
"Kak Alesha..." lirih Rianti "Kak Alesha bicara apa sih?" tanya nya.
"Ini fakta nya, Ri" tegas Dion "Dan aku punya bukti nya" Dion menyerahkan beberapa lembar foto Anton bersama istri nya bahkan anak nya.
Tak hanya itu, Rianti menunjukan foto rumah Anton dimana di halaman rumah itu ada Anton yang seperti nya hendak pergi, sedangkan istri dan anak nya mengantarkan nya hingga ke mobil. Dion memang sengaja memata matai Anton saat masa penyelidikan untuk mendapatkan bukti bukti yang akurat.
Sementara Rianti, ia seperti tersambar petir melihat foto foto yang kini ada di tangan nya.
"Dek..." Alesha duduk di samping Rianti, ia memegang pundak adik nya itu dengan lembut "Ini fakta nya, Dek. Dia tidak seperti yang kamu kira" lirih Alesha, Rianti tak mampu membendung air mata nya melihat bukti bukti di depan nya namun Rianti berusaha mempercayai apa yang di lihat nya.
"Ini tidak mungkin, Kak Al..." lirih Rianti, ia menatap Alesha dengan begitu sendu sambil menggelengkan kepala nya. Air mata mengalir deras di pipi nya "Mas Anton tidak mungkin sudah menikah, Kak..." lirih nya dengan suara tercekat.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ibu nya Alesha heran.
"Jadi begini, Bu" tukas Dion dengan tegas "Kita tahu selama ini Rianti punya pacar namun tidak di kenalkan pada kita, dan pacar nya itu bernama Antonio, Dosen di kampus Rianti. Dan dia sudah punya istri, bahkan punya anak perempuan yang berusia 3 tahun..."
__ADS_1
"Itu tidak benar, Dion" sanggah Rianti sambil menangis sesegukan. Alesha langsung menarik adik bungsu nya itu ke dalam pelukan nya dan mengusap punggung nya yang bergetar. Sementara orang tua Alesha hanya bisa tercengang. Ia menatap Alesha dan Dion bergantian.
"Jadi maksud kalian..."
"Rianti di bohongi, Bu" kata Alesha tegas.
"Tidak mungkin, Kak Alesha..." pekik Rianti "Tidak mungkin Mas Anton menipu ku, Kak. Tolong jangan bicara seperti itu" ucap ny di sela isak tangis nya.
"Kalau kamu tidak percaya, kita buktikan besok. Kita temui istri nya" tegas Alesha. Rianti masih terus menangis, sementara kedua orang tua nya hanya bisa menatap bingung dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di hati mereka. Mereka berharap apa yang di katakan Dion dan Alesha salah.
Adam dan Miley sedang sibuk packing barang barang mereka. Besok pagi mereka akan terbang ke kota Paman mereka, baik Rianti maupun Adam sama sama tidak berat meninggalkan kota yang di tempati nya sekarang. Miley masih ingin mendekati Dion yang bahkan sampai detik tak juga melirik nya, padahal Miley sangat mengidolakan pria tampan itu.
Sementara Adam, ia masih ingin dekat dengan Alesha. Ia ingin tahu keadaan Alesha, ia begitu perduli pada wanita asing itu yang kini sudah menjadi teman nya.
"Sudah, jangan sedih. Toh tidak selama nya kita meninggalkan kota ini" kata Miley.
__ADS_1
"Iya sih, nanti kalau Paman Sudah sehat, kita bisa kembali ke sini" kata Adam.
"Hem, terus bengkel Kak Adam bagaimana?" tanya Miley lagi.
"Gampang itu, nanti aku suruh teman ku mengurus nya" jawab Adam.
"Terus rumah ini bagaimana?" tanya Miley lagi.
"Yang kita tinggalkan, tidak mungkin di bawa kan?" gurau Adam untuk menghibur hati mereka.
"Sewa kan saja lah, Kak. Kalau misal kita pergi nya lama"
"Jangan, ini tempat pribadi kita. Biar nanti Kakak suruh orang datang ke sini setiap minggu untuk membersihkan rumah" tukas Adam.
"Terus Kak Alesha bagaimana?"
__ADS_1
"Hem, dia..." Adam melipat baju rajut yang di buatkan Alesha, ia mengelus nya dengan lembut "Entah lah, dia wanita yang kuat dan baik. Kakak cuma bisa mendoakan semoga dia selalu bahagia"