
Saat sore hari, Bima dan Alesha berkunjung ke rumah orang tua Alesha, mereka di sambut hangat oleh kedua orangtua Alesha dan juga Dion.
"Rianti dimana, Bu?" tanya Alesha sembari meletakkan paper bag yg berisi kue kering. Sembelum ke rumah orang tua, Alesha menyempatkan diri membeli oleh oleh untuk keluarga nya itu.
"Kata nya tadi mau keluar sama Vera..." jawab ibu nya dan ia membuka tutup toples yg berisi kue kering itu. Alesha dan Bima duduk berdampingan di sofa.
"Ini kan sudah sore, Bu. Sebentar lagi sudah masuk maghrib, memang nya mau keluar kemana Vera sama Rianti?" tanya Alesha lagi. Ia merasa khawatir dengan adik perempuan nya itu jika keluyuran sampai malam.
"Nama nya juga anak muda, Al.. Biarkan saja lah. Biar dia bergaul, jadi tidak ketinggalan zaman seperti kamu dan tidak punya teman" ujar ibu nya yg membuat Alesha menghela nafas berat, hati nya masih sakit setiap kali ibu nya mengatakan hal seperti itu. Namun Alesha hanya bisa bungkam. Dion sebenarnya juga kasihan pada Alesha, padahal Alesha tidak banyak teman dan ketinggalan Zaman juga gara gara mereka, yg membuat Alesha harus bekerja sementara seharusnya Alesha masih sekolah dan menikmati masa remaja nya dengan teman teman nya.
Bima sendiri melirik Alesha, ia mengangkat tangan nya dan membelai pundak Alesha dengan lembut, Alesha menatap nya dengan senyum samar, memberi tahu bahwa ia baik baik saja. Bima pun membalas senyuman Alesha, sejauh ini ia tidak mendapati Alesha sebagai seseorang yg salah, dalam artian salah pergaulan ataupun tentang zaman. Alesha natural, dan Bima tahu itu jauh lebih baik untuk seorang perempuan.
"Kalau aku sih lebih suka perempuan seperti Kak Alesha, Bu..." Sambung Dion kemudian "Menjaga diri dari pergaulan yg bisa jadi tidak baik, tidak apa apa juga ketinggalan zaman, asal dia tetap menjadi perempuan yg berakhlak dan beradab" imbuh nya.
"Oh ya, Mas Bima belikan kamu hadiah, Di..." ujar Alesha mencairkan suasana, Alesha mengeluarkan dua kotak hadiah dari tas nya. Kemudian memberikan nya pada Dion "Satu buat kamu, satu nya lagi buat Rianti..." ujar nya.
"Wah, terima kasih, Mas Bima" ujar Dion antusias. Ia membuka kotak hadiah itu dan berisi jam tangan yg cukup mahal "Ini kemahalan, Kak" ucap Dion kemudian setengah berbisik.
"Tidak apa apa, aku juga sangat jarang kan memberikan hadiah untuk adik adik ku" ujar Bima yg membuat Alesha tersenyum senang.
"Assalamualaikum..." terdengar suara nyaring Rianti yg memasuki rumah, di susul dengan kedatangan nya bersama Vera.
"Ri, Mas Bima belikan kita jam mahal lho..." pamer Dion pada adik nya itu, seketika Rianti tampak girang dan berlari lari kecil menghampiri kakak nya itu. Vera menyambar kotak jam tangan itu dan membuka nya, ia memekik girang saat melihat jam tangan itu yg terlihat sangat cantik dan elegan.
Sementara Vera menatap Bima yg saat ini juga menatap nya, tak bisa Bima pungkiri, rasa cinta pada Vera masih ada. Masih melekat dengan sempurna di hati nya.
__ADS_1
Vera berjalan gontai dan duduk di samping Rianti, tatapan nya masih tak lepas dari tatapan Bima begitu juga sebaliknya.
"Wah, terima kasih, Mas Bim... Ini benar benar cantik" pekik Rianti yg menyadarkan Bima kembali ke alam sadar nya setelah hanyut dalam tatapan Vera. Semenjak menikah, Vera dan Bima memang tak pernah berkomonikasi, namun kedua nya sering bertemu setiap kali Bima berkunjung ke rumah Alesha.
Dari sana lah Vera melihat bahwa Alesha dan Bima tampak nya sangat bahagia dengan pernikahan mereka. Membangunkan sebuah rasa yg menggelitik jiwa nya, rasa cemburu dan iri. Apa lagi melihat jam tangan mahal yg di hadiahkan pada ipar Bima.
"Jika ipar nya saja di beri hadiah mahal begini, apa lagi istri nya..." seru batin nya yg merasa cemburu dan iri "Seharusnya aku yg ada di posisi Alesha, Mas Bima itu mencintai ku, bukan dia..."
"Ver, lihat ini, cantik kan?" Vera memamerkan jam tangan nya yg kini melingkar indah di pergelangan tangan nya, Vera tersenyum tipis dan mengangguk.
Alesha senang melihat adik adik senang, sebenarnya jam tangan itu bukan sepenuh nya dari Bima. Tapi sebagian uang nya dari Alesha, Alesha menyimpan sisa uang bulanan nya jika ada, dan saat Bima mengatakan akan membelikan hadiah untuk ipar nya, Alesha menyumbangkan uang nya juga.
Gaji Bima yg hanya sebagai pegawai Bank biasa hanya pas pasan untuk 4 orang di rumah nya, apa lagi orang tua Bima yg tak lagi bekerja. Namun Alesha tidak mempermasalahkan itu sedikit pun. Selama Bima memenuhi kebutuhan pokok nya.
...... ...
Kenapa bukan diri nya yg bahagia? Sementara yg Bima cintai adalah diri nya.
Vera berdandan secantik mungkin, kemudian ia mengirim pesan pada Bima dan mengajak nya ketemuan.
Tentu saja Bima takkan menolak nya, Bima justru terlihat senang mendapatkan pesan dari gadis yg cintai itu.
Saat jam makan siang, Bima menemui Vera di sebuah cafe yg ada di dekat Bank tempat nya bekerja.
Hati Bima berdebar ketika ia melihat Vera yg sangat cantik dan saat ini sedang tersenyum ke arah nya.
__ADS_1
"Hai, Mas..." sapa Vera.
"Hai..." Bima duduk di kursi yg ada di depan Vera. Kedua nya terdiam selama beberapa saat, hingga akhirnya Vera bersuara.
"Aku mencintaimu, Mas..."
"Huh..." mata Bima tentu langsung melebar sempurna mendengar apa yg di katakan oleh Vera, ia menatap Vera penuh tanda tanya, namun tatapan Vera sungguh dalam dan hanya terlihat keseriusan di sana.
"Maaf, karena aku terlambat menyadari nya. Aku baru sadar kalau aku mencintaimu setelah kamu menjadi milik orang lain..." tutur Vera lagi, sementara Bima masih mendengarkan dengan seksama. Ia terlalu shock dengan apa yg tiba tiba saja di katakan oleh Vera "Aku cemburu, Mas. Setiap kali aku membayangkan kamu bersama Alesha, hati ku sakit sekali rasa nya..."
"Ver, benarkah ini?" lirih Bima dan Vera mengangguk yakin.
"Tapi semua nya sudah terlambat, Ver..." tukas nya kemudian yg langsung membuat wajah Vera berubah muram.
"Tidak ada yg terlambat, Mas. Kamu mencintai ku, aku mencintaimu"
"Tapi aku sudah menikah..."
"Niakahi juga aku, itu tidak di larang kan?"
...... ...
Alesha yg sejak kemarin merasa mual dan pusing memutuskan untuk membeli tespeck, apa lagi setelah mengecek kalender, ia baru sadar bahwa diri nya telat datang bulan.
Alesha membeli test peck di apotek terdekat, kemudian ia bergegas pulang dengan tak sabar. Sesampai nya di rumah, Alesha langsung mengecek nya dan ia menangis haru kala mendapati test peck itu menunjukkan dua garis merah.
__ADS_1
"Masya Allah..." gumam nya penuh haru "Ini akan jadi kado terindah dalam ulang tahun pernikahan ku dan Mas Bima, aku akan memberi tahu Mas Bima nanti"