan bahwa ada ilmuwan gila dan mereka dalam bahaya.


"Jadi, harus bagaimana kita? Kita tidak ada tempat untuk menetap, dan tanpa makanan...."


"Orang-orang sedang sakit... bagaimana ini ...?"


"Tuan tidak bisakah anda membantu kami sekali lagi? Mengalahkan mereka?"


"Tidak sopan. Apa kalian berpikir .tuan Akion adalah pengawal kalian?"


Aku menatapnya, dan menyuruhnya untuk berhenti.


"Maaf, aku tidak bisa. Aku ada urusan mendadak yang tidak bisa kuhindarkan."


Wajah mereka menggelap, mereka putus asa.


"Kenapa kalian tidak ke daerah Duke Lexier saja, kurasa dengan kekayaannya yang banyak, dia mau menampung kalian."


Mereka diam, itu adalah sebuah khayalan yang terlalu tinggi untuk mereka.


"Jika kalian tidak mau, kalian bisa ke daerah yang lebih hangat dan jauh dari sini. Ini pilihan kalian, aku tidak tahu bagaimana cara kalian membawa orang yang sakit dan lainnya. Jika kalian mau, kalian akan berusaha dan menuju ke tempat yang kuberi tahu."


Mereka memandangku cemas.


"Datanglah ke Sanktessy, mereka akan membantu kalian walaupun tidak mewah. Dan jangan buat kekacauan di sana."

__ADS_1


Mereka tampaknya meragukan hal itu. Apalagi Sanktessy terkenal gersang dan miskin, namun demi keselamatan dan seorang tuan tanah mau menerima mereka, adalah sebuah kebaikan yang sangat besar.


"Berikan surat ini pada penjaganya. Mereka akan memahaminya. Jika kalian tidak mau tidak apa, karena pilihan ada di tangan kalian." Aku menekankan sekali lagi.


Perempuan yang sebelumnya mengambil surat tersebut.


"Kami mau tuan. Ini adalah kebaikan yang sangat besar. Terima kasih. Kami akan membalas anda suatu saat nanti."


Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kembali. Di dalam kereta kuda, Tanka memprotes tindakanku yang terlalu baik hati.


Aku hanya tersenyum tipis.


"Menerima mereka bukankah akan merugikan Sanktessy, Akion?" Verion yang sedari tadi mandangiku akhirnya bertanya juga


"Tidak apa. Aku telah menjadi orang kaya." Aku tertawa kecil menganggap hal ini sepele.


"Tapi kau tahu mereka akan sulit untuk diatur."


Aku memahaminya, bahwa masalah pengungsi adalah sesuatu yang kompleks. Memang ini bergerak karena sifat kemanusiaan kita, tapi para pengungsi sering membuat masalah. Meminta hak yang sama seperti warga, bertindak seenaknya, tidak mau diatur. Itulah alasannya aku menuliskan dengan tegas, jika mereka tidak ingin diatur dan membuat masalah, usir mereka.


"Percaya padaku, Verion. Apa kau tidak lega dengan keputusanku? Kupikir kau akan senang."


"Aku memang lega mereka terbantu, Akion. Tapi menampung mereka di wilayahmu disaat baru bangkit adalah sesuatu yang akan menyulitkan."


Aku tersenyum menatapnya. Dia memikirkan kami.


"Lalu, tolong lepaskan telur mistikku. Aku akan memberinya makan."


Ketika mengatakan itu, wajahku sedikit aku masamkan dengan cara yang manis.


Dia tidak marah, malah tersenyum dengan ceria. Beberapa detik dia menahan telur mistik itu dalam pelukannya sebelum aku mengancam untuk menyuruhnya berjalan hingga Vernanses.


Dia menyerah.


Lalu telur itu ada di pangkuanku dengan nyaman. Sejujurnya sejak Verion mengetahui tentang telur mistik ini, Tanka sering marah padaku, karena waktunya dengan sih telur berkurang.


Aku memeluknya lembut, telur itu kuberi auraku, semakin lama auraku semakin padat menyelimuti telur.


Dia akan kenyang jika begini.


**


Kami tiba di bagian terluar wilayah Duke Lexier. Wilayah paling pinggir Duke Lexier ini bahkan tidak bisa dibandingkan dengan wilayah pusat Sanktessy.


Mereka terlihat sangat bagus. Desa yang hangat, bersih, dan terawat. Orang-orang sibuk melakukan kegiatannya. Ada banyak toko roti, dan cafe.tempat ini seakan ibu kota di wilayah Sanktessy.

__ADS_1


Kami hanya akan membeli perbekalan, dan istirahat sebentar di sini. Orang-orang yang menawarkan penginapan pada kami, kami tolak.


"Setelah membeli perlengkapan, kalian boleh membeli yang kalian inginkan dan berjalan-jalan santai. Aku beri kalian waktu empat jam. Jangan sampai ada yang terlambat."


Mereka memahaminya, dan setelah aku berpaling mereka berkumpul untuk menentukan tugas-tugas mereka.


"Kau mau ke mana, Akion?"


"Ke toko buku," jawabku santai.


"Aku ikut." Dia mengikutiku seperti anak kecil.


"Kau ingin membeli buku juga?"


"Ya, ternyata novel romance untuk mengisi waktu tidak buruk juga."


Dia tersipu malu, seorang pria menyukai romance adalah hal yang tidak biasa. Tapi itu sesuai dengan sifatnya yang lembut, dan melankolis. Akan sangat beruntung wanita yang mendapatkan Verion, karena dia telah banyak belajar dari novel romance yang dia baca.


"Ah, kalian berdua menyukai novel Romance. Melihat tubuh kalian yang besar, itu agak menggelikan." Ekspresinya mengejek.


Orang yang pertama kali memberikanku novel Romance adalah Bastian. Dia mengatakan padaku untuk membacanya dan memahami bagaimana menjalin hubungan antara perempuan dan pria. Setelah membacanya, aku menarik kesimpulan bahwa itu merepotkan.


Jadi, salah jika Tanka menganggap aku menyukai novel romance. Itu hanya terbawa karena aku mengingat ocehan Bastian.


Malah, sebagai gantinya, Bastian mendapatkan anak lain yang mungkin memahami keinginannya, memahami bagaimana menjalin hubungan yang mendebarkan. Mata Verion antusias.


Kami tiba di toko buku.


"Selamat datang di toko buku yang sederhana ini, Tuan."


Pelayanan toko menyambut kami.


Sebenarnya, toko ini tidaklah sederhana seperti yang dia katakan. Satu gedung tingkat tiga seluruhnya adalah toko buku. Itu toko yang besar. Menurutku sederhana disini tergantung oleh wilayahnya. Jika di wilayahku, maka ini akan masuk kategori mewah.


Aku mengambil buku herbologi berbagai judul, buku sihir, buku ramuan, buku tentang alam disini, buku tentang makhluk mitologi, dan yang terakhir tentang dewa-dewa dan keturunannya-Saintess.


Jangan tanya tentang Verion, dia telah membeli hampir dua puluh novel romance dengan judul yang menggairahkan. Dia sangat menyukainya.


Kurasa jika dia jatuh cinta pada seorang gadis, maka saat itu juga dia bisa melamarnya dan langsung menikah.


"Terima kasih. Silakan datang kembali lagi, tuan."


Wajah pelayan itu cara melihat buku yang ada di toko mereka diborong dan keping emang ditangannya.


"Mari kita makan, Akion."

__ADS_1


Dia berhenti disalah satu cafe berwarna coklat. Aku menurutinya.


__ADS_2