
"Aku minta maaf karena sudah menyakiti mu, Sayang. Sekarang keluar ya, aku mohon..."
Vera merasa kesal saat Bima harus naik ke lantai dua demi membujuk madu nya itu, apa lagi Bima meminta maaf pada Alesha hanya karena sudah menikahi Vera, memang apa salah nya dengan menikahi wanita yg di cintai nya, fikir Vera.
Sementara itu, Alesha memegang perut nya dan ia teringat dengan janin yg ada dalam rahim nya. Seketika Alesha seperti mendapatkan kekuatan nya kembali, Alesha tahu janin dalam kandungan nya itu membutuhkan gizi dan makanan untuk pertumbuhan nya. Rasa sakit yg Alesha rasakan tak kan ia biarkan di rasakan oleh anak nya nanti.
"Al, ayo dong keluar. Ibu sama Ayah khawatir sekali sama kamu, Sayang..." seru Bima lagi.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan Alesha keluar dengan wajah yg begitu sembab, bahkan mata nya bengkak karena semalaman menangis. Membuat Bima terperangah melihat kondisi istri pertama nya itu yg tampak benar benar hancur, namun bukan nya meminta maaf dengan tulus dan mencoba mengerti keadaan Alesan, justru Bima membenarkan tindakan nya dengan berkata.
"Kamu tahu kan sejak dulu aku sudah sangat mencintai Vera..."
Deg
Ya, Alesha tahu, tahu dengan pasti. Tapi kenapa harus di ingatkan lagi sekarang? Ketika Bima sudah menjadi suami Alesha, setelah satu tahun mereka mengarungi rumah tangga.
"Aku tahu, Mas..." ucap Alesha berusaha tegar "Yg aku tidak tahu, kamu bisa menikah lagi tanpa izin dari ku, atau setidak nya kamu bisa memberi tahu ku, Mas...." hardik Alesha penuh emosi, sementara Bima hanya bisa menatap sendu Alesha dengan bibir yg bungkam.
"Kalau kamu memang tidak bisa menghargai aku, istri mu, setidak nya hargai orang tua mu, aku tidak menyangka cinta mu pada Vera itu membuat jadi benar benar egois...." desis Alesha kemudian ia melewati Bima dan dengan sengaja menyenggol nya dengan kasar.
__ADS_1
Hati Bima berdebar tidak karuan menghadapi kemarahan Alesha, karena apa yg di katakan Alesha memang sangat benar.
...
Saat jam makan malam, semua nya berkumpul di meja makan, namun saat Vera dan Bima datang bergabung ke meja makan dengan bergandengan tangan, seketika selera makan Alesha hilang. Ia hendak pergi dari meja makan namun di cegah oleh ibu nya.
"Kamu bukan hanya menantu disini, Nak. Kamu putri kami" ucap ibu mertua nya yg tentu saja memberikan sedikit rasa bahagiaan di hati Alesha namun itu tidak berarti apapun dengan pengkhianatan Bima.
"Tetaplah di tempat Mu, Alesha..." ayah mertua nya menyambung "Jangan pernah beranjak dari tempat Mu, karena itu hak mu, milik mu" Alesha tersenyum samar dan kembali duduk di kursi nya seperti biasa.
Sementara Vera yg tak di anggap sedikit pun oleh mertua nya sungguh merasa sakit hati, namun ketika ada Bima di samping nya, Vera tidak mau perduli.
"Ayo lah, Mas. Sekali saja, aaa" Vera tetap memaksa, sementara Alesha hanya memasang wajah datar nya dan tatapan nya tetap fokus pada makanan nya.
Bima pun membuka mulut nya dan menerima suapan dari istri kedua nya itu.
"Kalau mau mesra mesraan secara bebas, bikin rumah sendiri" sindir ibu nya Bima yg tentu saja membuat Vera langsung terperangah apa lagi Bima, ia bahkan tersedak makanan yg di kunyah nya karena rumah itu memang milik orang tua Bima.
"Bu, kenapa bicara begitu?" tanya Bima lirih.
__ADS_1
"Kenapa? Tidak boleh? kamu saja boleh menikah tanpa izin ibu yg telah mengandung mu ini 9 bulan, melahirkan mu dengan taruhan nyawa, menyusui mu siang dan malam, menyekolahkan mu supaya kamu jadi orang yg pintar, beradab. Tapi ternyata ini hasil nya' desis ibu nya yg membuat Bima menghela nafas berat dan dada nya kembali terasa sesak. Namun ia tak mampu melawan dan hanya bisa menunduk. Ibu nya yg melihat itu geleng geleng kepala sambil tersenyum miring.
"Kamu seperti kehilangan wibawa mu, Bima. Kalah sama nafsu" desis nya lagi yg seperti nya sangat kecewa sama Bima dan sangat benci pada Vera. Mata Vera berkaca kaca namun ia berusaha tak menangis karena sakit hati pada ibu mertua nya itu.
"Alesha..." Alesha langsung mendongak dan menatap ibu mertua nya saat ibu mertua nya memanggil nya dengan lembut "Nak, ibu yakin ibu tidak salah memilih istri untuk Bima. Tolong jangan minta cerai pada Bima ya, Nak. Ibu tidak mau menantu yg lain selain kamu"
"Benar, Al..." Sambung ayah mertua nya "Tidak akan ada wanita yg lebih baik dari kamu sebagai istri"
Vera langsung memberengut mendengar pujian pujian yg di berikan mertua nya pada Alesha, sementara Bima tetap hanya diam saja. Seperti kata ibu nya, seperti pria yg kehilangan wibawa nya.
"Bagaiamana aku bisa minta cerai, Bu? Sedangkan aku sedang hamil" ucap Alesha dengan datar dan seolah tanpa ekspresi, padahal hati nya merasa begitu sakit.
Mata Bima langsung terbuka lebar mendengar kabar ug sangat membahagiakan itu, begitu juga dengan orang tua Bima yg langsung memekik girang.
"Hamil?" tanya ibu nya lagi, Alesha mengangguk masih dengan raut wajah yg datar. Ia meletekan sendok dan garpu nya saat makanan nya sudah habis, hingga tiba tiba ia merasakan pelukan Bima dan ciuman bertubi tubi di pipi nya.
"Sayang, kamu hamil? benaran? Alhamdulillah, ya Allah..." pekik Bima dan ia tampak benar benar bahagia, dan itu terlihat dari senyum dan sorot mata nya. Sementara Alesha? dia masih sama, tak merespon Bima dan masih memasang raut wajah datar nya.
Ibu dan ayah Bima juga mengucapkan syukur dan memeluk Alesha dengan penuh cinta, mereka bertiga tampak sangat bahagia kecuali Vera yg tampak tidak menyukai kabar itu.
__ADS_1