Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 29


__ADS_3

Vera menunggu Bima dengan cemas, entah kemana suami nya itu apa lagi ponsel nya tidak aktif sejak tadi siang. Vera mondar mandir di kamar nya sendiri sembari mengetuk ngetukan ponsel nya ke dagu nya..


"Apa dia kerumah Alesha lagi?" gerutu nya kesal.


.........


Alesha dan Bima sama sama duduk di sisi ranjang yg berlawanan, kedua nya hanya bisa terdiam setelah tadi Alesha menangis sejadi jadi nya. Tangis yg membuat hati Bima ikut sakit dan sesak, ini kali pertama Bima melihat Alesha begitu hancur dan seolah tak memiliki kekuatan lagi, bahkan bibir Alesha sampai detik ini masih bergetar dan sesekali isak tangis masih lolos dari bibir nya. Mata nya sudah bengkak dan bulir bening itu tak mau berhenti mengalir meskipun sudah berkali kali Alesha menghapus jejak nya di pipi nya yg semakin hari semakin tirus.


" Pergi lah, Mas... Jangan temui aku lagi" dengan susah payah Alesha menyusun kalimat itu.


"Al..." lirih Bima ia berdiri dan melangkah gontai menghampiri Alesha yg masih duduk di tepi ranjang dengan kaki yg menjuntai ke lantai. Alesha menunduk dan menutup wajah nya dengan telapak tangan nya, hingga telapak tangan nya itu basah karena air mata nya.


Bima berlutut di depan sang istri, ia meletakkan kedua telapak tangan nya di lutut Alesha.

__ADS_1


"Al, maafkan aku, Al. Aku tahu aku salah, tapi aku mohon sama kamu..." melas nya namun Alesha masih enggan menatap suami nya itu, hati nya sudah terlanjur terkoyak oleh Bima dan rasa nya sulit sekali menerima kenyataan itu.


"Aku mohon, kasih aku kesempatan untuk menjadi suami yg baik buat kamu, Ayah yg baik buat calon anak kita" lirih nya yg berhasil menarik perhatian Alesha. Alesha menyingkirkan kedua tangan nya dari wajah nya dan perih sekali rasa nya hati Bima kala melihat wajah Alesha yg banjir air mata.


"Bagaiamana bisa, Mas?" tanya Alesha dengan bibir yg bergetar "Bagaiamana bisa kamu menjadi suami yg baik sementara kamu tidak pernah sedikitpun menghargai aku..." Alesha menarik nafas, mencoba menekan rasa sakit yg menggebu di hati nya.


"Kalau saja kamu bilang dulu sama aku kalau kamu memang masih sangat mencintai Vera dan ingin menikahi Vera, mungkin rasa nya tidak akan sesakit ini, Mas. Atau kamu bisa menceraikan aku dulu, Mas. Baru setelah itu kamu menikahi Vera, aku akan ikhlas, Mas. Dan aku akan memberikan selamat dan doa terbaik ku untuk kalian tapi... " Alesha kembali menarik nafas yg terasa kian memberat, ia mengusap air mata nya yg masih mengalir di pipi nya menggunakan punggung tangan nya dengan kasar.


"Tapi kalian tega sekali mengoyak hati ku seperti ini... Ya Allah..." ia menggumam berat kala rasa sakit itu semakin menjadi, setiap kali ia mengingat kenyataan betapa pahit nya takdir yg mempermainkan perasaan nya.


"Alesha..." Bima menggenggam tangan Alesha dan Alesha membiarkan nya saja "Sekali saja, Al. Aku mohon, kasih aku kesempatan, aku... Aku tidak mau kehilangan kamu, Al" ungkap nya dengan jujur, namun hal itu membuat Alesha tersenyum kecut.


"Kamu tidak takut kehilangan aku, Mas. Kamu hanya takut kehilangan anak mu, ya kan?" tanya nya. Dan dengan begitu lembut, Alesha membelai pipi Bima sebelum akhirnya menangkup kedua pipi Bima dengan tangan mungil nya. Hal itu membuat hati Bima bergetar, apa lagi ketika tatapan nya bertemu dengan tatapan Alesha yg kian melembut dan seutas senyum di bibir nya. Bukan senyum kecut, apa lagi senyum masam, namun senyum yg begitu tulus.

__ADS_1


"Mas..." ucap nya lembut "Aku tidak akan kemana mana, aku tidak akan membawa pergi anak mu, aku akan tetap di sini tapi aku hanya ingin terlepas dari ikatan pernikahan yg begitu menyakiti ku karena aku harus berbagi suami" lirih nya yg membuat hati Bima terenyuh.


"Percayalah, Mas. Rasa nya sakit sekali setiap aku membuka mata di pagi hari dan mendapati fakta bahwa aku adalah istri yg di madu. Rasa nya sakit sekali setiap kali aku mengingat fakta bahwa kamu tidak mencintai ku dan kamu hanya mencintai istri kedua mu..." air mata kembali merembes keluar tak perduli ia yg mencoba menahan nya.


"Hati Perempuan itu sesungguhnya sangat kuat, Mas. Bisa menerima fakta apapun tentang suami nya, bisa menerima kondisi apapun dari suami nya, tapi tidak ada hati perempuan yg kuat menerima fakta bahwa cinta nya harus terbagi" suara itu bahkan seolah tertelan oleh isak tangis nya.


"Jadi aku mohon, ayo bercerai. Demi kebaikan hati kita berdua..." pinta nya dengan begitu lembut.


Bima hanya terdiam, sebelum akhirnya ia menjatuhkan kepala nya ke pangkuan Alesha.


"Setidak nya izin kan aku merawat mu sampai bayi ini lahir, Al..." lirih nya yg membuat tangis Alesha kembali pecah. Karena ia tahu, arti dari ucapan Bima itu adalah Bima akan menceraikan nya saat anak mereka lahir.


Ini memang keinginan hati Alesha, tapi tetap saja rasa nya begitu sakit, seperti ribuan tombak di hunuskan ke jantung nya. Alesha menunduk dan mengusap rambut hitam Bima, ia mengecup pucuk kepala sang suami yg sangat di cintai nya itu.

__ADS_1


Bima meneteskan air mata nya, dan Alesha tahu itu karena air mata sang suami membasahi pangkuan nya. Walaupun Alesha tidak tahu, kenapa Bima harus ikut menangis?


__ADS_2