Bangkitnya Sang Ahli Pedang

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Ayahku Adalah Ayah yang Hebat


__ADS_3

Aku menghabiskan wine di gelasku. Setelah sampai di Veranses, Verion akan menggunakan kereta kuda keluarganya sendiri. Ini akan menjadi debutnya pertama kali. Orang-orang akan sangat penasaran siapa penerus Marquis yang selama ini disembunyikan.


Apa dia sangat rupawan hingga orang lain akan buta saat menatapnya? Apa dia orang yang sangat kuat? Apa dia orang yang berpengaruh yang selama ini bersembunyi dengan nama palsu? Atau dia hanya seorang anak haram yang baru dikeluarkan karena tak memiliki penerus?


Para bangsawan akan menduga-duga makalah yang benar dari perkiraan mereka. Dalam sosialita bangsawan pikiran skeptis merendahkan adalah hal biasa untuk tetap menjaga posisimu.


Maksudku, siapa yang ingin berada posisi rendah, payah seperti Santessy dulu?


"Kita akan berada di kereta yang sama untuk waktu yang cukup lama, Verion."


Ketika aku tersenyum, dia membalasku dengan senyum tulus dan menghormati.


"Itu hal yang sangat menyenangkan. Apalagi selama ini aku tidak punya teman seumuran."


"Hahaha, berarti kalian sama. Kau lihat wajah Akion, Orang -orang menghindarinya." Ayahku menjelaskan seolah aku tidak ada.


"Wajah Akion tampan, dan dia ramah. Orang-orang malah akan jatuh cinta padanya."


Sejujurnya perkataan Verion tersebut membuatku malu.


"Ya sekarang, jika dulu, mereka akan menghindarinya," keluh ayahku.


"Ehm, kita membicarakan tentang perjalanan, bukan tentang wajahku."


"Kenapa, Kak? Bukankah wajah kakak memang tampan?" Renia menyentuh lengan bajuku, dan memasang wajah manis dengan kedua pipi penuh dengan makanan.


Aku mengelap noda di sudut bibirnya.


"Masalah ketampanan akulah pemenangnya."


Harzem meninggikan hidungnya dengan bangga. Banyak gadis telah mengakuinya, jadi dia percaya diri dan yakin dia tidak akan kalah pada penampilan dan memikat.

__ADS_1


Lagian, ini bukanlah sebuah kompetisi. Aku mengabaikan Harzem, tapi ayahku menggelengkan kepala, sikap Harzem yang terlalu percaya diri sering kali membuat masalah.


"Baiklah. Bukankah kalian harus mempersiapkan diri untuk keberangkatan dua hari lagi?"


"Aku telah siap, Ayah."


"Saya juga, Baron."


Suasana di ruang makan sedikit berubah. Jika orang mengatakan pertemuan tahunan yang dilakukan di Kekaisaran seperti debut, tapi nyatanya tidak.


Pada saat itulah mereka akan mencoba menjatuhkan.


Apalagi aku belum mempunyai gelar Baron. Setidaknya ada sedikit kewaspadaan pada mereka mengenai Sanktessy pada tahun ini. Bagaimana kaisar akan menempatkan kami semuanya akan berpengaruh pada berjalannya kekaisaran.


Bahkan Verion merasa khawatir, jika orang-orang berusaha menyingkirkannya. Lalu aku telah mengatakan, kami akan menjadi teman yang mendampingi.


Dengan begitu, mereka akan berpikir berkali-kali lipat bahkan untuk mencoba mengejek.


seperti ini padamu, seorang yang pemberani dan sangat hebat. Mengkhawatirkanmu takut dan gemetar seperti Ayah adalah hal yang tak pantas ayah pikirkan. Maafkan Ayah."


"Ayah." Suaraku tenang dan dalam.


Ayahku berkali-kali direndahkan, dan telah menganggap dirinya rendah dengan sendirinya. Tidak menganggap apa yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang berguna. Wajahnya sering kali frustasi saat panik, bangsawan lain akan menyalahkannya dan dia menyalahkan dirinya sendiri lagi karena tak berguna walaupun bersujud kepada mereka untuk membantu Sanktessy.


"Ayah."


Aku memanggil ayahku dengan suara yang lebih dalam.


Suasana ruangan sangat buruk. Wajah mereka ditekuk, apalagi wajah Renia yang sedih melihat ayahnya. Tangan kecilnya yang digenggam erat memperlihatkan bagaimana sedih dan kesalnya dia.


"Ayah."

__ADS_1


Akhirnya aku menghampiri ayahku, dan menyentuh punggungnya lembut. Aku berjongkok di sebelahnya, dan memandang bola matanya lekat.


"Ayah jangan merendahkan diri lagi. Seorang Ayah yang tak berguna tidak akan bisa mendidik anaknya sehebat ini."


Aku melihat wajah Harzem, dan Renia. Lihat, orang-orang berbakat berkumpul dalam satu darah.


"Mereka hanya memanipulasi agar kita percaya kita rendah, tak berguna, dan tak berharga." Aku memandang ayahku lagi, mata itu bergetar, dalam suaraku terdapat amarah.


"Jadi, Ayah, jangan pernah sekali pun memohon pada mereka lagi. Apa yang mereka punya, kita akan bisa memiliki diatasnya."


Keyakinan tegas kuberikan kepada ayahku dan semua orang yang hadir di sini. Aku memang benci manusiamanusia busuk haus kekuasaan.


"B-baiklah." Akhirnya dia membuka mulutnya.


"Terima kasih, Akion." Dia memeluk tubuhku.


Lalu melihat ke arah Harzem, dan Renia, mereka berdua menghampiri kami, dan membentangkan tangan lebar untuk memeluk. Perasaan hangat yang begitu


menenangkan dan haru. Sebuah keluarga lain yang telah menjadi keluargaku. Hadiah dari dewa.


**


Langkah kaki kami berdua sama.


Setelah menyelesaikan makan malam dengan kejadian haru. Aku memohon maaf pada Verion.


"Maaf kau telah melihat drama keluargaku." Aku tersenyum kaku.


"Tidak apa. Itu sesuatu yang mengharukan. Kau anak yang baik."


Dia tersenyum tulus dengan wajah tanpa ekspresi tidak terjadi apa pun.

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertian. Istirahatlah dengan baik." Aku membungkuk sekali padanya, dia juga melakukannya. Lalu dia masuk ke dalam kamar.


__ADS_2