
Alesha terbangun dari pingsan nya dan yang pertama kali ia tanyakan adalah anak nya.
"Anak ku..." lirih nya, ia terlihat sangat pucat dan begitu lemah.
"Keponakan ku sehat, Kak" kata Rianti yang sejak tadi menunggu Kakak nya itu sadar, ia begitu senang melihat Alesha yang akhir nya membuka mata. Rianti membantu Alesha agar bisa duduk Setelah itu Rianti beranjak dan mengambil bayi Alesha yang di tempatkan di kamar Alesha, bayi nya itu tertidur setelah suster memberi nya susu.
"Tadi Ibu keluar buat bayar administrasi sama Ayah..." kata Rianti sembari meletakkan bayi Alesha di pangkaun Alesha. Seketika air mata Alesha menetes begitu saja saat memangku sang buah hati, tangan nya bahkan bergetar dan satu isakan lolos begitu saja di bibir nya.
"Kami di sini..." kata Rianti lembut sembari mengusap pundak sang Kakak, selama ini Alesha lah yang selalu menjadi penupang dan kekuatan keluarga nya dalam segala hal, dan sekarang saat nya mereka lah yang menguatkan Alesha "Tadi Dion sudah mengadzani putra mu, Kak. Karena...."
"Mas Bima tidak datang?" sela Alesha sambil tersenyum kecut, Rianti tak mampu menjawab nya meskipun Alesha sudah pasti tahu jawaban nya.
"Tidak apa apa, Ri. Aku dan putra ku pasti bisa hidup tanpa dia..." kata Alesha mencoba tegar.
"Apa Dion masih di pengadilan?" tanya Alesha kemudian yang teringat hari ini adalah sidang terakhir nya.
"Hmm" kata Rianti menatap sedih kakak nya "Dion pasti memastikan proses sidang nya berjalan dengan lancar kan?" tanya Alesha sembari mengusap air mata nya dengan tangan kanan nya, sementara tangan kiri nya memangku sang buah hati.
"Kak Alesha yang sabar ya..." kata Rianti dan bersamaan dengan itu pintu ruang rawat Alesha terbuka, Dion dan pengacara nya langsung menyunggingkan senyum saat melihat Alesha yang sudah tersadar dari pingsan nya yang cukup lama.
__ADS_1
"Kak..." seru Dion dan ia melangkah cepat "Kak, persidangan nya..."
''Kakak tahu" sela Alesha "Kami sudah resmi bercerai kan?" tanya nya dan Dion mengangguk, ia tidak tahu harus kah dia sedih atau senang sekarang. Di satu sisi, ia sedih karena sang Kakak resmi menjanda di hari kelahiran sang buah hati. Namun di sisi lain, ia senang karena sang Kakak sekarang tak lagi terikat pada sebuah pernikahan yang bagaikan mata pedang, hanya bisa melukai dan melukai tiada henti.
"Syukurlah..." ucap Alesha lirih meskipun hati nya terasa begitu sesak dan sakit. Tak ada satu pun seorang istri di dunia ini yang senang saat bercerai dengan suami nya, namun kesedihan hari ini akan lebih baik daripada kesedihan setiap hari yang akan terjadi sepanjang hidup jika langkah perceraian itu tidak di ambil.
"Bima akan menanggung semua kebutuhan anak mu, Bu Alesha. Termasuk biaya kelahiran mu dan sampai nanti putra anda dewasa" kata kuasa hukum Alesha dan Alesha hanya menanggapi nya dengan senyum "Jadi, komonikasi di antara kalian masih harus berjalan dengan baik, demi buah hati kalian"
''Saya tahu" kata Alesha sambil menatap putra nya yang masih tertidur pulas "Akan aku lakukan apapun demi putra ku Dameer. Langkah perceraian ini juga aku lakukan demi Dameer, aku tidak mau dia tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis"
"Langkah yang sangat tepat, Kak" kata Dion sambil mengusap kepala keponakan nya itu "Aku akan pastikan Dameer akan hidup dengan baik meskipun tanpa seorang ayah..."
"Kami akan merawat Dameer sama sama, Kak" kata Rianti yang membuat Alesha merasa terharu. Saat ini yang ia butuhkan memang hanya dukungan dan doa keluarga nya.
'' Al... "Alesha langsung mendongak mendengar suara yang sangat ia kenal itu.
"Mas Bima..." lirih Alesha yang melihat Bima masuk ke ruang rawat nya dan sekarang Bima berjalan mendekati Alesha.
"Al, maaf aku tidak bisa menemani mu saat melahirkan" lirih Bima saat ia sudah berada di samping Alesha.
__ADS_1
Alesha tidak tahu harus berkata apa dan ia hanya bisa menggigit bibir nya untuk menahan isak tangis nya, pria yang dulu berstatus sebagai suami nya kini telah menjadi mantan suami nya bahkan ipar sepupu nya. Rasa sakit yang sungguh menyesakkan namun Alesan berusaha menahan nya.
"Maaf mu tidak memberikan kami apa apa" desis Dion namun Alesha langsung menatap Dion, memberi isyarat agar Dion tak memperkeruh suasana. Alesha juga memberi isyarat pada Dion untuk membiarkan nya berdua dengan Bima. Dion pun akhir mengajak Rianti dan pengacara nya keluar dari sana dengan berat hati.
Setelah semua nya keluar, Alesha melepaskan cincin pernikahan yang masih ia pakai selama ini kemudian ia meletakkan nya di atas meja.
"Aku mengembalikan apa yang pernah kamu kasih" kata Alesha datar yang membuat hati Bima mencolos.
'Al, aku... "
"Kita tidak punya hubungan apapun lagi, tapi aku tidak akan mengakhiri hubungan mu dengan Dameer"
"Dameer?"
"Anak kita, aku memberi nya nama Muhammad Dameer..." Bima terdiam, ia sungguh tidak punya bagian apapun untuk Dameer, bahkan tidak bisa mengadzani nya saat ia lahir dan juga bahkan tidak di beri kesempatan untuk memberi nya nama.
"Al, aku..."
"Saat ini Dameer tidak membutuhkan mu karena dia sedang tertidur jadi kau boleh pulang!" hati Bima benar benar di peras habis habisan oleh Alesha namun Bima tak bisa melakukan apa apa.
__ADS_1
"Setidak nya aku ingin menggendong nya, Al. Dia juga putra ku' lirih Bima memelas, Alesha terdiam sesaat namun pada akhir nya ia memberikan putra nya itu pada Ayah nya.
Bima menatap Dameer dengan tatapan yang sendu, sekarang ia telah menjadi seorang ayah dan ia merasa sempurna untuk itu, meskipun di satu sisi ia tidak akan bisa bersama putra nya selama 24 jam seperti orang lain.